
Aqila masih berpaling, Aqila benar benar terpukau karna senyum Galih. Berkali kali Aqila, bertanya tanya dalam hatinya. "Kenapa Galih, bisa semirip itu dengan Gilang?" Aqila tak berpikir kalo mereka kembar. Aqila juga tak kepikiran sampai sana.
Galih terlihat gelisah. Bingung harus mulai dari mana. Aqila harus tau, tentang kenyataan itu. Kenyataan yang mungkin tak bisa Aqila terima. Tapi Galih harus katakan yang sebenarnya.
Mengumpulkan seluruh keberanian nya, Galih pun mulai berbicara.
"Maaf, apakah kamu punya waktu hari ini?" tanya Galih pelan. Galih tak berani melihat wajah Aqila. Galih benar benar takut mendengar kata penolakan. Namun bagaimana pun juga, Aqila harus tau, tentang kebenaran itu. Tentang kenyataan yang harus Aqila tau.
Aqila melihat wajah Galih. Yang masih menunduk tak berani melihat wajah Aqila.
"Hari ini, aku ga bisa" ucap Aqila.
Galih tau, Aqila pasti menolak. Galih masih berharap ada hari lain untuk membicarakan hal penting ini. Galih masih menunduk, rasanya tak kuat bila harus melihat wajah Aqila. Wajah cantik Aqila, yang selalu menolak kehadiran Galih.
"Tapi mungkin besok bisa" guman Aqila, lagi. Merasa kasihan karna wajah Galih sedari tadi tertunduk. Dan terlihat kekecewaan di wajahnya.
Galih langsung mengangkat kepalanya di lihatnya wajah Aqila. Walau tak berucap. Namun terlihat Galih begitu bersemangat.
"Baikah, besok setelah kelas, kamu bisa tunggu aku di taman kampus tempat bisa aku anak anak nongkrong" ucap Aqila, beranjak dari tempat duduknya karna kelas hari ini. Telah usai sedari tadi. Sebagian anak anak sudah pada meninggalkan kelas.
"Maaf, jam berapa? Kamu selesai kelas" tanya Galih lagi.
"Mungkin setelah Ashar" jawab Aqila pergi meninggalkan Galih.
Galih Tersenyum, Hatinya begitu lega. Aqila mulai terbuka sekarang. Tinggal nunggu besok. Ha Galih sudah tak sabar dengan pertemuan nya besok dengan Aqila. Walau Galih tak yakin. Setelah pertemuan itu, Aqila masih mau bertemu Galih lagi.
Galih sudah pasrah, bila setelah esok. Aqila akan membenci Galih. Galih sudah siap. Dengan segala resiko yang ada. Galih menerima semua keputusan Aqila. Karna ini, yang terbaik untuk Aqila. Galih tak bisa terus menyimpan semua rasa bersalah ini sendirian. Entah Aqila terima atau tidak. Galih akan katakan yang sebenarnya.
__ADS_1
Dalam perjalanan pulang. Aqila masih bertanya tanya, apa yang akan di bicarakan Galih. Aqila penasaran. Sebenarnya hari ini, Aqila tak sibuk. Aqila hanya belum siap saja. Belum siap, dengan Galih sendiri.
Rasa bersalah itu, masih selalu ada di hati Aqila. Aqila belum bisa menerima kehadiran Galih. Yang wajahnya begitu mirip Gilang. Bertahun tahun, Aqila merasa bersalah menmendam rasa dalam hatinya.
Aqila, belum bisa memaafkan dirinya. Karna Gilang pergi setelah bertengkar dengan Aqila. Pertengkaran yang tak penting. Membuat Aqila tak bisa melihat Gilang selamanya. Gilang pergi begitu saja. Itu penyesalan Aqila beberapa tahun ini.
Aqila belum minta maaf. Aqila menyesal. Sekarang dengan melihat Galih. Rasa bersalah itu, semakin kuat. Aqila tak menerima itu. Aqila begitu takut untuk melihat Galih. Galih yang begitu mirip dengan Gilang.
Tuhan benar benar mempermainkan Aqila kali ini. Kenapa harus melihat wajah itu. Wajah Gilang. Walau pada kenyataannya Galih dan Gilang berbeda.
Apa ini, cara Tuhan agar Aqila menebus semua kesalahannya di masa lalu.
