
Anton berjalan ke sana kemari dengan gusar. Pikirannya kacau memikirkan istrinya yang tak kunjung pulang. Padahal, ketiga perempuan itu sudah pergi selama satu jam lamanya.
Tidak ada kabar sama sekali pula.
Huh... oke, Nio, rileks. Semua baik-baik aja..
Anton menekan tombol call pada nomor Natashya di ponselnya. Nada sambung terdengar. Sayangnya, hingga suara operator berbunyi, istrinya itu tidak mengangkat teleponnya.
“Kamu ke mana, Sayang?” gumam Anton khawatir.
Lelaki itu bergegas keluar kamar. Ia menghampiri kedua sahabatnya yang tengah berleha-leha di sofa ruang santai. “Fi, Laily ada kasih kabar?” tanya Anton to the point.
Merasa ditanya, Hafi menoleh ke arah Anton. Kepalanya menggeleng. “Nggak tuh.”
Anton menghela napas frustrasi. “Lo nggak khawatir sama calon bini lo, Fi? Mereka nggak ada kabar sejak satu jam yang lalu!”
“Entar juga balik,” celetuk Rio malas. Sahabatnya yang satu ini terlalu parno-an. Lagian, kan, ketiga perempuan itu baru pergi satu jam, bukan satu hari atau satu bulan. Wajar aja, lah!
Orang kalo mereka beli baju aja milihnya nyampe tiga jam.
Iya, kan, girls?
Soalnya, Ay juga begitu, hehe😆
“Tapi, mereka nggak ada kabar, Rio!” ucap Anton kesal. Kenapa, sih, si Rio itu tidak paham kekhawatirannya?
Huh, mungkin efek karena jomblo terlalu lama, ya, kan? Tuh cowok, kan, baru punya pacar akhir-akhir ini.
Ya udah, deh, maklumi saja.
Lama-lama kasihan juga kalau Rio terus ternistakan seperti ini.
“Udah-udah, biar gue telpon Laily aja.” Hafi menengahi, lebih baik begitu daripada urusannya makin panjang. Ia meraih ponselnya dan segera menghubungi calon istrinya. “Assalamualaikum, Ly.”
“KAKAK! HIKS.. HUAAA....!”
Mendengar jeritan Laily membuat Hafi berjengit kaget. Seketika punggungnya menjadi tegap, tanda bahwa dirinya ikut panik dengan situasi ini. “Ly, kamu nangis? Hei?”
“Hiks.. Kak.. Na–Natashya hi–hilang, hiks... Dia ke–kepisah dari rombongan, Kak.. hiks...”
Sepasang mata Hafi membelalak lebar. “Apa?! Natashya hilang?!”
Anton yang mendengar itu seketika panik bukan main. Ia bergegas kembali ke kamar, meraih kunci mobil, dan berlari keluar rumah. Pikirannya amburadul, antara cemas, panik, bingung, dan takut menjadi satu.
“NIO! LO MAU KE MANA?!” teriak Rio tak tahu situasi.
__ADS_1
Plak!
Hafi menggeplak kepala belakang Rio cukup keras hingga membuat lelaki itu mengaduh sakit. “Mau cari istrinya, lah! Gitu aja nggak paham.”
“Otak lo butuh nutrisi tuh. Makan bekicot sana!”
...❄️❄️❄️...
“Natashya?!”
“Aisha?”
Kedua perempuan yang sudah lama tidak berjumpa itu menyerukan nama satu sama lain dengan nada yang berbeda. Aisha yang cenderung berteriak, sedangkan Natashya berkata dengan ekspresi tak percaya.
Tidak ada yang memprediksi bahwa keduanya akan dipertemukan di sini, di saat yang tidak tepat menurut Aisha.
Aisha bergegas ingin pergi, namun lengannya ditahan oleh Natashya. Aisha memejamkan matanya sejenak sebelum membalikkan badan, ia terus meyakinkan diri untuk menjaga emosinya agar tetap tenang. Ia menyentak lengannya kasar hingga cengkeraman Natashya terlepas.
“Aisha, ini lo, kan?” tanya Natashya dengan senyum kecilnya. Ia gembira bisa bertemu dengan sahabatnya lagi. “Apa kabar, Sha? Lo keliatannya baik-baik aja.”
Tidak ada jawaban manis seperti dulu. Aisha mendengkus sebal seraya melengos ke samping. “Nggak usah muna, deh, lo! Gue nggak suka cewek munafik kayak lo gini! Jadi, mending lo nggak usah sok peduli sama gue,” sentaknya.
