KISAH KITA

KISAH KITA
Chapter 115 | Bujukan


__ADS_3

Mendengar penjelasan Aisha, Natashya dibuat cemas bukan kepalang. Wanita itu meminta Anton agar segera mengantarnya ke rumah Yosua. Bersyukur Anton mengiyakan dengan cepat tanpa embel-embel cemburu segala.


Lelaki itu sadar bahwa situasinya saat ini sedang sangat tidak tepat untuk acara rengek-rengekan.


“Aisha!” panggil Natashya setengah berteriak melihat Aisha berdiri di teras rumah Yosua dengan postur tubuh tak nyaman.


Merasa disebut namanya, Aisha menoleh cepat. Ia menghampiri Natashya dan memeluk wanita itu erat. Isak tangis Aisha pecah, rasa takut dan bersalah yang ia tahan sedari tadi keluar begitu saja setelah mendapat pelukan balasan dari sang sahabat.


“Hiks.. Kak Yosua, Shya..” lirih Aisha.


Natashya menepuk punggung Aisha pelan, menyalurkan energi positif yang ia miliki. “Semuanya baik-baik aja, Sha.”


“Ta–tapi, Ka–Kak Yosua.. dia—”


“Biar gue tangani, Sha. Kita bantu Kak Yosua sama-sama, ya.” Natashya mengurai pelukan, lanjut berbalik menatap Anton. “Kamu temani aku masuk, ya, Nio.”


Anton mengangguk tanpa berpikir panjang. Ia tidak mungkin membiarkan Natashya mengurus Yosua yang sedang histeris sendirian. Mengingat keadaan Natashya yang sekarang, tentu Anton harus menjaga wanita itu dengan lebih ekstra.


Ketiganya pun masuk ke dalam hunian. Natashya ditemani oleh Anton bergerak mendekati Yosua yang duduk meringkuk di sudut ruangan. Kepala lelaki itu ditenggelamkan di lutut. “Kak... ini gue, Natashya.”


Perlahan, kepala Yosua terangkat. Tatapan lelaki itu begitu sayu. “Na–Natashya...” ucap Yosua pelan sekali.


Natashya mengulas senyum, kepalanya mengangguk pelan. “Iya, ini gue.”


“Ja–jangan benci Kakak, Shya.” Suara Yosua seolah ditelan udara, tidak ada sepatah kata pun yang terdengar. Natashya hanya tersenyum menanggapi Yosua, pasalnya ia tidak tahu lelaki itu bicara apa.


“Kak, udah, ya. Jangan nangis, semua baik-baik aja.” Natashya masih berusaha menenangkan.


“Kamu benci kakak, Shya?” tanya Yosua.


Natashya menggeleng kuat, membantah pertanyaan Yosua. “Nggak, Kak. Gue nggak pernah benci sama lo.”


“Aku udah—”


“Lo salah, gue tau itu, Kak. Tapi, gue juga nggak bisa nyalahin diri lo. Kondisi psikis lo nggak memungkinkan buat gue nuduh lo. Apa yang terjadi sama Alka, apa yang lo lakuin ke Alka, semua itu udah diatur oleh Allah, Kak.”

__ADS_1


Natashya menghirup napas dalam-dalam. Jujur, menjelaskan situasi Yosua saat ini sangat sulit baginya. Semua terlampau rumit dan ruwet.


Yang bisa Natashya lakukan hanyalah memberi kata penenang, berharap itu akan mempengaruhi Yosua. Kadang memberi usapan lembut atau tepukan pelan. Pokoknya segala cara dicoba agar Yosua merasa lebih baik.


Dan, ya, Natashya berhasil melakukannya.


Yosua berangsur-angsur tenang. Napas lelaki itu mulai teratur, tubuhnya tidak lagi gemetaran.


Anton dan Aisha yang melihat ikut menghembuskan napas lega. Akhirnya, selesai juga.


“Besok lo ikut gue, ya, Kak,” pinta Natashya seraya mengekori Anton yang tengah memapah Yosua berjalan. Suami Natashya itu mendudukkan Yosua di sofa rumah, jauh dari pecahan-pecahan kaca yang bertebaran.


