KISAH KITA

KISAH KITA
Chapter 78 | Pulang (2)


__ADS_3

Parah, udah berapa lama Ay nggak update? Lama banget, ya😢


Ay nggak ngerti, deh. Otak Ay amburadul nggak bisa mikirin ide buat cerita ini. Outline yang udah Ay buat kacau semua, hiks..


Semoga bagus, deh.


...Happy reading:)...


.......


.......


.......


Hari ini Natashya dijadwalkan untuk pulang setelah beberapa hari dirawat. Usai mengurus semua dokumen dan administrasi, wanita itu akhirnya dibolehkan keluar rumah sakit.


Anton membawa Natashya menuju mobilnya menggunakan kursi roda. Di bahu lelaki itu ada tas berisi barang-barang milik istrinya. Heru, Riana, dan Randy sudah pulang duluan beberapa menit lalu.


Natashya hanya diam walaupun Anton memperlakukan dirinya dengan cara apa pun. Entah itu digendong ke kursi roda maupun selama Anton mendorong kursi roda. Natashya hanya diam dengan kepala tertunduk.


Padahal, Anton sudah sangat senang ketika Natashya merespon ucapan Riana beberapa menit yang lalu. Ia pikir, istrinya akan segera pulih dan kembali seperti semula.


Sayangnya, itu tidak berlaku lagi saat ini.


Natashya kembali menjadi sosok pendiam.


Walaupun kecewa dengan perubahan Natashya, Anton tetap berusaha memaklumi hal tersebut. Ia tidak ingin bertindak gegabah lagi dan malah menciptakan masalah yang lebih besar.


“Shya, kamu mau mampir nggak?” tanya Anton ketika mereka tiba di dekat mobil.


Natashya diam.


“Tidak? Ya sudah, kita pulang, ya. Nanti aku masakin makanan favorit kamu.” Anton tersenyum tegar. Ia tidak akan menyerah demi Natashya.


Lelaki itu begitu telaten membantu Natashya. Ia membukakan mobil, memindahkan tubuh Natashya ke dalam mobil pula, dan memasangkan seatbelt dengan benar. Barulah setelah itu, mobil melaju meninggalkan pekarangan rumah sakit.


Sepanjang perjalanan, Natashya hanya diam. Tatapannya lurus ke samping jendela, memandangi jalanan yang bergerak semu. Di sampingnya, Anton tengah fokus di balik kemudinya. Sesekali ia mencuri pandang ke arah istrinya.

__ADS_1


Berulang kali juga Anton mengajak Natashya berbincang. Entah apa pun itu topiknya, pokoknya diajak bicara dahulu. Namun, Natashya hanya diam. Tidak merespon sedikitpun.


Semoga semua akan segera baik-baik saja.


Doa yang sederhana.


Anton tidak ingin uang atau kekayaan. Dia hanya ingin istrinya kembali dan kebahagiaan tercipta lagi di bahtera rumah tangga mereka.


Untuk saat ini, Anton hanya ingin Natashya-nya kembali seperti semula.


Anton rela jika Natashya memarahinya nanti. Ia rela menjadi sasaran pukulan jika wanita itu kesal. Apa pun itu Anton rela dan ikhlas. Asalkan Natashya kembali menjadi dirinya yang dulu.


Itu saja.


...❄️❄️❄️...


“Selamat datang kembali ke rumah, Tashya,” seru Anton ketika mereka memasuki hunian.


Natashya yang semula menunduk, perlahan mendongakkan kepala. Ia menyorot setiap sudut ruangan yang Anton sebut sebagai rumah mereka. Semua masih sama. Tidak ada perubahan yang signifikan di sana.


“Kita ke kamar, ya. Kamu perlu istirahat.” Anton menggendong Natashya ala bridal style menaiki tangga. Setibanya di kamar, lelaki itu langsung membaringkan istrinya di ranjang sepelan mungkin. “Tunggu di sini dulu, ya, Shya. Aku turun sebentar.”


