
Setelah pulang dari rumah Asty, Arya segera pulang ke rumahnya.
Untuk urusan pernikahannya telah di atur oleh Papa Asty. Kini, Arya hanya tinggal meminta restu dari sang Mama. Meskipun ia tahu, Mama akan menolak keras tentang niatannya.
Mau bagaimana lagi? Keputusan Arya sudah bulat. Meskipun Arya tidak melakukan hal "itu" pada Asty, ia akan tetap menikahi kekasihnya.
Saat memasuki garasi rumahnya, ia melihat mobil yang sangat ia kenal tengah teparkir di sana.
"Cih! Mau apa lagi dia kemari? Dasar perempuan licik!" geramnya, segera ia langkahkan kakinya memasuki rumah.
"Assalamu'alaikum." Ucapnya sembari membuka pintu.
"Wa'alaikumsalam. Kamu ke mana aja Nak? Vindi nungguin kamu dari tadi." Sambut Mama dengan riangnya.
Arya menatap tajam gadis itu, Vindi menelan selivanya perlahan. Gurat kecemasan telihat di dahinya.
"Jangan sampai Arya menceritakan kejadian di acara malam itu." Batin Vindi cemas.
"Untuk apa dia menungguku? Aku tak sudi bertemu dengannya lagi!" tegas Arya, lalu berjalan dengan cepat menuju kamarnya.
"Arya!" Teriak Mama, Arya membalikkan tubuhnya. Mama tengah melotot ke arahnya.
"Minta maaf sama Vindi," perintahnya.
Ekor matanya mengarah pada Vindi. Mengkode Arya agar menurut.
"Aku tak sudi! Aku tak salah, seharusnya dia yang minta maaf padaku." Nadanya sudah naik satu oktaf.
"Sudahlah Tante, aku gak apa-apa kok," katanya menenangkan calon mertuanya itu.
"Tapi Sayang... "
"Besok sore aku akan menikah. Ada atau pun tak ada restu dari Mama." Ucap Arya mantap, ia sudah tidak perduli dengan reaksi Mamanya.
Mama dan Vindi menoleh ke arah Arya, namun lelaki itu sudan lebih dulu memasuki kamarnya. Mama mengepalkan tangannya. Amarahnya telah mencapai ubun-ubun.
"Tante... apa Arya benar-benar akan menikah? Itu tidak boleh terjadi, Tante. Vindi sangat mencintai Arya," katanya terisak.
"Ngga Sayang, kamu tenang ya. Nanti Tante akan bicara sama Arya. Hanya kamu yang pantas mendampingi anak Tante, bukan dia!" jawabnya menenangkan, ia sudah sangat ingin menemui anaknya itu.
__ADS_1
"Vindi percayakan semuanya pada Tante. Sekarang Vindi pamit dulu, tolong bujuk Arya Tan," pintanya.
Mama menganggukkan kepalanya. Lalu Vindi segera pergi, matanya masih saja menganak sungai.
******
Mama membuka pintu kamar dengan kasar. Ditatapnya Arya yang tengah duduk santai di sofa. Pria itu tengah, memijat keningnya. Ia menolah ke arah Mama. Sebuah tamparan mendarat di pipi Arya.
Hari ini, sudah dua kali ia mendapat tamparan. Rasanya perih. Namun tak sebanding dengan kebahagiaan yang ia rasakan. Karena sebentar lagi, ia akan seutuhnya memiliki Asty.
"Apa maksud kamu Arya? Apa kau sudah gila! Mengatakan hal itu di hadapan calon istrimu?" teriak Mama, geram bukan main!
"Hah! Calon istri? Mama gak salah? Gadis licik seperti dia, mau Mama jadikan istri Arya, jangan pernah bermimpi Mah!" jawabnya seraya tersenyum meremehkan.
"Jaga bicaramu, Arya. Mama takkan pernah sudi gadis miskin itu menjadi istrimu!"
"Terserah! Aku tak perduli pendapat Mama. Aku sudah bilang 'kan? Aku akan tetap menikahi Asty, ada tau pun tak ada restu Mama." Tegasnya, Mama terdiam. Mengatur nafasnya yang memburu.
"Silahkan kau lakukan, menikahi gadis miskin itu. Tapi jangan harap Mama akan menerima dan menyayanginya." Ancamnya, Arya hanya terdiam.
"Mama akan membuat hidup gadis itu, bagai di neraka! Mama jadi tak sabar, ingin melihat penderitaannya." Lanjutnya lagi seraya tertawa jahat.
Arya tertegun. Melihat punggung Mama yang perlahan menghilang dibalik pintu.
Agar wanita pujaannya tidak tersiksa hidup dengan Mamanya. Arya tahu betul sifat Mama, wanita yang angkuh, egois serta kejam itu, takkan bisa menerima Asty.
Meskipun mulut Arya sangat gatal sekali, ingin mengatakan bahwa Asty bukan gadis miskin seperti yang ada dalam benaknya.
