
Satu bulan berlalu...
Anton tengah berada di kamarnya, ia sibuk membuat simpul dasi di depan cermin rias. Satu bulan sudah ia lewati tanpa kehadiran Natashya dan itu membuat Anton menjadi seperti lelaki yang belum menikah. Apa-apa dia siapkan sendiri, tidak ada yang mengurusi.
“Kamu masih belum sembuh, ya, Sayang?” tanya Anton pada bingkai foto Natashya. Ia mengambilnya dan membawanya ke dalam pelukan. “Aku kangen..”
Anton menghela napas berat. Ia menjalani hidupnya dengan hampa selama satu bulan ini. Ada bagian dari hatinya yang kosong.
Namun, bagaimanapun juga, Anton harus tetap bertahan. Ia tidak mau mengecewakan Natashya lagi.
“Huh! Semangat, Antonio! Jangan menyerah! Malu sama Rio yang masih jomblo! Dia aja betah sendirian, masa lo nggak, sih?” seru Anton di depan cermin, menyemangati dirinya sendiri yang ujung-ujungnya mengejek Rio juga.
Anton mengambil jas, tas kerja, dan bingkai foto Natashya untuk dibawa keluar kamar. Ia menuruni tangga tanpa semangat.
“Sarapan sudah siap, Den,” kata Bi Jati yang telah menyelesaikan tugasnya menata makanan di meja.
Anton mengangguk. “Terima kasih, Bi.”
Bi Jati tersenyum kecil. “Ada tamu buat Aden di ruang tamu, Den.”
“Tamu?” Anton mengerutkan dahi bingung. Seingatnya, ia tidak ada janji dengan siapa pun pagi ini.
Bi Jati mengangguk. “Iya, Den. Tamunya sudah datang sejak tadi.”
“Kenapa Bibi tidak panggil Nio dari tadi?”
“Tadi Bibi sudah panggil. Tapi, sepertinya Aden sedang mandi.”
Anton manggut-manggut. “Ya sudah, saya ke ruang tamu sebentar.”
“Silakan, Den.”
Anton meletakkan tas kerja dan foto Natashya di kursi makan sebelum beranjak ke ruang tamu. Jasnya pun disampirkan ke kursi. Ketika berada di ruang tamu, Anton tidak menemukan siapa pun.
Lho? Tamunya mana?
“Kok, nggak ada orang, sih?” heran Anton. “Ya kali Bibi nge-prank gue.”
Puk puk!
Anton merasakan dua tepukan di bahunya. Ia berbalik dan ingin menyapa sang tamu.
Deg!
Tubuh Anton membeku. Sekujur sel di dalam dirinya bergetar bersamaan dengan debaran jantungnya yang menggila. Sosok di hadapannya mengukir senyum yang membuat mata Anton memanas seketika.
__ADS_1
“Tashya...” lirih Anton.
Sosok itu—Natashya mengukir senyum melihat mata suaminya berkaca-kaca. “Aku pulang, Nio..”
Anton langsung menarik Natashya ke dalam pelukan. Dia menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher wanita itu, menghirup aroma favoritnya dengan rakus. Aroma yang sangat ia rindukan.
Natashya balas memeluk Anton tak kalah erat. Bukan cuma lelaki itu yang tersiksa kerinduan, dirinya pun sama.
“Kamu pulang, hiks.. kamu pulang, Shya...” Anton menangis di pelukan Natashya. Air matanya berjatuhan ke bahu wanita itu.
“Aku kangen, Shya.. hiks..”
“Aku juga,” balas Natashya.
“Maafkan aku, ini salahku.”
“Iya, aku maafkan.”
“Hiks..” Anton sesenggukan. Ia melerai pelukan dan menatap istrinya penuh damba. “Aku cinta kamu.”
“Aku juga.”
Anton tersenyum kala jemari Natashya mengusap pipinya yang basah. Wanita itu mengalungkan tangannya ke leher Anton. Tanpa tahu siapa yang memulai, kedua bibir mereka telah menyatu, meleburkan seluruh rasa yang menyiksa jiwa keduanya selama satu bulan ini.
