
Bayu begitu malas, mendengar cerita Mamahnya tentang Pamela yang begitu hebat dalam segala hal. Bayu begitu bosan. Sedangkan Pamela, masih memperhatikan Bayu. Sampai Pamela menyadari kalau Bayu bosan. Karna, sedari tadi makanannya tak disantap hanya di maikan saja, di atas piring.
"Tante, udah cukup, Aku tak sehebat itu!" jelaskan Pamela, agar Resti, Mamahnya Bayu berhenti membanggakan Pamela di depan Bayu.
"Kamu, jangan merendah gitu, liat Bay. Pamela hebatkan!" seru Resti, Mamahnya Bayu, sepasang matanya menunjuk Pamela. Bayu hanya mengangguk saja. Sedangkan Pamela sudah memerah wajahnya, saat Bayu melihat Pamela sekilas.
Bayu, merindukan Renata. Bayu merasa bersalah sudah membohonginya. Bayu bilang pada Renata ada acara keluarga. Namun kenyataannya hanya makan sore biasa, lebih tepatnya. Karna Resti, Mamahnya Bayu meminta Bayu datang sekitar jam tiga sore. Jadi siang hari sudah lewat, malam hari akan datang.
Bayu benar benar terjebak. Di luar masih hujan. Sudah hampir empat jam. Bayu, Pamela dan Mamahnya berada di Kafe. Bercerita kesana kemari tak jelas arah. Bayu masih memperhatikan jendela. Air hujan turun dari atas jendela Kafe.
Bayu teringat dengan Renata. Pertama kali bertemu dengan Renata juga saat hujan. Bayu dan Renata sama sama berteduh di luar Kafe. Saat itu, tak bisa masuk Kafe, karma di dalam sudah penuh, membuat Bayu bersama Renata hanya bisa berdiri di luar bersama sekumpulan orang orang yang ikut berteduh.
Renata sedari tadi menelpon Bayu. Ingin memberitahukan, Kalau teman temanya sudah saling terbuka seperti saran Bayu. Namun Bayu tak mengangkat telpon dari Renata. Dan sekarang ponselnya mati.
Renata tak memikirkan hal jelek atau curiga. Renata percaya Bayu. Kalau Bayu menang ada urusan keluarga yang begitu penting. Dan ponselnya mati karna, lupa di cast. Renata menyimpan ponselnya kembali ke mejanya dekat tempat tidurnya.
Renata, kembali pada teman temanya yang sedang berkumpul di ruang tengah, menonton film lewat Laptop Alea. Karna di luar masih hujan. Tak berhenti sedari tadi.
Keadaan, Sarah, Aqila dan juga Alea sudah membaik. Terlebih lagi Sarah dan Aqila. Dua gadis itu, sedang merasa galau tingkat tinggi. Tugas Renata usai sudah. Teman temanya kembali seperti semula.
Sampai tiba tiba saja mati lampu sembari suara petir menyambar, seperti tepat di antara kepala mereka berempat. Membuat empat gadis ini, berteriak secara bersamaan.
"Aaaaaaaaa, mati lampu" teriak Alea, takut gelap.
"Kenapa pake acara mati lampu segala sih?" gerutu Aqila merasa sebal karna sedang seru serunya menonton Drakor.
Sarah beranjak, di susul Renata.
"Kamu mau kemana Sar?" tanya Renata juga takut gelap.
__ADS_1
"Nyari lilin"
"Coba pinjem ponsel kamu Re?" tanya Sarah, lupa menyimpan ponselnya di taruh di mana. Dalam keadaan gelap seperti ini, Akan lebih sulit mencari ponsel Sarah.
"Ponsel aku di kamar?" jawab Renata, merasa beruntung karna segera gabung sama teman temannya. Karna kalau tidak, Renata akan terjebak sendiri di kamarnya dalam keadaan gelap. Itu lebih menakutkan dari Revan. Yang sering ganguin Renata.
Aqila, merogok saku celananya, mengambil ponselnya di saku celana, begitu sulit mengambil ponsel di celanya, membuat Aqila beranjak untuk mengambil ponselnya.
"Qila, jangan tinggalkan aku, aku benaran takut gelap" guman Alea memohon.
