
“Jalan-jalan?”
Anton mengangguk antusias dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Entah mengapa, akhir-akhir ini Anton merasa lelah dengan semua pekerjaannya. Ia jenuh dengan segala aktivitas yang hanya itu-itu saja. Tidak ada yang spesial.
Maka dari itu, atas inisiatif dari otak cemerlangnya, Anton mengajak Natashya untuk jalan-jalan atau lebih tepatnya berlibur. Hm.. sudah berapa lama, ya, mereka tidak menghabiskan waktu bersama?
Dua minggu sudah terlewati semenjak pertemuannya dengan Yosua. Selama itu juga, Natashya disibukkan dengan urusan kampus. Sedangkan Anton juga tak kalah sibuk di kantor.
Huh.. beginilah hasilnya kalau dua-duanya sibuk. Tidak ada waktu untuk manja-manjaan.
“Mau, kan? Kita liburan, Shya. Pikiran aku panas banget mikirin kerjaan. Makanya, aku mau ngajak kamu refreshing,” kata Anton menjelaskan.
Natashya terdiam sejenak. Tidak ada yang salah, kok, sama ajakan suaminya ini. Tapi, kan, eum...
“Emang mau liburan ke mana?” tanya Natashya.
“Ke Bali, mau? Kita nginap di villa yang dulu itu, lho.”
Senyum Natashya perlahan terbit. “Kita ajak yang lain, ya?”
Anton cengo. “Hah?”
“Kita ajak Laily, Hafi, Rio, sama pacarnya juga.” Natashya meraih lengan Anton dan merangkulnya erat. “Kita liburan sama-sama, ya, Nio?”
Uh.. mukanya—!
Natashya memasang ekspresi terimut yang ia punya lengkap dengan puppy eyes-nya, kawan-kawan! Cowok mana yang nggak tergila-gila kalo gini caranya?!! Hah!
Hei, Anton merasa tidak baik-baik saja, nih. Jantungnya berdentum terlalu keras.
“Iya, kita ajak mereka,” jawab Anton pasrah. Padahal, niat hati ingin berdua dengan sang istri.
Mesra-mesraan di villa gitu. Tapi, gagal total!
“Yeay.. Nio baik! Aku telpon Laily, ya.”
Cup!
Anton merasakan darah di pipinya berdesir, menghantarkan getaran hebat yang menjalar ke setiap anggota tubuhnya. Kecupan manis di pipinya benar-benar mengalihkan dunia Anton.
“Sayang, kenapa ciumnya di pipi? Kenapa nggak di bibir aja, sih?”
Tuh, kan. Udah dikasih hati mintanya jantung, ya, kayak gini, nih, contohnya.
...❄️❄️❄️...
Tidak butuh waktu lama, saat ini Rio, Nadia, Hafi, Laily, Anton, dan Natashya sudah berada di Bali. Mereka berangkat menggunakan penerbangan pagi dan tiba siang hari.
Setelah diberitahu pasal liburan yang Anton rancang, Rio dan Hafi langsung mengiyakan dengan antusias. Kedua lelaki itu pun segera menghubungi pujaan hati masing-masing. Dan, ya, Nadia dan Laily juga tak kalah girang.
__ADS_1
Bukan hanya Anton-Natashya yang sibuk, keempat sahabat pasutri itu juga merasa repot dengan urusan masing-masing. Laily dan Hafi sibuk menyiapkan pernikahan, Rio bekerja di kantor, dan Nadia juga bekerja di kantor sebagai sekretaris Rio.
Kepala mereka terasa panas dan ingin pecah. Maka dari itu, ketika mendapat ajakan liburan, kata “iya, mau” langsung diserukan dengan lantang dan bahagia.
“Huh.. pokoknya selama tiga hari di sini, nggak ada yang bahas kerjaan, oke?” putus Rio ketika mereka tiba di villa.
Anton dan Hafi mengangguk setuju.
“Cewek-cewek satu kamar, ya,” pinta Laily.
Anton melotot tak terima. “Nggak! Natashya sama gue!”
“Ayolah, Kak. Sekali aja,” mohon Laily.
Anton menatap Laily tajam. “Kalo dibilang nggak, ya, nggak!”
Mendapati sorot menakutkan itu lagi, nyali Laily menciut. Ia bergerak ke belakang tubuh Natashya, bersembunyi di sana.
Hei, kenapa sifat Anton tidak hilang seperti Natashya? Huh.. Laily kapok, deh. Tidak mau nego-nego lagi.
Natashya tertawa pelan. “Ya udah, ayo istirahat. Aku capek.”
Senyum Anton kembali merekah. Ia merangkul pinggang sang istri dan segera pergi ke kamar tanpa berpamitan dengan yang lain. Koper yang berisi barang mereka sudah ditaruh di kamar oleh pengurus villa.
