
“Lo mau ke kantor, Yo?” tanya Natashya yang melihat Anton sudah siap dengan setelan jasnya.
Anton mengangguk sembari bercermin, memastikan penampilannya sudah sempurna. “Ada meeting penting hari ini, Sayang. Aku ke kantor sebentar, ya.”
Natashya mau tak mau mengangguk, tidak bisa mencegah sang suami melaksanakan tugasnya untuk mencari nafkah. “Tapi, antar gue ke rumah bunda, ya.”
Anton menoleh dengan alis menyatu. “Kenapa?”
“Nggak pa pa. Gue nggak pengen sendiri aja di rumah,” jawab Natashya apa adanya.
Bi Jati sedang izin pulang kampung karena semua anak cucunya sedang berkumpul di sana. Sementara itu, kandungan Natashya sudah memasuki akhir trimester, sekitar 8 bulan 3 minggu. Tidak akan ada yang tahu kapan dia akan melahirkan.
Jadi, untuk jaga-jaga, lebih baik Natashya berada di tempat yang ramai, atau seenggaknya dia tidak sendirian. Bahaya kalo sendiri, nggak ada yang bisa dimintai tolong.
Anton yang mengerti maksud Natashya pun mengiyakan. Pikirnya juga lebih baik seperti itu. Setidaknya ada yang menjaga Natashya. Anton bisa-bisa tidak fokus bekerja karena terlalu memikirkan Natashya yang sendirian di rumah.
“Ya udah, ayo siap-siap. Aku antar sekalian.”
“Oke.”
...❄️❄️❄️...
Riana dan Heru menyambut kedatangan Anton dan Natashya dengan sukacita. Natashya sendiri langsung menghampiri Aruna yang sekarang sudah berumur 11 bulan. Bayi mungil itu sangat menggemaskan dengan pipi gembulnya.
“Anjir, perut lo kayak mau meletus, Shya,” heboh Randy yang melihat perut buncit adiknya. Jujur, sih, agak ngeri. Takut kalau Natasya jatuh terus perutnya... hiiii!
Natashya tidak mengacuhkan abang laknatnya itu. Ia duduk di dekat Aruna yang tengah tengkurap di karpet halus nan lembut yang Heru sengaja sediakan agar Aruna bisa berbaring di sana.
“Hei, Runa,” sapa Natashya senang. Kenapa dia senang?
Karena prediksi Natashya mengenai Aruna beberapa bulan silam menjadi kenyataan. Bayi mungil itu menuruni sifat asli Heru dan Natashya. Aruna cenderung lebih banyak diam, tidak sering menangis seperti bayi pada umumnya, hanya sesekali jika memang dia sedang haus, lapar, atau tidak nyaman karena sesuatu.
Bahkan, ya, waktu itu Randy sengaja menjaili Aruna dengan mengambil mainannya. Namun, Aruna tidak menangis sama sekali. Mata bulat bayi itu malah terbuka lebar, seolah sedang memelototi kakak tertuanya. Alhasil, Randy menyerahkan balik mainan itu karena tidak puas dengan reaksi Aruna.
Randy, kan, maunya adiknya menangis dengan aksen yang menggemaskan. Bukan main pelotot-pelototan!
Natashya mendengarkan ocehan Aruna dengan sabar, anggap aja latihan sebelum menghadapi anaknya nanti. Kadang wanita itu mengangguk-angguk, bertingkah seakan dia paham, padahal tidak sama sekali.
Melihat interaksi Natashya dan Aruna, Heru tersenyum kecut. Kedua putrinya memang memiliki ikatan batin yang terlampau kuat. Riana, sih, cuma bisa elus dada saja.
“Ayah, Bunda, Nio mau nitipin Tashya di sini sebentar boleh?” ujar Anton.
Heru menoleh dengan dahi mengerut. “Emang kamu mau ke mana?” tanyanya.
“Nio ada meeting penting, Yah. Sedangkan Tashya di rumah sendirian karena Bi Jati sedang pulang kampung. Jadi, daripada sendirian di rumah, Nio mau nitip Tashya di sini aja, boleh?” Anton menjelaskan.
__ADS_1
Riana tersenyum lembut. “Tentu saja boleh, Nio. Kamu kerja aja, jangan khawatir sama Natashya. Kami akan jaga dengan baik.”
Anton mengangguk. Tentu saja dia percaya hal itu. Tidak mungkin, kan, Heru dan Riana melukai putri mereka sendiri? Sekalipun Natashya sudah menjadi istrinya, wanita itu tetap memiliki hubungan darah dengan mereka.
Tidak akan pernah ada yang namanya ‘mantan keluarga’.
“Nio pamit, Yah, Bun.” Anton menyalami tangan Heru dan Riana bergantian. Dia juga sempat bertos ria dengan Randy dan disalami oleh Natashya.
“Hati-hati, Nio,” pesan Natashya.
“Iya, Sayang.”
...❄️❄️❄️...
“Tataa.. taaa..” oceh Aruna dengan bahasa aliennya. Natashya hanya bisa mengerutkan dahi, memaksa otak jeniusnya memproses apa yang adiknya katakan.
Tapi, nihil. Tidak ada jawaban.
Bahasa Aruna tidak terdaftar di deretan kamus kebahasaan miliknya.
“Lo ngomong apa, sih?” heran Natashya. Tangannya terulur mengusap kepala Aruna pelan, takut bayi itu terluka karena kulit Aruna masih begitu lembut di tangan Natashya.
