KISAH KITA

KISAH KITA
Chapter 106 | Perjalanan Cinta (Spesial Hafi & Laily)


__ADS_3

Hari pernikahan telah tiba.


Akhirnya, setelah dua bulan menanti, hari di mana Hafi bisa memboyong Laily ke rumahnya sebagai istri telah datang. Demi apa pun, ya, rasanya itu mendebarkan sekali.


Sejak pagi menyingsing, Hafi dibuat gugup dan gemetar. Ia terus mengulang kalimat untuk ijab kabul sampai puas. Takut-takut nanti dia salah ucap sewaktu jam pernikahan berlangsung.


Kan, nggak lucu kalau Hafi salah sebut nama atau salah menyebutkan mahar yang telah disiapkan.


Haha, bisa jadi bahan olokan, nih, bagi Rio dan Anton.


Setelah banyak perjuangan, rasa sakit, dan penantian panjang, akhirnya Hafi dan Laily akan dipersatukan dalam ikatan suci pernikahan. Keduanya sudah sepakat untuk berkomitmen selalu bersama dan senantiasa setia.


Intinya, sih, Hafi dan Laily siap mengemban tanggung jawab baru sebagai sepasang suami-istri yang saling melengkapi. Insyaallah dengan cinta yang mereka miliki akan selalu menjaga hubungan mereka tetap harmonis dan penuh warna.


“Jiahh... nih, anak udah mau nikah aja,” goda Rio dengan alis naik-turun. Ia baru saja tiba di kamar rias pengantin pria, tempat Hafi menanti panggilan untuk melakukan ijab kabul.


“Iya dong. Gue, kan, cowok sejati. Nggak usah lama-lama pacaran, dosa! Mending pacaran halal, enak. Mau ngapa-ngapain nggak ada yang larang,” balas Hafi tak mau kalah. Sebelah sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum miring yang bermaksud untuk meledek Rio.


Raut wajah Rio berubah seketika, masam dan datar—nggak enak dilihat banget. Kenapa, sih, statusnya ini terus-terusan dijadikan bahan ejekan? Emang salah, ya, kalo dia masih belum ingin menikah?


Tapi, di mata kedua sahabatnya, status Rio yang belum menikah itu bagaikan aib yang patut disindir mati-matian.


Bukannya Anton dan Hafi ingin memaksa. Namun, mengingat usia Rio yang kini menginjak angka 28 tentu menjadi hal yang kurang wajar.


Dari segi finansial, kepribadian, dan kematangan, Rio itu sudah sangat mencukupi. Seharusnya, kan, dia segera menikah biar ada pasangan, ada yang mengurusi, dan ada yang menemani.


Membayangkan Rio yang masih tidur sendirian, kan, kasihan. Jadi, pengen ditertawakan, deh, hehe.


“Anton belum dateng, ya, Yo?” tanya Hafi yang menyadari sahabat kulkasnya masih belum datang. Padahal, dia butuh sekali dukungan dan kata bijak dari lelaki itu.


Maksudnya, kan, si Anton itu sudah menikah. Dia lebih berpengalaman. Jadi, Hafi ingin minta beberapa saran.


Rio mengedikkan bahu tak tahu. “Emang dia nggak hubungin lo?” Ia balik bertanya.


Hafi menggeleng. “Nggak tuh."


“Di jalan kali.”


Hafi manggut-manggut saja. Lantas ia kembali berbalik menatap cermin rias, meniti penampilannya sekali lagi. Hafi ingin semuanya sempurna, tidak ada cela.


Di luar sana, di hotel tempat terselenggaranya pernikahan, acara pembukaan sedang berlangsung. Di kamar rias pengantin pria ini, Hafi tengah menunggu panggilan untuk melakukan ijab kabul.


Hah! Rasanya tidak sabar sekali! Hafi ingin segera menjadikan Laily istrinya.


Ceklekk...

__ADS_1


“Assalamualaikum. Sorry, gue telat.” Anton masuk dengan setelan batik resminya. Ia pun bergabung dengan Rio di sofa, menemani sahabatnya itu.


“Dari mana aja lo? Kenapa baru dateng?” seru Hafi agak kesal. Sekarang mood bertanya di hatinya sudah hilang diterjang ombak.


Anton mengedikkan bahu santai, menunjukkan bahwa lelaki itu sama sekali tidak merasa bersalah. “Lo tau, istri gue jauh lebih penting dari acara lo ini?” serang Anton. “Dia ada kepentingan sebentar tadi.”


Hah! Jadi, sekarang Hafi sudah tidak penting? Wah, sahabat macam apa itu?!


