KISAH KITA

KISAH KITA
Episode 139 Kabar bahagia


__ADS_3

Pagi sudah datang menyapa penduduk bumi. Kicauan burung ramai terdengar, membuat gadis cantik yang sedang terlelap bangun dari tidurnya. Asty mengerjapkan matanya, membuka jendela kamar agar cahaya matahari bisa masuk.


"Segarnya. Aku harus segera bersiap ke Rumah sakit. Hari ini aku masak apa ya untuk Mama dan juga Mas Arya? Meskipun mereka sedang marah padaku, tetapi aku tetap ber-kewajiban mengurus mereka," lirihnya.


Dia mencoba untuk menguatkan hatinya, dia akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga hubungannya dengan Mama dan juga Arya. Tanpa lelah, tanpa tapi.


******


Asty masih terdiam di depan pintu kamar. Ia ragu untuk masuk. Takut penghinaan keluar lagi dari mulut Mama mertua yang angkuh itu.


Namun, Asty tidak pantang menyerah. Apa pun yang akan terjadi nanti, ia harus tetap sabar dan kuat menghadapinya.


"Assalamu'alaikum, Ma." Salamnya seraya membuka pintu.


Wanita angkuh itu tengah duduk bersandar ke kepala ranjang sembari jari lentiknya menyentuh-nyentuh gawainya. Tak menyahuti salam dari menantunya.


"Wa'alaikumsalam, Non." jawab Bibi asisten rumah tangga yang menjaga Mama Ranti.


"Bibi bisa pulang sekarang! Istirahat saja di rumah, Mama biar aku yang jagain," ucapnya lembut.


"Baik Non, kalau begitu Bibi permisi dulu," pamitnya seraya mengucap salam.


Mama masih sibuk dengan gawainya, entah apa yang sedang dilakukannya. Sesekali dia menggerutu kesal.


"Mama, kita sarapan dulu ya? Nanti Asty bersihkan badan Mama lalu ganti baju." Ujarnya seraya meletakkan beberapa rantang makanan yang ia bawa dari rumah.


"Iya sebentar, bawel banget sih! Gak lihat apa orang lagi sibuk juga." Bentaknya, matanya sudah melotot tajam.


"Bawel dari mananya, ngomong baru sekali juga," batin Asty.


"Vindi ke mana sih? Dari tadi dihubungi susah banget. Aku udah kangen banget sama dia," ucapnya dan terus menekan nomor "calon menantunya" tersebut.


Asty hanya diam. Memperhatikan tingkah mertuanya. Wajahnya yang angkuh itu terdapat gurat kecemasan.


Ah ... seandainya mertuanya itu mencemaskan dirinya? Begitu pikiran Asty saat melihat air muka Mama Ranti yang gusar.


"Ma, nanti ya telpon Vindi-nya, sekarang Mama makan dulu." Bujuknya, lalu Asty membuka salah satu rantang yang berada di atas nakas.


"Yaudah deh! Mana makanannya," pintanya ketus.


Asty menuangkan makanan ke dalam piring lalu memberikannya ke Mama Ranti.


"Ini gak pake racun kan?" tuduhnya dengan kejam.

__ADS_1


"Duh Gusti ... mertuaku memang menguji kesabaran," jerit batinnya.


"Asty masukkan sedikit, Ma. Bair Mama tidurnya nyenyak dan tenang." Ingin sekali Asty menjawab seperti itu, tetapi itu hanya bisa ia ucapkan dalam hatinya.


"Hei gadis miskin! Kenapa melamun? Jangan-jangan benar lagi ini ada racunnya," tuduhnya lagi.


"Asty gak sejahat itu, Ma. Kalau Mama gak percaya, sini makanannya. Asty akan makan sekarang," tantangnya seraya mengambil piring yang tengah dipegang mertuanya.


"Eh enak saja! Ini makanan saya! Kurang ajar sekali ya kamu, mau makan di piring saya. Dasar mantu gak tahu diri!" Teriaknya, kilatan kemarahan selalu terpancar dari netra coklatnya.


"Tuh kan salah lagi. Biar aku minum racun sendiri saja kalau begitu, Ma. Biar aku bisa tenang," batinnya frustasi.


Semua makanan habis tak tersisa. Mama Ranti menengguk satu gelas air putih. Sepertinya memarahi menantunya, membuat tenggorokannya sangat kering.


"Setiap hari hanya memarahiku, tapi lihatlah sekarang, dia bahkan hampir menghabiskan semua makanan yang aku masak, dasar Mama mertua gengsinya gak ketulungan," gumam Asty.


"Beresin piringnya! Terus jangan lupa cuci langsung. Kalau sudah selesai, kupas buah apel buat saya. Ingat, tangan kamu harus bersih dari kuman!" Perintahnya tanpa merasa berdosa.