Aqila tersenyum, "Ga, Alea sayang, Sarah sama Renata mau ambil lilin. Aku cuman mau ngasih ponsel aku aja" tutur Aqila menjelaskan.
Alea merasa lega, karna Alea tak sendiri ada teman temanya yang selalu ada buat Alea dalam keadaan gelap seperti ini.
Sarah dan Renata berjalan dalam gelap. Hanya lampu dari ponsel Aqila yang menerangi, Sarah dan Renata. Renata terus mengandeng tangan Sarah begitu erat. Renata mulai merasa takut, dengan tempat tinggalnya kali ini.
Sedari tadi, Alea terus mengandeng tangan Aqila. Alea benar benar takut gelap. Karna Tromanya dulu, pernah di culik dan di kurung di tempat gelap. Entah berapa lama, Alea di kurung di sana. Namun sampai sekarang, Alea masih takut dengan kegelapan.
Makanya, Alea belum pernah datang ke Bioskop selama hidupnya, saking takutnya gelap. Alea memilih menonton di laptop ketimbang pergi ke Bioskop. Setidaknya aman untuk Alea.
Sebenarnya, Aqila juga takut bila lama lama dalam kegelapan. Aqila melihat sekitar, begitu menakutkan rumah ini, jika dalam keadaan gelap. Sarah dan Renata lama sekali. Membuat suasana begitu mencekam.
Alea sudah mulai bergetar karna ketakutan. Aqila masih memegang erat tangan Alea. Untuk saling menguatkan karna Aqila juga takut saat ini.
Sampai terdengar suara ketukan pintu rumah. Membuat, Aqila dan Alea saling melihat satu sama lain. Bulu punduk mereka berdua mulai merinding.
"Tok Tok Tok" suara pintu di luar begitu jelas terdengar. Begitu lama, membuat Aqila dan Alea sudah mulai takut. Tak berani beranjak dari tempatnya saat ini.
Sarah sudah menemukan lilin. Pertama Tama Sarah, menyalakan lilin di kamar mandi, terus membawa lilin satunya lagi akan Sarah simpan di ruang tengah. Sarah dan Renata hanya menemukan dua batang lilin.
__ADS_1
Sarah dan Renata, berjalan pelan menuju ruang tengah sambil menyalakan lilin dan ponsel Aqila agar tidak terlalu gelap.
Suara ketukan pintu itu, semakin keras terdengar. Terdengar suara seseorang memanggil dari luar rumah menyebutkan nama Alea.
Alea menelan Saliva nya, rasa takut sudah menjalar ke otak dan pikiranya. Alea sudah tak bisa berpikir logis. Sedangkan Aqila enggan membuka pintu. Aqila juga merasa takut. Takut membuka pintu. Takut kalau, seseorang yang di luar pintu rumahnya bukan manusia.
Pikiran paranoid Aqila dan Alea sudah menjalar masuk tertanam di otak Aqila dan Alea. Keduanya sudah tak bisa berpikir logis. Karna ketakutan dalam diri Alea dan Aqila sudah menjalar masuk ke aliran darahnya.
Sarah dan Renata pun datang. Suara ketukan pintu itu, masih jelas terdengar.
"Kalian, kenapa masih di sini, itu ada tamu!" seru Sarah, tak menyadari kalo Aqila dan Alea benar benar sedang dalam ketakutan yang teramat sangat.
Sarah pun berjalan kembali ke pintu depan. Baru saja, Sarah melangkah lima langkah. Alea berterima ke arah Sarah.
"Sarah jangan " pangil Alea.
Sarah menoleh, "Ada apa?" tanya Sarah bingung, karna Alea memangil nya. setelah ucapannya terhenti, tak melanjutkan lagi..
"Jangan Sarah, itu di pintu, mungkin bukan manusia" teriak Alea.
Sarah mengelengkan kepalanya, Sarah terus melangkah maju, menuju pintu rumah Tantenya. Untuk melihat, siapa yang mengetuk pintu di saat, Mati lampu seperti ini.
Bersambung..
Terima kasih sudah setia menunggu novel Author ini. Author dah ganti cover, mudah mudahan kalian semua suka
Like yah, janggan lupa
mampir juga ke Novel Author yang lain. "Ketika Cinta Menemukan Jalanya" dan "Irani gadis indigo" Terima kasih 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1