KISAH KITA

KISAH KITA
Episode 135 Pertunangan


__ADS_3

Zayna sudah mengakhiri ceritanya, bernostalgia tentang Alvian, tidak seburuk sebelumnya. Biasanya, jika ia mengingat kenangan dengan Alvian, gadis itu akan menangis sesenggukan. Namun, tidak untuk kali ini, dia sudah ikhlas, sudah berdamai dengan masa lalunya. Zain bangun dari pangkuan Zayna.


Ditatapnya istri cantiknya, menangkupkan kedua tangannya, mencium kening Zayna mesra. Perasaan hangat mengalir begitu saja.


"Maafkan aku, seharusnya aku tidak memintamu untuk bercerita tentangnya. Jangan sedih lagi, jangan pendam perasaan sakitmu seorang diri. Aku disini bersamamu," ucapnya parau.


"Aku ngga apa-apa kok, sekarang aku sudah ikhlas. Allah telah memberikan pengganti yang sempurna," ujarnya seraya tersenyum. Keduanya saling menatap, sesekali melempar senyum.


Tangan Zain memegang bahu Zayna, mengarahkannya untuk berbaring. Kini, bibir mereka telah menyatu.


Perlahan, menyatukan tubuh, memadu kasih. Meski telah sering melakukannya, malam ini terasa berbeda. Penyatuan dengan jutaan perasaan menghantarkan mereka pada kenikmatan surga dunia.


*****


Jam menunjukkan pukul setengah 6 pagi, Asty sudah siap dengan alat tempurnya. Apalagi kalau bukan, alat-alat untuk memasak. Ditemani ibu mertua yang sudah siap menjadi juri untuk masakannya.


"Kamu masak apa?" tanya Mama ketus.


"Mau masak sop ayam Mah, sama bakwan jagung. Soalnya aku lagi ingin makan itu, gak apa-apa kan, Ma?"


"Hmm ... baiklah, terserah kamu saja. Yang penting harus enak, awas aja kalau engga!" Ancamnya seraya menunjuk wajah Asty.


Dengan perasaan gugup sekaligus takut, Asty memulai masaknya. Asty dibuat pusing oleh 'ceramah' ibu mertua yang tak ada habisnya.


Setelah melewati waktu yang panjang, akhirnya semua makanan telah terhidang di meja makan. Dengan segera Asty menuju kamarnya untuk membersihkan diri lagi. Arya, Asty dan juga mama telah bersiap di meja makan.


Asty mengambilkan makan untuk suaminya. Suara bel rumah menghentikan aktifitas makan mereka. Asty segera bangkit dan menuju pintu.


Dibukanya pintu tersebut, mata Asty membulat saat melihat tamunya. Dilihatnya penampilan gadis itu, bajunya yang kurang bahan dan sangat ketat. Rambutnya yang sedikit maroon, ia gerai menyentuh punggungnya.


"Maaf, mau cari siapa ya?" tanya Asty memecah keheningan.


"Kamu pembantu baru ya? Kenalkan, saya Vindi, calon istrinya Arya. Majikan kamu," katanya percaya diri.


"Ya Allah, dia percaya diri sekali. Apa dia bilang? Aku pembantu, mata dia buta ya!" Geram Asty dalam hati.


"Oh ... kenalkan saya Asty, istri SAH nya Arya. Orang yang kamu sebutkan tadi!" tegasnya berlalu pergi.


Vindi membulatkan matanya, tak percaya dengan ucapan gadis yang barusan ditemuinya. Dengan langkah lebar Vindi menghampiri Mama Ranti.

__ADS_1


"Selamat pagi Tante," sapanya seraya mencium pipi.


"Eh Sayang, ayo duduk! Ikut sarapan bersama kami," ajaknya sangat girang.


Arya menatap istrinya, jelas terlihat ketidaksukaan pada wajah Asty. Ia menggenggam tangan Asty di bawah meja. Asty mengalihkan pandangannya ke arah Arya.


Lelaki itu tersenyum lembut, Asty merasa lebih baik. Dengan tidak sopannya, Vindi duduk di samping Arya. Kini Arya diapit oleh dua orang wanita yang cantik-cantik.


"Apa kau tak punya sopan santun? Pindah sana!" kata Arya dengan ketus.


"Memangnya kenapa kalau aku duduk di sini? Kamu kan calon suami aku," jawabnya manja.


"Sumpah ya, pengen muntah lihat wajah sok imutnya," Asty semakin geram dalam hati.


"Hah! Calon suami? Jangan mimpi! Aku sudah punya istri yang jauh lebih baik darimu. Minggir sana! Kau membuatku tak berselera makan," bentaknya seraya bangkit dan meninggalkan meja makan.


"Arya! Jaga bicaramu, kau sungguh tidak sopan. Membentak Vindi seperti itu, lagi pula apa yang dikatakan Vindi itu benar, kau adalah calon suaminya."


Mama melototkan matanya pada Asty. Gadis itu menunduk sedih.


"Sayang, ayo antar aku keluar!" Pintanya, agar sang istri tidak mendengarkan omong kosong ibunya. Dengan langkah gontai, Asty mengikuti langkah Arya.


Diciumnya kening Asty, lalu Asty mencium punggung tangan Arya. Dengan perasaan ragu Arya memasuki mobilnya.


