KISAH KITA

KISAH KITA
Chapter 109 | OLD?


__ADS_3

Huaa... maafkan Ay semua.


Semalam mau update, tapi ketiduran, hehe.


...Happy reading:)...


.......


.......


.......


Seringaian Yosua kembali terpasang. Ia mendekat dengan gerakan cepat dan bersiap menusuk Anton dengan pisaunya.


“YOSUA!”


Pergerakan Yosua terhenti. Ia kenal betul siapa pemilik suara itu. Ia pun berbalik, menghadap si pemilik suara yang tengah berdiri di ambang pintu dengan mata berkaca-kaca.


“Natashya,” sebut Yosua dengan nada lembut, seperti biasa. Perubahan yang sangat cepat.


“Tashya..” lirih Anton terkejut. Kenapa istrinya ada di—tunggu sebentar! Di tangan Natashya ada kotak bekal. Wanita itu datang untuk mengantarkan makan siang.


“Kak.. Yosua? L–lo ngapain bawa pisau ke sini?” tanya Natashya yang masih dikuasai oleh rasa terkejutnya. Kepalanya mulai menciptakan kesimpulan-kesimpulan yang tidak diinginkan.


Ini terlalu tidak disangka oleh siapa pun. Termasuk Natashya.


“Kakak sedang bantu kamu, Natashya,” jawab Yosua dengan senyum hangatnya.


Bantu? Bantu apa?


Baru saja Natashya ingin membalas jawaban Yosua, tatapan wanita itu terpaku pada tetesan darah di lantai. Anton, suaminya, terluka!


“Nio!” pekik Natashya khawatir. Ia berlari melewati Yosua begitu saja dan menghampiri Anton. “Kamu terluka, Yo?”


“Shya, kamu masuk ke ruang pribadiku dulu. Situasinya nggak memungkinkan buat—”


“No, Nio. Aku nggak akan ninggalin kamu!” Natashya kukuh dengan pendiriannya. Dia tidak mungkin membiarkan suaminya tetap di ruangan ini bersama Yosua.


Yang ada, bukannya sembuh, luka di tubuh Anton malah bertambah!


Melihat interaksi antara Natashya dan Anton menyulut emosi Yosua. Sorot mata lelaki itu menajam, menyiratkan amarah di dalamnya.


“Aaarrggghh!! Nggak! Nggak boleh!” teriak Yosua tiba-tiba. Anton dan Natashya sampai terperanjat karenanya. “JAUHIN COWOK ITU, NATASHYA!”

__ADS_1


“Kenapa aku harus jauhin suami aku sendiri, Kak?” balas Natashya berani. Tidak, dia tidak boleh lemah sekarang—walaupun sebenarnya, Natashya ingin menangis sekarang. Dia tak menyangka bahwa kakak kesayangannya, kakak penyelamatnya dulu, bisa berubah seperti ini.


“DIA JAHAT, SHYA!” teriak Yosua, lagi.


“Apa maksud Kakak?!”


“Dia udah buat kamu nangis, Shya. Aku tahu semuanya! Kamu depresi gara-gara cowok ini, kan?” seru Yosua bertubi-tubi.


Anton dan Natashya terdiam. Kenapa Yosua bisa tahu soal masalah itu? Keduanya, kan, tidak memberitahu siapa pun kecuali orang-orang terdekat dan keluarga.


Benar, ada yang tidak beres di sini.


Natashya ingin maju, namun lengannya ditahan oleh Anton. Lelaki itu menggeleng pelan, kode agar Natashya tidak berbuat hal nekat. Situasinya terlalu membahayakan.


“Tenang, Nio. Kak Yosua nggak akan ngelukain aku,” ucap Natashya menenangkan. Walaupun berat, akhirnya Anton membiarkan istrinya bertindak.


Natashya mengambil langkah maju perlahan-lahan, sorot matanya berubah hangat dan teduh. “Udah, Kak. Semua baik-baik aja,” tuturnya lembut. “Lihat, gue baik-baik aja, nggak nangis, nggak luka, dan nggak depresi. Gue fine, Kak!”


Jika benar dugaan Natashya, Yosua mengalami penyakit mental yang sudah cukup parah. Lelaki itu tengah lepas kendali saat ini.


Langkah pertama yang harus Natashya lakukan adalah... meredakan ketidakstabilan emosi Yosua.


“Kak, semua baik-baik aja sekarang,” ucap Natashya sekali lagi.


Natashya mengangguk mantap. “Iya, Kak. Gue baik-baik aja.”


“Tapi, informasi yang aku dapetin kamu—”


“Kak, gue fine, nggak kenapa-napa. Kakak percaya, kan, sama Natashya?”


