KISAH KITA

KISAH KITA
Bonus Chapter 1


__ADS_3

Hari ini adalah weekend. Mama Ranti tengah sibuk menyiapkan makanan spesial untuk menjamu besannya. Mereka akan makan siang bersama. Wanita paruh baya itu tengah memotong brokoli. Menu kesukaan menantunya. Yaitu, tumis brokoli plus udang.


Tadi pagi Asty sempat meminta menu itu. Tak lupa dengan sambal tomat yang super pedas. Mama Ranti begitu semangat memasak semua makanan. Dua orang pembantu membantunya menyiapkan segalanya. Sedangkan Asty, wanita itu tengah berbaring lemah. Kepalanya sudah terasa pusing sejak pagi tadi.


Suaminya sedang mengerjakan tugas kantor di sofa. Memangku laptopnya, jemarinya begitu lihai diatas kaybord.


Waktu sudah beranjak. Tak terasa jarum ja sudah menunjukkan pukul 12:00. Mama Ranti segera memasuki kamarnya untuk bersiap-siap. Setelah semuanya selesai, Mama Ranti mematut dirinya di cermin. Untuk pertama kalinya dia akan bertemu besannya. Ya, meskipun wanita itu tahu siapa besannya. Pak Wijaya, kolega bisnisnya.


Saat Arya mengatakan hal itu, Mama Ranti begitu terkejut. Ternyata, menantunya bukanlah gadis biasa. Semenjak saat itu, Mama Ranti kehilangan keberanian untuk bertemu dengan Pak Wijaya. Baru hari ini dia berani untuk bertatap muka kembali.


Tak berapa lama keluarga Pak Wijaya sudah datang. Mama Ranti menyambutnya dengan senyuman terbaiknya. Asty turun bersama suaminya. Lantas mencium punggung tangan orang tuanya. Mereka berbincang hangat di ruang tamu. Setelah pembantu menyampaikan bahwa makanan sudah siap di meja. Mereka berjalan beriringan ke ruang makan.


Suasana hangat begitu terasa. Asty begitu bahagia. Sebab, inilah impiannya selama ini. Bisa disayangi oleh mertuanya. Namun, tiba-tiba dia merasa mual, ketika Arya mendekatinya. Asty langsung bergegas ke kamar mandi. Mengeluarkan semua makanan yang sudah ia telan.

__ADS_1


Semua orang menjadi panik. Lantas menyusul Asty ke kamar mandi. Dengan sigap Arya mengurut tengkuk istrinya. Bukan malah mereda, tetapi semakin mual saja. Setelah terasa baikkan, Asty segera keluar.


"kamu kenapa, Sayang?" tanya mertuanya cemas.


"Perut aku mual, Ma. Jangan dekat-dekat sama aku deh, Mas! Aku mual mencium aroma tubuh kamu," gerutunya.


Mama Ranti dan Ibu Wijaya saling pandang. Mereka mempunyai pemikiran yang sama. Yaitu, kemungkinan Asty sedang hamil. Kedua wanita paruh baya itu mengulum senyum.


"Kenapa mual, Yang? Aku gak bau kok. Kamu ada-ada aja deh," keluh Arya.


"Makanya, Ar, kamu mandi sana! Jadi istri kamu gak mual kalau kamu deketin. Jadi laki jorok banget sih kamu, Ar," cibir Mama Ranti.


"Enak aja! Aku mandi tahu, Ma." Jawabnya tak terima.

__ADS_1


Mama Ranti membawa istrinya begitu saja. Sedangkan kedua mertua Arya hanya tersenyum simpul.


"Sabar ya, Nak. palingan juga sampai umur kandungannya empat bulan. Nanti bakalan biasa lagi, kok." Ujar Mama mertua. Lantas bergegas pergi.


Kini giliran Papa mertuanya yang mendekati Arya.


"Papa dulu, waktu Mama mengandung Asty, sampai empat bulan gak mau dekat-dekat. Mau ngambil "jatah" juga susah, Ar. Kamu yang tabah ya," bisik Papa berlalu pergi.


Arya mematung, mendengar ucapan dari orang-orang. Masih mencerna, bingung apa yang mereka bicarakan. Tunggu! Tadi Mama mertuanya bilang, sampai usia kandungannya empat bulan? Itu berarti istrinya saat ini sedang hamil? Sebentar lagi ia akan menjadi Ayah? Ah ... senangnya. Arya segera berlari menyusul keluarganya.


"Sayang, coba kamu katakan sama aku. Apa benar kamu sedang hamil?" tanya Arya antusias.


"Iya, tadi pagi aku udah test. Alhamdulillah hasilnya positif," jawabnya riang.

__ADS_1


Tak ada yang lebih membahagiakan selain ini. Semua orang mengucapkan selamat dan berdoa untuk kesehatan dan keselamatan Calon bayi dan Ibu tersebut. Arya memeluk Asty erat. Menghujaninya dengan kecupan. Asty mencubit perut suaminya. Sebab malu oleh para orang tua.


__ADS_2