
Pagi ini, suasana rumah masih sama seperti sebelumnya. Suram dan sepi. Semenjak Natashya ‘sakit’, rumah yang Anton dan Natashya huni seolah ikut bersedih.
Tidak ada perdebatan lagi. Tidak ada kemesraan lagi. Semua itu sirna.
Anton duduk termenung di sofa ruang tamu. Dia bingung harus melakukan apa lagi agar Natashya mau merespon kehadirannya.
Semua usaha sudah lelaki itu lakukan. Tetapi, Natashya sama sekali tidak memberikan respon. Bahkan, sekadar menatap Anton pun tidak.
Jika boleh memilih, Anton lebih suka berdebat dengan Natashya. Ia lebih senang jika wanita itu mengomelinya, bukan mendiaminya seperti ini.
Raga Anton lelah. Jiwa Anton pun hancur.
“Haishh...” Anton frustrasi. Rambutnya diacak-acak asal. Pikirannya penuh, panas, dan kacau. Semua berkumpul menjadi satu di kepalanya.
Huhh... Nio, tenangin diri lo. Jangan gegabah. Lo harus berpikir dengan kepala dingin.
Rileks, Nio. Stay calm.
Anton menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan lewat mulut. Terus diulangi sampai ia merasa bahwa dirinya jauh lebih baik. Tidak seperti sebelumnya, emosi Anton menurun.
Anton sudah berjanji pada dirinya sendiri akan belajar mengendalikan emosi. Ia tidak mau mengulangi kesalahan yang sama lagi.
Cukup satu kali dan ini adalah masalah terberat untuknya.
“Gue nggak akan nyerah! Tashya pasti sembuh, gue yakin!” Anton mengangguk. Kedua tangannya mengepal kuat di samping tubuh, seolah tengah menggenggam erat ribuan kekuatan untuk menegakkan badan dan mengetatkan tekad.
Ting tong!
Anton menoleh dengan dahi mengerut. Siapa yang dateng pagi-pagi begini?
Tak ingin semakin dibuat penasaran, Anton berjalan menuju pintu utama. Meraih gagang pintu dan menariknya hingga terbuka. Mulut Anton sedikit terbuka, ingin menyapa tamu yang datang.
Plakk!!
Kepala Anton tertoleh ke kiri. Rasa panas menjalar di area pipinya, bahkan ada bekas kemerahan dengan bentuk menyerupai tangan. Ya, Anton baru saja ditampar.
Sang pelaku menyorot Anton tajam. Sama sekali tidak merasa bersalah atas tamparan yang ia layangkan pada lelaki bodoh di depannya ini.
“Bego lo, Kak! Bodoh!” maki Laily, sahabat Natashya.
__ADS_1
Anton menoleh ke arah gadis yang baru saja menamparnya, tatapannya berubah sendu. Dia tidak berniat melawan Laily yang tengah marah padanya. Bagaimanapun, semua masalah ini memang salahnya dan tamparan ini memang layak Anton dapatkan.
Bahkan, seandainya Laily butuh pelampiasan atas kekesalannya pun Anton siap untuk memasang badan. Ia rela dipukuli jika itu membuat dirinya merasa lebih baik—tidak merasa bersalah lagi.
“Laily, tenang, Sayang.” Hafi yang juga datang bersama Laily dan Rio berusaha menenangkan kekasihnya itu. Ia mengusap lengan gadisnya perlahan.
Kedua mata Laily berkaca-kaca, air menggenang di pelupuk matanya. Satu kedipan saja, air mata yang terkumpul itu akan langsung berjatuhan.
Setelah tahu apa yang terjadi pada sahabatnya, Laily bergegas datang. Ia sangat kecewa pada Anton dan juga dirinya sendiri. Seharusnya, sebagai teman Natashya, Laily berada di samping wanita itu untuk menguatkan, untuk mendengar keluh kesah Natashya.
Tapi, apa yang Laily lakukan selama ini?
Laily terlalu fokus mengikuti ujian semester di kampusnya. Ia pikir, Natashya hanya sakit biasa. Bukan ‘sakit’ yang seperti ini!
“Kenapa, Kak.. kenapa lo kayak gini, hah?!” teriak Laily murka. “Lo janji sama gue dan seluruh keluarga Natashya di depan banyak orang kalo lo bakalan bahagiain Natashya, Kak! Kenapa lo ngebuat dia menderita kayak gini?!”
Anton menundukkan kepala, tidak berani menatap Laily langsung yang saat ini sedang terbakar api kemarahan. Ingatan Anton mundur ke masa silam, sewaktu ia dan Natashya dipertemukan dan berakhir menikah karena dijodohkan.
