
“Masih mulas?” tanya Anton yang terus-menerus memasang ekspresi cemas.
Natashya mengangguk, tidak membantah pertanyaan Anton.
Bisa ditebak apa yang terjadi?
Hm, tentu saja. Natashya kita sudah mulai merasakan kontraksi-kontraksi di area perut, pertanda bahwa keponakan online kita akan segera lahir ke dunia dengan takdir yang menantinya. Bayi kecil yang Natashya dan Anton nanti-nantikan sejak lama.
“Kamu duduk aja, Sayang. Aku takut liat kamu mondar-mandir terus dari tadi,” gemas Anton yang sedari tadi melihat Natashya bolak-balik di kamar, mengemasi perlengkapan bayi untuk dibawa ke rumah sakit.
Padahal, Anton sudah menawarkan diri untuk menggantikan tugas Natashya. Tetapi, wanita itu menolak dengan tegas. Katanya, ingin melakukan sendiri.
Hingga detik ini, Anton lagi-lagi dibuat kagum dengan sikap sang istri. Natashya begitu tenang, tidak terlihat takut, dan santai sejak kontraksi mulai terasa. Hanya sesekali meringis sambil mengusap perut jika rasa nyeri di bagian perut bawahnya lebih kuat dari sebelumnya. Namun, kemudian Natashya terlihat biasa-biasa saja.
Entah bagaimana dengan kondisi sebenarnya hati Natashya, Anton masih tetap akan takjub. Istrinya ini hebat sekali dalam bidang pengontrolan diri.
Ah, Anton bangga punya Natashya sebagai pendamping hidupnya, hehe.
Hari-hari sebelumnya, Riana dan Nia sudah memberi sedikit wejangan untuk Anton. Lelaki itu tidak boleh panik ketika proses melahirkan semakin dekat agar bisa menenangkan Natashya. Tapi, yang terjadi sekarang malah kebalikannya.
“Yo, ambilin selimut bayinya di sana.” Natashya menunjuk tumpukan selimut bayi yang tertata rapi di lemari. Sayangnya, jaraknya cukup jauh dari posisi Natashya. Jadi, wanita itu malas ke sana.
Anton menurut dan mengambilkan beberapa dengan cepat. Natashya dengan sigap melipatnya dan menaruh selimut itu di dalam tas.
“Oke, done!” Natashya tersenyum riang. Lalu meringis kala rasa sakit di perutnya semakin terasa.
Anton langsung panik. “Udah selesai, kan? Kita ke rumah sakit sekarang, ya?”
Natashya bergumam sebentar, berpikir langkah terbaik yang harus dilakukan saat ini. “Nanti aja, Yo. Aku mau makan dulu.”
“Makan?” ulang Anton ragu.
“Iya, buat bahan bakar mengejan nantinya.”
Anton menghela napas pelan. “Ya udah, ayo.”
__ADS_1
...❄️❄️❄️...
Natashya menyantap hidangan sehat yang tersaji dengan lahap, sebagai persiapan pasokan tenaga untuknya nanti. Pokoknya, Natashya harus melakukan yang terbaik untuk... anak kedua mereka.
“Mau susu juga?” tawar Anton.
Natashya menoleh sambil terus mengunyah. Wanita itu mengangguk dengan sedikit bergumam, kemudian menyambung acara makannya dengan khidmat. Anton terkekeh sejenak, baru beranjak dari posisi untuk menyiapkan susu.
“Sshh...” rintih Natashya kala perutnya terasa lebih mulas. Area panggul dan perut bawahnya nyeri bukan main, seperti diremas-remas.
“Kenapa, Sayang? Sakit? Mau ke rumah sakit sekarang?” Anton yang paling khawatir di sini. Apalagi di rumah tidak ada siapa pun, hanya ada mereka berdua. Bi Jati masih belum pulang dari acaranya di kampung.
“Iya, habis minum susu kita berangkat.” Natashya menarik napas dalam-dalam, berharap dengan cara itu bisa sedikit merilekskan rasa nyeri dan mulas yang berpusat di perut bawahnya.
Setelah dirasa cukup berkurang, Natashya meraih gelas yang Anton sodorkan. Ia meminumnya perlahan, tidak terburu-buru.
Percayalah, Natashya sedang menikmati setiap proses kelahiran bayinya ini. Dia ingin mengingatnya seumur hidup.
