KISAH KITA

KISAH KITA
Chapter 97 | Tawaran Natashya


__ADS_3

Brukk!


“Aw..”


“NATASHYA!” teriak Anton cemas. Lelaki itu berlari menghampiri istrinya yang jatuh tersungkur di tanah. “Sayang, kamu nggak pa pa, kan?”


Anton membantu Natashya berdiri. Ia menepuk-nepuk pakaian Natashya yang sedikit kotor terkena tanah. Matanya dengan jeli mengamati setiap inci tubuh sang istri, mencari luka seandainya ada.


“Nggak, Yo. I’m fine,” balas Natashya menenangkan.


Manik Anton beralih menatap Aisha tajam. “Lo apa-apaan, sih, ha?! Lo mau celakain istri gue, iya?!” serunya tak terima.


Natashya bisa melihat sorot takut yang terpancar di binar mata Aisha. Ia berinisiatif untuk memeluk suaminya dan mengusap punggung lelaki itu pelan, mengalihkan perhatian Anton dari Aisha. “Dia Aisha, Nio,” katanya berbisik.


Mendengar perkataan istrinya, Anton terkejut. Jadi, gadis di depannya ini adalah Aisha? Sahabat Natashya semasa SMA? Dan, dalang dari foto waktu itu?


Huh, entah kenapa Anton jadi kesal sekarang.


Bolehkah dia memukul gadis ini sekali saja dengan sepatunya? Anton sangat ingin melakukan itu.


“Oh, jadi ini yang namanya Aisha? Cewek yang udah ngambil foto kamu sama Kak Azlan waktu itu?” sarkas Anton dingin. Ia hendak maju untuk lebih mengintimidasi, namun Natashya menahannya. Wanita itu menggeleng pelan, tidak ingin Anton berbuat lebih jauh.


“Shya, gara-gara dia kita kehilangan anak kita,” ucap Anton sengaja.


Iya, Anton sengaja. Dia sengaja ingin memprovokasi Aisha, ingin tahu reaksi gadis itu seperti apa.


And, yeah. Aisha benar terprovokasi. Gadis itu membelalakkan matanya, terkejut dengan penuturan Anton.


“Kehilangan... anak?” lirih Aisha tak percaya.


Natashya menggeleng. “Itu bukan salah Ai—”


“Coba kamu pikir, Shya. Seandainya dia nggak ngirimin aku foto itu, mungkin masalah itu nggak akan terjadi dan anak kita masih hidup,” ucap Anton yang semakin melirih di akhir kalimat.


“A–apa? Apa maksud kalian?” ucap Aisha terbata-bata. Ia mengambil langkah mundur satu per satu. Otaknya sedang menyimpulkan sesuatu yang di luar dugaan.


Anton menarik sebelah sudut bibirnya. Aisha terprovokasi, itu yang dia inginkan. “Lo tau, karena foto yang lo kirim hari itu, gue dan Natashya terlibat pertengkaran. Dan, karena itu juga, calon bayi kita meninggal. Lo puas sekarang? Tujuan lo tercapai bukan?”


Anton sebenarnya tidak berniat jahat. Ia ingin Aisha menyadari kesalahannya dan tidak berbuat sesuatu yang pada akhirnya akan merugikan dirinya sendiri. Mendengar cerita Natashya, ia yakin bahwa gadis di depannya ini adalah orang baik.


Sayangnya, ada sebuah insiden yang masih menjadi misteri dan membuat sosok Aisha berubah.


Percayalah, kadang ada beberapa orang yang berperan sebagai antagonis di hidup orang lain karena mereka memiliki alasan. Jadi, belum tentu apa yang kita lihat itu adalah kebenaran.

__ADS_1


Masih ada fakta lain dari apa yang kita lihat, kawan-kawan. Jangan selalu percaya dengan apa yang mata kita tunjukkan, oke?


Aisha menggeleng kuat. Tidak, bukan ini yang ia inginkan. Aisha hanya ingin hubungan Natashya dan suaminya merenggang. Ia tidak bermaksud mencelakai siapa pun, termasuk calon anak mereka.


“Antonio Riko Alfiansyah!” seru Natashya dingin.


Sontak Anton menegang. Nada bicara Natashya sudah berubah seperti itu menandakan wanita itu tidak main-main lagi. Natashya-nya marah.


Dengan sesegera mungkin Anton memasang cengiran lebarnya. “Maaf, Sayang. Aku nggak bermaksud buat kamu sedih, kok. Aku cuma mau provokasi sedikit aja, hehe..”


Natashya memutar bola matanya malas. Ia beralih menatap cemas sosok Aisha yang nampak terpukul dengan berita barusan. Natashya mendekat, ingin menenangkan gadis itu.


“Sha, ini bukan salah lo. Nggak usah dipikirin, ya?” pinta Natashya lembut.


Aisha menatap Natashya sebentar, kemudian menatap perut Natashya yang datar. “Apa itu benar? Lo... keguguran?” tanyanya pelan.


