
Abdul masih berbaring di lantai. Abdul malah langsung tidur dengan pulas. Membuat Galih bingung dan terkejut. Badan sebesar Abdul. Bisa tidur dimana saja.
Galih, masih melihat Abdul begitu pulas untuk tidur. Abdul begitu bebas seperti tak ada pikiran membuat Galih Iri.
"Tenang, Dia sudah terbiasa" Guman Nattan.
Galih Tersenyum.
"Kira kira kapan aku pulang?" Tanya Nattan tiba tiba.
"Aku ga tau,"
"Pasti biaya rumah sakit ini mahal. Bagaimana aku ganti uang kamu?" Nattan mulai merasa terbebani. Nattan tak terbiasa merepotkan orang orang disekitarnya. Nattan sudah mandiri sedari kecil. Tak ada malas malasan dalam kamus hidupnya.
"Udah, ga usah pikirin biaya. Masalah uang gampang. Yang penting kamu sembuh dulu"
"Aku ga bisa males malesan kaya gini"
"Kamu lagi sakit, bukan males malesan"
"Aku hanya makan tidur. Makan tidur. Bukanya itu malas malasan"
Galih, mengerutkan keningnya. Adanya laki laki model Nattan ini. Pekerja keras sekali. Kadang Galih Iri sama Nattan. Nattan selalu berjuang untuk apapun yang ia inginkan. Sedangkan Galih, Dari dulu hanya menyusahkan orang tuanya. Dulu karna penyakitnya. Sekarang, tak tau kah. Ayahnya sekali memenuhi kebutuhan Ibu dan Galih. Apapun yang galih butuhkan Semua sudah tersedia. Tanpa galih minta. Membuat Hidup Galih terlalu enak. Tak seperti Nattan.
"Tolong Tanya dokter. Kapan aku pulang?"
"Yah, kalo sudah sembuh pasti pulang lah"
"Haaaa" Nattan menghembuskan Nafas panjang.
"Aku tak terbiasa, hidup santai seperti ini. Rasanya tak enak" Guman Nattan lagi.
"Ada saatnya, kamu harus istirahat. Jangan terlalu di porsir. Biarkan tubuhmu Rileks sejenak. Kamu harus sehat, bukan begitu"
__ADS_1
"Kamu benar," Nattan melamun, Entah apa yang Nattan lamunankan.
"Aku Iri ma kamu"
Nattan melihat Galih serius. Maksudnya apa dengan Iri. Bukanya kebalik. Itu yang dipikirkan Nattan.
"Bukanya kebalik tuch"
"Aku beneran Iri, kamu di kelilingi teman yang begitu sayang sama kamu"
"Kamu orang baik, pasti dapat teman yang baik"
Galih terdiam.
Galih bertanya tanya dalam hatinya. Apakah benar galih orang baik. Manusia ya g sudah merenggut hidup sodara kembar nya disebut orang baik. Jadi apa Di dunia ini. Jika orang baik itu seperti Galih. Galih sekali berpikir tentang dirinya. Yang tak layak untuk mendapatkan hidup baru. Galih terus merasa bersalah pada sodara kembarnya yang tak pernah Galih liat selama hidupnya.
Galih teringat dengan Aqila. Galih susah berjanji dalam hatinya. Kalo Galih akan menceritakan semuanya pada Aqila. Sekarang, Galih mulai bingung harus mulai darimana untuk bercerita tentang Gilang.
Galih takut, Aqila tambah Scock. Takut Aqila benar benar tak bisa menerima semua ini. Tapi Aqila harus tau, kebenaran ini. Galih tak mau. Aqila mendengar ini dari mulut orang lain. Galih benar benar bingung sekarang.
"Kamu, ga apa apa?"
Galih, masih melamun. Ucapan Nattan pun tak terdengar sama sekali. Galih masih terhanyur dalam lamunannya ya begitu rumit dan membingungkan Harus mulai Dari mana untuk bercerita tentang kebenaran itu.
Nattan menbiarkan Galih terhanyut dalam lamunannya. Nattan tak mau mengangu Galih.
Di balik pintu, Nattan melihat seseorang yang ia kenal. Dia mengintip di balik pintu. namun langsung pergi begitu saja. Entah apa ya g dilihatnya.
