
Drrttt... drrtt...
Suara deringan ponsel menggema di penjuru kamar. Sementara sang pemilik masih asyik di dunia mimpi. Hanya menggeliat sebentar, lalu tidur lagi.
Drrttt.. drrttt...
Natashya terduduk seraya menggerutu sebal. Rambutnya acak-acakan, bibirnya mengerucut. Dia kesal bukan main. Maniknya yang sayu melirik ke arah jam yang menggantung di dinding.
Mengetahui jam berapa sekarang, wanita itu berdecak.
“Siapa, sih, yang telpon jam satu malem?! Nih, orang pasti nggak punya jam di rumah sampe-sampe nggak ada kerjaan nelpon gue jam segini!” dumel Natashya geram.
Walaupun kesal, ia tetap menyambar ponselnya dan menilik nama penelepon.
...Abang Lucknut is calling......
“Sial!” decak Natashya. Ia menggeser ikon hijau dan segera menyapa. “Halo?!” ketusnya.
Tidak ada jawaban selama beberapa detik, hanya ada suara grasak-grusuk di seberang. “SHYA! BUNDA MAU LAHIRAN!” teriak Randy tak tanggung-tanggung.
Refleks Natashya menjauhkan ponsel dari telinganya. Suara toa abangnya benar-benar memekakkan gendang kuping. “Ya Allah, Bang, santai aja napa, sih.”
“SANTAI GIMANA MAKSUD LO, SHYA?! BUNDA LAHIRAN! ME-LA-HIR-KAN!” Randy sampai mengeja dengan penekanan yang kelewat jelas. Ia tak habis pikir dengan adiknya ini. Bagaimana bisa Natashya sesantai ini ketika bunda mereka sedang berjuang antara hidup dan mati?
Wah, Randy jadi ingin mengumpat, tapi situasinya tidak tepat sekarang.
“Cepetan lo ke sini, deh, Shya. Gue kirim lokasi rumah sakitnya. Assalamualaikum!”
Tut.
Natashya menggeleng pelan. Ia bisa menduga bahwa saat ini abangnya sedang panik. Padahal, menurutnya, Randy tidak perlu sekhawatir itu.
Riana sudah pernah melahirkan dua kali. Tentu saja wanita itu tahu apa saja yang harus dilakukan. Riana, kan, sudah berpengalaman.
“Nio, bangun, yuk.” Natashya mengguncang bahu suaminya yang sedang terlelap di sebelahnya.
Lelaki itu melenguh pelan, namun kelopak matanya tak kunjung terbuka. Natashya menghembuskan napas kasar.
“Nio, ayo bangun. Kita ke rumah sakit.”
Anton langsung terduduk dengan cepat. Mendengar kata rumah sakit, alarm bahaya di otaknya langsung berbunyi. “Siapa? Siapa yang sakit? Cepat panggil ambulans!”
Natashya tepuk jidat. “Nio, Bunda masuk rumah sakit.”
Anton melongo dengan wajah sayu. “Hah? Bunda? Bunda siapa?”
Plak!
“BISMILLAH! LINDUNGI SUAMI SAYA DARI SETAN YANG TERKUTUK, YA ALLAH!”
Anton melotot. “Natashya! Kamu mau aku kesurupan?!”
...❄️❄️❄️...
Natashya, Anton, dan Randy tengah berdiri di depan ruang persalinan dengan sejuta kekalutan di hati masing-masing. Mereka cemas dengan kondisi Riana yang tengah berjuang melahirkan di dalam sana, mempertaruhkan hidupnya demi satu nyawa kecil yang ingin menatap dunia.
__ADS_1
Randy terlihat sekali tengah cemas, sedangkan Anton dan Natashya masih bisa mengendalikan raut wajah agar tetap terlihat biasa saja.
“Ini udah dua jam. Kenapa belum selesai juga?” gumam Randy khawatir. Sedari tadi ia berjalan mondar-mandir di depan pintu—udah kayak setrikaan.
Natashya memutar bola matanya malas. “Proses persalinan itu nggak sesimpel yang lo bayangin, Bang.” Menarik napas dalam-dalam sebentar. Dia butuh banyak energi untuk menjelaskan. “Lo harus nunggu sampe proses pembukaan sempurna dan itu butuh waktu berjam-jam. Baru setelah itu bunda bisa mengejan buat dorong bayinya keluar. Rasanya sakit, Bang. Jadi, lo nggak bisa protes kalo prosesnya lama. Bunda rela kesakitan berjam-jam demi anaknya, jadi lo sebagai anak tertua di sini harusnya kasih dukungan, bukannya malah ngeluh.”
Randy termangu.
Anton menatap istrinya bangga. Natashya itu memang pribadi yang mengesankan dibalik kejutekannya. Anton beruntung bisa menikah dengan wanita ini.
Randy berjalan mendekati adiknya, tangannya diletakkan di dahi Natashya, gerakan mengecek suhu tubuh. “Nggak panas, kok. Lo kesurupan di mana, Shya?” tanya Randy dengan nada menggoda.
Natashya menepis tangan Randy dari dahinya. “Nio, liat! Bang Randy nakal!” rengeknya.
Anton tergelak seraya membawa Natashya ke dalam pelukan. Akhir-akhir ini, tingkah istrinya memang agak aneh. Kadang manja, kadang biasa saja. Anton agak kewalahan menghadapinya.
Tapi, Anton tetap senang-senang saja, kok.
Bagaimanapun Natashya, Anton tetap menyukainya.