Hafi jadi ingin mematuk kepala Anton pakai bibir tikus biar mampus!


“Udah siap?” tanya Anton seraya memperhatikan beskap yang menempel di tubuh Hafi. Pas, tidak terlalu ketat ataupun terlalu besar.


“Gimana menurut lo? Ada yang kurang?” Hafi melupakan kekesalannya dalam sekejap. Lagian, pernikahannya jauh lebih penting dari mengurusi kepetingan Anton itu.


Anton mengamati dengan lebih saksama, kemudian mengangguk-angguk yakin. “Udah.”


“Rasanya gugup banget, Nton. Lo ada saran nggak biar gue nggak deg-degan?” Sesuai rencana, Hafi meminta saran kepada yang lebih berpengalaman.


“Ada,” sahut Anton serius.


“Apa?”


“Batal nikah, gampang, kan?”


Hafi membelalakkan mata. “ANJIR! GILA LO!”


“Iya, gue nggak bakalan deg-degan,” ketus Hafi. “Tapi, nyawa gue yang melayang.”


...❄️❄️❄️...


Sementara itu...


“Huaa... Natashya, gue gugup banget!” pekik Laily ketika Natashya masuk ke dalam ruangan. Ia langsung merengkuh tubuh sahabatnya itu sampai Natashya dibuat kewalahan.


“Ly, lepas!” Natashya mendorong Laily menjauh darinya. “Sesek gue!”


Bibir Laily mengerucut. “Gue gugup, Shya. Lo nggak ada saran biar gue lebih tenang gitu.”


“Nggak bisa.”


“Kok, gitu?!” protes Laily.


“Gue bisanya ngebuat lo tenang selamanya, bukan tenang sementara.”


“NATASHYA!”

__ADS_1


...❄️❄️❄️...


“Baik, mempelai pria sudah siap?” tanya penghulu.


Hafi mengangguk yakin.


Penghulu tersebut menjabat tangan Hafi dan berkata dengan lantang, “Ananda Akmal Hafi Sanjaya bin Akbar Sanjaya, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Laily Zakia Falusi binti almarhum Yudha Pratama dengan maskawin berupa uang 30 juta dan seperangkat alat salat, tunai!”


Hafi menarik napas dalam-dalam dan membalas, “Saya terima nikah dan kawinnya Laily Zakia Falusi dengan maskawin tersebut, tunai!”


“Bagaimana para saksi? Sah?”


“SAH!”


“Alhamdulillah...”


Penghulu yang hadir mengucapkan beberapa doa sebagai penutup dan harapan untuk pasangan baru di depannya. Hafi dan Laily yang duduk berdampingan di pelaminan itu kini merasa lega. Haru menyerang relung hati mereka, rasanya begitu terenyuh dan hebat.


Bahkan, Laily gagal menahan air yang berjatuhan di pelupuk matanya.


Sekarang dia sudah sah menjadi istri Kak Hafi-nya. Rasa bahagia, sedih, dan haru bercampur aduk di hati pun kepalanya.


Laily bahagia karena sekarang ia sudah menikah dengan lelaki yang dicintai. Tetapi, Laily juga sedih karena harus meninggalkan Bunda Wina sendirian di rumah.


Sepeninggalan sang ayah, Laily memang hanya tinggal bersama bundanya. Mereka menjalani hidup berdua sejak umur Laily 9 tahun.


Namun, saat ini Laily bukan lagi putri dari Yudha Pratama dan Wina Ansela. Melainkan istri dari Akmal Hafi Sanjaya.


Sebentar lagi, Laily harus meninggalkan rumah, tempat ia tumbuh dan berkembang.


“Bunda...” panggil Laily sendu. Ia memeluk Bunda Wina dengan erat, menyalurkan kesedihan yang menderu di hatinya. “Maaf..”


“Tidak apa-apa, Nak. Sekarang kamu sudah jadi istri orang, harus patuh dan hargai dia, ya,” pinta Bunda Wina memberi nasihat.


“Iya, Bunda.”


“Bunda bahagia kalau putri Bunda juga bahagia...”


^^^To be continue...^^^


...❄️❄️❄️...


Akhirnya, pasangan kita yang satu ini sudah sah! Yeaayyy...


Tinggal Bang Rio aja, nih. Harus kita sandingkan dengan Nadia tidak? Hm, perlu dipikir-pikir lagi, deh.

__ADS_1


Ucapan selamatnya mana, nih?—Hafi.


See you di chapter selanjutnya:)


__ADS_2