KISAH KITA

KISAH KITA
Chapter 83 | Kehadiran Sahabat


__ADS_3

Update lagi!


...Happy reading:)...


.......


.......


.......


Heru, Riana, dan Randy terus memperhatikan Natashya yang hanya diam sepanjang perjalanan. Wanita itu duduk anteng di jok tengah bersama Riana dengan pandangan mengarah ke luar jendela.


Riana ingin mengajak bicara, tapi ia tidak tahu mau berkata apa. Mendadak otaknya nge-blank karena terlalu larut dalam kesedihan.


“Tashya,” panggil Heru.


Natashya tidak menjawab, hanya menoleh kepada ayahnya dengan binar kosong.


“Mau mampir makan dulu?” tawar Heru. “Abang kamu habis dapet bonus, nih. Biar dia yang traktir.”


Randy yang sedari tadi fokus menyetir pun membelalakkan mata. “Kok, Abang? Kan, Ayah yang nawarin! Berarti Ayah yang bayar!” protesnya.


Plak!


“Kamu mah! Yang dapet bonus, kan, kamu!” Heru membalas setelah memukul lengan putra sulungnya itu.


Randy mendengkus seraya mengusap pelan lengannya yang agak panas. “Abang kerja di perusahaan Ayah! Bonusnya juga dapet dari Ayah! Duit Ayah lebih banyak dari Abang!”


“Dih.. teori dari mana itu?”


“Cih! Sok miskin, euy!” sindir Randy kesal.


“Ayah nggak miskin!” bantah Heru.


“Nah, loh! Bayarin dong! Masa sama anak sendiri perhitungan banget.”


Riana tertawa melihat pertengkaran kedua lelaki beda generasi itu. Sementara Natashya hanya tersenyum tipis, lalu kembali menatap luar jendela.


Senyum tipis Natashya berhasil tertangkap netra Heru. Pria itu senang melihat putrinya mau merespon. “Abang!”


“Hm?” Randy masih kesal.


“Berantem, yuk! Kayaknya, Tashya suka kalo kita baku hantam nanti!”


Randy melotot. “AYAH!”


...❄️❄️❄️...


Sepeninggalan Natashya, Anton duduk termenung di ranjang kamar. Baru ditinggal lima menit, lelaki itu sudah rindu.


Ketidakhadiran Natashya di rumah ini ternyata membawa dampak besar, ya. Anton sampai merasa kesepian walaupun masih ada Bi Jati yang menemani.


Tapi, kan, istri Anton itu Natashya!


Yang bisa diajak manja-manja basaahh, kan, Natashya!


Yang bisa diajak main guling-gulingan, kan, Natashya!


Bukan Bi Jati!

__ADS_1


Aarrgghh..! Anton frustrasi.


Anton mengubah posisi menjadi telentang, matanya menatap lurus ke langit-langit kamar. Ia meraih pakaian dan sepatu bayi yang tergeletak di ranjang, memeluknya erat. Beginikah rasanya jadi Natashya? Memeluk pakaian bayi mereka membuat Anton merasa rindu dengan putrinya itu.


“Aku harap kamu segera sembuh, Sayang,” ucap Anton lirih.


Anton menghela napas berat. Sepertinya, hidupnya akan terjalani dengan banyak drama ke depannya—iya, drama. Drama kesepian, drama kegalauan, drama kerinduan, dan drama Anton yang ingin dimanja juga dibelai.


Tiga minggu lebih Natashya di rumah pun wanita itu tak bereaksi dengan segala perbuatan Anton. Lelaki itu rindu dengan sikap judes dan dingin istrinya.


Namun, menyalahkan Natashya yang bersikap demikian terasa tidak pantas. Karena memang Anton-lah penyebab semua ini. Sumber masalah dari kegundahan Anton saat ini adalah dirinya sendiri.


Anton terduduk dengan sorot mata yakin.


“Aku yakin Tashya pasti sembuh!” ucapnya pada diri sendiri.


“Tashya akan segera sembuh dan pulang ke sini!”


“Pasti itu!”


“Sekalipun aku harus nunggu lama, aku siap! Aku tunggu Tashya-ku pulang dengan senyum manis dan hati lapang!”


Anton mengepalkan kedua tangan di depan dada. “Semangat, Antonio! Lo pasti bisa!”


...❄️❄️❄️...


Rio dan Hafi menatap Anton kasihan. Jam delapan malam tadi, tiba-tiba suami Natashya itu menghubungi mereka dan meminta untuk datang ke rumahnya. Anton bercerita soal kondisi Natashya dan keluarga mertuanya yang membawa sang istri pergi dari rumah.