Seakan mengerti tingkah kakaknya, kedua kaki dan tangan Aruna bergerak lincah dengan posisi tengkurap. Bayi itu sepertinya kegirangan karena mendapat elusan penuh kasih dari kakak perempuannya ini. Hanya saja, tidak ada tawa di bibir Aruna.
Bibirnya mengatup dan mata lucunya membulat. Jiahhh... gemesnya bukan main, Sis, Bro.
Randy, Heru, dan Riana yang melihatnya menatap Natashya aneh. Ada apa dengan bumil yang satu ini?
“Lo kenapa, Shya?” tanya Randy penasaran.
Natashya menoleh. “Sini, deh, Bang.”
Dahi Randy mengerut bingung, namun ia tetap bergerak mendekati adiknya dan duduk di dekat Natashya juga Aruna. “Kenapa?” tanya Randy.
“Coba lo usap kepala Aruna.”
“He?” Randy memiringkan kepala, tak mengerti dengan titah sang bumil yang maha aneh. “Ngapain?”
“Coba aja dulu.”
Karena penasaran, Randy mencoba untuk mengusap kepala adiknya yang paling kecil. Aruna hanya diam sambil menatap Randy dengan mata terbuka lebar—melotot pada sang kakak mertua.
“Eh, lo! Kenapa jadi gue lo pelototin gitu?” Randy bersidekap dada, kesal dengan adiknya yang paling bungsu.
Natashya terkikik. “Liat, ya, Bang.” Kini, giliran Natashya yang mengusap. Dan, ya, tingkah Aruna sama seperti sebelumnya. Bayi itu menggerakkan anggota tubuhnya dengan heboh, bahkan kali ini senyum lebar di bibir Aruna terbit.
__ADS_1
Randy melongo. Jadi, ini alasan Natashya menyuruhnya mengusap kepala Aruna?
“Lho, kok, gini? Tumben lo cengengesan?” kata Randy. Seketika senyum Aruna hilang, ia menyorot Randy lekat-lekat tanpa pergerakan apa pun. “Bun, Yah, curang, ah. Aruna langsung senyum waktu sama Tashya, kenapa sama Abang nggak?”
Heru dan Riana yang melihat semuanya cuma bisa menghela napas. “Jangankan kamu, Bang. Orang sama Ayah aja Aruna diem terus, nggak senyum sama sekali,” keluhnya.
Riana mengangguk setuju. “Senyum Aruna langka, sih. Jadi, susah untuk diterbitkan.”
Natashya tergelak kencang diikuti Aruna yang sedari tadi menatap Natashya. Bayi itu ikut tertawa bersama sang kakak perempuan. Tidak peduli dengan sorot kesal yang dilontarkan oleh ayah, bunda, dan kakak laki-lakinya.
Calon cewek Kutub ketemu cewek Kutub asli, ya, begini, nih, contohnya.. hadehh..
...❄️❄️❄️...
Usai dari kantor, Anton segera menuju rumah mertuanya. Ia menepati janji pada sang istri untuk pulang secepatnya setelah meeting dibubarkan. Lagipula, Anton, kan, ingin menjadi suami siaga. Ia akan terus ada di samping Natashya hingga melahirkan.
“Assalamualaikum,” seru Anton ketika pintu rumah dibuka oleh Randy.
“Wa‘alaikumsalam,” jawab Randy. Lelaki itu menaruh jari telunjuknya di bibir, kode agar Anton diam. “Istri lo lagi tidur, jangan berisik.”
Anton mengangguk mengerti. Dia masuk bersama Randy menuju ruang keluarga. Benar kata kakak iparnya ini, Natashya tengah tidur pulas bersama Aruna di karpet.
Memang, ya, kedua manusia segender ini tidak akan bisa dipisahkan jika sudah berkumpul begini. Lihat tuh bagaimana Aruna memeluk lengan Natashya dengan bibir terbukanya, menggemaskan sekali.
“Assalamualaikum, Ayah, Bunda,” ucap Anton lebih lirih. Heru dan Riana menjawab dengan pelan juga. “Udah tidur dari tadi, Bun?” tanya Anton sembari mengamati Natashya yang tampak pulas.
Riana menggeleng. “Nggak, Yo. Baru aja mereka tidur, kecapekan main bareng kayaknya.”
Anton manggut-manggut. Ia ikut duduk di sofa bersama Randy. Mungkin pulangnya nanti saja, kasihan kalau Natashya dibangunkan sekarang.
“Sudah dapat HPL dari dokter belum, Yo?” tanya Heru.
Anton menggeleng. “Belum, Yah. Kata dokternya, masih agak lama.”
“Terus jenis kelaminnya apa?” Heru bertanya lagi.
“Nio juga nggak tau, Yah. Waktu di USG, posisi bayinya selalu membelakangi, jadi nggak keliatan,” jawab Anton apa adanya. Sepertinya, anaknya ini ingin memberi kejutan untuk mama dan papanya.
Heru menghela napas panjang, punggungnya dipasrahkan pada sandaran sofa. “Semoga aja sifatnya nggak kayak Natashya,” lirihnya penuh harap.
Anton terkekeh, dia mengerti bagaimana ayah mertuanya ini begitu kesulitan mengurus Natashya, apalagi Aruna.
“Eh, jangan! Sifatnya harus kayak Natashya.” Heru berubah pikiran, pria itu juga berkata dengan lebih semangat.
“Kok, gitu, Yah?” protes Riana.
__ADS_1
“Biar Ayah bisa balas dendam nanti. Semoga tuh anak kesusahan ngurusin anaknya nanti, amiin!”
^^^To be continue...^^^