
Cukup lama Natashya berputar-putar, akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumah. Usai menemani Laily ke mall dan mengantar gadis itu pulang, wanita itu mampir ke apotek untuk membeli vitamin.
Niat hati, sih, hanya ingin memberikan vitamin tersebut kepada Riana.
Namun, mengingat bahwa ia punya banyak anggota keluarga, Natashya membeli vitamin untuk keluarga suaminya juga.
Satu paket vitamin lengkap untuk Tio dan Nia, Heru dan Riana, terakhir untuk dirinya dan Anton.
Sebagai dokter, tentu saja Natashya ingin memastikan keluarganya selalu sehat.
Sayangnya, ketika ia sampai di rumah Heru, tidak ada siapa pun di sana yang menyambutnya. Hanya pembantu dan satpam rumah.
Alhasil, Natashya memilih pulang dan akan memberikan vitamin yang dibeli esok hari. Ia sudah menghubungi Randy untuk menanyakan posisi keluarganya itu yang ternyata ada di rumah sakit.
Natashya tiba di rumah sekitar pukul enam malam. Dahinya sukses dibuat mengerut, bingung dengan kondisi rumahnya yang gelap gulita. Tidak ada cahaya lampu yang menerangi.
“Kok, gelap, sih? Nio nggak ada, kah?”
Pikiran buruk mulai berdatangan. Namun, Natashya menepis semua itu dan berusaha berpikir positif. Mungkin Anton sedang tidak ada di rumah.
Natashya berjalan pelan memasuki rumahnya dengan tingkat kewaspadaan yang tinggi. Matanya celingukan, takut kalau pikirannya tentang maling benar adanya. Lebih baik dia waspada dulu, kan, sebelum kejadian?
“Nio? Bi Jati?” panggil Natashya lirih.
Klik..
“HAPPY BIRTHDAY, NATASHYA!”
Manik Natashya mengerjap-ngerjap beberapa kali, berusaha menyesuaikan pencahayaan yang tiba-tiba terang dan menatap ke depan dengan sorot tak percaya. Seluruh keluarganya, keluarga Anton, dan sahabat dekatnya ada di rumah seraya membawa balon beraneka warna.
Anton berdiri di tengah-tengah seraya membawa kue cokelat dengan lilin di atasnya. Di sekeliling lelaki itu ada banyak anggota keluarga yang hadir dengan senyum merekah. Lalu di atas ada balon alfabet membentuk kalimat “selamat ulang tahun”.
Natashya tersenyum haru menatap mereka semua. Ia lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunnya sendiri. Masalah yang menghantuinya akhir-akhir ini membuat pikirannya banyak tersita sampai-sampai ia lupa bahwa ada hal lain yang lebih pantas diprioritaskan.
Natashya merasa bersalah karena mengabaikan orang-orang yang mencintainya dengan tulus hanya demi Aisha, sahabatnya yang hilang entah ke mana.
Tak ingin suasana berubah buruk, Natashya menghapus air matanya dengan cepat. Lantas bergerak maju mendekati sang suami yang juga menghampirinya.
“Happy birthday, My Wife,” ucap Anton tulus.
“Thank you,” balas Natashya serak karena menahan tangis.
Riana turut mendekat dan memeluk putrinya itu. “Selamat ulang tahun, Putri Bunda.”
Natashya terkekeh pelan. “Pantes Bunda di telepon kedengeran gugup. Ternyata lagi bohong, toh,” ledeknya.
Riana mengulum bibir malu, dia memang tidak pernah pandai berbohong sejak dulu. Tetapi, itulah yang menjadi kelebihan ibu yang satu ini. Dan, salah satu alasan mengapa Heru begitu mencintainya.
__ADS_1
Terbukti di umur mereka yang hampir menginjak setengah abad, namun masih bisa menghasilkan buah hati. Lihat tuh perut besar bunda Natashya—udah kayak mau meletus.
Acara dilanjutkan. Satu per satu yang hadir mengucapkan selamat kepada Natashya. Setelah ucapan selamat selesai, Anton menyalakan lilin pada kue dan meminta Natashya untuk meniupnya.
Semoga keluarga hamba selalu sehat dan bahagia. Dan, semoga hamba bisa segera mendapat amanah berupa makhluk kecil titipan-Mu, Ya Allah...
Fiuhhh..
Tepukan tangan yang riuh menggema di penjuru ruangan. Senyum penuh kebahagiaan terpasang di setiap bibir insan yang hadir. Hari ini, mereka semua tidak ingin memikirkan masalah yang melanda.
Malam ini saja, mereka ingin lupa dengan masalah dan kesibukan mereka.
Natashya memotong kue cokelat tadi dan diberikan kepada Riana. “Tashya nggak akan pernah capek buat bilang makasih sama Bunda. Makasih udah didik dan rawat Tashya sampai sebesar ini.”
Riana terharu, kedua matanya sampai berkaca-kaca. Karena hormon kehamilannya, ia jadi sensitif. Jadi, itu udah biasa.
