
Tok tok tokk...
“Masuk!”
Natashya membuka kenop pintu ruang kerja Anton di rumah. Penampakan sang suami yang tengah berkutat dengan dokumen dan laptop pun terlihat. Dan, ya, entah kenapa Anton terlihat lebih gagah jika sedang menggunakan kacamata seperti saat ini.
“Siap—eh, Sayang?” Anton melepas kacamatanya dan menepuk pahanya, kode agar Natashya masuk lebih dalam, kemudian duduk di pangkuan.
Natashya tidak membantah kali ini. Dia menutup pintu lalu menghampiri sang suami. Ia duduk di pangkuan Anton dengan posisi miring, kedua tangannya terkalung di leher Anton.
“Fafa udah tidur?” tanya Anton memastikan. Pasalnya, ini sudah jam 10 malam. Takutnya, putrinya masih terjaga di atas batas waktu tidur baiknya.
Natashya mengangguk. “Udah dari tadi, Yo.”
“Ya udah. Kenapa ke sini, hm?”
Natashya bergumam sebentar. “Aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”
Anton menaikkan sebelah alisnya, ia juga ingat kalau siang tadi Natashya ingin mengatakan sesuatu. Namun, karena teriakan Fafa yang menggelegar, kalimat Natashya terpaksa ditunda demi keberlangsungan hidup Fafa yang hendak diterjang rasa tidak terima.
“Ngomong apa? Yang tadi siang itu?”
Natashya mengiyakan. Dalam satu tarikan napas, wanita itu berucap dengan lantang, “Aku hamil.”
Hening.
Anton terdiam seribu bahasa. Otaknya sedang memproses dua kata, delapan huruf yang baru saja Natashya lontarkan. “Ulangi, Shya,” pintanya.
Natashya menghela napas sejenak. “Aku hamil, Antonio.”
Seketika mata Anton terbuka lebar. “APA?! HAMIL?! SERIUS?!”
Natashya terkejut melihat reaksi sang suami. Kenapa dia begitu terkejut sampai berteriak begini? Memangnya ada yang salah kalau dirinya hamil anak kedua?
“Kamu.. kenapa, Nio? Kamu nggak suka aku hamil?” tanya Natashya bingung.
Bukannya menjawab, Anton malah terlihat seperti orang yang linglung. Lelaki itu menatap paras sang istri, lalu turun ke perut Natashya yang terlihat datar. “Ini serius, Shya? Kamu nggak lagi bohong, kan?” tuduh Anton masih tak ingin percaya.
“Ya kali beginian aku bohong, sih, Yo? Nggak, lah. Aku beneran hamil.”
Anton menghempaskan punggungnya di sandaran kursi, terlihat sekali beban berat yang dipikul lelaki itu hanya dilihat dari wajahnya. Anton bahkan menghela napas berat.
“Kamu kenapa, sih, Yo?” heran Natashya.
Sebisa mungkin Anton mengulas senyum untuk Natashya. “Nggak pa pa, kok. Aku cuma kaget aja.”
Natashya memicing curiga. “Beneran?”
“Iya, Sayang.” Anton membopong tubuh Natashya dan dibawa keluar ruangan. “Ibu hamil nggak boleh tidur malam-malam, oke? Sekarang bobo’ dulu.” Anton merebahkan tubuh Natashya di ranjang kamar mereka. Kemudian, ikut berbaring di sampingnya.
Akhirnya, mau tak mau, Natashya tersenyum kecil. Wanita itu meringsek ke dalam pelukan suaminya, mencari kenyamanan terhebat di dalam. “Jangan ke mana-mana, ya. Di sini aja sama aku.”
Anton sukses dibuat bingung. Sebelumnya dia merasa frutrasi dengan kabar kehamilan Natashya karena takut sikap sang istri akan berubah kembali—dingin dan datar begitu. Tapi, kok, sekarang manjanya naudzubillah, sih?
“Tumben manja, Yang,” heran Anton mengutarakan isi hatinya.
