KISAH KITA

KISAH KITA
Chapter 112 | Masa Lalu Yosua


__ADS_3

“YOSUA!”


“KELUAR LO SEKARANG!”


“LO HARUS PERTANGGUNGJAWABIN PERBUATAN LO KE ADEK GUE, BAJINGAN!”


Aisha berteriak kencang tepat di depan pintu rumah Yosua. Dia akan menyelesaikan masalahnya dengan menghancurkan akar dari permasalahan itu sendiri.


Ceklekk..


“Woi! Apa-apaan, sih, teria—” Yosua terdiam. Ia mengenali Aisha sebagai salah satu sahabat Natashya. “Aisha? Ini lo, kan?”


Tidak ada jawaban ramah dari Aisha. Gadis itu menatap garang sosok Yosua, lelaki yang pernah disukainya semasa SMA. “Bajingan!” makinya. Ia mendorong dada Yosua hingga tubuh lelaki itu terdorong masuk ke dalam rumah.


Mata Yosua terbelalak. “Sha! Apa-apaan, sih, lo? Kenapa lo—”


“Lo masih tanya ‘kenapa’?! Setelah semua perbuatan lo ke gue dan adek gue, lo bisa-bisanya tanya ‘kenapa’?!” pekik Aisha geram. Ia memukuli tubuh lelaki itu dengan tangan tanpa henti, melampiaskan seluruh rasa sakit yang ia pendam selama ini.


“Sha! Lo kenapa, ha?!” tanya Yosua mulai kehabisan stok kesabaran.


“Lo, kan, yang ngebuat adek gue depresi, Bang*at?!” bentak Aisha.


Kening Yosua mengerut. “Adek? Adek yang mana?”


“Adek gue, Alka, Sialan!”


Yosua terdiam, otaknya memproses pribadi yang bernama Alka. Ah!


“Oh, Alka? Cowok banci itu adek lo?” sinis Yosua mengingat siapa Alka. Lelaki yang dengan beraninya menembak Natashya dulu.


Sepasang manik Aisha terbuka lebar. “Banci? LO NYEBUT ADEK GUE BANCI?!”


Demi apa pun itu, emosi Aisha sudah ada di puncak ubun-ubun. Yakin, deh, sebentar lagi akan meledak. Berani sekali Yosua menyebut adiknya banci!


“Iya, dia emang banci.”


Plak!


Kepala Yosua tertoleh ke samping. Rasa panas menjalar di pipinya, menyebar hingga seluruh wajah. Emosi Yosua mulai tak terkontrol.


“Lo tampar gue?” ucap Yosua dingin.


Aisha tersenyum miring melihat bekas tamparannya membentuk cap tangan. “Lo pantes dapet itu!”


“Lo—!”


“Lo udah ngebuat adek gue depresi, Yosua! Lo bener-bener pantes dapet tamparan dari gue!” bentak Aisha lagi.


Sudahlah. Kedua orang ini menciptakan api di dalam diri masing-masing, tidak ada yang mau mengalah untuk menjadi air di sini.


“Cih! Lo—”


“Apa salah Alka sama lo, ha? Kenapa lo buat dia gila kayak gini, Yos?!” Semua uneg-uneg di kepala Aisha dikeluarkan. Ia sudah tak tahan lagi. Sebagai seorang kakak, dia tidak terima adiknya diperlakukan semacam ini.

__ADS_1


Bahkan, Alka sampai depresi karena terlalu menderita.


“Lo mau tau apa kesalahan adek lo? Gue bisa beritahu.” Yosua menyeringai.


Seringaian bengis di mata Aisha. Dan, dia benci karena itu.


...Flashback on....


Yosua sedang berjalan sendirian di koridor SMA-nya. Sebentar lagi dia akan lulus dan meninggalkan sekolah penuh kenangan ini. Jadi, apa salahnya berkeliling sedikit. Dia, kan, sudah kelas XII.


Ketika ia melewati taman belakang sekolah, Yosua melihat sosok gadis yang merupakan tambatan hatinya. Siapa lagi kalau bukan Natashya?


Sayangnya, di sana Natashya tidak sendirian. Ada Alka di depannya.


Mereka ngobrolin apa, ya?


Karena penasaran, Yosua bersembunyi dibalik tembok. Telinganya dipasang dengan benar, dia siap menguping pembicaraan kedua anak manusia itu.


“Gue mau ngomong sesuatu sama lo,” kata Alka.


“Apa?”


Alka menyodorkan sebuket bunga lili putih ke arah Natashya. “Gue suka sama lo, Shya.”


Yosua membelalakkan matanya. Apa? Alka suka sama Natashya?!


Natashya hanya diam. Sepertinya gadis itu masih agak syok.


“Gue suka sama lo, Shya, sejak kelas 1 SMA. Cuma.. gue nggak berani buat jujur sama lo. Sifat lo yang pendiam ngebuat gue susah buat nebak perasaan lo ke gue,” jelas Alka.


Gadis itu bergeming. Lanjut menghela napas gusar. “Lo tau gue nggak suka basa-basi, kan?”


Alka mengangguk.