Tatapan Natashya berubah sendu. Hingga detik ini, ia tidak pernah tahu ada masalah apa antara dirinya dan Aisha. Semuanya terlalu rumit untuk dicari tahu.
Kenapa rasa benci itu bisa hadir tanpa ada sebab?
“Sha, lo kenapa? Kenapa lo jadi kayak gini? Gue salah apa sama lo?” lirih Natashya sedih.
Senyuman sinis tercetak di bibir Aisha. “See? Lo udah berbuat, tapi nggak mau ngakuin. Apa namanya kalo bukan munafik? Cih! Gue nggak sudi punya sahabat kayak lo! Bahkan, gue malu pernah sahabatan sama lo!”
Demi apa pun itu, kalimat Aisha sangatlah menyakitkan untuk didengar. Hati Natashya seolah tersayat perlahan oleh setiap kata yang Aisha lontarkan.
Dan, kali ini, sayatan itu hampir memotong seujung hatinya. Rasanya sakit, tapi tidak berdarah.
Gue masih nggak ngerti, kenapa Aisha benci banget sama gue.
“Sha, gue—”
“CUKUP, SHYA! APA LO MASIH NGGAK PUAS DENGAN SEMUA PERLAKUAN LO SAMA ALKA, HA?! LO MASIH MAU GANGGU GUE, IYA?!” teriak Aisha emosi. Sorot kebencian terpancar jelas di binar mata gadis itu.
Gadis itu gagal menjaga emosinya tetap damai dan tentram.
Alka? Apa hubungannya sama Alka?
“Alka? Alka kenapa, Sha?” Natashya masih berusaha mengorek informasi. Benar dugaannya, ada sesuatu yang terjadi tanpa sepengetahuannya. Dan, masalah itu terjadi dengan menjadikan dirinya sebagai kambing hitam.
__ADS_1
Lagi-lagi, Aisha tersenyum sinis. “Lo nggak sadar sama apa yang perbuat, ha?! ALKA DEPRESI GARA-GARA LO, SIALAN!”
Deg!
A–apa?
“Apa maksud lo? Gue nggak paham.”
Nggak mungkin, kan, gara-gara penolakan gue hari itu Alka jadi depresi?
Gue yakin, besoknya sikap Alka ke gue tetep sama, dia keliatan santai seperti biasa.
“Cih!” Aisha berdecih sinis. Tipe-tipe wanita seperti Natashya inilah yang paling tak ia suka. Sok polos di depan, namun bertanduk di belakang. “Lo tanya aja sama diri lo sendiri, apa yang lo perbuat ke Alka sampai dia depresi kayak gitu.”
“Tapi, gue emang nggak ngelakuin apa pun, Sha,” bela Natashya. “Hari itu, Alka nyatain perasaannya ke gue dan gue tolak dia baik-baik. Setelah itu, sikap Alka ke gue tetep sama. Dia masih baik dan suka bercanda. Lalu besoknya, dia hilang tanpa kabar. Gue nggak ngelakuin apa pun!”
Natashya terus berusaha menjelaskan. Depresinya Alka tidak ada hubungannya dengan dirinya. Ia bahkan baru tahu kalau Alka depresi dan dirawat di RSJ Harapan sewaktu kunjungannya dengan Tian hari itu.
Seandainya kunjungan itu tidak pernah ada, Natashya juga tidak akan pernah tahu kalau Alka ada di sana.
“SIALAN!” Aisha geram. Ia hanya berharap bahwa Natashya mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Mungkin dengan begitu, keadaan mereka tidak serumit ini.
Bagaimanapun, Natashya pernah menjadi sahabat terbaiknya. Tidak mungkin Aisha tidak memaafkan jika wanita itu meminta maaf.
Namun, prediksinya salah. Natashya terlalu egois untuk mengakui kesalahannya sendiri.
Karena terlalu geram dan marah, Aisha maju dan mendorong bahu Natashya kuat.
Brukk!
“Aw..”
“NATASHYA!”
^^^To be continue...^^^
...❄️❄️❄️...
Wahh.. apakah yang terjadi selanjutnya?
Siapa yang meneriakkan nama Natashya di akhir cerita? Tebak hayo...
Kita kupas tuntas semua masalahnya, oke? Ay sudah atur outline untuk cerita ini. So, tenang aja. Semua sudah dirancang sedemikian rupa.
Hah.. jadi penulis susah juga, ya. Ay kadang lelah dan pengin berhenti, tapi udah terlanjur hobi. Gimana dong?
__ADS_1
See you di chapter selanjutnya:)