“Bawaan dedeknya kali,” gumam Natashya yang masih bisa didengar oleh Anton.
__ADS_1
Anton pun tidak lagi bertanya. Lelaki itu fokus mengusap punggung Natashya, sesekali mengecupi kepalanya. Semoga kamu tetep kayak gini, Sayang.
Jangan jadi kayak dulu, ya. Aku nggak mau dicuekin lagi.
...❄️❄️❄️...
“APA?! FAFA UNYA DEDEK?!” pekik Fafa terkejut. Gadis kecil itu membolakan matanya hingga terbuka sempurna.
Natashya dan Anton yang duduk di depan Fafa sebenarnya sudah bisa menduga reaksi anak pertama mereka ini. Fafa pasti kurang terima karena memang dia tidak suka berbagi. Tetapi, sekarang faktanya Fafa akan segera memiliki adik bayi.
“Tok itu, Ma? Fafa ndak au,” kata Fafa dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Anton panik, sementara Natashya menghela napas. Wanita itu berpindah duduk di sebelah Fafa dan memindahkan anaknya ke pangkuan. “Emang kenapa, kok, nggak mau? Punya adek, kan, enak. Fafa jadi ada teman main.”
Fafa terdiam sejenak. Selanjutnya mendongakkan kepala, menatap wajah mamanya intens. “Anti Ama ain ma dedek. Fafa imana?”
Natashya berdecak. “Kalian itu sama-sama anak Mama. Kenapa kamu jadi takut gini, sih? Pesimis amat jadi orang.”
Fafa menatap mamanya kesal. Ia melipat kedua tangan kecilnya di depan dada. “Huh! Fafa, tan, uma atut.”
“No, Fafa. Kamu tenang aja, nggak akan ada diskriminasi nanti. Oke?”
“Aji?” Fafa menyodorkan jari kelingkingnya yang super mungil.
Natashya balas menautkan jemarinya. “Janji.”
Anton yang duduk diam memperhatikan mengukir senyum melihat seulas senyum tipis di bibir Fafa. Gadis kecil itu memang sebenarnya sangat ingin dekat dengan Natashya.
Hanya saja, permasalahannya adalah kebingungan dalam berekspresi yang dialami Fafa. Natashya dahulu juga sulit mengungkapkan apa yang dia rasakan, sama seperti Fafa sekarang. Rasa sayang Natashya dan Fafa bahkan sudah terjalin sejak Fafa tumbuh di rahim Natashya. Maka dari itu, ikatan batin mereka kian menguat tiap detiknya.
...❄️❄️❄️...
Lima tahun kemudian...
“Mama!”
Natashya bergegas menghampiri. Ia menautkan alisnya melihat putri sulungnya tengah menarik lengan adiknya ke hadapannya. “Kenapa, Kak?” tanyanya.
Fafa mendengkus. “Adek, Ma, dia nakal banget. Masa iya temennya dipukul?”
Natashya menaikkan kedua alisnya. Ia beralih menyorot ke anak bungsunya. “Itu bener, Dek?”
Anak bungsu Anton-Natashya itu mengangguk santai. “Diya antes dapet itu, Ma.”
“Kenapa?” tanya Fafa dan Natashya bersamaan.
“Masa Valel diiyang jeyek, si. Kan, ganteng gini.” Anak itu bernama Elgar Varell Alfiansyah, putra bungsu Anton-Natashya yang lahir empat tahun lalu, tengah mengusap pakaiannya sendiri, seolah menghilangkan debu yang bersarang.
Natashya cuma bisa menghela napas kalau begini. Entah dari mana asalnya, sifat Varell sedikit berbeda dari dirinya maupun Antonio. Varell cenderung aktif daripada sang kakak yang lebih suka berdiam diri dan tidak suka keramaian. Namun, adakalanya Varell bersikap seperti Anton, dingin jika diusik.
Namun, jika Varell sedang senang, lelaki kecil itu bisa cerewetnya bukan main.