Tanpa keraguan sedikitpun, Yosua mengangguk pada Natashya. Dia sangat mempercayai wanita itu—sosok yang ia cintai sejak pertama kali mereka bertemu.


Kini, Natashya berada tepat di hadapan Yosua. Dengan gerakan yang lembut dan tidak tergesa-gesa, ia merebut pisau di tangan Yosua dan menyembunyikannya di belakang tubuh.


Dia tidak mau ada korban darah lagi di sini.


“Kak Yosua kenapa? Ada masalah, hm?” tanya Natashya seraya mengusap lengan lelaki itu.


Sumpah, Anton yang melihat semuanya hampir meledak. Ia cemburu, tidak suka, dan kesal. Anton tahu tujuan Natashya baik, tapi tidak perlu sentuh-sentuh juga, kan?


“Kakak cinta sama Natashya. Kakak nggak mau Natashya menangis,” balas Yosua lirih. Ia menatap wanita di depannya nanar.


Perasaannya terlampau besar, namun tak pernah terbalaskan. Natashya sudah menjadi milik lelaki lain.

__ADS_1


Sekuat apa pun usaha Yosua untuk mengikhlaskan, perasaan itu tetap ada, bahkan memenuhi seluruh hatinya hingga tak bersisa ruang sama sekali. Ditambah lagi, Yosua merupakan anak yatim piatu sejak umurnya 4 tahun.


Lelaki itu paham betul apa yang namanya ‘kesepian’.


Namun, hidup Yosua seketika cerah ketika sosok Natashya hadir di hidupnya. Rasa itu muncul tanpa sebab dan tanpa diminta.


Bukan hanya Anton yang terkesiap karena pengakuan Yosua, Natashya juga sama. Wanita itu tahu kalau Yosua menyimpan rasa padanya. Hanya saja, ia tidak menyangka bahwa perasaan itu akan menjadi tidak terkontrol seperti ini.


“Kakak nggak mau liat Natashya sedih. Apa pun akan Kakak lakukan demi kamu, Shya.” Yosua mengusap pipi Natashya pelan. Sorot matanya masih nampak sendu.


Natashya menghela napas berat. Sepertinya kasus ini lumayan rumit.


Sisi bagusnya, ada sedikit titik terang di sini. Ada beberapa kemungkinan yang sudah Natashya kumpulkan.


“Kakak pulang dulu, ya. Besok kita ngobrol lagi, oke?”


Awalnya, Yosua menolak. Namun, dengan kegigihan Natashya, akhirnya lelaki itu tak membantah lagi. Dia pergi setelah mengudarakan kalimat penuh ancaman pada Anton,


“Gue liat Natashya nangis sekali lagi, lo mati di tangan gue, Antonio.”


...❄️❄️❄️...


“Dia gila, Shya! Aku yakin itu!” seru Anton kesal. Bagaimana bisa Yosua datang hanya untuk membunuhnya? Dan, itu di kantornya sendiri! Pakai pisau pula!


Benar-benar gila pokoknya!


Natashya yang tengah sibuk mengobati luka di lengan Anton hanya mengangguk, membenarkan seruan suaminya. Sementara otaknya bekerja memproses setiap kejadian hingga membentuk sebuah kesimpulan.


“Obsessive Love Disorder,” simpul Natashya setelah berpikir cukup lama.


“He? Itu apa?” Anton bingung.


“Salah satu penyakit mental di mana seseorang terlalu mencintai pasangannya secara berlebihan,” jelas Natashya singkat. Lanjut menghela napas berat. “Kalau dari tingkah Kak Yosua, kayaknya... dia punya OLD itu, Yo.”


Air muka lelaki itu berubah cemas. “Apa itu bahaya?”


“Secara fisik, mungkin nggak. Tapi, OLD bisa ngebuat pengidapnya suka nekat. Persis kayak Kak Yosua barusan. Karena terlalu suka sama aku, bahkan sampai terobsesi, Kak Yosua berusaha nyingkirin pihak-pihak yang ngebuat aku terluka.”


“Intinya, Kak Yosua berpikir kalau apa yang dia lakukan itu udah benar karena ingin ngelindungin aku, Nio. Dicintai seseorang mungkin menyenangkan, tapi jika berlebihan seperti itu juga nggak akan buat orang nyaman,” imbuh Natashya memperjelas pernyataannya.


Anton menghela napas kasar. “Dan, aku nggak terima dia begitu gara-gara cinta sama kamu, Sayang...” rengek Anton setengah protes.


Hei, memangnya aku yang mengendalikan perasaan Kak Yosua?!

__ADS_1


^^^To be continue...^^^


__ADS_2