Aqila menghapus air matanya dalam perjalanan pulang. Aqila terus menangis sambil mengendarai motor ninja hitamnya.
Rasa sakit dalam hatinya begitu dalam. Teramat dalam. Kini Aqila akan memperlakukan Galih dengan baik. Karna sekarang Aqila sadar, Galih dan Gilang berbeda.
Sampai malam, Sarah dan Amelia masih mengerjakan tugas. Waktu sudah menunjukan pukul 7 malam.
"Sar, kita lanjutkan besok yah, aku masih ada tugas lain" ucap Amelia,
"Baikah, aku lelah pengen istirahat. Pinggang ku sakit, dari tadi duduk terus" ucap Sarah mulai beranjak dari tempat duduknya dan berdiri. sambil memegang pinggang nya.
Saat itu, suasana kafe tak terlalu penuh. Hanya ada beberapa orang saja yang datang untuk makan. Selebihnya sudah pulang.
Terlihat, Nathan, sedang mengerjakan tugas. di bantu teman lainya. Nattan sudah ketinggalan pelajaran selama hampir 3 minggu ini. Sebisa mungkin Nattan harus mengejarnya. Agar bisa menyusul temanya.
Diam diam, Sarah melihat Nattan yang begitu serius. Namun segera berpaling. Karna Amelia sudah bersiap pulang.
__ADS_1
"Sar, aku duluan ya, see yuu, sampe ketemu besok, dah" pamit Amelia langsung pergi.
Sarah pun bersiap untuk pulang. Dari ujung mata Nattan, Nattan melihat Sarah, Gadis itu, selalu membuat Nattan berdebar. Namun Nattan kembali fokus mengerjakan ketertinggalan nya.
Sarah sudah, membereskan buku dan laptop nya yang ia masukan ke tasnya. Dan bersiap untuk pulang. Sarah mengecek ponselnya. Sudah banyak panggilan dan chat dari teman temanya. Menanyakan keberadaan Sarah. Sarah membalas chat dari temanya dulu. Setelah itu segara pulang.
Sarah terlihat cuek, saat melihat dan melewati Nattan. Nattan sendiri hanya bisa melihat punggung Sarah, yang sudah semakin menjauh meninggalkan Kafe. Dan kembali pada tugasnya.
Saat melihat Sarah tak ada satupun temanya yang peka atau curiga. Karna mereka sibuk bermain game online. Nattan kembali pada tugasnya.
Di luar Kafe, Sarah menoleh kedalam kafe. Nattan memang tak melihat Sarah. Begitu juga Sarah yang tak melihat Nattan. Karna tertutup yang lain.
Sarah hanya bisa melihat Nattan dari jauh. Lama Sarah berdiri, di luar Kafe. Sarah tak berharap Nattan datang untuk menemui Sarah. Sarah ingin melihat Nattan. Walau di luar tak terlihat Nattan sana sekali.
Sarah menghembuskan nafas panjang. Dan melangkah ke parkiran untuk mengambil motornya dan segera pulang.
Nattan buru buru keluar. Entah kenapa? Nattan ingin keluar. Namun Sarah memang sudah tak ada. Hanya terlihat Sarah sudah melangkah jauh menuju parkiran.
Nattan tadi berharap Sarah masih di sini. Namun Nattan salah, Sarah tak mungkin menunggu Nattan. Mereka berdua tak menyadari Kalo Sarah dan Nattan sudah terhubung. Nattan dan Sarah sudah satu hati. Walau mereka tak menyadari itu.
Tak menyadari kalo, antara Sarah dan Nattan saling jatuh cinta. Namun keadaan tak memungkinkan mereka bersama.
Namun baik Sarah atau Nattan, yakin. Tuhan mempunyai cara yang terbaik dan terindah untuk mereka. Entah bersama atau terpisah. Mereka hanya bisa berharap. Namun kembali lagi pada Author yang nulis. Mau di bawa kemana cerita mereka berdua mau bersatu atau megantung. Nantikan saja di chapter berikutnya. Sekarang bersambung dulu yah...
Bersambung...
Jangan lupa like yah, Dan mampir juga kedua novel aku yang lain. "Ketika Cinta menemukan jalanya" dan " Irani Gadis Indigo". Terima kasih sudah membaca karya saya.
__ADS_1