
Tiga hari berlalu semenjak kepulangan Natashya. Hubungan Anton dan Natashya kembali dekat seperti dahulu. Bahkan, keduanya jauh lebih mengerti satu sama lain sekarang.
Berpisah selama satu bulan membuat keduanya mengerti bahwa sosok pasangan yang dimiliki begitu berharga kehadirannya.
Natashya sadar, atensi Anton dalam hidupnya membawa pengaruh yang besar. Ia terbiasa bersama lelaki itu. Makanya, ketika berpisah, Natashya merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya.
Sama seperti itu juga hidup Anton tanpa Natashya. Lelaki itu merasa kehilangan sosok teman hidupnya. Walaupun jarang romantis-romantisan, Natashya itu memiliki kedudukan spesial bagi dirinya. Wanita itu sukses mengobrak-abrik perasaan Anton.
Sekarang keduanya lebih mengerti bagaimana cara menghargai satu sama lain.
Natashya tersenyum kecil di posisi, ia memandang pantulan dirinya di cermin rias. Tubuhnya dipenuhi tanda merah—dan tidak perlu dijelaskan lagi dari mana asal tanda tersebut.
Kata suaminya, satu bulan puasa serasa seperti sepuluh tahun. Anton tidak kuat menahan lagi!
“Sayang...” panggil Anton manja. Ia memeluk Natashya dari belakang seraya tersenyum puas melihat kissmark buatannya di leher dan bahu sang istri. “Cantik, kan, mahakaryaku, Yang?”
Natashya berdecak. “Cantik dari mananya?”
“Cantik banget tau.”
“Ya, ya, terserah.” Natashya membubuhi lehernya dengan foundation untuk menutupi merah-merah di lehernya. Yeahh.. Anton seliar itu semalam.
“Beneran mau ke kampus, Shya? Nggak istirahat dulu aja?” tanya Anton yang masih agak khawatir.
Natashya mengangguk tanpa menghentikan kegiatannya. “Aku udah terlalu lama cuti, Yo.”
Anton menghela napas berat. Ia tak bisa mencegah istrinya untuk kembali ke kampus lagi. Anton tidak punya alasan yang cukup logis untuk diberikan kepada sang istri.
“Ayo sarapan. Aku udah masak buat kamu,” ajak Anton.
Natashya memastikan semua tanda sudah tertutupi baru beranjak mengikuti sang suami. Keduanya berjalan beriringan dengan tangan saling berangkulan. Bi Jati yang melihat dari lantai bawah tersenyum senang.
“Banyak banget, Yo.” Natashya menatap menu di meja tak percaya. Ini terlalu banyak jika dimakan berdua saja. Sekalipun Bi Jati ikut makan, makanan ini juga masih terlalu banyak.
“Makan aja, Sayang. Aku udah masak susah-susah, lho.” Anton memelas. Masa iya usahanya sia-sia?
Natashya manggut-manggut saja, ia tidak mau mengecewakan Anton.
“Iya, Sayang. Aku makan, ya.”
...❄️❄️❄️...
__ADS_1
Anton fokus menyetir sepanjang perjalanan menuju kampus. Sesekali ia melirik ke samping, melihat Natashya yang hanya diam dengan pandangan ke luar jendela. Wanita itu sedang melamun, seperti biasa.
Walaupun membaik, Anton sering memergoki Natashya tengah duduk melamun di beberapa tempat. Wanita itu seperti sedang memikirkan sesuatu yang hingga saat ini tidak bisa ia ungkapkan.
Dan, Anton tidak memaksa Natashya untuk bercerita. Ia akan menunggu sampai istrinya itu siap.
“Shya...” panggil Anton lembut.
Natashya tidak menyahut.
Anton meraih tangan sang istri. Natashya terlonjak melihat sebelah tangannya digenggam. “Kenapa, Nio?”
“Jangan suka melamun, Sayang.”
Natashya tertegun. Kemudian, helaan napas berat lolos dari bukaan bibirnya. “Maaf, Yo. Aku nggak bermaksud buat melamun.”
Anton tersenyum kecil, ia membawa punggung tangan Natashya ke bibirnya.
Cup!
“Aku paham,” kata lelaki itu. “Kalau ingin cerita, katakan saja. Aku pasti dengarkan.”
Anton yang sekarang jauh lebih suka mengalah untuknya. Pengendalian emosi lelaki itu juga jauh lebih baik. Dan, Natashya senang dengan perubahan itu.
“Aku—”
Drrtt.. drrttt...
Natashya menghentikan perkataannya ketika dering ponsel Anton menggema di dalam mobil. Ia menoleh ke arah ponsel tersebut, menilik siapa penelepon. “Yo, Rio telpon kamu.”
“Angkat, habis itu nyalain speaker-nya,” pinta Anton yang masih fokus dengan jalanan di depan.
Natashya menurut. Ia meraih ponsel itu dan mengangkat telepon dari sahabat suaminya.
“Assalamualaikum, Yo.”
“Wa‘alaikumsalam,” jawab Anton.
“Lo di mana?”
“Di jalan. Gue nganter Tashya ke kampus dulu baru ke kantor.”
__ADS_1
Terdengar suara helaan napas berat dari seberang. “Gue nyerah, Nton.”
Anton mengerutkan dahi bingung. “Nyerah? Nyerah kenapa?”
“Gue nggak bisa nemuin identitas gadis di cafe itu! Susah banget, anjir.”
Anton ikut lunglai mendengarnya. Hingga saat ini, masalah foto itu belum berhasil dipecahkan. Siapa gadis yang mengambil foto Natashya dan Azlan masih menjadi tanda tanya besar di kepala Anton.
“Lo udah ngelakuin yang terbaik, Yo,” kata Anton memberi semangat. “Biar gue yang turun tangan nanti.”
“Sorry, Nton. Gue bantu sebisanya, tapi gue nggak bisa janji,” kata Rio menyesal.
“Its okay.”
Rio berbasa-basi sebentar sebelum memutus sambungan.
“Foto apa, Nio?” tanya Natashya penasaran. Ia mendengar percakapan Anton dan Rio dari awal. Dan, masalah foto dan gadis yang mereka bicarakan tidak diketahui oleh dirinya.
Anton menceritakan soal foto tersebut. Semuanya ia katakan tanpa ditutupi sama sekali. Natashya yang mendengar pun paham bahwa ternyata ada dalang dari semua permasalahan ini.
“Aku boleh liat rekamannya? Mungkin aja aku kenal.” Natashya ingin membantu. Sekaligus menuntaskan rasa keponya.
Anton menyuruh Natashya untuk membuka file video di ponselnya. Setelah terputar, Natashya menonton dengan teliti wajah gadis yang memotret adegan pelukannya dengan Azlan.
“Ini, kan...” lirih Natashya ragu. Gadis itu familiar di matanya.
“Kamu kenal?”
Lima menit terdiam, akhirnya Natashya mengangguk. Ia yakin sosok gadis itu adalah gadis yang sama seperti yang ia kenal dahulu.
“Aku kenal, Nio. Gadis itu adalah....”
^^^To be continue...^^^
...❄️❄️❄️...
Ada yang kena gantung, nih😭
Kasihan, huhu..
See you di chapter selanjutnya:)
__ADS_1