“Ekhem!”
Natashya melepas tautan. Ia menoleh ke pintu, Randy, Heru, dan Riana berdiri di sana sambil mengulum bibir. Sementara Anton masih menatap bibir Natashya dengan tak rela.
“Tau situasi dong kalo mau berbuat mesum!” sindir Randy kesal. Masalahnya, di sini cuma dirinya yang masih jomblo. Randy merutuki sang author yang tidak juga memberinya pasangan!
Riana dan Heru tergelak melihat wajah masam putra mereka. Anton segera meminta keluarga Natashya untuk duduk. Mereka berbasa-basi sebentar sebelum ke topik utama. Dan, selama berbasa-basi itu, Anton tidak mau melepas pelukannya dari sang istri.
Makin asem tuh muka Bang Randy.
“Jadi, Nio, kondisi Natashya sudah sangat membaik. Tian juga mengizinkan kami membawa Natashya pulang kemari,” jelas Heru. Anton tersenyum senang mendengarnya.
“Akhirnya, Sayang!”
Cup cup cup!
Anton mengecupi pipi Natashya hingga wanita itu mengeluh karena pipinya menjadi basah. Namun, Natashya hanya diam di pelukan Anton, tidak memberontak sama sekali.
“Dan, inget, Yo! Ini kesempatan terakhir lo, paham?! Kalo lo sampe buat adek gue nangis lagi, detik itu juga gue akan bawa Tashya pergi dan urus surat perceraian kalian,” ancam Randy serius.
Anton menatap kakak iparnya tak kalah serius. “Iya, Bang. Kalo nanti aku sampai lukain Natashya lagi, kamu boleh ambil dia. Aku nggak akan halangin.”
__ADS_1
Anton beralih menatap istrinya penuh cinta. “Aku akan berusaha menjadi lebih baik lagi, Sayang. Aku tidak janji, tapi akan langsung membuktikannya.”
Natashya tersenyum. Ia mengangguk pelan dan mengecup pipi Anton.
“AKH, KALIAN MAH! GUE JOMBLO TERHORMAT, PAMIT UNDUR DIRI DULU! OKSIGEN DI SINI SUDAH TERNODAI!”
“BYE!”
Anton dan Natashya terkekeh pelan melihat Randy yang keluar rumah dengan muka masam.
...❄️❄️❄️...
Usai mengantarkan kedua mertuanya pulang hingga ke depan pintu, Anton bergegas menelepon Rio. “Assalamualaikum, Rio.”
“Wa‘alaikumsalam. Kenapa?”
“Gue ijin hari ini nggak pa pa, ya?”
“Kenapa lo?” protes Rio. Masa iya dia mengerjakan semuanya sendirian lagi?
“Hari ini aja, Yo. Natashya udah balik.”
Hening. Rio terdiam di seberang sana.
“Gue mau habisin waktu sehari penuh sama dia. Nggak pa pa, ya?”
Mendengar suara Anton yang penuh harap dan antusias, Rio tidak tega untuk tidak mengizinkan. Ia tahu betul seberapa rindunya sahabatnya itu dengan sang istri. “Oke. Lo tenang aja. Gue bisa handle semua.”
“Thanks, Yo. Gue tutup, ya. Assalamualaikum.“
Tut.
Anton masuk ke dalam rumah, ia mencari Natashya yang tidak terlihat di ruang tamu. “Tashya?” panggilnya.
“Non Tashya ke kamar, Den,” jawab Bi Jati yang kebetulan mendengar suara Anton.
Tubuh Anton bersitegang. A–apa? Tashya ke kamar? Gimana kalau—
Anton berlari ke kamar. Ia mematung di tangga teratas. Natashya nampak berdiri di depan pintu dengan tatapan lurus ke arah kamar. Mendadak Anton takut, takut sang istri kembali seperti dulu.
Duduk dengan tatapan kosong tanpa menghiraukan ucapannya sama sekali. Itu mimpi buruk bagi Anton!
“Na–Natashya?”
^^^To be continue...^^^
__ADS_1