KISAH KITA

KISAH KITA
Episode 138 Vindi dan Mama Ranti


__ADS_3

Mentari sudah sedikit meninggi. Cahayanya masuk melalui celah-celah jendela. Dengan penuh kesabaran dan kasih sayang Asty mengurus Mama mertuanya. Meskipun raut Mama tak pernah bersahabat, tetapi Asty tak perduli itu.


"Sekarang Mama sudah segar dan wangi. Tinggal makan ya, Ma. Asty suapin ya?" tawarnya lembut. Mama mendelik kesal, entah karena apa.


"Terus maksud kamu, saya selama ini bau gitu? Dasar mantu kurang ajar!" Berangnya, padahal Asty tak ada maksud seperti itu.


Gadis itu menelan selivanya, lagi-lagi apa yang diucapkannya salah. Di matanya, Asty tak ada baik-baiknya.


"Bukan begitu Ma, maksud Asty ...." jawabnya gugup.


"Duh gimana ini ngomongnya? Bunuh saja aku Ma! Aku selalu saja salah," batinnya.


"Jangan banyak alasan! Cepat ambilkan saya makanan!" perintahnya dengan berteriak.


Dengan segera Asty mengambil satu mangkuk sup iga kesukaan Mama. Duduk di hadapan Mama bermaksud untuk menyuapinya.


"Mau ngapain kamu? Jangan bilang mau menyuapi saya. Cih! Saya tidak sudi!"


"Hei gadis miskin! Kamu dengar ini baik-baik, sampai kapan pun saya tidak akan menerima kamu sebagai istri Arya. Gadis miskin dan bodoh sepertimu hanya mengincar harta dari laki-laki kaya. Sebutkan nominal yang kamu inginkan, saya akan berikan. Setelah itu, pergilah! Tinggalkan anak  saya!" Teriaknya, sorot matanya sangat tajam. Mata Asty sudah berkaca-kaca.


Penghinaan yang dilontarkan Mama mertuanya begitu menyakiti perasaanya. Padahal ini bukan kali pertama, tetapi kenapa meski sesakit ini.


"Ma, sebaiknya Mama makan dulu, agar cepat sembuh. Baiklah, Asty akan berikan mangkuk ini. Mama bisa makan sendiri," lirihnya.


Disekanya bulir bening yang sudah berhasil lolos dari pelupuk matanya.


"Cih menyebalkan! Bukannya merayu agar aku luluh, ini malah pasrah saja." Geram Mama dalam hati.


"Sini sup-nya! Awas saja ya, kalau ini tidak enak. Saya akan memarahimu habis-habisan!" ancamnya, telunjuknya tepat di hadapan wajah Asty. Tak lupa matanya yang melotot tajam.


"Tak ada pengaruhnya Ma, enak atau pun tidak. Mama tetap memarahiku," batinnya.


Mama makan dengan lahapnya. Membuat senyuman Asty berkembang, itu berarti masakannya lezat.


Asty masih setia berdiri di ujung ranjang, memperhatikan Mama makan. Terdengar suara pintu dibuka, Mama dan Asty menoleh serempak.


Vindi masuk, lalu menutup pintunya kembali. Berlari kecil ke arah Ibu Ranti, tentu saja disambutnya dengan perasaan senang.


"Sayang, kamu ke mana saja? Tante kangen banget sama kamu," ujarnya. Peluk dan cium tak lupa mereka lakukan.


"Maaf Tante, Vindi sibuk belajar mengurus perusahaan Papa. Tante apa kabar hari ini? Sudah lebih baik?" tanyanya mencari muka.


Asty hanya mematung, hatinya terasa nyeri melihat adegan tersebut. Dialah yang paling berhak mendapatkan kasih sayang dari Ibu Ranti.

__ADS_1


Seringkali Asty membayangkan, Mama mertuanya menyambutnya dengan suka-cita. Memeluk dan menciumnya, memanggilnya dengan sebutan sayang atau Nak.


"Heh gadis miskin! Malah ngelamun, sana pergi ke bawah! Beli makan ringan dan juga minuman untuk Nak Vindi. Jangan pakai lama!" perintahnya tanpa rasa iba sedikit pun.


Dilihatnya perempuan yang sangat disayang oleh mertuanya itu, sedang tersenyum penuh kemenangan. Ingin sekali Asty mencakar wajah yang sok cantik itu.


"Kenapa diam saja? Cepat sana pergi! Ah ... aku tahu, pasti kau kebingungan kan? Dari mana kau punya uang untuk membeli pesanan kami. Nih, ambil semuanya!" ujarnya dengan sombong. Beberapa uang berterbangan ke udara lalu menyentuh lantai.


"Bahkan aku bisa membeli harga dirimu gadis sombong!" maki Asty dalam hati. Tangannya telah mengepal, nafasnya sudah memburu.


Mama dan Vindi tertawa senang, melihat kesusahan Asty adalah kesenangan tersendiri bagi mereka. 


"Aku tak butuh uangmu! Suamiku telah cukup memberikan semua gajinya padaku!" Tegasnya berlalu pergi.


Asty berlari meninggalkan ruangan Ibu Ranti.  Dia berhenti di sebuah taman yang berada di tengah-tengah bangunan Rumah sakit.


