KISAH KITA

KISAH KITA
Episode 142 Bertemu


__ADS_3

Arya sudah segar, selepas dari kamar Mamanya ia segera ke kamar lalu membersihkan diri. Ia tak melihat sosok cantik yang sudah beberapa hari ia rindukan.


Tujuan utamanya adalah dapur. Biasanya menjelang maghrib begini, istrinya tengah sibuk menyiapkan makanan untuk makan malam.


Namun, di dapur pun tak didapatinya Asty. Ke mana wanitanya itu? Begitu batinnya. Dia menanyakan keberadaan Asty pada pembantu yang sedang menyiapkan makan.


"Bi, lihat Nona muda tidak?"


"Tadi Nona di taman belakang, Den."


Dengan langkah seribu Arya menuju taman belakang. Ia ingin segera meminta maaf atas sikapnya yang kasar. Ia sudah salah paham, seharusnya dia percaya pada istrinya.


"Sayang, kamu di sini? Aku mencarimu ke mana-mana," panggilnya manja. Arya duduk di bangku kayu di samping Asty.


Perempuan itu tengah menikmati senja sembari melihat bunga-bunga yang sedang bermekaran. Asty menatap Arya lama, tak percaya dengan pendengarannya. Apa suaminya itu sudah tidak marah lagi? Begitu pikirnya.


"Kok malah bengong sih, Sayang?" tanyanya lembut. Hangat nafasnya begitu terasa menyapu anak rambut milik Asty.


"Mm aku ... kamu sudah mandi?" jawabnya gugup.


"Sudah, kamu belum ya? Ayo ke dalam! Ini sudah mau maghrib, segera mandi. Kita shalat sama-sama," ucapnya.


Asty hanya menurut, mereka berjalan beriringan. Jemari Arya menggenggam jemari Asty.


Wanita itu mencuri pandang ke arah suaminya. Ia merasa bahagia, luka yang sedari tadi dirasakannya, lenyap seketika. Setelah sampai kamar, Asty bergegas masuk ke kamar mandi. Sedangkan Arya mengecek gawainya.


******


Selepas makan malam, Arya dan Asty duduk di sofa yang berada di kamar. Arya terlihat ragu-ragu untuk memulai pembicaraan. Begitupun dengan Asty. Ia sangat malu harus memulainya.


"Asty ...." Panggil Arya lembut, Asty menoleh. Menatap suaminya lamat-lamat.


"Aku minta maaf, kemarin aku sudah kasar sama kamu. Seharusnya aku percaya sama kamu. Maafkan aku ...."


"Aku sudah memaafkan kamu. Aku juga minta maaf tidak berkata terus terang. Waktu itu, aku tak sengaja bertemu dengan Adrian. Dia mau membeli kue untuk ibunya, begitupun dengan aku ...," ucapnya menggantung.


"Aku membeli kue untuk Mama, terjadilah perbincangan kecil antara aku dan Adrian. Karena kue yang kami pesan sedang di kemas," lanjutnya menjelaskan.


"Iya Sayang, aku percaya. Mulai sekarang, aku akan selalu mempercayaimu," ujarnya seraya tersenyum.


Jemarinya sudah nakal ke mana-mana. Menelusuri setiap lekuk tubuh istrinya. Wajahnya semakin dekat, bahkan kini hanya berjarak satu cm saja.

__ADS_1


Arya menautkan jemarinya dengan jemari Asty. Bibirnya mulai mengecup bibir ranum milik Asty. Kecupan itu berubah menjadi sebuah ciuman panas. Tubuh mereka sudah terbakar gairah.


Mengulum, memagut, menggigit bibir dan lidah, mereka lakukan. Arya melepaskan ciumannya. Melihat Asty sudah kesulitan bernafas. Perlahan Arya membaringkan tubuh Asty di sofa tersebut. Asty hanya bisa pasrah.


Rasa rindu akan sentuhan dari suaminya tak dapat ia pendam lagi. Ia sangat rindu dijamah oleh lelaki yang sangat ia cintai. Entah sejak kapan pakaian mereka tergeletak di lantai. Arya begitu menikmati "makanan penutup" malam ini.


Meremas dan  menyesapnya. Lenguhan dari Asty bagaikan alunan merdu di telinga Arya. Merasakan sensasi yang berbeda, Asty meremas rambut suaminya. Tubuhnya sudah benar-benar terbakar gairah.


Akhirnya lenguhan panjang keluar dari mulut Asty. Lelaki itu membiarkan Asty mengambil nafas sejenak, mengistirahatkan tubuhnya. Lalu setelah lima menit berlalu, Arya sudah siap dengan aksinya.


Dia pun sudah sangat menggila. Disela-sela permainannya, Arya tak henti meracau. Begitupun dengan Asty, wanita itu begitu menikmati setiap hentakan yang diberikan suaminya.


Ritme yang naik turun membuat Asty merasakan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Kali ini, suaminya begitu gila. Asty mencoba untuk mengimbangi agar mereka sama-sama merasakan kepuasan.


Akhirnya semuanya selesai dengan erangan dari mulut mereka. Asty terkulai lemas, dadanya naik turun menandakan dia sangat kekurangan oksigen. Permainannya kali ini benar-benar gila!