“Kamu pukul apanya?” tanya Natashya lagi.
“Tuma nangannya aja, tok. Ndak yang yain,” kata Varell seraya mengacungkan dua jarinya.
Fafa mencibir. “Cuma tangan, tapi anaknya sampe nangis kejer.”
__ADS_1
Varell melirik sang kakak dengan sorot permusuhan. “Diya aja yang cingeng! Huh! Masa diputul gitu aja nanis.”
Natashya geleng-geleng saja, tidak mau menanggapi lebih lanjut. “Udah, kalian siap-siap sana. Kita ke kantor papa habis ini.”
Sontak Fafa dan Varell menatap Natashya dengan sorot bertanya. “Mau ngapain?” tanya mereka kompak.
“Anterin makan siang.”
“Oh.”
“Ya udah, sana siap-siap.”
Fafa mengiyakan, berbeda dengan Varell yang terlihat tidak acuh. Bocah sok itu duduk manis di sofa dengan gaya elegan. “Ngapain ciap-ciap? Valel udah ganteng, tok.”
Fafa dan Natashya berpandangan sejenak, lanjut menggeleng pasrah.
“Adik kamu tuh, Kak,” kata Natashya pasrah.
Fafa berdecak. “Itu anak Mama, yang Mama lahirin dulu.”
“Haishh..” Kedua perempuan berbeda generasi itu menghela napas berat.
Kenapa aku merasa ngurus Fafa lebih mudah daripada Varell, ya?
...❄️❄️❄️...
Tiba di kantor, Natashya, Fafa, dan Varell langsung menuju ruangan CEO, tempat Anton bekerja. Beberapa karyawan yang mengenali ketiganya menyapa dengan sopan. Natashya menanggapinya dengan ramah, begitupun dengan Varell yang tersenyum manis. Berbeda dengan Fafa yang sekadar melirik.
“Nio,” panggil Natashya ketika mereka sudah masuk ke dalam ruangan.
Anton yang sedang mengecek dokumen mendadak menghentikan pekerjaannya. Ia menolehkan kepalanya dan tersenyum dengan tampannya. “Udah dateng, Sayang?” Ia menghampiri Natashya dan mencium keningnya. “Halo anak Papa,” sapanya pada kedua anaknya.
“Halo, Papa,” sapa Varell balik. Fafa, sih, cukup berdeham saja.
Natashya geleng-geleng melihat tingkah anak pertamanya itu. “Udah, ayo kita makan dulu.”
Tidak ada yang membantah. Mereka berempat duduk di sofa, menyantap makanan yang Natashya bawa dari rumah. Sesekali Anton menanggapi celotehan Varell yang lebih manusiawi daripada kedua wanitanya yang hanya diam di tempat.
“Papa, Tatak, tan, yagi ibur cekolah. Timana kalo tita jayan-jayan. Ya, ya, ya?” pinta Varell dengan tingkah imutnya.
Anton terkekeh pelan. Lelaki itu pun mengiyakan tanpa ragu. Sudah cukup lama juga mereka tidak quality time, pikirnya.
Terima kasih, Ya Allah. Engkau memang Maha Pemurah.. Terima kasih sudah memberi keluarga hamba kenikmatan ini. Hamba sangat bersyukur kepada-Mu..
^^^-Bonus Chapter 3 Finish-^^^
...❄️❄️❄️...
Yeay.. selesai!
“Kisah Kita” fiks sudah selesai. Bonus chapter sudah Ay selesaikan semuanya.
Terima kasih untuk kalian semua yang udah ngikutin cerita ini dari awal sampai akhir. Dari Natashya dan Anton yang belum kenalan sampai punya 2 anak. Kita masih bisa ngobrol di lapak lain, kok.
Cek di profil Ay, Ay ada 2 novel lainnya dan 1 chat story yang bisa kalian baca.
See you semuanya. Ketemu di lapak lain, okay..
__ADS_1