KISAH KITA

KISAH KITA
Chapter 82 | Perpisahan


__ADS_3

Update lagi!


...Happy reading:)...


.......


.......


.......


“Gue akan bawa Natashya pulang ke rumah Bunda!”


Duaaarrr!!!


A–apa? Membawa Natashya pergi?


Pergi dari sini?!


Anton menggeleng cepat. “Jangan, Bang. Aku akan berusaha lagi agar Tashya bisa sembuh. Jangan bawa Tashya pergi, Bang.”


Randy menggeleng tegas. “Kondisi Tashya bakalan memburuk kalo dia terus di sini, Anton.” Ia berusaha menjelaskan. Tetapi, malah disalahartikan oleh suami adiknya itu.


Anton mendadak kaku. Pikirnya, Randy merasa bahwa dirinya gagal menjaga Natashya dan malah membuat gadis itu memburuk keadaannya. Padahal, Anton sudah berusaha sangat keras agar istrinya mau merespon perlakuannya.


“Nggak, Bang. Jangan, aku mohon. Kasih aku kesempatan, ya. Aku akan berusaha lagi,” mohon Anton lesu.


Randy menghela napas kasar. Anton tidak akan paham penjelasan yang ia beri. Karena itu, Randy memilih untuk mendekati sang adik dan mengusap kepalanya. “Tashya mau ikut Abang?” tanyanya.


Anton ingin mencegah, namun tubuhnya membeku ketika ia melihat Natashya merespon perkataan Randy. Wanita itu berkedip sekali, lalu menoleh ke arah Randy yang duduk di sebelahnya.


“Ke mana?” tanya Natashya sangat pelan. Saking pelannya, Anton tidak bisa mendengar apa pun. Tapi, ia tahu apa yang istrinya ucapkan lewat pergerakan bibir wanita itu.


Dalam diam, Randy mengucap syukur banyak-banyak karena Natashya mau merespon perkataannya. “Ke rumah bunda sama ayah. Tashya mau?”


Natashya terdiam dengan tatapan kosong mengarah pada Randy. Ia mengalihkan pandangannya pada Anton yang menatapnya sendu. Natashya kembali menatap Randy.


“Mau.”


Duaarr!


Anton merasakan lututnya lemas seketika, tubuhnya lunglai. Lemas tak berdaya. Kenapa ketika Natashya diberi tawaran pergi dari rumah ini ia langsung merespon? Apa Natashya tidak suka tinggal di sini? Bersama Anton?


Apa Natashya membenci Anton?


Pikiran-pikiran itu terus berputar di kepala Anton. Semakin dibiarkan, semua pemikiran itu membuat suasana hatinya memburuk.

__ADS_1


“Tashya, kamu mau pergi?” tanya Anton sedih. “Jangan pergi. Aku nggak mau ditinggal sendiri. A–aku nggak mau, Shya..”


Randy tidak tega sejujurnya. Sayangnya, sesuai instruksi Tian, Natashya harus dibawa pergi dari rumah ini jika ingin kondisi wanita itu membaik. Alhasil, mau tak mau, tega tak tega, Randy tetap akan membawa adiknya pulang ke rumah orang tuanya.


Ini demi kesembuhan Natashya.


Demi kebaikan semua orang.


“Ayo, Shya, ikut Abang.” Randy membantu Natashya berdiri. Lelaki itu baru sadar betapa kurusnya tubuh sang adik. Padahal, Natashya adalah tipe perempuan yang sangat menjaga berat badan dan bentuk tubuhnya agar tetap ideal.


Hati Randy seakan tercubit keras. Dia salah sudah mengabaikan adiknya begitu saja.


Randy memapah Natashya keluar dari kamar. Anton yang melihat hal tersebut bergegas menyusul. Ia terus memohon kepada kakak iparnya agar tidak membawa istrinya pergi.


“Aku mohon, Bang, jangan bawa Tashya pergi. Kasih aku kesempatan, Bang.”


Anton tak henti mengucapkan kalimat tersebut. Dia memohon dengan air mata berlinang di pipinya. Randy berusaha menjelaskan sekali lagi, namun Anton tetap menggeleng, tidak mau Natashya pergi.


“Bang, please...”


“Anton, lo harus paham! Tashya nggak bakalan sembuh kalo dia sini!” seru Randy mulai kehabisan sabar.


“Tapi, Bang—”


Anton dan Randy menoleh, Heru dan Riana datang di saat yang tepat bagi Randy, tapi tidak dengan Anton. Lelaki itu menganggap bahwa kedua mertuanya juga hadir untuk membawa Natashya pergi darinya.


