
Sampai kelas usai. Mili masih cemberut melihat kedekatan Alea dan Habibie. Habibie sudah benar benar melupakan Mili sekarang.
Mili masih mengikuti Alea dan Habibie sejak saat itu. Mili tak membiarkan Alea merebut Habibie darinya.
Setiap ada Alea dan Habibie. Di situ pasti ada Mili. Membuat Alea malas saja.
Alea masih memperhatikan Mili dan Habibie. Sangat akrab sekali. Ada rasa kesal, namun Alea diam saja masih cuek dan tak peduli.
Mili masih bersikap manja pada Habibie. Mereka terus menceritakan tentang masa lalu mereka yang indah. Bikin malas saja.
"Kalo kalian mau mesra mesraan sana jauh jauh, aku tergangu" usir Alea masih duduk sambil membaca Buku.
Meraka bertiga sedang berada di perpustakaan kampus. Temat ternyamannya kini di usik karna kehadiran Habibie dan Mili. Alea jadi tak bisa berkonsentrasi dengan baik. Terlebih lagi Karna Mili.
Alea sebenarnya, tak membenci Mili. Tapi karna sikap Mili yang seperti itu, membuat Alea jadi malas. Mili dan Sisi begitu menyebalkan. Dari dulu sampe sekarang.
Sebenarnya, apa yang Mili dan Sisi inginkan. Mereka sudah mendapatkan apa ya g mereka butuhkan. Harta kekayaan sudah mereka dapatkan dengan cara curang. Sekarang apa lagi?. Ingin menghancurkan hidup Alea lagi.
Habibie Tersenyum, Sedangkan Mili Tersenyum sinis. Mili sudah berasil membuat Alea kesal. Memang itu, yang ingin Mili lakukan. Membuat Alea menjauh dari Habibie.
Tanpa pikir panjang lagi, Alea pergi dari tempat itu. Alea bukan cemburu. Tapi Alea malas saja melihat Mili. Namun Habibie salah paham. Habibie mengira Alea cemburu. Habibie makin senang melihat itu. Dan Mili juga salah paham. Mili mengira, Habibie masih mencintainya. Ha, kesalahpahaman yang panjang.
Alea masih, terlihat bete. Alea begitu kesal seharian. Alea melamun sendiri. Masih kesal karna Mili, dan juga Habibie. Mili pernah bersama Habibie. Itu yang membuat Alea sebal. Laki laki yang di sukai ya bekas Mili. Sangat menyebalkan sekali.
Alea sampai tak sadar, kalo sudah menabrak Aqila.
"Maaf" ucap Alea tak melihat, Aqila.
"Kamu kenapa?" tanya Aqila.
Alea menoleh, dan Tersenyum melihat Aqila. Aqila dan Alea pun duduk di kursi taman itu.
Alea masih, melamun sendiri. Begitu juga Aqila yang masih memikirkan Galih. Baik Aqila dan Alea mereka bernafas panjang secara bersamaan. Membuat keduanya Tersenyum dan tertawa. Entah apa yang mereka tertawakan sampai mereka begitu senang. Dan menangis bersama. Sungguh kekakuan yang aneh.
"Qila kita kenapa yah?" tanya Alea yang bingung tertawa karna apa tak jelas.
Aqila pun tersenyum. Mengangkat bahunya. Sama sama tak tau kenapa?. Disaat mereka melakukan hal tak jelas. Renata datang bersama Bayu.
"Hai guess, kenalin nih, cowo aku" ucap Renata pada Alea dan Aqila.
__ADS_1
"Hai, aku Bayu. Salam kenal" ucap Bayu.
Alea dan Aqila saling melihat. Dan Tersenyum bersama. Di saat Alea dan Aqila memikirkan hal yang tak jelas dan pasti. Ini malah datang ma cowo baru. Dasar Renata. Gampang banget ganti cowo baru.
"Aku Alea dan Ini Aqila" kenalkan Alea.
Bayu tersenyum.
"Sory yah, aku tinggal dulu, aku ada kelas" pamit Bayu.
"Daaaaah!" seru Renata Tersenyum. Di balas Bayu.
"Dapet dari mana tuch cowo?" tanya Aqila.
"Nemu di jalan" jawab Renata.
Alea Tersenyum.
"Kamu cuman maen maen yah" guman Aqila.
"Yupp"
"Nanti kena karma loh!" seru Alea.
Alea dan Aqila Tersenyum.