Rio dan Hafi tentu tidak bisa menyalahkan Heru dan Riana. Kedua mertua Anton itu punya alasan tersendiri karena telah memisahkan Natashya dengan Anton.


Sekarang jarum jam sudah menunjuk angka sepuluh. Rio dan Hafi memilih untuk menginap, menemani sahabat mereka yang terpuruk karena kesepian. Saat ini, mereka bertiga sedang berkumpul di ruang santai rumah Anton.


Lihatlah si Anton itu! Wajah lesu, kantung mata hitam, mata sayu, pipi tirus, badan kurus, dan lunglai.


Hah! Kasihan banget!


Hidup segan, mati tak mau. Antonio contohnya!


“Harusnya lo lebih semangat dong! Lo harus jaga tubuh lo biar tetep ganteng waktu Natashya balik nanti!” ucap Hafi menyemangati.


Anton menatap Hafi sendu. “Emang kapan dia pulang?”


Hafi terdiam. Kalau itu, sih, dia juga mana tahu.


“Pikir lagi, deh, Nton, semisal Natashya balik dan liat kondisi lo yang kurus, kucel, kumel, amburadul, dan acak-acakan kayak gini, emang dia bakalan tetep mau sama lo?” ucap Rio menggebu-gebu.


Anton berdecih sinis. “Orang ganteng mau kucel sekalipun tetep ganteng!” balasnya.


Rio dan Hafi membelalakkan mata, tak menyangka Anton akan membalas mereka dengan kalimat seperti itu. Keduanya mendengkus sebal, Anton terlihat sangat menyebalkan saat ini.


Sepertinya jiwa-jiwa kesepian yang dialami lelaki itu mengembalikan sifat dingin nan juteknya yang telah hilang.


“Kita tuh nyaranin yang baik buat lo, Antonio Riko Alfiansyah!” gemas Hafi.


Anton manggut-manggut saja. Ia menyandarkan tubuhnya di sofa. Ada benarnya juga perkataan sahabatnya ini.


“Mulai besok lo harus bangkit, Nton. Urus diri lo sendiri buat nyambut Natashya nanti. Kapan itu terjadi, kita nggak tau. But, pada akhirnya, tempat Natashya pulang adalah lo. So, lo harus bisa ngebuat tempat pulang Natashya adalah tempat ternyaman buat dia,” tambah Rio meyakinkan. Hafi ikut mengangguk setuju.


“Kita pasti ngebantu lo, kok,” tambah Hafi.

__ADS_1


Rio mengerutkan dahi. “Kita mau ngebantu apa emang?”


Hafi terdiam, berpikir keras. “Ya, pokoknya ngebantu.”


“Iya, ngebantu apa?”


“Ngebantu merubah penampilan Anton maybe.”


Rio menatap Anton saksama dari atas sampai bawah. “Mau diapain, nih, anak?”


“Lo mah nanya mulu dari tadi,” kesal Hafi.


“Ya, kan, karna gue nggak tau, makanya nanya. Inget, malu bertanya sesat di jalan!”


“Dih..”


“Lo berdua bisa diem nggak, sih?” seru Anton yang malas mendengar ocehan sahabatnya itu. “Bawel banget.”


“Astagfirullah, Anton. Nggak baik menistakan sahabat sendiri,” sahut Hafi seraya menggeleng pelan.


“Tau. Nanti nggak diundang, lho,” tambah Rio menakut-nakuti.


Anton menatap Rio bingung. “Diundang ke mana?”


“Pernikahan Hafi, lah!” jawab Rio.


Anton memandang Hafi tak percaya. “Lo mau nikah?”


Hafi tersenyum malu-malu. “Iya dong. Laily udah terima lamaran gue. Orang tua kita juga udah setuju.”


“Kapan?”


“Dua bulan lagi, hehe.”


Anton berdecak. “Masih lama, Ogeb!”


“Bodo! Yang penting gue kawin!”


“Nikah dulu, baru kawin!” balas Anton dan Rio.


^^^To be continue...^^^


...❄️❄️❄️...


Ada yang mau kawin, nih—ups! Nikah dulu, euy, wkwkwk.


“Emang kenapa kalo kawin duluan? Nggak salah, kan?” –Hafi.


“Nggak, sih, kalo lo mau nyemplung neraka. Silakan aja.” –Ay.


“Jahat bener, Ay.” –Hafi.


“Dih.. baru tau? Ay gagalin, nih, pernikahan.” –Ay.


“JANGAN, WOI!!” –Hafi.


“MAMA, PAPA ONLINE! TOLONGIN HAFI-MU YANG TAMPAN INI! MASA IYA NGGAK JADI NIKAH?!!” –Hafi.


Haha, see you di chapter selanjutnya:)

__ADS_1


__ADS_2