Rio dan Hafi mendengkus melihat tingkah Anton yang semakin bucin. Lelaki itu sudah seperti orang yang kehilangan jati dirinya. Bukan lagi lelaki es yang tidak suka bicara banyak dan mahal senyum, melainkan lelaki hangat dan perhatian.
Cih, apanya yang lelaki hangat?!
Auto berubah jadi singa kali, ya.
“Ya udah, kalian juga istirahat sana. Nanti sore kita ke pantai, gimana?” usul Rio.
Nadia tersenyum lebar dan mengangguk senang. Ia mengajak Laily untuk segera pergi ke kamar bagian mereka. Setelah kepergian Nadia dan Laily, yang tersisa di ruang tamu hanyalah Rio dan Hafi saja.
“Fi,” panggil Rio tiba-tiba.
“Kenapa?”
“Nikah enak nggak, sih?”
Hafi mengerutkan dahi bingung. “Enak kali. Gue juga belum ngerasain. Emang kenapa?”
Rio menghela napas berat. “Gue juga pengen tidur sambil kelonan.”
Hafi mencibir. Ia baru saja ingin menjawab, namun perkataan Rio selanjutnya lebih dulu membuat emosinya membuncah.
“Kalo Nadia gue ajak kawin dulu baru nikah, mau nggak, ya?”
“ANJIR! BEGO JANGAN DIPELIHARA!”
__ADS_1
...❄️❄️❄️...
Jalan beriringan di pesisir pantai dengan tangan saling menggenggam bersama orang terkasih itu adalah momen istimewa yang patut diabadikan. Semilir angin yang menerpa sejuk seolah mendukung suasana agar sepasang kekasih itu saling merengkuh dan menghangatkan badan.
Dan, itulah yang Anton dan Natashya lakukan sekarang.
Keduanya memisahkan diri dari rombongan dan memilih untuk berjalan berdua di tepian pantai. Natashya dan Anton sama-sama tidak ingin melewatkan setiap adegan yang terjadi sore ini.
“Cantik, ya, Yo?” Natashya berucap seraya menatap sunset di hadapannya dengan mata berbinar. Semburat merah bercampur oranye terpantul apik di permukaan air. Warna langit yang oranye kekuningan juga tak kalah elok di ufuk barat sana.
“Iya, cantik sekali.” Anton menjawab dengan arah tatapan yang begitu lekat pada Natashya.
Merasa ditatap, Natashya menoleh. Wanita itu mengukir senyum manis ketika sadar bahwa pujian barusan bukan untuk sunset di depan. “Nio..”
“Hm?”
Raut wajah Natashya berubah sedikit gusar. Jujur, pikiran ini sangat menghantuinya akhir-akhir ini.
Dan, Natashya berniat untuk membaginya dengan sang suami.
Keduanya sudah sepakat untuk lebih terbuka semenjak kejadian silam. Pokoknya, harus menjaga komunikasi agar hubungan pernikahan mereka semakin harmonis.
“Kenapa aku belum juga hamil, ya?”
Anton termangu, tidak menyangka sama sekali bahwa ia akan mendapat pertanyaan itu saat ini. Secepat ini pula.
Anton pikir, Natashya ingin menunda kehamilan mengingat insiden sebelumnya. Tapi, ternyata....
“Kamu mau hamil lagi, Shya?” tanya Anton.
Natashya mengangguk dengan kepala yang menunduk. “Aku mau..”
Anton mengulas senyum lembutnya, tatapannya begitu teduh dan penuh keyakinan. Tangan lelaki itu terulur merapikan helaian rambut sang istri yang berterbangan. “Insyaallah, Shya. Kita udah berdoa dan berikhtiar, sisanya kita serahkan kepada Allah.”
Wanita itu mendongak cepat. “Tapi, Yo—”
“Shya, anak itu anugerah. Kamu tau itu, kan?” potong Anton segera. Ia bisa melihat ada keraguan besar di mata Natashya.
Natashya mengangguk pelan.
“Allah tidak sembarangan kasih anugerah-Nya, Shya. Jika saat ini kita belum dapat tanda, mungkin Allah sedang menguji kesabaran kita. Kita hanya perlu berusaha lebih giat, Sayang. Pasti ada saatnya kita punya anak nanti.” Anton tersenyum lebih lebar.
Mau tak mau, Natashya ikut mengukir senyum. Penerangan Anton sukses menggetarkan hatinya, sangat nyaman dan meneduhkan.
“Makanya, Sayang, kita harus sering-sering buat baby. Kali aja jadi, kan?” ucap Anton dengan seringaian mesumnya.
Plak!
“Dasar mesum!”
__ADS_1
Pada akhirnya, tetap mencari kesempatan dalam kesempitan. Begitulah laki-laki...
^^^To be continue...^^^