Natashya berdecak seraya menggeleng pelan. “Semoga adik Tashya nggak cengeng kayak bundanya,” ucapnya berharap dengan maksud bergurau. Ia tahu bahwa Riana sangat mudah baper sejak hamil.
Sorot penuh haru tadi hilang seketika, Riana menatap putrinya tajam.
Plak!
“Jahat banget sama bunda sendiri!” kesal Riana. Ia sampai memukul lengan Natashya untuk pelampiasan.
Natashya mengedikkan bahu tak acuh. Ia memilih untuk memotong kue kedua untuk Heru. “Buat ayah terhebatnya Tashya.”
Potongan kue ketiga untuk Randy. Abang Natashya itu terkekeh melihat adiknya hanya tersenyum dan sekadar mengucapkan terima kasih. Tapi, Randy tahu bahwa makna kata terima kasih Natashya sangat dalam dilihat dari sorot mata adiknya.
Potongan keempat untuk sang suami. Natashya memberikan piring berisi kue kepada Anton dengan senyum merekah. “Makasih karena kamu nggak pernah nyerah di setiap kondisiku. Kamu suami terbaik buat aku, Antonio.”
Cup!
Sebagai tambahan, Natashya mencium sekilas pipi Anton. Lelaki itu tersenyum lebar. Ia ingin sekali menarik istrinya ke dalam kamar dan menciuminya sampai puas.
Tapi, tidak bisa ia lakukan mengingat ada banyak tamu yang hadir di rumahnya.
Kenapa gue jadi nyesel, ya, ngundang mereka?
Natashya menerima banyak hadiah dari sanak saudara. Untuk menghargai mereka, ia menerima setiap hadiah dengan sukacita sekalipun hadiah yang diterima kurang cocok dengan seleranya.
Anton menjadi orang pertama yang memberikan hadiah kepada Natashya. Sepasang gelang couple dengan gantungan bintang dan bulan. Ditambah gantungan ponsel berbentuk hati yang dapat menyala jika didekatkan.
“Lucu,” ucap Natashya yang masih memperhatikan gantungan di ponselnya.
Anton tersenyum senang melihat Natashya yang menyukai hadiah kecilnya.
Selanjutnya, ada Riana dan Heru yang memberikan boneka kelinci berwarna putih dan biru kepada Natashya. Yang melihat boneka tersebut merasa heran. Masa iya Natashya udah sebesar ini masih main boneka?
__ADS_1
Namun, reaksi Natashya malah lebih tak terduga. Wanita itu bersorak senang seraya memeluk boneka barunya.
“Makasih, Bunda, Ayah.” Natashya menatap kedua orang tuanya girang.
“Sama-sama, Sayang,” balas Riana dan Heru bersamaan.
Ketika giliran Tio dan Nia, Natashya dibuat tercekat ketika ia mendapat sebuah kunci mobil. Ia menatap mertuanya tak percaya. Ini beneran dia dikasih mobil?
Kenapa mewah sekali, sih?
“Ma, Pa, i–ini serius?” Natashya masih tidak menyangka dengan hadiah yang baru diterima.
Tio tertawa pelan melihat ekspresi menantunya. “Iya, Shya. Ambil aja. Itu hadiah kami.”
Natashya tersenyum kikuk. Walaupun kurang nyaman, ia tetap menerima dengan lapang dada.
Anggap aja buat cadangan. Kalau sewaktu-waktu mobil lamanya mogok, ia bisa menggunakan mobil barunya. Hm, ide yang bagus juga.
Randy tak mau kalah memberi dress cantik keluaran merek ternama. Natashya yang pencinta warna biru langsung suka sejak pertama kali melihatnya.
“Makasih, Abang Jones-ku.” Natashya mengedipkan sebelah matanya jail.
Randy mendengkus dengan senyum kecil di bibirnya. Ia lebih suka melihat adiknya yang usil dan jail daripada diam saja. Randy tidak mau Natashya seperti dulu lagi—duduk diam dengan tatapan kosong.
Huh, itu mimpi buruk baginya.
Laily dengan pedenya menyerahkan kotak kadonya. Natashya yang penasaran mengintip isinya. Matanya membelalak lebar ketika tahu apa yang berada di dalamnya.
Ini, kan, lingerie yang siang tadi...
Laily tersenyum puas melihat ekspresi masam sahabatnya itu. Ia mundur dan bergabung dengan Nadia, tak memedulikan sorot tajam Natashya yang mengarahkan padanya.
Cih, dia balas dendam rupanya..
...❄️❄️❄️...
Bi Jati menghampiri Natashya dengan tergopoh-gopoh. “Non, ada tamu,” katanya.
“Suruh masuk aja, Bi.”
“Tapi, Non, saya nggak kenal siapa tamunya.”
Natashya mengerutkan dahi. Karena penasaran, ia memilih untuk keluar dari rumah untuk melihat siapa yang datang.
Deg!
“Lo...”
__ADS_1
^^^To be continue...^^^