Menenangkan dirinya sejenak, perkataan Vindi dan Mama mertuanya begitu melukai harga dirinya.


Setelah merasa lebih tenang, Asty melanjutkan lagi langkahnya menuju sebuah toko kue. Beruntung toko kue berada tak jauh dari Rumah sakit.


"Huh! Aku harus mengeluarkan uang untuk Si gadis tak tahu malu itu! Apa aku kasih cabai rawit saja ya, di kuenya? Biar tahu rasa dia!"


Asty tertawa jahat membayangkan bagaimana Vindi memakan kue yang di dalamnya ada cabai rawit. Namun, itu hanyalah bayangan semata, sebab Asty tak sejahat itu.


Pilihan Asty jatuh pada cake strawberry dan coklat. Toppingnya tidak terlalu banyak, jadi sangat cocok untuk bersantai sembari meminum teh hangat.


"Asty? Apa kabar?" tanya seseorang mengejutkan Asty yang tengah melihat kue di dalam etalase.


"Adrian, alhamdulillah aku baik-baik saja. Bagaimana kabarmu?"


"Alhamdulillah aku juga baik. Kamu lagi beli kue buat siapa? Ada yang ulah tahun ya?"


"Aku beli kue buat cemilan bukan kue ulang tahun. Kamu sendiri beli kue buat siapa?"


"Buat mama, katanya lagi pengen makan brownies."


Mereka berbincang-bincang sembari menunggu pesanan datang.


Adrian menatap gadis yang dicintainya tanpa mengalihkannya sedikit pun. Rasa ingin memiliki, musnah sudah. Kala Asty menikah dengan Arya.


Sempat ingin menunggu Asty menjadi janda, tetapi ia urungkan. Toh, pepatah mengatakan "dunia tak selebar daun kelor" Adrian yakin, di belahan bumi sana,  ada seseorang yang akan menjadi istrinya.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya dua kantong kue sudah berpindah ke tangan Asty.

__ADS_1


Gadis itu pamit kepada Adrian seraya melambaikan tangannya. Asty membuka pintu kamar, dilihatnya Arya tengah menatapnya tajam.


Hati Asty sudah berdebar-debar. Memikirkan apa kesalahannya, sebab Arya terlihat sedang sangat kesal.


"Mas, kok tumben kamu sudah pulang?" tanyanya dan langsung meraih tangan suaminya.


Mencium punggung tangan Arya, tetapi suaminya masih diam.


"Dari mana saja kamu?" ketusnya, Asty bingung dengan pertanyaan mendadak itu.


"Dari toko kue, tadi Mama ingin makan cemilan katanya," jawab Asty jujur.


Matanya menyapu sekeliling ruangan, gadis menyebalkan itu tak nampak di sana.


"Ke mana gadis bar-bar itu? Apa dia mengerjaiku? Seenaknya menyuruhku!" Geram Asty dalam hati.


"Benarkah?" tanyanya tersenyum sinis.


"Bukankah kau ke tempat itu untuk bertemu dengan Adrian?" Matanya menatap tajam, rahangnya sudah mengeras. Kilatan kemarahan terpancar dari netra indahnya.


"Tadi aku tak sengaja bertemu dengannya," jawabnya jujur.


"Bohong! Lalu apa ini? Kau bahkan tertawa bersamanya. Kau meninggalkan Mama seorang diri di sini. Aku kecewa padamu!" Sentaknya, bahkan nafasnya sudah memburu. Dia menunjukkan sebuah rekaman video.


"Itu--itu tidak seperti yang kau lihat. Aku bisa menjelaskan. Dan dari tadi aku di sini, menemani Mama. Iya kan Ma?" tanyanya pada Mama mertua.


Mama mertua tersenyum menyeringai ke arahnya. Membuat Asty mengernyitkan dahinya.


"Dia bohong Arya! Dari tadi pagi, Mama ditemani Vindi. Gadis miskin itu entah ke mana. Vindi membantu Mama membersihkan tubuh, menyuapi Mama, menemani seharian. Baru saja Vindi pulang untuk mengganti pakaiannya," katanya bohong. Asty tersudut sekarang, bahkan lidahnya mendadak kelu.


Banyak kata yang ingin ia sampaikan pada suaminya. Namun, melihat kilatan kemarahan dari mata suaminya, ia mendadak ragu.


"Aku--aku bisa jelaskan, Mas. Kumohon dengarkan aku," pintanya lirih.


"Pergi! Aku sedang tak ingin melihat wajahmu," teriaknya dengan napas yang tersengal.


Asty menangis tersedu-sedu. Ingin sekali ia menjelaskan semuanya.


Asty memejamkan matanya, memegang dadanya yang sangat sesak. Ditatapnya wanita paruh baya yang sedang duduk bersandar ke kepala ranjang, tengah tersenyum menang.


Tanpa kata, gadis itu segera berlari keluar. Membanting pintu kuat-kuat. Persetan dengan segala kesopanan yang selalu ia jaga.


"Aku kecewa sama kamu!" teriaknya saat sampai di luar gedung Rumah sakit.

__ADS_1


Tubuhnya terkulai lemas, jatuh menyentuh tanah. Sesekali ia memaki Vindi, untuk meluapkan emosinya.


__ADS_2