KISAH KITA

KISAH KITA
Chapter 116 | Bertemu Dokter


__ADS_3

Paginya, Natashya sudah siap dengan outfit-nya. Begitupun dengan Anton, lelaki itu akan menemani Natashya mengantar Yosua ke psikiater.


“Kita ke Rumah Sakit Lentera dulu, ya, Yo,” pinta Natashya ketika keduanya sudah berada di dalam mobil.


Anton menoleh dengan sorot mata cemas. “Kamu kenapa, Sayang? Ada yang sakit?” Kekhawatiran lelaki itu bertambah mengingat sang istri sedang hamil sekarang.


Natashya menggeleng. “Nggak, Nio. Aku udah buat janji sama Yeni buat periksa kandungan.”


“Oh.” Anton manggut-manggut. “Yeni siapa, Sayang?” tanyanya sembari menginjak gas mobil. Kendaraan yang mereka tumpangi mulai berjalan meninggalkan pekarangan rumah.


“Em, seniorku dulu. Dia sekarang jadi dokter kandungan.”


“Teman kamu?”


“Dibilang teman, juga nggak. Kita nggak sedekat itu,” jawab Natashya seadanya.


Menyadari bahwa mood sang istri sedang tidak baik, Anton tidak lagi bertanya. Dia tidak mau semakin mengacaukan suasana hati Natashya. Akibatnya, bisa fatal nanti.


Sayangnya, di kepala Anton masih ada satu pernyataan yang bersemayam sejak semalam.


“Sepulang antar Yosua, kita ke rumah Mama Papa, sama Ayah Bunda, ya. Kita, kan, belum ngasih tau mereka kalo kamu hamil,” ucap Anton hati-hati, takut menyinggung Natashya yang moody-an sekarang.


Natashya menoleh dan tersenyum. Wanita itu mengangguk, mengiyakan permintaan suaminya.


Anton tersenyum tipis, namun begitu menawan bagi siapa pun yang melihat.


Semoga keluargaku selalu dalam perlindungan-Mu.. amiinn..


Bantu Papa jaga Mama sama adik kamu, ya, Baby L. Doakan mereka selalu sehat, ya.


...❄️❄️❄️...


“Lama nggak ketemu, ya, Shya,” sapa Yeni, dokter kandungan yang dulunya merupakan senior Natashya di kampus. Keduanya saling mengenal walau tidak terlalu dekat. Namun, tak jarang, Yeni datang menemui Natashya untuk berkonsultasi masalahnya.


“Hm, Kak,” balas Natashya malas.


Hm, entah kenapa, Ay punya firasat yang tidak baik tentang anak yang Natashya kandung. Lihat! Sifat dingin dari Kutub wanita itu kembali!


Wah, pasti anak mereka juga sama seperti ibunya. Apa nggak cukup Baby Aruna yang ikut-ikutan seperti Natashya? Kenapa calon bayi yang satu ini juga harus... aishh!


“Saya turut berduka cita untuk anak pertama kamu, ya.” Di kehamilan pertama Natashya, Yeni jugalah yang memeriksa. Mengetahui bahwa adik tingkatnya ini keguguran, tentu dia ikut sedih.

__ADS_1


Natashya menghela napas berat. Diingatkan soal anak pertamanya selalu membuat mood-nya hancur. “Iya, Kak, makasih. Bisa langsung periksa?”


Ciri khas Natashya yang dulu kembali. Selalu to the point, tidak suka basa-basi.


Yeni tersenyum kikuk. Lantas ia mempersilakan Natashya untuk berbaring di ranjang ruangannya, sementara ia menyiapkan beberapa alat untuk memeriksa Natashya.


Anton tidak pernah meninggalkan Natashya barang sedikitpun. Ia terus menggenggam tangan istrinya. Maniknya terus memperhatikan bagaimana dokter kandungan itu memeriksa tekanan darah, denyut nadi, lanjut mengoleskan gel yang Anton tidak tahu namanya.


“Wah, janinnya udah lumayan besar, ya,” kata Yeni yang masih terus menatap layar USG lamat-lamat.


“Berapa perkiraan umurnya?” tanya Natashya ingin tahu.


“Hm..” Yeni bergumam pelan. “Perkiraan sudah masuk minggu ke-10.”


Natashya menaikkan sebelah alisnya. Udah dua bulan lebih dong?


“Perkembangan janin bagus, dan bla bla bla...” Yeni menjelaskan secara runtut dan rinci bagaimana keadaan janin yang ada di rahim Natashya.


Anton mendengarkan dengan saksama, sesekali melontarkan pertanyaan mengenai calon bayinya. Sementara Natashya tidak mendengarkan sama sekali, dia fokus menatap layar USG sambil senyum malu-malu.