“Oke, gue kasih jawabannya sekarang.” Natashya menatap wajah Alka lekat. “Sorry, Al. Gue nggak bisa.”


“Lo baik, lo ganteng, lo penyayang, lo konyol juga kadang-kadang. But, gue udah janji sama diri gue sendiri, gue nggak akan pacaran karna gue punya impian besar,” ucap Natashya menjelaskan.


“Gue mau fokus dengan pendidikan gue. Gue nggak mau mind map hidup gue berantakan karena cowok. So.. i’m sorry, Alka. Gue nggak bisa terima lo.”


Alka terlihat menganggukkan kepalanya. “Iya, Shya. Gue paham.”


Natashya menerima buket bunga Alka. “Gue ambil, ya.”


“Iya.” Tatapan Alka berubah sendu. “Sorry kalo gue ngebuat lo nggak nyaman. Gue harap... persahabatan kita nggak hancur gara-gara ini.”


Natashya menepuk bahu Alka sekali. “Lo tenang aja. Gue masih waras buat nggak ngelakuin hal bodoh kayak gitu.”


“Lo tetep sahabat gue, Alka. Selalu.”


Setelah itu, Natashya pamit meninggalkan Alka sendirian di taman belakang. Lelaki itu duduk di bangku yang tersedia, sementara Yosua memperhatikan Natashya yang berjalan cepat menjauhi area taman belakang.


Kedua tangan Yosua terkepal. Dia tak suka dengan pemandangan di depannya barusan. Selain karena ia cemburu, Yosua juga yakin kalau Natashya sekarang tidak merasa nyaman.

__ADS_1


“Semua yang ngebuat Natashya nggak nyaman, harus disingkirin!”


...❄️❄️❄️...


Yosua memperhatikan baik-baik interaksi Natashya dan Alka. Keduanya terlihat seperti biasa, masih bersahabat. Bedanya, Natashya selalu pergi di setiap ada kesempatan.


Dan, di mata Yosua, itu semacam usaha Natashya untuk menghindari Alka.


Natashya pasti nggak nyaman..


Yosua menatap Alka tajam. Gue yang akan balas lo karena udah ngebuat Natashya nggak nyaman kayak gini, Alka!


Pembalasan dimulai. Yosua merancang sebuah rencana untuk menculik Alka dan menyekapnya di gudang rumahnya.


“Kak Yosua? Lo nyulik gue?” Alka menatap Yosua tak percaya. Tubuhnya terikat di kursi dengan kuat, sementara Yosua berjongkok di hadapannya. “Kenapa lo—”


“Diem!” pekik Yosua. Alka langsung kicep. “Gue nggak akan basa-basi sama lo, Al.”


“Gue cuma mau, lo jauhin Natashya untuk selama-lamanya!” pinta Yosua dingin.


Alka tertawa remeh. “Oh, jadi bukan cuma gue aja yang suka sama Natashya? Kalo lo suka sama dia, ayo kita bersaing secara sehat, Kak. Nggak gini caranya.”


Plak!


“Gue nggak butuh ceramah dari lo!” teriak Yosua emosi. Deru napas lelaki itu saling memburu hebat, terlihat dari dadanya yang naik-turun dengan cepat. Dan, jika sudah berada di situasi seperti ini...


Yosua butuh pelampiasan.


Lelaki itu bangkit dari posisinya. Ia mendekati sudut gelap gudang dan meraih—


Sepasang mata Alka terbelalak. “Gina!” serunya kaget.


“Hiks.. Kakak, aku takut, huhu..”


Yosua menyeret Gina, gadis kecil umur 6 tahun, ke depan Alka. Dia merupakan salah satu anak panti asuhan yang cukup Alka kenal. Bahkan, keduanya berteman baik.


“Buat apa lo culik dia, Kak?! Gina nggak ada hubungannya sama permasalahan kita!” pekik Alka murka. Dia khawatir melihat kondisi adik kesayangannya itu.


Tubuh Gina dihiasi beberapa memar. Kedua tangannya terikat, rambutnya acak-acakan, seolah-olah gadis kecil nan imut itu habis diterjang badai topan.


“Ada, dia berhubungan sama lo, berarti berhubungan sama ini.” Yosua mengeluarkan sebilah pisau tajam. Kilatan ujungnya terlihat ngeri, terutama di mata Alka.


Alka was-was melihat Yosua mengarahkan pisau itu ke leher Gina. “JANGAN MACEM-MACEM LO, YOSUA!” bentaknya emosi.


“Lo harus tau, Alka...” Yosua menyeringai—seringaian yang kejam dan sadis. Dia tidak peduli dengan suara isakan Gina.


“Gue adalah orang yang paling cinta sama Natashya. Dan, karena itu, gue akan ngelindungin dia dari orang-orang yang udah ngebuat dia nggak nyaman.”


“Terutama lo, Alka!” seru Yosua dingin. “Ini akibatnya karena lo udah ngebuat wanita yang gue cinta nggak nyaman.”


Jleb! Srett!


Deg!

__ADS_1


“GINA!”


^^^To be continue...^^^


__ADS_2