Hm, sudah berapa lama, ya? Pokoknya sudah lewat dua minggu sejak pertemuan Natashya dengan Laily dan Aisha.
“Cih, tukang ngadu,” ledek Randy.
“Abang!” pekik Natashya kesal.
Tawa Randy hampir pecah jika saja pintu ruang persalinan tidak terbuka. Sosok dokter wanita yang menangani Riana keluar dengan ekspresi tak terbaca.
“Bagaimana keadaan bunda saya, Dok?” tanya Randy tak sabar.
Dokter itu tersenyum. “Kamu anak tertuanya, ya?”
“Anak yang kedua mana?”
Walaupun agak bingung, Natashya tetap mengacungkan tangan. “Saya, Dok. Ada apa?”
“Pasien ingin kamu masuk ke dalam duluan.”
Natashya nampak mengernyit heran. Ia menatap Anton sejenak, meminta persetujuan lelaki itu. Anton tentu tidak melarang dan membiarkan Natashya masuk bersama dokter tadi.
“Ada apa, ya?” tanya Randy entah pada siapa.
“Mungkin mau nularin virus kehamilan buat Natashya?” tebak Anton asal.
Randy menatap Anton dengan ekspresi bertanya-tanya, alisnya naik sebelah. “Ha?”
Anton nyengir. “Nggak pa pa, Bang, hehe.”
...❄️❄️❄️...
Suasana penuh kebahagiaan memenuhi bilik ruangan tempat Riana dirawat. Ibu rumah tangga yang hampir berumur 46 tahun ini lagi-lagi dikaruniai anak yang kelewat menggemaskan.
Bayi berjenis kelamin perempuan itu terlahir dengan sempurna tanpa kekurangan satu apa pun.
Heru yang awalnya ragu, kini terus mengukir senyum bahagia melihat putri kecilnya telah lahir ke dunia. Bahkan, sejak bayi itu dibawa ke ruang rawat oleh suster, Heru tak henti-hentinya menggendong sosok malaikat barunya itu.
__ADS_1
“Gemes.” Heru mencium pipi sang putri beberapa kali hingga bayi itu menggeliat tak nyaman.
Natashya yang melihat tingkah ayahnya cuma bisa tersenyum saja. Sekarang posisinya sebagai princess satu-satunya telah tergeser dengan kehadiran sang adik.
Tapi, tak apa, kok, kalau balasannya seperti ini. Raut kebahagiaan seluruh anggota keluarganya sudah lebih dari cukup bagi Natashya.
“Are you okay, Honey?” tanya Anton lirih.
Natashya mengangguk pelan. “Sekarang aku bukan satu-satunya si cantiknya ayah, Nio. Ada baby lain,” jawabnya tak kalah lirih.
Anton merangkul lengan Natashya dan mengecup pipi istrinya. “Tapi, kamu itu queen di hati aku, Sayang.”
Natashya terkekeh. “Iya.”
“Tashya,” panggil Riana.
“Iya, Bun?”
“Kamu kasih nama adik kamu, ya.”
Natashya tertegun. Apa ia tidak salah dengar? Riana memintanya untuk memberikan nama untuk sang bayi?
“Bun, jangan bercanda, deh. Mending Ayah tuh. Dia yang paling keliatan seneng,” pinta Natashya menolak.
Riana dan Heru nampak mengukir senyum hangat. “Kami maunya kamu yang kasih nama, Tashya,” ucap mereka bersamaan.
“Kenapa?”
“Princess tertua masa nggak mau kasih nama princess termuda?” Heru menaik-turunkan alisnya.
Natashya tersenyum miring, paham maksud ayahnya. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Heru yang masih mendekap tubuh baby girl. “Ya udah, siniin.”
Heru mencibir. Ia menyerahkan baby girl kepada Natashya. Lantas dirinya beralih berdiri di samping sang istri yang tersenyum lembut menatap kedua putrinya yang sepertinya akan akur.
“Bangun dulu, cepet! Kalo nggak bangun, nggak Kakak kasih nama, nih,” ancam Natashya kepada adiknya itu.
Heru melotot mendengarnya. Ia ingin memberi kalimat protes, namun apa yang terjadi selanjutnya malah membuatnya bungkam seribu bahasa. Lidahnya kelu untuk sekadar menyebut nama Natashya.
Baby girl di gendongan Natashya menggeliat, lanjut membuka matanya yang bulat tanpa dosa. Natashya tersenyum puas melihat itu. Ia tertawa pelan, sepertinya adiknya ini akan mengikuti jejaknya—menjadi sosok dingin, irit bicara, dan pedas di kata.
Lihat saja! Baru lahir aja udah nurut begini! Apalagi kalau udah besar nanti? Wah, Natashya punya kegiatan seru, nih, ke depannya.
“Hm, nama kamu...”
Natashya berpikir keras. Ia tidak mau asal-asalan memberi nama.
“Aruna... Hashifa.” Natashya tersenyum. “Kakak harap, kamu jadi perempuan yang bijaksana, bersinar di masa depan, dan selalu memberi kehangatan untuk orang lain. Jangan kayak Kakak. Kata orang, sih, Kakak lahir di Kutub, hihi.”
Heru dan Riana tak dapat lagi menahan tawa. Perkataan Natashya seolah tengah mengejek dirinya sendiri.
Tapi, emang bener, sih.
“Selamat datang di dunia, Baby Aruna.”
^^^To be continue...^^^
__ADS_1
“SEBENTAR! GUE-NYA KE MANA?! KOK, NGGAK ADA?!” teriak Randy tak terima.
Mendadak Ay lupa sama anak yang satu ini😅