
Atas desakan Natashya, Anton pulang lebih awal hari ini. Mengatasnamakan luka di lengan, wanita itu sukses membuat Anton tak berkutik.
“Nio, luka kamu emang nggak dalam. Tapi, yang namanya luka, tetep luka. Kalo banyak kena debu bisa infeksi! Jadi, kamu harus pulang, titik!”
Tahu, kan, seberapa galaknya istri Antonio itu?
Huh, sudah tidak bisa diukur pakai kegalakanometer lagi.
Tiba di rumah, Anton kembali berkutat dengan berkas dan laptopnya. Ingin menegur, tapi tak enak. Pasti pekerjaan lelaki itu banyak sekali. Alhasil, Natashya membiarkan saja.
Asalkan Anton tetap berada di rumah agar lukanya bisa diobati dengan benar.
Natashya meraih ponselnya dan menghubungi Laily. Persoalan Yosua harus segera didiskusikan dan dicari solusinya. Nyawa Anton yang jadi taruhan di sini.
Natashya masih belum rela kalau harus jadi janda di usianya yang sekarang.
“Assalamualaikum, Ly.”
“Wa‘alaikumsalam. Kenapa, Shya?”
“Lo udah balik dari honeymoon, kan?” tanya Natashya memastikan lebih awal. Takutnya, pembahasan sudah dimulai dan ketegangan mulai terasa, Laily masih berada di negara seberang bersama Hafi, suami Laily.
“Udah, Shya. Dua hari yang lalu gue sama Kak Hafi udah balik,” jawab Laily. “Ada apa emang?”
Helaan napas panjang Natashya hembuskan. Wanita itu bingung ingin memulai dari mana. “Kak Yosua, Ly,” lirihnya.
“Kak Yosua? Dia kenapa?”
“Dia nyerang Nio.”
“WHAT?!” pekik Laily terkejut. “NYERANG? DIA NYERANG KAK ANTON?! KOK, BISA?!”
Natashya menjelaskan lebih detail, bagaimana Yosua datang ke AG Group dan mengancam Anton agar menjauhinya. Karena keinginannya ditolak, Yosua menyerang Anton dengan pisau hingga lengan lelaki itu tergores cukup panjang.
“Jadi, Kak Yosua ngelakuin itu semua karena dia suka sama lo?” Laily benar-benar dibuat terperangah dengan cerita Natashya.
Sumpah, ya, Laily tidak tahu kalau Yosua menyukai Natashya—eh, tidak-tidak! Bukan suka ataupun cinta, tapi obsesi! Iya, itu istilah yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan Yosua untuk Natashya.
Karena terlalu terobsesi, Yosua sampai mengidap OLD!
Sangat disayangkan. Padahal, lelaki itu termasuk ke jajaran para cowok tampan dan bisa mendapatkan wanita selain Natashya.
“Kalo gitu, lo harus jauhin Kak Anton dari Kak Yosua, Shya. Ini bener-bener bahaya.” Laily berkata dengan raut serius.
Natashya mengangguk tanpa sadar, gerakan yang tidak akan bisa Laily lihat dari seberang telepon. “Iya, gue tau itu. Gue cuma mau peringatin lo aja.”
Hening.
Natashya menanti Laily mengucap balasan. Namun, hingga beberapa menit terlewati, tidak ada suara apa pun. Ada apa dengan sahabatnya itu?
Bisu dadakan, kah?
“Ly?” panggil Natashya. Ia mengecek layar ponselnya, masih tersambung, kok.
“Kak Yosua... dateng buat bales Kak Anton yang udah nyakitin lo. Dia ngelakuin itu gara-gara terobsesi sama lo. Dia bawa pisau dan ngelukain Kak Anton sampe berdarah..” papar Laily.
“Pisau dan darah...” sebut Laily dengan nada ragu. “Persis kayak situasi Alka, kan, Shya?”
Deg!