Namun ia kunci rapat-rapat mulutnya karena permintaan Asty. Gadis itu bersikeras ingin disayangi Mama Arya.
*****
Satu minggu sejak ijab kabul, kini Arya dan Asty tengah bahagia-bahagianya. Meskipun pernikahan mereka karena 'kecelakaan' dan tanpa restu dari Mama Arya, namun mereka tetap menajalani rumah tangga dengan suka cita.
Arya masih berkutat dengan laptopnya, Asty menghampiri suaminya sembari membawa secangkir kopi.
"Sayang, ini kopi buat kamu." Ucapnya seraya menyimpan secangkir kopi di atas meja.
"Makasih istriku yang cantik," pujinya tersenyum.
__ADS_1
"Sayang ... aku mau bicara sesuatu," kata Asty ragu.
Sebab, ini bukan kali pertama ia akan mengutarakan niatnya. Arya selalu saja menolak, tapi Asty takkan menyerah semudah itu.
"Mau bicara apa? Kalau mau bicara hal itu... lebih baik jangan kamu sebutkan, aku sedang malas untuk membahasnya." Tegasnya, Arya tak ingin Asty membantah sedikit pun.
Asty menghela nafas berat, Arya bisa menebak hal apa yang akan dia bicarakan.
"Tapi Sayang ... tolong mengertilah, aku ingin kita mengurus Mama. Kasihan dia, sudah seminggu kamu tidak pernah komunikasi dengannya. Ayo kita tinggal di rumahmu," bujuknya.
Entah sudah berapa kali Asty mengatakan hal ini, ia tak ingin Arya menjadi anak durhaka dengan meninggalkan Mamanya.
Saat sah menjadi suami-istri, mereka tinggal di kediaman Asty. Tentu, sangat membahagiakan bagi orangtua Asty dapat tinggal bersama lagi dengan putrinya.
"Sayang dengarkan aku ... kamu takkan betah tinggal di sana. Mama orang yang egois, aku takut Mama memperlakukan kamu seenaknya. Lagi pula, Mama sama Papa takkan setuju kalau kamu tinggal di rumahku." Jelasnya, Arya sangat mengingat dimana sang Mama mengatakan akan menyiksa Asty.
Tentu hal itu bukan hanya ancaman belaka. Arya tahu betul Mama seperti apa.
"Udah ya, jangan membahas hal ini. Besok aku akan mencari rumah untuk kita. Gak apa-apa kan kalau gak besar?"
"Aku gak mau kita beli rumah. Aku mau tinggal bersama mertuaku, mengurusnya, menjaganya, walau bagaimanapun dia orang tua kamu Ar. Maafkanlah kesalahan Mama, aku yakin suatu hari nanti Mama akan menyayangi aku dengan tulus." Bujukan kedua seraya menggenggam jemari suaminya. Menyandarkan kepalanya di bahu Arya.
Mengecup bibir Arya sekilas. Lelaki itu tampak gusar, ia sendiri bingung harus bagaimana. Asty masih bersandar pada bahu Arya, sesekali bibirnya mengecup leher suaminya.
"Sayang, mau ya tinggal di sana? Aku janji, aku bakalan kuat dan sabar mengadapi sikap Mama. Aku ingin menunjukkan bahwa aku gadis yang tepat untuk menjadi menantunya. Percayalah, aku akan menyayangi Mama Ranti seperti menyayangi Mamaku sendiri." Paparnya dengan lirih.
"Aku gak mau kamu menjadi anak durhaka. Aku tahu, kamu pasti merindukan Mama Ranti 'kan? Pasti Mama juga sangat merindukanmu. Aku juga tahu, kalau selama ini kamu selalu mengabaikan telfon dan pesan dari Mama." Lanjutnya masih dengan suara sesedih mungkin, agar Arya luluh dan mau menuruti keinginannya.
Arya masih terdiam, tak dapat ia pungkiri, ia pun sangat merindukan Mamanya. Namun lagi-lagi, pikiran buruk tentang Mamanya kembali bermunculan.
"Baiklah ... jika kamu memaksa, tapi aku benar-benar gak mau lihat kamu sedih." Jawabnya pasrah, ada kekhawatiran dari nada bicaranya.
"Beneran Yang? Aku janji bakalan sabar menghadapi Mama. Makasih suamiku, kamu baik deh." Ucapnya senang, tanpa sadar ia mengecup bibir suaminya.
"Lho kok cepat banget? Coba cium lagi," godanya. Asty mendelik sebal, ia hanya kelepasan saja mencium bibir Arya.
"Ih kamu tuh ya, yang barusan hanya kelepasan Sayang." Kekehnya seraya berlari ke arah ranjang.
Arya mengejar istrinya sampai mereka terjatuh di atas tempat tidur. Arya menindih Asty, kini gadis itu tak dapat berlari ke mana pun.
__ADS_1
"Jangan melawan, kamu nikmati aja," senyumnya menyeringai.
Asty menelan selivanya dan malam panjang baru mereka mulai.