
Yosua bergerak maju, tangannya terayun dari belakang, hendak menghunuskan pisau di tangan ke perut Aisha. Sayangnya, belum sempat itu terjadi, perkataan Aisha sukses membuat tubuh Yosua membeku.
“Dan, gue pastiin, Natashya bakalan benci sama lo seumur hidupnya!”
Deg!
Na–Natashya?
Seakan ada serbuan badai salju, tubuh Yosua membeku di posisi. Pergerakan lelaki itu terhenti. Ujung pisau yang tajam mengilat itu berhenti tepat di depan perut Aisha.
Sedikit saja Yosua bergerak maju, Aisha akan tertusuk.
“Natashya udah tau semua ini. Dia pasti benci sama lo, Yos! Dia nggak mau temenan sama psikopat kayak lo!” Aisha menakut-nakuti, seringaian licik terukir di bibir gadis itu. “Dia benci sama lo, Bajin*an!”
Prangg!
Pisau di genggaman Yosua terjatuh begitu saja. Wajah lelaki itu terlihat syok dan panik. Pikiran Yosua sangat kacau sekarang.
Ia menggeleng-geleng kuat, mengeyahkan pikiran buruk yang menguasai otaknya. Kedua tangannya meremas rambut seraya mengambil langkah mundur.
“NGGAK! ITU NGGAK BENER! NATASHYA NGGAK BENCI SAMA GUE!” teriak Yosua histeris.
Aisha menggeleng tegas. “NATASHYA BENCI SAMA LO, YOSUA! DIA UDAH TAU KALO LO PENYEBAB ALKA DEPRESI!” balas gadis itu tak mau kalah.
“NGGAK!” Yosua berjalan terombang-ambing. Semua barang yang tertata rapi di rak dan meja ia porak-porandakan. Beberapa sudah pecah dan berserakan di lantai.
“NGGAK! NATASHYA NGGAK BENCI SAMA GUE! ITU NGGAK MUNGKIN!”
“GUE NGGAK MAU!”
“NGGAAAAAKKK!”
Yosua terduduk meringkuk di sudut ruangan. Lelaki itu menangis hebat, bibirnya terus meracaukan kalimat yang sama. Yosua tidak mau Natashya membencinya.
Entah penyakit apa yang Yosua derita, OLD lelaki itu tetap mendominasi. Obsesi yang Yosua miliki untuk Natashya sudah tidak bisa dikendalikan sampai-sampai dia nekat mengawasi Natashya dari jauh.
Ya, itulah faktanya. Di mana pun Yosua berada, sejauh apa pun jarak yang memisahkan mereka, Yosua tidak pernah melupakan Natashya. Dia mengawasi wanita itu diam-diam—dengan caranya.
Dia nekat berbuat jauh karena ingin Natashya bahagia. Jika Natashya sampai membencinya, tentu saja itu akan mempengaruhi pemikiran dan kondisi Yosua.
Dia tidak masalah Natashya tidak membalas perasaannya. Tetapi, Natashya tidak boleh sampai membencinya.
Aisha yang melihat Yosua histeris tersenyum kecil, senang melihat lelaki yang menjadi penyebab adiknya hancur ikut menderita. Ini caranya membalas perbuatan Yosua terhadap Alka.
__ADS_1
Sayangnya, hati kecil Aisha, hati nuraninya, malah berkedut nyeri di dalam sana. Ada sisi di mana Aisha tidak tega melihat Yosua dalam kondisi seperti ini. Apalagi ketika kalimat Natashya terngiang di kepalanya, Aisha seolah tersadarkan.
“Sesuatu yang keliatan baik-baik aja di mata kita, belum tentu baik-baik aja di mata orang lain, Sha. Kadang mata kita juga bisa menipu, nggak semua yang kita liat, itu adalah kebenarannya.”
“Mungkin di mata kita, hidup Kak Yosua itu sempurna. Dia keturunan keluarga kaya, anak tunggal, dan selalu tersenyum setiap kita ketemu. Tapi, nggak ada yang tau kayak gimana perasaan Kak Yosua yang sebenarnya selama ini.”
“Bisa aja dia tersenyum untuk menyembunyikan luka. Dia tersenyum untuk menyembunyikan rasa sakit. Ada banyak kemungkinan yang ternyata adalah fakta kehidupan yang kita nggak tau soal Kak Yosua. Jadi, lo, gue, ataupun siapa pun nggak punya hak buat nge-judge Kak Yosua, Sha.”
“Karena kita nggak pernah tau, gimana rasanya berada di posisi Kak Yosua,” tambah Natashya mengakhiri uraiannya.