Baby L, liat, adik kamu tumbuh di perut Mama.. doakan dia selalu sehat, ya, Baby L.


“Eh?” Yeni terkejut. Baru saja ia ingin mengucapkan beberapa kata, sorot tajam Natashya sukses menciutkan nyalinya. “Iya, iya, boleh pulang. Sana-sana!”


Lebih baik diusir saja daripada nyawa Yeni yang jadi taruhan.


...❄️❄️❄️...


Tiba di rumah Yosua, ternyata di sana sudah ramai. Aisha, Laily, dan Hafi berkumpul di depan rumah Yosua, menanti kedatangan Natashya dan Anton.


“Gila, lama amat, sih, lo!” sentak Hafi kesal pada Anton, sahabatnya. Dia di sini karena menemani Laily, tidak rela kalau istrinya dekat-dekat dengan Yosua. Apalagi lelaki itu tahu kalau ternyata Yosua mengidap OLD.


Hafi tidak mau Laily-nya kenapa-napa.


Anton memutar bola matanya malas. “Ada urusan,” jawabnya singkat. Hafi mendengkus sebal.


“Udah, ayo masuk!” ajak Laily. Natashya dan Aisha mengangguk. Ketiganya diikuti dua lelaki di belakang masuk ke dalam hunian, mencari sosok Yosua untuk diajak keluar bersama.


“Kak—”


Terdiam.

__ADS_1


Hening.


Tidak ada suara.


Natashya spontan memejamkan mata dan membalikkan badan. Aisha dan Laily malah melongo melihat Yosua yang keluar dari kamar hanya dengan HANDUK MELILIT PINGGANGNYA!


“Sayang!” pekik Hafi. Ia menarik Laily ke dalam pelukan dan menutup mata istrinya. “Nggak boleh diliat! Dosa!”


Anton bersyukur karena Natashya langsung bergerak cepat membalikkan badan. Dia menarik lembut tubuh sang istri masuk ke dalam pelukan.


“KAK YOSUA! LO NODAIN MATA SUCI GUE!” teriak Aisha kesal.


Yosua di depan cuma cengengesan. Dia juga tidak menyangka bahwa KELIMA TAMUNYA MASUK KE DALAM RUMAHNYA TANPA MENGETUK PINTU.


Bukan salah Yosua dong.


...❄️❄️❄️...


“Jadi, ada masalah apa?”


Yosua duduk dengan gelisah. Seberapapun ia berusaha, ketakutan yang menyelimuti dirinya tidak bisa hilang. Jantungnya berdebar begitu kencang, padahal situasinya tidak menuntut Yosua untuk berlari kencang.


“Kak, ceritain aja yang lo rasain.” Natashya menyentuh bahu Yosua pelan, diikuti Laily yang menepuk bahu Yosua yang lain. Aisha hanya bisa menguatkan dari belakang.


Faisal, psikiater yang Natashya pilih untuk menangani Yosua, tampak tersenyum. Kedatangan Yosua kemari saja sebenarnya sudah pantas mendapat apresiasi. Tidak mudah bagi penderita penyakit kejiwaan untuk mengakui bahwa dirinya sakit.


Itu adalah ketakutan tersendiri bagi mereka.


Faisal melepas jas dokternya, kemudian menyembunyikan benda tersebut ke dalam tas. Pakaiannya sekarang hanya sebatas kaus abu-abu santai dengan celana bahan. “Santai aja, Dek. Cerita aja, Kakak akan dengarkan.”


Faisal berusaha membangun suasana yang nyaman agar Yosua bisa bercerita masalahnya tanpa rasa canggung. Ia bahkan berbasa-basi pada lelaki itu, menanyakan soal kesukaan, pekerjaan, dan beberapa hal yang umum ditanyakan ketika berkenalan.


Atas dukungan Natashya, Laily, dan Aisha, akhirnya Yosua mulai bercerita soal kondisinya. Apa saja yang sudah ia alami dan rasakan, dia ceritakan perlahan-lahan. Dan, Faisal mendengarkan dengan saksama tanpa memaksa sama sekali.


Tepukan pelan Yosua dapatkan dari sosok yang ia kenal sebagai dokter psikiater itu. Faisal tersenyum kecil. “Kamu hebat, Dek.”


“Percaya sama Kakak. Penyakit kamu bisa sembuh asalkan kamu punya semangat untuk sembuh.”


“Kakak yakin, kamu masih bisa hidup normal seperti yang lainnya.”


^^^To be continue...^^^

__ADS_1


__ADS_2