KISAH KITA

KISAH KITA
Episode 127 Terjebak


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Arya dan Vindi tengah memasuki loby hotel. Acara pertunangan di adakan di lantai paling atas.


Dengan senyum genit, Vindi bergelayut manja pada lengan Arya. Meski berulang kali ditepis oleh Arya, gadis itu tetap tak menyerah.


Mereka telah sampai pada tempat acara, tamu undangan telah memenuhi tempat itu. Suasana sangat meriah, dekoran yang sangat mewah di penuhi dengan bunga-bunga cantik.


Seketika wajah Arya tersenyum tipis, membayangkan acara pernikahannya dengan Asty.


"Pasti Asty seneng banget kalau konsep pernikahannya kaya gini." Gumam hatinya.


"Arya, kita ke sana yuk? Temanku yang tunangan ada di sebelah sana." katanya sembari menunjuk seseorang yang sedang tersenyum manis ke arah tamu undangan.


Arya hanya menganggukkan kepalanya, mereka berjalan beriringan. Lagi-lagi Vindi merangkul Arya. Hal yang harusnya dilakukan seorang pria.


"Cih! Lepaskan aku!" tegasnya sembari mempercepat langkahnya.


Vindi mendengus kesal, ia mengepalkan tangannya. Tak terima atas perlakuan Arya terhadapnya.


"Selamat ya Sis, akhirnya kamu tunangan juga. Semoga dilancarkan sampai hari-H, ya." Ucapnya seraya mencium pipi Siska.


"Iya Vin, makasih ya udah datang." jawabnya, lalu pandangannya beralih pada Arya yang hanya diam saja.


"Ini siapa Vin?" Tanyanya basa-basi.


"Ohh ini, Arya calon suamiku."


Dengan percaya dirinya ia menyebutkan bahwa Arya calon suaminya.


"Sayang, kenalkan ini Siska temenku." Katanya seraya meraih tangan Arya untuk berjabat tangan dengan temannya itu.


"Arya," katanya malas.


Siska pun membalas jabatan tangan Arya lalu memperkenalkan dirinya. Setelah beberapa menit mengobrol kesana kemari dengan Siska, akhirnya mereka mengakhiri obrolan.


Vindi mengajak Arya untuk duduk di pojok dekat jendela. Agar bisa leluasa melihat pemandangan ibu kota dari dalam gedung.


"Kamu mau makan apa? Biar aku ambilkan." Tawarnya tersenyum genit.


"Apa saja," jawabnya malas.


Arya meraih ponsel dalam saku celananya. Ia hendak mengirimi pesan pada kekasihnya.


"Sayang kamu masih di rumah Mama?" Pesan langsung bercentang biru.


"Iya Sayang, Mama tadi nungguin kamu datang lho. Bahkan mama udah masak makanan kesukaan kamu," balas Asty.


"Bilang sama mama aku minta maaf udah bikin kecewa. Ini semua gara-gara mama Ranti yang nyuruh aku buat diem di rumah gak boleh kemana-mana."


Arya sengaja berbohong agar kekasihnya tidak salah paham.


"Iya Sayang aku udah bilang gitu kok ke mama, dan mama juga udah maafin kamu. Sayang udah dulu ya, aku dipanggil papa nih."

__ADS_1


Tak lupa emoji mencium ia selipkan di pesannya. Arya tersenyum melihat emoji itu, membayangkan seandainya itu benar-benar Asty menciumnya.


"Ini makanannya. Lihatin apa sih sampe senyum-senyum gitu." tanyanya ketus. Arya tak perduli, toh ia sangat tak menyikai gadis itu.


"Bukan urusanmu!"


Lalu Arya meraih piringnya, ia merasa sangat lapar. Apalagi dari tadi emosinya terkuras karena harus menahan amarahnya. Vindi menengguk minumannya kasar, ia sangat kesal dengan perlakuan Arya.


Mereka menikmati makan malam dalam diam. Arya sangat menikmati makanannya, tak perduli wajah masam yang ditunjukan Vindi. Tak berselang lama, seseorang menghampiri meja mereka.


"Vindi? Ini kamu? Ya ampun, kamu makin cantik deh. Gimana kabarnya?" sapa seorang wanita sembari menepuk pelan pundak Vindi.


"Eh Raya, ya ampun kamu pangling banget sekarang. Aku baik, kamu sendiri gimana kabarnya?"


Kedua wanita itu heboh bersenda gurau. Kentara sekali bahwa mereka telah bertahun-tahun tidak bertemu. Arya menyelesaikan makannya, lalu menengguk minumannya sampai habis.


"Eh ini siapa Vin? Suami kamu ya?" tanyanya sembari menyenggol lengan Vindi.


"Masih calon suami Ra, kamu sama siapa kesini?"


"Ohh, sama suamiku Vin. Kebetulan suamiku teman calon suaminya Siska."


"Kita ke sana yuk, ketemu sama teman-teman yang lain," ajaknya seraya menarik lengan Vindi.