Seolah tersadarkan, Natashya mematung di tempat. Pikirannya tertarik ke masa-masa pertemuannya dengan Alka. Entah kenapa, kepingan puzzle yang terkumpul mulai menemukan titik tepatnya masing-masing.
Apa Kak Yosua yang ngebuat Alka depresi?
Alka hilang dua hari setelah dia ngungkapin perasaannya ke aku. Apa jangan-jangan...
Jika dikatakan sebagai suatu kebetulan, terdengar sedikit janggal. Pasti ada cerita dibalik semua ini.
__ADS_1
“Ly, ayo kita ketemu. Kita harus bicarain ini sama Aisha.”
...❄️❄️❄️...
“Hah? Kak Yosua? Hahaha...” Aisha terbahak mendengar asumsi kedua sahabatnya. Mereka bilang, penyebab Alka depresi karena Yosua telah berbuat sesuatu kepada Alka.
Mana bisa dipercaya begitu saja dong.
“Tapi, kita serius, Sha.” Laily menceritakan ulang semua kisah yang Natashya ucapkan kepadanya di telepon. Tidak ada yang tertinggal pokoknya, semua diutarakan dengan segamblang-gamblangnya.
Mendengar cerita dari Laily, Aisha membisu. Hatinya tidak bisa mempercayai analisis Natashya dan Laily. Tapi, pikirannya seolah membenarkan dugaan penuh logika dari kedua perempuan di depannya ini.
Semuanya terlalu memiliki banyak kesamaan di beberapa hal.
“Tapi... apa mungkin kayak itu?” Aisha ragu, sangat!
Jujur saja, semasa SMA dulu, Aisha menyukai sosok Yosua. Membayangkan bahwa lelaki yang disukai ternyata adalah penyebab kehancuran sang adik membuat perasaan Aisha berkecamuk. Antara percaya dan tidak, antara ragu dan yakin.
Pokoknya, semua jadi satu.
Natashya memandang Aisha tegas. Ada keyakinan besar di mata wanita itu.
“Kalau begitu, ayo kita buktikan yang sebenarnya.”
“Kita pecahkan misterinya, hari ini juga!”
^^^To be continue...^^^
...❄️❄️❄️...
Hai, Ay update lagi, nih. Tapi, kali ini Ay bawa konsep baru. SSS atau Side Story Special...!
Ingat! SSS hanya sebuah kisah selipan yang tidak memiliki konflik!
SSS hanya bercerita soal kejadian-kejadian yang dialami Anton-Natashya yang tidak pernah diceritakan di cerita utama mereka!
Jadi, SSS nggak akan mempengaruhi alur dari cerita utama Anton-Natashya.
...❄️❄️❄️...
...Side Story Special 1...
...•...
Awal-awal pernikahan Anton-Natashya...
“Shya?” panggil Anton seraya berjalan menuruni tangga. Ia menghampiri sosok gadis yang kini menjadi pendamping hidupnya itu di ruang santai.
Natashya mengalihkan fokusnya dari ponsel, menatap sang suami dengan alis terangkat sebelah. “Apa?”
“Lo tau kemeja hitam gue di mana?” tanya Anton. Harusnya, dia sudah memakai setelan kemeja lengkap dengan jasnya pagi ini. Tapi, karena kebingungan mencari letak kemeja hitamnya, Anton baru memakai celana bahan dan kaus putih saja.
Natashya mengedikkan bahu tak tahu. “Barang lo, urusan lo.”
Anton mendesis sinis. Kenapa istrinya semenyebalkan ini, sih?
“Lagian kita itu tidur terpisah. Gimana caranya gue tau letak barang-barang di kamar lo?”
Anton terdiam. Iya juga, sih.
“Lagian, pake baju tuh nggak harus lo sesuaiin sama jadwal, kan? Pake baju tuh yang bisa ngebuat lo nyaman,” tambah Natashya. Tahu tidak istimewanya Anton kalau dalam berpakaian apa?