Malam ini, keluarga besar Risa sedang disibukkan dengan acara pertunangan sang kakak sepupu. Risa tampak cantik dengan balutan dress selutut berwarna mustard, rambut yang dibuat curly, tak lupa polesan make up dari MUA terkenal.


"Wah ... kamu cantik banget Ris. Jangan-jangan nanti para tamu mengira kamu lagi yang akan tunangan," gurau Kakak sepupu.


"Kak Alin bisa aja, ya gak bakalan tertukar lah. Kakak cantik banget tahu, kaya putri raja," jawabnya riang. Akhirnya mereka saling bersenda gurau, sebelum acara inti di mulai.


Risa benar-benar penasaran dengan calon suami dari kakak sepupunya. Dia jadi teringat dengan Ryan, pujaan hatinya.


Dari kemarin, pria itu tak bisa dihubungi. Ingin sekali rasanya menanyakan pada Diana, namun Risa merasa malu untuk melakukannya.


"Sayang, apa kamu sudah siap? Para tamu sudah banyak yang nanyain kamu. Turun yuk?" ajak Mamanya, Risa dan Alin pun turun untuk menyapa para tamu undangan.


Sesampainya di bawah, Risa menyapu seluruh ruangan untuk mencari keluarganya.


Dilihatnya mama dan kakaknya sedang berbincang hangat dengan kerabat yang lain. Risa melangkahkan kaki untuk menemui Mamanya.

__ADS_1


"Ma, keluarga calon suami kak Alin, mana sih belum datang juga?" bisiknya tak sabaran.


"Gak tahu juga, sebentar lagi mungkin. Lagian, kamu kenapa sih penasaran banget sama calonnya sepupumu?"


"Ya penasaran aja, kan kak Alin susah banget tuh buat nerima cowok. Lah ini dijodohin langsung mau aja, kan aneh? Kata kak Alin, katanya calonnya ganteng banget, Ma. Pasti sekarang, Mama juga penasaran kan?" Jelasnya panjang lebar, Mama hanya menggelengkan kepalanya.


Tak lama keluarga dari calon suami Alin datang juga. Mereka disambut hangat oleh semua keluarga.


Karena tamu yang penuh sesak, Risa menjadi kesulitan untuk melihat calon sepupunya itu. Dengan segera acara pun di mulai. Papa Alin mulai memberi kata sambutan dan ucapan terimakasih pada seluruh tamu undangan.


"Malam ini, adalah malam yang sangat membahagiakan bagi keluarga kami. Sebab, malam ini acara pertunangan putri saya, Alinka dan Ryan, putra dari Pak Gunawan, kolega saya," ujarnya seraya tersenyum manis.


Tepuk tangan riuh dari para tamu. Alinka tersenyum lebar menatap Ryan, calon suaminya.


Namun berbeda dengan si pria, dia memalingkan pandangannya ke sembarang arah. Dan tanpa sengaja, tatapannya bertemu dengan mata indah milik wanita yang dicintainya.


Gadis itu tengah menutup mulutnya, matanya sudah berkaca-kaca. Isak tangisnya mulai terdengar, Ryan membulatkan matanya.


Perasaan bersalah menghampiri dirinya. Ditatapnya gadis itu dengan nanar. Ingin sekali saat ini ia berlari menuju Risa. Mengatakan bahwa ini bukanlah keinginanya.


"Jangan membantah Papa, Ryan! Papa tak pernah memaksamu untuk sesuatu apapun. Tapi kali ini, Papa minta kamu untuk menuruti semua keinginan Papa. Selamatkan perusahaan yang telah susah payah, Papa bangun," mohon Papanya waktu itu.


Kata-kata itu terus terngiang ditelinga Ryan. Lelaki itu sekuat hati menahan sesaknya dada. Tepukan di bahunya menyadarkannya.


"Ayo pasangkan cin-cinnya, Ryan! Kamu kenapa malah melamun?" tegur Papanya, Ryan menghelas nafas berat. Ia segera memasukkan cin-cin itu ke jari manis Alin.


Agar urusannya cepat selesai, dan ia akan segera menghampiri Risa. Acara tukar cin-cin pun selesai. Risa menyakisakannya dengan pilu.


Hatinya hancur, sekelebat kenangan indah tentang kebersamaannya dengan Ryan. Membuat hati semakin sakit saja.


"Kamu kenapa Dek? Kok nangis?" Tanya Abi seraya meraih dagu adiknya.


"Aku gak apa-apa. Aku pergu dulu, Kak." Pamitnya seraya berjalan keluar.


Abi menatap punggung adiknya dengan rasa khawatir, takut terjadi sesuatu pada adik kesayangannya.


Ryan segera pamit pada keluarganya untuk keluar sebentar. Lelaki itu terus mengejar Risa. Namun langkah gadis itu sangat cepat sekali.


Berkali-kali Ryan memanggilnya, namun Risa mengabaikannya. Seolah tak perduli lagi. Perasaannya sangat sakit sekarang.

__ADS_1


"Risa ... tunggu dulu! Dengarkan penjelasanku," mohonya setelah didapatnya lengan Risa.


Gadis itu menoleh, matanya sudah memerah dan sembab.


__ADS_2