Hari itu, walaupun Anton terpaksa menikah dengan Natashya, lelaki itu benar-benar berjanji untuk menjadikan pernikahan mereka sebagai pertama dan juga terakhir bagi dirinya. Anton hanya ingin menikah satu kali, dan ia mendapat Natashya sebagai istrinya.
Hati Anton remuk redam mengingat semua kenangan yang telah lalu. Janji yang ia ucapkan dulu sudah ia niatkan dalam hati. Tapi, apa yang terjadi sekarang?
Anton mengingkari semuanya hanya dalam satu dorongan.
“Natashya, Fi, hiks.. dia pasti kesakitan, hiks..”
Hafi hanya diam sambil terus mengusap punggung gadisnya. Ia membiarkan Laily mengeluarkan semua rasa sakitnya lebih dulu.
“Hiks..” isak Laily.
Hampir sepuluh menit Laily menangis. Usai tangis gadis itu reda, Hafi melonggarkan pelukan dan mendongakkan kepala Laily agar mau menatapnya. “Udah, ya. Kita ke sini buat jenguk Natashya, kan? Kalo dia liat sahabatnya nangis kayak gini, kondisi Natashya bisa memburuk, Sayang. Jadi, lo harus tenang, oke?”
Laily mengangguk walaupun masih sesenggukan.
Hafi terkekeh pelan melihat raut wajah menggemaskan Laily. Ia mengusap mata dan pipi kekasihnya yang basah.
Setelah merasa lebih baik dan napasnya kembali normal, Laily berbalik. Ia menatap Anton dingin. “Gue nyesel udah nyerahin Natashya sama lo, Kak!” ucapnya.
Kepala Anton semakin dibuat menunduk. Semua kekuatan yang ia kumpulkan untuk tidak menyerah akan kondisi Natashya mulai goyah. Tekad Anton untuk kembali meraih kebahagiaan di dalam keluarga kecilnya berangsur-angsur ruai.
__ADS_1
Semua perkataan Laily menusuk jantungnya hingga paling terdalam. Sangat sakit rasanya.
Laily menghela napas kasar. Tanpa meminta izin dari tuan rumah, ia melangkah menaiki tangga menuju lantai dua. Laily ingin segera bertemu Natashya dan melihat kondisinya.
Hening.
Rio, Hafi, dan Anton terdiam di sofa ruang tamu tanpa mengucapkan satu kata pun. Rio dan Hafi sedang berusaha merangkai kata-kata terbaik untuk disampaikan kepada Anton. Mereka tidak ingin menyinggung lelaki itu dan membuat keadaan Anton semakin terpuruk.
Melihat Anton yang seperti ini saja, mereka sudah kasihan. Apalagi jika Anton semakin hancur?
Hahh... Rio dan Hafi tidak tahu lagi.
Lima menit berlalu, barulah Rio membuka suara. “Nton,” panggilnya.
Anton mendongak. “Hm?”
Rio menepuk bahu Anton pelan dengan senyum yang terukir. “Kita turut berbelasungkawa, ya, Nton. Semoga.. anak lo bahagia di mana pun dia berada.”
Anakku.. Baby L...
Anton tersenyum getir. Kepalanya mengangguk lesu. “Thanks,” balasnya lirih, hampir tanpa suara.
Tenaga Anton benar-benar sudah terkuras habis.
“Lo yang kuat, Nton. Lo harus kuat demi Natashya, istri lo,” nasihat Hafi.
Anton mengangguk.
Rio menepuk-nepuk bahu Anton beberapa kali. “Gue harap, lo bisa belajar dari kesalahan lo kali ini, Nton. Ngelakuin sesuatu dan mutusin sesuatu harus lo pikirin dulu mateng-mateng.”
“Kepala lo harus selalu dingin, bukan panas. Lebih baik lo diam jika memang sedang emosi. Lo fokus aja buat nenangin diri, baru buka suara, baru bertindak. Nyatanya, bertindak sewaktu lo sedang emosi itu bukan hal yang tepat, Nton,” tambah Rio bijak.
Hafi mengangguk setuju. “Setiap perbuatan yang kita lakuin pasti ada risikonya, Nton. Lo juga harus pikirin itu. Lo harus lebih hati-hati ke depannya.”
Anton mengangguk lemah. Ia tidak akan membantah karena semua perkataan sahabatnya sangatlah benar. Kepalanya sedikit mendongak, menatap Rio dan Hafi bergantian dengan sorot pedih yang kentara sekali. “Tashya bakalan sembuh, kan?” tanyanya lirih.
Hafi dan Rio mengangguk yakin. “Natashya pasti sembuh, Nton. Pasti itu!”
“Semua bakalan baik-baik aja, ini cuma masalah waktu.”
__ADS_1
Lagi-lagi Anton mengangguk. Iya, semua bakalan baik-baik aja.
^^^To be continue...^^^