“Hiks..” Tubuh Aisha melemas. Gadis itu luruh ke lantai bertumpu pada lututnya.
Seharusnya ia mendengarkan Natashya dan tidak datang kemari. Aisha menyesal, sungguh.
Ia tidak pernah tahu penderitaan macam apa yang Yosua alami selama ini. Pasti ada kisah dibalik semua ini yang menyebabkan Yosua mengidap OLD dan penyakit lainnya.
Seharusnya, Aisha melihat Yosua dari sisi lelaki itu pula. Dia sudah egois dengan memikirkan dirinya sendiri dan Alka, melupakan fakta bahwa mungkin Yosua jauh lebih sakit daripada dirinya.
Dengan tubuh yang gemetar, Aisha bergerak mendekati Yosua dengan lututnya. Ia menyentuh lembut lengan lelaki itu. “Ma–maaf, Kak. Gu–gue nggak bermaksud...”
Yosua tetap histeris. Dia meneriaki nama Natashya dengan keras.
Aisha ikut menangis. Terlepas dari kesalahan Yosua, lelaki ini juga merupakan cinta pertamanya. Hati kecilnya tidak tega. Masih ada sisa rasa di hati Aisha untuk Yosua.
Natashya.. gue harus telpon Natashya.
Padahal, kesambung. Kenapa Natashya nggak angkat telpon gue?
Aisha panik melihat Yosua berusaha melukai dirinya sendiri dengan pecahan kaca dari beberapa barang. Ia mencegahnya, namun tenaga Yosua tidak sebanding. Aisha benar-benar butuh bantuan.
Shya, gue butuh bantuan lo...
...❄️❄️❄️...
Di rumah Anton-Natashya...
“Aku hamil.”
Satu kalimat, dua kata, dan delapan huruf itu sukses membuat tubuh Anton membeku. Ia merasa tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja terkuak.
“Apa, Shya? Apa tadi?” Anton ingin memastikan sekali lagi. Takut telinganya salah dengar.
Natashya menghembuskan napas panjang sebelum mengulang ucapannya, “Aku hamil, Nio.”
__ADS_1
Senyum Anton merekah. Lelaki itu senang bukan main. Ia segera mendekap Natashya erat seraya mengecupi puncak kepala istrinya. “Alhamdulillah.. akhirnya kamu hamil, Sayang.”
Natashya tidak bergerak sama sekali. Wanita itu hanya diam dengan pandangan menerawang. Kenangan masa lalu mengenai anak pertamanya kembali terputar.
Anak pertama mereka yang sudah tiada...
“Hiks..”
Anton terkejut mendengar suara isakan. Ia mengurai pelukan dan mendapati sang istri tengah menangis. “Sayang, kok, nangis? Kamu kenapa?”
Natashya memeluk erat tubuh suaminya. “Aku takut, hiks.. gimana kalau—”
“Sayang...” Anton menghentikan ucapan Natashya. Ia tahu arah pembicaraan istrinya. “Itu hanya masa lalu, Shya. Kita jadikan pelajaran untuk menjadi lebih baik, ya, Sayang.”
“Kita jaga anak kita lebih dari sebelumnya. Jangan takut, Sayang. Kita lalui bersama, ya.”
Natashya mengangguk pelan di dalam pelukan. Ia tersenyum kecil seraya mendongakkan kepalanya. “Terima kasih,” lirihnya.
“Sama-sama, Istriku.” Anton tersenyum tampan. “Besok kita periksa, ya.”
“Iya.”
“Ya udah. Ayo tidur, ini udah malam. Nggak baik bumil tidur malam-malam.”
Drrttt.. drrtt...
Atensi Natashya teralihkan. Ia dan Anton menoleh ke arah ponsel Natashya yang berdering di atas nakas.
“Aku angkat sebentar.” Natashya mengambil ponselnya dan menilik nama pemanggil. Aisha?
“Assalamua—”
“Shya! Tolongin gue, hiks!”
^^^To be continue...^^^
...❄️❄️❄️...
Mengingat sifat Natashya, apa yang akan ia lakukan setelah mendapat telepon dari Aisha?
Gila, gila, gila, cerita ini bentar lagi tamat dong. Natashya udah ada kepastian sedang hamil, kisah Yosua dan Alka yang jadi akar permasalahan udah terbongkar, Baby Aruna juga udah lahir, Laily udah nikah sama Hafi. Apalagi yang kurang?
Nggak ada, kan, ya?
__ADS_1
Eh, ada Bang Rio yang belum kawin—astagfirullah...
See you di chapter selanjutnya:)