Anton ketakutan sekarang. Sangat.


Anton menggenggam tangan Natashya erat. Ia tidak akan membiarkan istrinya dibawa pergi.


“Abang, jangan begitu,” tegur Riana. Hatinya tersayat melihat kondisi putrinya, namun ia juga tidak tega dengan menantunya itu.


“Bawa Tashya ke mobil, Bang,” suruh Heru.


Randy mengangguk. Ia hendak memapah Natashya ke mobil. Sayangnya, lengan adiknya ditahan oleh Anton.


“Ayah, jangan bawa Tashya pergi,” pinta Anton memelas.


Heru mendekat. Ia menepuk bahu Anton, berusaha menenangkan menantunya itu. “Nio, Ayah tidak akan memisahkan kamu dari Tashya,” katanya.


“Lalu, ini—”


“Dengarkan Ayah, Nio,” potong Heru. Anton terdiam. “Tian sudah menjelaskan secara rinci mengenai kondisi Tashya. Saat ini, Tashya mengalami guncangan kejiwaan yang membuatnya mengalami depresi berat, Yo.”


Anton terbelalak. Matanya mengerjap tidak percaya. “Gu–guncangan kejiwaan? Depresi berat?” ulangnya lirih.

__ADS_1


Heru mengangguk. “Tashya terlalu terpukul karena kehilangan anak kalian.”


Kepala Anton perlahan menunduk. Ia tahu kalau Natashya sangat terpukul dengan kepergian anak mereka. Tapi, ia tak habis pikir bahwa istrinya itu sampai mengalami guncangan kejiwaan hingga depresi seperti ini.


Ah, kenapa fakta yang satu ini terlalu menyakitkan untuk didengar?


“Semua kenangan soal anak kalian ada di rumah ini, Nio. Termasuk ketika kalian kehilangan anak kalian. Selama Tashya di sini, dia nggak akan sembuh. Dia harus bisa melupakan kesedihannya dan ikhlas dengan kepergian anak kalian,” jelas Heru sebaik mungkin. Pria paruh baya itu sudah memilihkan kata-kata terbaik agar menantunya tak tersinggung.


Riana turut mendekat dan mengusap lengan Anton. “Karena itu, kami mau membawa Natashya pulang sebentaaar saja. Setelah keadaannya membaik, Bunda akan bawa Tashya pulang kemari, ke rumah kalian. Izinkan kami membawa Tashya pulang, ya, Nio?” pinta wanita tersebut.


Perlahan Anton melepas genggamannya pada lengan Natashya dengan hembusan napas berat. Penjelasan Heru dan Riana menampar ulu hatinya hingga berdenyut sakit. Lagi-lagi, ia diingatkan soal kejadian hari itu—peristiwa yang mengakibatkan anaknya dan Natashya meninggal.


Anton tidak bisa menolak permintaan kedua mertuanya jika alasan mereka seperti ini. Mau tidak mau, ia harus rela berpisah dengan Natashya selama beberapa hari ke depan demi kesembuhan istrinya itu.


Tidak, tidak mungkin hanya beberapa hari. Mungkin akan sangat lama. Setahu Anton, orang-orang yang depresi membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menata kepribadian seperti semula.


“Iya, Bunda. Nio izinkan,” lirih Anton pasrah.


Heru dan Riana menghembuskan napas lega. Heru memberi Randy kode agar memapah Natashya ke mobil.


Baru saja Randy ingin melangkah, Anton kembali menahan lengan Natashya. Tatapan lelaki itu begitu sendu.


“Shya, cepat sembuh, ya. Aku tunggu kamu di sini,” kata Anton dengan senyum tegar.


Anton mendekat. Ia menangkup kedua pipi istrinya dan menipiskan jarak.


Cup..


Anton mencium kening Natashya lama, menumpahkan semua rasa sesak di dadanya. Jujur, hatinya tidak siap dengan perpisahan sementara ini.


Tetapi, jika ini demi kebaikan sang istri, Anton akan menguatkan diri.


“Aku mencintaimu, Natashya. Aku menunggumu, Sayang. Selalu...”


“Segeralah sembuh dan pulanglah, Tashya.”


^^^To be continue...^^^


...❄️❄️❄️...


Like dan komennya mau dong:')


Kasih support buat Anton kita yang sedang sedih..


See you di chapter selanjutnya:)

__ADS_1


__ADS_2