Vindi menoleh ke arah meja, senyum kemenangan merekah di bibirnya. Kala melihat gelas minum Arya telah kosong.


Kini raut wajah Arya telah memerah, Arya merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya.


Akhirnya karena terus diseret oleh Raya, dengan berat hati Vindi mengikuti langkah temannya tersebut.


"Sebentar ya Ar, aku ke sana dulu. Kamu jangan ke mana-mana, oke?" katanya berlalu pergi.


Arya hanya diam saja, hasratnya sudah menggila. Ia sudah tak kuat untuk menahannya.


"Dasar gadis murahan! Aku tahu, dia yang sudah memasukkan obat itu ke makananku." Gumamnya dengan napas yang memburu.


"Aku harus segera keluar dari gedung ini. Mumpung dia lagi bersama temannya."


Secepat kilat Arya menuju lift. Lalu keluar dengan keringat yang sudah sangat deras di dahinya.


Badanya semakin menegang dan juga terasa panas. Segera ia menuju parkiran, menaiki mobilnya dengan tergesa.


Pikirannya buntu saat ini, ia bingung harus bagaimana. Sementara di bawah sana sudah sangat menuntut untuk segera di salurkan.


Asty! Hanya nama itu yang terlintas dibenaknya. Segera ia menelfon kekasihnya itu. Ponselnya ia apit oleh bahu kanannya.


"Hallo Sayang, kamu dimana sekarang?" tanyanya to the point.


Asty mengernyitkan dahinya, tak biasanya Arya tak mengucapkan salam terlebih dahulu.


"Aku baru sampai kos-an Sayang. Ada apa gitu?"

__ADS_1


"Aku ke sana sekarang. Jangan tidur dulu."


Sambungan telfon ia matikan. Ia menancapkan gas sekencang-kencangnya.


Kini ia sudah berada di depan gang, dengan berlari kecil ia memasuki gang tersebut. Ia mengetuk pintu, tak lama Asty membukakan pintu tersebut.


Mata Asty terbelalak saat melihat keadaan kekasihnya. Dasi yang sudah dilonggarkan, wajahnya yang memerah dan baju yang basah oleh keringat.


"Kamu kenapa Sayang? Ayo masuk dulu!" Katanya sembari memberi jalan untuk Arya masuk.


Setelah berada dalam rumah, Arya mengunci rumah tersebut. Asty merasa aneh dengan sikap Arya.


Dilihatnya jam dinding rumahnya, waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Apa kata tetangga nanti kalau tahu di rumahnya sedang berada seorang pria.


"Kamu apa-apan sih Ar? Apa kata orang nanti kalau pintunya di kunci."


Asty mulai marah, namun Arya menatapnya dengan tatapan memangsa. Asty bergidik ngeri, ia takut sesuatu terjadi pada mereka.


Tanpa aba-aba, Arya langsung mencium bibir Asty. ********** lembut, Asty melototkan matanya. Tak percaya Arya akan melakukan hal ini.


Ciuman semakin dalam, namun Asty tak kunjung membalas. Napas gadis itu sampai tersengal. Tak bisa mengimbangi permainan Arya.


"Tolong aku Sayang," pintanya dengan suara parau.


"Tolong apa?" dengan setengah kesadarannya ia menjawab.


"Tolong layani aku untuk malam ini. Aku bisa mati kalau terus seperti ini." Paparnya, matanya yang sayu menandakan gairahnya sudah mencapai ubun-ubun.


Asty sangat bingung dengan permintaan Arya. Belum sempat menjawab, bibir Arya telah mencium kembali bibirnya.


Arya memeluk Asty sangat erat, gadis itu sangat kewalahan melayani ciuman kekasihnya.


Arya menggendong tubuh Asty untuk masuk ke dalam kamar. Asty meronta meminta untuk di turunkan. Namun, telinga Arya seolah tuli tidak mendengarkan jeritan Asty.


Direbahkannya tubuh Asty, dengan napas memburu Arya merobek piyama yang di kenakan Asty. Gadis itu berteriak histeris. Iya mencoba melawan sekuat tenaga.


Namun tenaganya kalah kuat dengan tenaga Arya.


Kini tak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh mereka. Asty menangis ketakutan, Arya tak perduli itu.


"Jangan lakukan itu, kumohon." Pintanya seraya menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Aku terpaksa Sayang, aku janji bakalan langsung nikahin kamu." Katanya seraya menindih tubuh Asty.


"Untuk sekarang, tolong menurutlah. Nanti setelah selesai, aku akan jelaskan sama kamu."


Asty masih menangis, sungguh ia tak ingin menyerahkan kesuciannya sebelum Arya halal baginya.


Dengan gerakan kasar, Arya menghempaskan selimut yang membalut tubuh polos Asty. Melihat kemolekan tubuh kekasihnya, membuat Arya semakin menegang.


Dengan paksaan Arya menikmati tubuh kekasihnya. Gairah yang sudah bergelora, merampas mahkota sebelum waktunya.

__ADS_1


Jeritan dari bibir Asty serupa desahan yang semakin membuatnya menggila.


__ADS_2