Nattan Seperti melihat Devia. Teman masa kecil Nattan. Dan sudah di jodohkan sedari kecil. Nattan tak mencintai Devia. Tapi Nattan tak bisa menolak permintaan kedua orang tuanya. Karna sudah mempunyai hutang Budi pada keluarga Devia.
Nattan tak tau dia akan berjodoh dengan siapa? Nattan berharap tak berjodoh dengan Devia.
Nattan tau, Devia wanita seperti apa?. Devia bukan gadis yang baik. Devia menjual dirinya pada om om hidung belang. Nattan tak suka wanita seperti itu.
__ADS_1
Bukan jijik. Tapi lebih merasa kasihan saja. Kenapa sampai sebegitu untuk kebutuhan hidup. Sampai menjual dirinya seperti itu.
Selama ini, Nattan menyembunyikan Perilaku Devia dihadapan keluarga nya. Nattan tak mau, Memberitahu kan mereka. Nattan tak mau ikut campur. Dengan urusan Devia.
Nattan hanya tak ingin orang tuanya dan orang tua Devia malu dengan kelakuan Devia. Biarlah mereka melihat sendiri. Kekakuan bagaimana?. Karna cepat lambat. Keluarga Devia pasti tau. Kekakuan Devia yang sudah mempermalukan keluarga nya karna ini.
Padahal keluarga Devia sangat taat beribadah. Tapi Devia. akh, Nattan tak ingin ikut campur. Terserah saja. Semoga saja Nattan tak berjodoh dengan Devia.
Devia keluar lagi dari rumah sakit. Tak jadi masuk Karna Galih berada disitu. Devia bukan takut pada Galih. Devia tak ingin membuat keributan yang membuat Nattan semakin tak ingin bersama Devia.
Devia sudah di jemput lagi dengan seseorang laki laki yang lebih tua dari usianya. Siapa lagi selain Mas Ardian. Ayah Dari Galih ini. Sudah lama memcintai Devia.
Galih, tak peduli lagi dengan Devia. Gadis itu tak pantas untuk diperjuangkan. Gadis murahan seperti Devia. Tak mungkin muncul lagi di hadapan Galih, yang emosi sampe ke ubun ubun. Karna melihat Devia. Galih benci sangat benci.
Dulu yang asalnya, tumbuh benih cinta. Kini sudah hilang sudah perasaan Galih pada Devia. Galih malah menyukai Aqila. Mungkin Karna Jatung milik Gilang. Membuat Galih begitu memcintai Aqila. Perasaan nya kini begitu dalam pada Aqila.
Mungkin sedalam ini. Gilang memcintai Aqila. Sampai terasa sakit saat Aqila ngdrop saat Melihat Galih.
Galih dan Gilang memang Kembar identik. Tak ada perbedaan antara satu sama lain. Mereka terlihat sama dari jauh. Padahal belum tentu, Orang-orang disekitar Galih saja ya g bisa membedakan. Antara Galih dan Gilang.
Galih dan Gilang begitu sama. Tak ada yang beda. Lahir dari rahim yang sama dengan Kembar nya.
Galih tau, Gilang begitu memcintai Aqila. Makanya Galih bisa merasakan itu. Merasakan. Cintanya Gilang yang begitu memcintai Aqila. Sampai tak ada tempat untuk Galih.
Jatung Gilang. Begitu kuat memcintai Aqila. Membuat Galih ikut jatuh cinta pada Aqila. Galih berkali kali meminta maaf karna memcintai Aqila.
Perasaan nya mungkin sama seperti Gilang ya g mencintai Aqila. Galih tak bisa, menghilangkan perasaan yang begitu besar.
Galih ingin Aqila tau tentang perasaannya. Yang tak mungkin Galih miliki. Karma Aqila hanya mencintai Gilang. itu saja.
Galih tak bisa menepis perasaannya yang sama sama besar, Antara Galih dan Gilang. Pasti Aqila akan memilih Gilang dibanding Galih.
Tak ada tempat untuk Galih. Galih hanya mencintai Aqila. Tak peduli Aqila mau membalas atau tidak. Yang penting Galih menikmati setiap Cinta yang tumbuh perlahan dihatinya. Untuk Aqila. Galih rela. Tak apa bila galih bukan pilihan Aqila. Galih tak mengharapkan untuk di balas Aqila.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like yah...