Anton, kan, ingin membuat masakan spesial untuk Natashya.


Natashya mengedarkan pandangannya ke penjuru bilik. Tatapannya berhenti di area pintu kamar. Seolah ada yang meremas, Natashya merasakan sakit luar biasa di dadanya.


Ingatan itu masih segar. Semua masih terputar jelas di otak Natashya.


Di sinilah tempat calon anak Natashya dan Anton meregang nyawa. Kamar inilah saksi bisu kejadian mengerikan hari itu.


Kejadian yang tidak diinginkan siapa pun.


“Hiks..” Natashya meringkuk di posisinya. Dadanya sesak dan kedua matanya memanas. Semua memori kelam itu secara otomatis terputar di kepalanya.


Kesalahpahaman Anton, kemarahan Anton, dan berakhir dengan kematian sang anak.


“Maafkan Mama, Baby L, hiks.. maaf..” isak Natashya sedih. Tangannya terulur mengusap perut dengan pelan.

__ADS_1


Natashya memaksakan diri untuk kembali menatap kamarnya. Tatapannya jatuh pada baju bayi dan sepasang sepatu yang tergeletak di atas sofa yang ada di kamar. Terlihat sengaja ditaruh di sana dengan letak yang rapi.


Kenapa benda itu ada di sana?


Mengabaikan tanda tanya besar di kepalanya soal bagaimana benda itu bisa di sana, Natashya melangkah lunglai ke arah sofa. Ia meraih dua benda tersebut—benda yang diniatkan akan diberikan kepada Baby L ketika ia lahir nanti.


Sayangnya, semua harapan itu sirna di malam penuh kesalahpahaman itu.


“Maaf.. maaf.. maafkan aku.” Natashya terus berkata tanpa henti. Tubuhnya luruh ke lantai. Ia mendekap sepatu juga pakaian bayi tadi ke dalam dada. “Maafkan aku karena tidak bisa menjagamu. Maaf, Baby L, hiks..” Natashya semakin meringkuk di bawah.


Dari luar kamar, Anton berdiri termenung. Suara-suara lirih Natashya sampai di telinganya karena memang pintu tidak tertutup. Tubuhnya memaku di tempat, seolah mati rasa karena mendapat hantaman besar.


Rasa sesak yang berusaha ia kucilkan demi sang istri kembali hadir di hatinya. Tubuh Anton merosot jatuh ke lantai dengan bertumpu lutut.


Kembali lagi dari awal, semua masalah ini terjadi karena ulahnya. Natashya menjadi seperti sekarang karena ketidakmampuannya dalam mengatur emosi. Semua ini salah Anton.


Maafkan aku, Shya. Semua ini salahku, bukan salahmu.


Anton bergegas masuk ke dalam kamar dengan sisa tenaga yang ada. Dia masuk dengan air mata yang berjatuhan.


Anton memberikan dekapan erat untuk sang istri, dagunya ditenggerkan di kepala Natashya. Kecupan lama sering Anton berikan di puncak rambut Natashya, berharap wanita itu bisa merasakan kehadirannya di sana.


Anton ingin Natashya membagikan kesedihannya. Karena faktanya, bukan hanya Natashya yang tersiksa, Anton juga.


“Ini salahku, bukan salahmu. Salahkan aku saja, jangan salahkan dirimu seperti ini, Sayang.”


“Aku mencintaimu, Natashya.”


“Aku cinta kamu.”


^^^To be continue...^^^


...❄️❄️❄️...


Huaa.. pendek banget! Cuma 802-an kata doang. Padahal, biasanya nyampe 1000 lebih, huhu.


Maafkeun, ya. Ay kehabisan ide.

__ADS_1


Doakan semoga otak Ay mengalir lancar semua idenya. Aminn.


See you di chapter selanjutnya:)


__ADS_2