Asty hanya bisa pasrah, apalagi yang bisa ia lakukan sekarang. Menyebalkan memang, tetapi Asty tak pernah dendam. Ia sangat menyayangi Mama Ranti.


Baginya mengurus Mama Ranti bentuk dari kasih sayangnya. Asty yakin, perlahan Mama Ranti akan menerima dan menyayangi dirinya.


******


"Mas, ayo kita berangkat! Keburu sore banget nih." Ajak sang istri, Jojo melangkah mendekati Nadya yang sudah siap di dekat pintu kamar.


"Iya Sayang, aku udah gak sabar banget pengen ngasih tahu mereka," jawabnya riang.


Lalu mereka melangkah menuju garasi. Memasuki mobil dan berlalu pergi.


******


Suasana kafe sangat ramai, memang menuju malam begini banyak anak muda yang menghabiskan waktunya untuk sekedar melepas rindu. Jojo mengedarkan pandangannya mencari teman-temannya.


Dari arah ujung terlihat Arya melambaikan tangannya. Suami-istri itu berjalan menuju meja teman-temannya.


"Lama banget sih! Kita udah nungguin dari tadi juga," semprot Arya. Namun Jojo hanya 'cecengesan' menampilkan deretan giginya.


"Yaelah Ar, cuman telat 10 menit doang," jawabnya tanpa beban.


"10 menit apaan, telat 20 menit tahu!" jawabnya tak mau kalah.


Setelah perdebatan yang cukup panjang, akhirnya mereka selesai juga.

__ADS_1


Jojo mengintruksikan teman-temannya untuk memesan makanan. Tak butuh waktu lama, semua makanan sudah tersaji di meja besar tersebut.


"Ini ada acara apa sih Jo? Tumben teraktir makanan mahal," cibir Zain.


"Iya nih, gak biasanya. Kau dapat lotre ya?" Celoteh Arya yang sukses mendapat tatapan tajam dari istrinya.


"Sembarangan kalau ngomong! Ini tuh hitung-hitung syukuran," jawabnya kesal.


"Syukuran apa?" tanya Zayna penasaran.


"Nadya hamil, sebentar lagi kami jadi orang tua," ujarnya tersenyum ke arah istrinya.


Semua raut wajah mereka sangat bahagia. Ucapan selamat silih berganti dari semua teman. Namun ada sesuatu yang mengganjal di hati mereka, yaitu raut wajah Ryan dan juga Risa. Keduanya tak mengatakan apapun, diam seribu bahasa.


Mereka saling pandang. Tak ada yang mengetahui tentang pertunangan Ryan dan Alinka. Tanpa berkedip Ryan menatap Risa. Gadis yang selama ini ia rindui. Bisa melihat wajah cantik Risa, serupa hujan di tengah kemarau, menyejukkan.


"Ris, kamu gak apa-apa?" tanya Nadya hati-hati.


"Mm ... gak apa-apa kok. Kita makan yuk? Aku lapar banget nih," jawabnya tersenyum kecil.


Menyembunyikan gurat kesedihan dari wajahnya ternyata tidak mudah.


Risa sadar bahwa teman-temannya takkan percaya begitu saja. Namun, ini bukan momen yang pas untuk menceritakan tentang kesedihannya.


Sekuat hati Risa tak menoleh ke arah Ryan. Lelaki itu begitu mempesona. Daya pikatnya begitu besar bagi setiap wanita yang memandang. Pantas saja Alinka begitu menyukai Ryan.


"Aku merindukanmu. Lihatlah aku sejenak!" pesan yang Ryan kepada Risa.


Mendengar notifikasi dari ponselnya, Risa meraih benda tersebut dari dalam tasnya.


"Jangan katakan apapun! Aku tak ingi terjebak untuk kedua kalinya." Pesan balasan dari Risa.


Ryan menghela nafas berat. Ditatapnya kembali Risa yang sedang meminum jusnya.


Biasanya, lelaki itu akan dengan beraninya meminum di satu gelas yang sama. Namun, entah hilang ke mana keberanian itu.


"Aku pergi dulu." Pamitnya seraya melangkah menuju pingu keluar.


"Yan mau ke mana? Ryan!" teriak Jojo mengundang tatapan dari orang-orang yang sedang makan.


"Malu-maluin deh Yang ih!" geram sang istri.


"Maaf Sayang, habisnya si Ryan main pergi gitu aja. Merasa ada yang aneh gak sih sama Ryan? Gimana menurut kalian?" tanya Jojo pada semua teman.

__ADS_1


Mereka mengangguk setuju. Bahkan mereka tak sadar bahwa Risa juga bersikap aneh. Asty dan Arya pun sebenarnya masih saling diam.


__ADS_2