"Kita pulang yuu, aku ga bawa motor nebeng dong" ucap Renata.
"Okey,"
"Yoo" ucap Alea.
"Kalian duluan gih!" seru Aqila.
"Kamu mau kemana?" tanya Renata.
"Aku masih ada kelas".
"Kita duluan yah" pamit Alea.
__ADS_1
"Okey"
Alea dan Renata sudah pulang duluan. Tinggal Aqila yang harus masuk kelas tinggal satu mata pelajaran lagi.
Aqila yang cuek tak memperhatikan sekitar. Tanpa Aqila sadari Aqila masuk kelas yang sama dengan Galih. Dan duduk di samping Galih.
Galih, masih diam, tak bersuara. Sedangkan Aqila masih fokus dengan studi nya. Galih melihat Aqila, sekilas namun sering. Aqila benar benar tak menyadari yang duduk di sebelahnya itu, Galih.
Galih, pun masih diam. Tak ingin membuat Aqila tak nyaman dan malah pindah tempat. Biarlah tak terlihat Aqila. Namun Galih selalu melihat, melihat dari dekat. Wajah cantik, Aqila.
Gadis yang di cintai Gilang. Yah Aqila. Sekarang, Galih merasa kan apa yang Gilang rasakan, tentang Aqila. Perasaan cinta yang begitu dalam. Hati ini, jantung ini, Gilang berikan untuk Galih. Untuk terus bisa menjaga Aqila. Gadis cantik dan menawan.
Aqila benar benar cuek. Teramat cuek. Itu yang membuat Galih memcintai gadis ini. Gadis yang selalu membuatnya berdebar.
Galih, masih melihat Aqila. Mata kuliah kali ini, membuat Galih tak fokus. Bahkan Galih benar benar tak peduli.
Yang Galih lihat, begitu banyak mawar merah yang mekar di sekitar Aqila. Cantik dan seksi. Aqila andai aku bisa bersamamu, menjagamu.
Galih masih hutang kenyataan. Kenyataan yang belum sempat Galih ucapkan. Tentang Gilang yang sodara kembar Galih. Dan banyak yang belum Galih ceritakan pada Aqila.
Aqila masih fokus. Hingga Aqila menyadari, seseorang telah, melihat Dirinya. Aqila menoleh. Begitu terkejutnya Aqila saat sepasang mata itu. Kepergok sedang melihat Aqila. Galih juga sama terkejut, karna Aqila tiba tiba melihatnya. Galih berpaling, wajahnya sudah merah. Sedangkan Aqila masih terkejut. Aqila ingin pindah. Tapi di dalam kelas sudah penuh.
Aqila langsung cemberut. Antara kesel, sebel dan marah. Aqila berpikir berkali kali. Kenapa Aqila tak menyadari kalo yang duduk di sebelahnya itu, Galih. Aqila sebel juga, kenapa Galih tak bilang?. Pokoknya Aqila merasa marah.
Diam diam, Galih melihat perubahan sikap Aqila. Galih tak berani melihat Aqila secara langsung.
"Kenapa ga bilang sih, aku duduk di pinggir kamu" guman Aqila pelan.
Galih masih terdiam. Galih tak tau, kalo yang Aqila tanya itu, Galih.
"Kamu kenapa diam aja?" tanya Aqila lagi. Karna reaksi Galih yang diam. Tak mengatakan apa pun. Sambil melihat ke arah Galih.
Galih yang merasa, Aqila bertanya padanya. Mulai memberanikan diri untuk bertanya balik pada Aqila.
"Kamu, berbicara sama aku?" tanya Galih pelan dan hati hati. Takut Galih yang kepedean di tanya oleh Aqila.
"Yah, siapa lagi kalo bukan kamu??" tanya Aqila lagi.
Galih Tersenyum, senyuman Galih itu, membuat Aqila terpukau. Ternyata begitu tampan nya seorang Galih. Yang begitu mirip dengan Gilang. Aqila segera menepis pikiran pikiran itu. Aqila terus berpikir. Agar tak jatuh cinta pada Galih. Aqila masih setia pada Gilang. Walau Gilang dah pergi. Aqila akan selalu mencintai Gilang. Namun mengapa, laki laki yang berwajah mirip dengan Gilang. Membuat Aqila jatuh cinta. Walau Aqila tak menyadari itu.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like yah, Dan mampir juga yah kedua novel aku yang berjudul " Ketika menemukan Jalanya" dan "Irani Gadis Indigo". Terima kasih sudah membaca karya aku.