Karena ini akan menjadi pengalaman pertama baginya.
“Udah, Yo. Ayo berangkat,” ajak Natashya setelah menandaskan segelas susu strawberry.
...❄️❄️❄️...
Tidak ada hal lain yang paling membahagiakan bagi sepasang suami-istri selain melihat anak yang telah dikandung oleh sang istri selama sembilan bulan telah lahir dengan sempurna. Mendengar suara tangis bayi mereka untuk pertama kali seolah menjadi alunan musik terindah sepanjang masa.
Dan, ketika sentuhan pertama sang ibu baru dengan bayi berkulit merah itu terasa begitu menggetarkan hati dan mendebarkan jiwa. Rasanya terlalu menakjubkan untuk sekadar diungkapkan dengan kata-kata.
Setelah penantian selama kurang lebih sebelas jam pembukaan, Natashya berhasil melahirkan bayinya dengan cara normal. Rasa nyeri dan sakit luar biasa yang sempat ia rasakan, mendadak hilang ketika matanya melihat wajah paripurna sang anak.
Sama seperti Natashya, Anton yang sedari tadi terus menemani pun ikut terharu. Lelaki itu tidak menyangka bahwa di detik ini, ada sosok malaikat kecil yang hadir dan akan menyebutnya dengan sebutan papa suatu hari nanti.
Anton merasa hidupnya telah sempurna selepas banyak lika-liku yang dijalaninya bersama sang istri, Natashya. Hasil dari kekuatan dan kesabaran mereka selama ini telah berbuah manis.
Buah hati yang cantik dan rupawan adalah hadiah dari Allah atas segala kesabaran sepasang suami-istri ini.
__ADS_1
“Mukanya mirip sama kamu,” ucap Natashya yang tengah menggendong putrinya di ruang rawat inap. Proses pemberian ASI pertama dan pemeriksaan pascapersalinan menyeluruh terhadap ibu dan anak telah usai sejak tadi. Saat ini, Natashya sedang menikmati pemandangan menakjubkan salah satu ciptaan Allah dengan sepenuh hati.
Dia tidak menyangka bahwa selama ini, makhluk yang bersemayam di perutnya begitu cantik dan mirip dengan sang suami.
“Tapi, bibirnya mirip kamu.” Anton tidak mau kalah. Bibirnya yang tebal tidak menurun pada sang anak. Baby K memiliki bentuk bibir tipis yang lucu.
Natashya mengangguk saja, membenarkan dalam hati. “Kamu udah hubungin bunda sama mama?”
“Sudah, mereka dalam perjalanan kemari.”
“Namanya udah siap, Sayang?” goda Natashya kepada sang suami. Sementara Anton mendengkus sebal.
Keduanya jadi teringat bagaimana kocaknya mereka ketika sedang menentukan nama bayi mereka. Deretan nama dari A-Z sudah tertata rapi, tapi tidak ada yang cocok.
Dan, Anton-lah yang paling kesal dengan itu. Keduanya berdebat hampir seharian gara-gara itu, huh.
“Udah siap, kok!” balas Anton tak ingin diejek lagi. “Namanya—”
“Nanti aja, Yo. Tunggu yang lain datang.”
Anton terdiam sesaat. Lantas mengangguk membenarkan. Begitu lebih baik, jadi dia tidak perlu mengulang lagi nama anaknya.
Nama yang akan menjadi bentuk doa dari orang tua.
“Oke, kita tunggu last chapter terbit untuk kasih tau nama anak kita.”
^^^To be continue...^^^
...❄️❄️❄️...
Hah! Sudah hampir last chapter semuanya😭
Satu chapter lagi dan “Kisah Kita” selesai. Perjalanan cinta Anton-Natashya sudah berakhir dengan bahagia—eh, belum tentu dong. Ay bisa berbuat apa pun di last chapter-nya, haha.. (ketawa jahat sebentar)
Natashya didiagnosis mengalami pendarahan setelah melahirkan, lalu meninggal, bisa aja, lho. Atau mau yang lain.. Anton jatuh kek, terus dead juga bisa. Kuasa ada di tangan Ay sebagai author, haha😆
__ADS_1
(Gila, Ay keliatan kejam banget, anjir)
See you di last chapter semuanya:)