“Ke mana?”


“Psikiater.”


Deg!


“NGGAK! AKU NGGAK MAU!” teriak Yosua menolak. Sontak ia menjauhi Natashya yang berusaha menggenggam tangannya.


“Nggak, Shya! Aku nggak mau ke sana! Aku nggak mau!” Yosua menggelengkan kepalanya tanpa henti.


Anton yang melihat itu sedikit ngilu. Tuh cowok nggak pusing geleng-geleng terus?


“KAK YOSUA!” bentak Natashya jengah. Oke, kalian nggak lupa, kan, kalau wanita bersuami ini sedang hamil? Jadi, maklumi emosi Natashya yang kadang lepas kendali.


Yosua terjingkat. Ia terdiam, lidahnya kelu hanya untuk sekadar mengucap nama Natashya. Wanita itu tampak menakutkan dengan sorot tajamnya.


“Lo mau sembuh, kan, Kak? Lo nggak capek terus-terusan kayak gini? Kesakitan, kesiksa, dan frustrasi sama diri lo sendiri?” seru Natashya menohok.


Yosua tidak menjawab. Sementara hatinya mengiyakan dengan lantang pertanyaan Natashya. Ia kesakitan selama ini, ia tersiksa dengan perasaannya sendiri, dan frustrasi karena ia selalu tidak bisa mengendalikan diri.


Yosua sadar, dirinya sakit. Bukan sakit fisik pada umumnya, namun mental dan jiwanya yang sakit. Nama penyakitnya apa, dia tidak tahu.


Intinya, Yosua juga tersiksa dengan kondisinya ini. Ia ingin lepas dari semua rasa sakit yang dideritanya. Namun, Yosua tidak tahu bagaimana cara melakukan hal tersebut.

__ADS_1


Pernah sekali ia berpikir untuk mendatangi psikiater. Namun, rasa takut di benaknya sukses menggagalkan rencana lelaki itu.


Yosua takut dengan diagnosis dokter. Dia tidak mau mendengar jika seandainya penyakitnya ini tidak bisa disembuhkan.


Yosua takut orang-orang yang disayanginya akan menjauh karena penyakit ini. Itulah mengapa ia memilih untuk tidak menemui psikiater.


Yatim piatu sejak kecil membuatnya kurang mendapat perhatian. Walaupun warisan keluarganya sangat banyak, itu tidak sebanding dengan cinta yang Yosua mau. Ia kesepian, sangat.


Yosua tidak mau orang-orang yang ia cintai pergi. Jadi, dia bertekad akan melindungi mereka sekuat tenaga dengan berbagai cara. Salah satunya adalah Natashya, cinta pertama Yosua.


“Lo mau sembuh, kan, Kak?” tanya Natashya sekali lagi. Kali ini nada bicaranya lebih pelan, tidak keras seperti tadi.


Yosua mengangguk pelan.


“Gue sama yang lainnya bakalan temani lo. Lo harus ke psikiater biar lo cepat sembuh. Gue janji, Kak, semua bakalan baik-baik aja.” Natashya tidak menyerah untuk membujuk Yosua. Ada banyak kata-kata yang sudah ia rancang untuk meyakinkan Yosua agar mau bertemu dengan psikiater.


Yosua tidak membalas langsung, lelaki itu terdiam selama beberapa menit. “Apa aku bisa sembuh...?” lirihnya.


Natashya mengangguk yakin. “Bisa, Kak, lo pasti bisa sembuh.”


“Tugas lo hanya berusaha sebaik mungkin, sisanya kita serahin ke Allah. Usaha nggak akan mengkhianati hasil, kan?”


^^^To be continue...^^^


...❄️❄️❄️...


Bentar, itu bener, kan, papatahnya?


Usaha tidak akan mengkhianati hasil?


Atau, hasil tidak akan mengkhianati usaha?


Mana yang bener😭


Udahlah, bingung Ay. See you di chapter selanjutnya:)

__ADS_1


__ADS_2