Lelaki itu memiliki jadwal tersendiri dalam berpakaian ke kantor ataupun sekadar jalan keluar untuk main. Lemari Anton sudah diberi kodenya masing-masing, lengkap dengan penataan profesional berdasarkan warna dan bahan pakaian.
Terlalu perfeksionis kalau menurut Natashya.
Anton memutar bola matanya jengah. “Di mata gue, penampilan itu jadi penunjang. Gue mau apa yang gue pake harus sesuai dengan keadaan gue. Ya kali kita mau ke pesta, tapi pakenya kaos?” Auto diusir kali..
__ADS_1
“Iya, gue tau kalo baju itu harus sesuai situasi. Tapi, bukan berarti lo harus maksain diri buat pake pakaian yang jelas-jelas nggak bisa lo gunain saat itu, kan? Ya kali lo mau ke pesta, tapi ternyata bajunya kekecilan. Mau tetep lo pake?” sahut Natashya tak mau kalah.
“Whatever.” Memang! Pendapat Anton dan Natashya tidak akan pernah bisa disatukan. Selalu saja ada perbedaannya.
Pada akhirnya, Anton berbalik, meninggalkan Natashya sendirian di ruang santai.
Natashya menggelengkan kepala. Ketika Anton sudah hampir masuk ke dalam kamar, gadis itu berteriak, “KEMEJANYA ADA DI LEMARI PALING ATAS, YO!”
...❄️❄️❄️...
Di kantor...
Di sela-sela pekerjaannya, tiba-tiba Anton teringat ucapan Natashya sebelum ia berangkat. Gadis itu mengajaknya pergi ke mall untuk membeli pakaian baru.
Bukan apa-apa, ya, tapi kemarin Anton memang mengajak Natashya untuk menemaninya menghadiri sebuah pesta. Makanya, gadis itu mengajak Anton untuk berbelanja sebagai tanda ia menerima undangan lelaki itu.
Anton mengeluarkan ponselnya. Mencari chatroom Natashya di aplikasi chatting miliknya.
Anton terkekeh. Chat terakhirnya hanya dibaca tanpa dibalas. Pasti istrinya itu sedang kesal sekarang.
BRAKK!!
Anton terperanjat kaget. Jantungnya berdebar keras. Barusan ada yang mendobrak pintu ruangannya. Dan, sang pelaku tengah tersenyum miring di sana.
“Apa-apaan, sih, Shya?” protes Anton. “Entar kalo pintunya rusak gimana?”
Natashya mengedikkan bahu malas. “Tinggal ganti aja, kan? Duit lo, kan, banyak.”
Cih, pinter amat ngelesnya, Mbak.
“Btw, gue mau nanya,” celetuk Natashya tiba-tiba. “Emang emot bisa bikin fresh?”
“Iya dong. Kan, kalo ada emotnya, isi chatroom kita nggak cuma tulisan. Nggak monoton.” Anton menjawab dengan bangga. Seolah perkataannya barusan merupakan kalimat dahsyat yang bisa mengguncang dunia.
Natashya manggut-manggut. “Gue juga punya cara biar interaksi kita nggak keliatan monoton,” katanya.
“Gimana?”
“Gini.”
Natashya mendekat dan memeluk Anton. Ia menenggelamkan kepalanya di dada lelaki itu sejenak, baru mendongakkan kepala menghadap paras Anton yang kelihatan tegang.
“Senyum manis terpasang di bibir.” Natashya menyunggingkan senyum terbaiknya.
“Natashya geulis, hati Nio berdesir.” Natashya mengedipkan sebelah matanya genit.
“AYO KITA BELANJA, SAYANG!”
Apa tadi?!
Tadi itu apa?!
APA, GUYS?!
KOK, NATASHYA GEMES PISAN?!
...–SSS 1 End-...
Gimana teman-teman? SSS-nya menghibur nggak?
Mau tau seberapa geulisnya Natashya? Nih, cast Kariva Diana Natashya👇
__ADS_1
Geulis tenan, kan?
See you di chapter selanjutnya:)