*******


Senja mulai menghilang, pertanda waktu malam segera tiba. Gadis itu masih diam di ruang kerjanya. Sesekali ia menoleh ke arah jendela besar yang berada di samping, ia beranjak dari kursinya. Berdiri tepat di dekat jendela. Bimbang! Itulah yang sedang ia rasakan.


Alinka, kakak sepupunya itu mengajaknya untuk menjenguk Ryan ke Rumah sakit. Apa yang bisa ia lakukan? Hatinya sangat ingin mengatakan tidak!


Namun, mulutnya tak bisa demikian. Saat ditelfon tadi, ia menyetujui untuk mengantar sepupunya itu. Bagaikan tergores sembilu, perih itu kembali menggerogogi hatinya.


Saat Diana mengabarinya, dia begitu panik. Air matanya luruh seketika. Terlalu lama berperang dengan perasaannya, ia tak sadar seseorang telah membuka pintu ruangannya.


"Ris, ngelamun aja? Jadi 'kan nganter Kakak ke Rumah sakit?" tanyanya membuyarkan lamunan Risa.


"Mm ... iya, Kak." Jawabnya datar. Mereka segera keluar menuju parkiran.


Risa hanya bisa pasrah, lagi pula ia sangat ingin tahu keadaan pujaan hatinya. Entahlah, apa Ryan masih pantas untuk ia cintai? Setelah apa yang lelaki itu lakukan. Membuatnya terbang tinggi lalu menjatuhkannya dengan sangat luar biasa.


"Ris, kita bawa apa ya? Kue atau buah-buahan?"


"Mm ... buah aja, Kak."


"Ryan suka buah apa ya?"


"Dia suka apel," jawabnya cepat. Membuat Alinka menoleh ke arahnya.


"Dari mana kamu tahu?" tanyanya penasaran.

__ADS_1


"Mm ... itu--Diana pernah cerita sama aku, Kak. Kebetulan aku sama Diana berteman,"kilahnya.


Alinka hanya membulatkan mulutnya.


Lalu mereka mampir ke toko buah. Membeli satu keranjang buah yang didominasi dengan buah apel. Setelah selesai mereka bergegas ke Rumah sakit.


Rasanya sangat tak sabar ingin bertemu dengan lelaki yang selama ini ia jauhi. Ia masih tak menyangka kalau Ryan bisa sebodoh itu. Melukai dirinya sendiri hanya karena patah hati.


Ah ... seandainya orang-orang tahu, bahwa Risa pun ingin melakukan hal yang sama.


Namun otaknya masih bisa berpikir waras. Patah hati bukan akhir dari segalanya. Ia harus tetap menata hidupnya untuk masa depan yang baik. Mobil telah terpakir sempurna di tempatnya.


Dengan langkah ragu Risa mengikuti sepupunya yang sudah keluar lebih dulu. Risa mencoba menetralkan perasaannya, dia sangat gugup sekarang.


Alinka melangkah dengan terburu-buru, sampai tak ingat bahwa ia membawa gadis lain bersamanya. Rasanya ingin cepat menemui calon suaminya itu.


Sedangkan Risa, gadis itu melangkah sangat pelan, beberapa kali ia pejamkan matanya. Mengatur perasaannya yang sangat tak karuan.


"Assalamu'alaikum," salamnya seraya membuka pintu.


"Wa'alaikumsalalam. Eh Kak Alin," sapa Diana ramah. Mereka saling mencium pipi lalu berpelukan.


Saling menanyakan kabar. Lalu Alin mengalihkan perhatiannya pada sosok lelaki yang sedang duduk bersandar ke kepala ranjang.


Lelaki itu tampak asyik dengan dunianya. Ia sedang mengotak-ngatik laptop kesayangannya. Tak memperdulikan Alinka yang sedari tadi memperhatikannya.


"Kamu apa kabar? Maaf aku baru bisa ke sini , kemarin aku--"


"Tidak apa-apa." Potongnya cepat.


Alinka memandang Diana, gadis kecil itu tahu  tatapan dari calon kakak iparnya. Ia sendiri merasa bingung, harus melakukan apa.


"Mm ... Kak Alin ke sini sendiri atau sama orang lain?" tanya Diana basa-basi.


"Oh iya, aku ke sini sama sepupu aku. Tapi, ke mana ya dia? Kok belum sampai juga," ucapnya seraya menoleh ke arah pintu.


Tak berapa lama yang mereka tunggu datang juga. Risa masih berdiam diambang pintu. Kakinya seolah kaku untuk melangkah, darahnya seakan beku seketika.


"Itu dia. Risa ayo sini masuk!" ajaknya dengan riang.


Mendengar nama Risa sontak membuat Ryan mengalihkan pandangannya. Lelaki itu terkejut melihat gadis yang selama ini ia rindui.

__ADS_1


Tatapannya nanar ke arah Risa, lelaki itu bergeming. Ada belati tak kasat mata yang menyayat hatinya. Risa melangkah dengan pelan, matanya tak lepas menatap Ryan. Jemarinya meremas ujung bajunya.


__ADS_2