Natashya menghela napas. Mau tak mau, tega tak tega, ia mengangguk pada Aisha. Faktanya memang seperti itu, kan?


Setitik harapan bahwa ucapan Anton adalah kedustaan seketika mencelos dari genggaman. Aisha tidak menyangka bahwa perbuatannya akan membuat satu nyawa melayang.


“Gu–gue nggak bermaksud u–untuk—”


“Sha, bukan salah lo,” potong Natashya seraya mengusap bahu sahabatnya itu. “Itu takdir, Sha.”


“NATASHYA!”


Natashya memekik kaget. Ia menoleh ke belakang, Laily dan Nadia datang dengan raut cemas mereka.


Laily menghambur ke pelukan Natashya. “Huaa... lo ke mana aja, sih, ha?! Gue nyariin lo dari tadi, Ogeb! Kenapa lo pergi nggak bilang-bilang, sih?!” serunya kesal.


Natashya terkekeh pelan melihat reaksi Laily. Dia akui, dia memang salah di sini.


“Maaf, ya,” ucap Natashya tulus.


Laily melepas pelukannya, ia ingin membalas kata-kata Natashya yang dengan mudahnya mengucapkan maaf. Namun, ketika maniknya menangkap sosok gadis tak asing di belakang Natashya membuat lidahnya kelu tiba-tiba. Tatapan Laily bertubrukan dengan manik Aisha.


“AISHA! INI LO, KAN?!” pekik Laily tak percaya. Ia begitu heboh melihat Aisha ada di sana. “Lo ke mana aja, Sialan?! Gue nyariin lo ke mana-mana! Huh!”


Aisha memalingkan wajahnya ke arah lain. Bertemu Natashya dan Laily adalah hal yang paling dia hindari sejak kedatangannya ke Jakarta. Ini tidak benar.


“Sha, lo nggak pa pa?” tanya Natashya khawatir. Aisha sedikit murung sejak mengetahui fakta bahwa dirinya pernah keguguran.


Aisha tak menyahut. Tatapan gadis itu sudah tidak semenyeramkan tadi.

__ADS_1


“Apa lo mau gue bantu?” tawar Natashya. Topik ini tidak bagus untuk Aisha juga dirinya. Natashya tidak mau mengingat soal anaknya yang sudah pergi.


Alhasil, lebih baik kita beralih ke topik lain saja.


Aisha menaikkan sebelah alisnya, bingung dengan tawaran Natashya.


“Gue mahasiswi psikologi dari Kampus X, Sha. Gue bisa bantu kondisi Alka kalo lo mau,” jelas Natashya.


Gadis itu terdiam.


“Gue janji akan bantu sampai Alka sembuh. Lo nggak perlu bayar gue, gue ikhlas.” Natashya menambahkan. Ia ingin hubungan mereka kembali dekat.


Anton yang juga berada di sana membulatkan matanya. “Nggak! Nggak boleh! Aku nggak ijinin kamu, ya!” ancamnya.


Natashya menatap suaminya heran. “Lho? Kenapa? Aku, kan, mau bantu sahabat aku.”


Aisha semakin termenung. Natashya masih menganggapnya dan Alka sahabat. Padahal, ia sudah berbuat jahat pada wanita itu.


“Alka itu cowok, Sayang. Aku cemburu!” rengek Anton tidak terima. “Aku nggak suka kamu deket-deket sama cowok lain, ya! Nggak boleh pokoknya!”


Anton dengan kecemburuannya dan keposesifannya memang tidak bisa dipisahkan. Intinya, sih, lelaki itu semakin bucin akhir-akhir ini.


Memang, sih, Anton jarang memperlihatkan kecemburuannya di depan umum. Pasalnya, kan, Natashya memang selalu menjauh jika ada lelaki yang mendekatinya apabila lelaki itu tidak ada hubungan dengannya. Jadi, stok kecemburuan Anton masih tersimpan rapi di lubuk hati lelaki itu.


“Nio, tapi, kan—”


“Nggak usah! Gue nggak butuh!” ucap Aisha datar. Ia berbalik dan meninggalkan mereka yang kaget mendengar suara Aisha.


“Sha, tung—”


“Shya.” Anton menahan Natashya yang ingin mengejar Aisha. Kepalanya menggeleng pelan, kode agar istrinya membiarkan Aisha pergi.


“Tapi, Nio—”


“Biarin dia nenangin diri dulu, Sayang. Dia pasti syok karena berita yang aku kasih.”


Natashya bergeming. Ucapan Anton ada benarnya. Aisha mungkin masih butuh waktu untuk mencerna semua ini.


“Huh, ini gara-gara kamu, Nio! Pokoknya, malam ini aku tidur sama Laily, titik!” kesal Natashya.


Anton melongo. Lho? Kenapa jadi aku yang disalahkan?


^^^To be continue...^^^

__ADS_1


__ADS_2