KISAH KITA

KISAH KITA
Chapter Tujuh Enam.


__ADS_3

Alea begitu senang. Tak percaya dengan perubahan Qian.


"Waw, sekarang kamu begitu tampan?" goda Alea pada Qian.


Qian tersenyum, merasa malu di goda Alea. Wajah Qian benar-benar merah.


"Lea, kamu tak berubah, masih sama seperti dulu" guman Qian masih berseri-seri.


"Wah masa, padahal aku merasa gemuk sekarang" guman Alea merasa berat badannya naik akhir-akhir ini.


"Masa sih, menurutku kamu tetap masih cantik seperti dulu" ucap Qian tersenyum.


Alea tertawa. Membuat Qian teringat dengan tawa Alea yang dulu. Tawa yang selalu Qian rindukan. Sudah lama sekali, Qian tak melihat tawa tulus dari seorang Alea.


Dada Qian beneran berdebar kali ini. Qian begitu deg-degan dengan hatinya sendiri. Perasaan Qian dari dulu sampai sekarang masih tetap sama tak berubah sama sekali.


Alea bercerita banyak, tentang masa-masa sekolah mereka. Bercerita tentang semuanya. Qian hanya jadi pendengar saja. Qian selalu jadi pendengar yang baik baik Alea.


Alea tak pernah tau, tentang perasaan Qian yang begitu memcintai Alea dari dulu sampai hari ini. Rasa cinta itu, masih tetap sama. Dulu Qian tak berani untuk menyatakan cinta pada Alea. Karna, kondisi tubuhnya. Yang membuat Qian tak pede. Sekarang Qian sudah tampan, kekar dan altetik. Qian yakin seyakin-yakinnya kalau Alea tak akan menolak Qian kali ini.


Alea sudah berbicara panjang lebar. Namun baik, Aqila, Renata dan Sarah belum juga ada yang pulang.


"Oh iya, kamu tau aku tinggal di sini dari siapa?" tanya Alea penasaran.


"Kasih tau ga yah!" seru Qian mengoda Alea.


Dari kejauhan terdengar suara motor. Dan Sebuah motor pun terparkir di depan rumah. Renata dan Bayu sudah tersenyum pada Alea dan Qian.


Renata turun dari motor Bayu. Dan segera menghampiri Alea dan Qian.


"Hay Lea dan Qian" sapa Renata.


Alea mengerutkan keningnya, melihat reaksi Renata yang sudah mengenal Qian.

__ADS_1


"Re, kok kamu ga bilang sih, kalau kamu udah tau duluan" bisik Alea sambil menarik Renata.


Renata tersenyum.


"Kamu lupa yah. Aku kan udah kasih tau kamu beberapa hari yang lalu!" seru Renata manyun.


"Ko, Aku ga inget sih?"


Renata cemberut. Bayu tersenyum melihat reaksi Renata. Begitu juga Qian yang sedari senyum-senyum sendiri melihat Alea dan Renata.


"Oh iya, Lea aku pamit pulang yah!" seru Qian beranjak dari tempat duduknya.


"Kok buru-buru"


"Kain kali, aku mampir ke sini"


Qian dan Bayu pun pamit dari tempat tinggal Renata dan Qian.


"Re, kok Bayu bisa kenal Qian?" tanya Alea bingung.


"Masa sih?"


"Ikh, Lea aku cape jelasin sama kamu?" berlalu meninggalkan Alea dalam kebingungan.


Renata membantingkan tubuhnya ke kasur tempat tidurnya. Renata begitu lelah kali ini. Renata merasa bingung dengan sikap Bayu. Bayu jadi sering melamun sendiri. Renata jadi kepo. Sebenarnya Bayu kenapa?.


Renata pun tertidur di kasurnya begitu cepat seperti biasa. Alea masuk kamar Renata. Keluar kembali, setelah melihat Renata tertidur.


Alea masuk kamarnya. Berbaring di kasurnya. Memikirkan pertemuannya dengan Qian tadi. Qian banyak berubah. Alea jadi kepikiran Qian. Namun Alea juga menyukai Habibie. Alea jadi bingung. Habibie atau Qian. Keduanya Alea suka. Alea senyum sendiri. Mengingat Alea ingin keduanya. Alea malah seperti Renata. Alea bingung. Dua-duanya cakep. Alea tak bisa memilih satu di antara keduanya.


🍀🍀🍀


Aqila masih menikmati kebersamaannya dengan Galih. Aqila benar-benar hidup kembali kali ini. Galih begitu memanjakan Aqila kali ini. Galih lebih romantis dibanding Gilang. Aqila lagi-lagi membandingkan Galih dan Gilang. Walau wajah keduanya sama. Tapi, Aqila merasa keduanya bukan orang yang sama. Perlakukan Galih kali ini, berbeda dengan Gilang dulu.

__ADS_1


Aqila terus menyakinkan dirinya, hatinya. Kalau laki-laki yang bersamanya kini. Galih bukan Gilang. Aqila harus menerima kenyataan. Laki-laki yang ada dihadapannya Galih, bukan Gilang!.


Galih tersenyum, melihat Aqila di depannya. Aqila begitu cantik, bila di lihat lebih dekat. Galih berpikir, "Pantas saja, Gilang begitu tergila-gila pada Aqila."


Aqila menunduk malu. Galih terus saja, melihat wajahnya. "Udah dech, ga perlu lihat aku dengan kaya gitu" guman Aqila masih menunduk malu.


Galih, mengangkat wajah Aqila dengan tangan kanannya. Agar Aqila tak menunduk lagi. Galih ingin, Aqila melihat wajahnya.


"Lihatlah aku" guman Galih tersenyum.


Wajah Aqila sudah merah karna, malu. Wajahnya sudah seperti buah tomat. Aqila tak pernah semalu ini. Dadanya terus berdebar tak karuan.


Dag Dig Dug


Suara jantung Aqila, berdebar terus-menerus. Aqila tak pernah seperti ini. Aqila hanya dua kali merasakan jatuh cinta. Pertama dengan Gilang, kedua dengan Galih. Yah Aqila jatuh cinta lagi pada Galih.


Laki-laki yang berhasil membuat Aqila move on dari Gilang. Dengan masih wajah yang sama dengan Gilang. Aqila begitu sulit untuk bisa jatuh cinta pada yang lain. Begitu sulit untuk bisa Aqila bangkit dari masa lalu. Namun Galih bisa, membuat Aqila jatuh cinta Galih. Jatuh cinta pada wajah yang sama.


Galih menggenggam erat tangan Aqila. "Aku akan menjagamu. Seperti janjiku pada Gilang. Kamu bisa percaya padaku" ucap Galih sambil tersenyum.


Aqila meneteskan air matanya. Begitu terharu dengan apa yang diucapkan Galih. Ucapan Galih begitu berarti untuk Aqila. Selama ini, Aqila begitu kesepian. Hati Aqila begitu kosong, hampa dan sepi. Tak ada lagi, yang bisa membuat hatinya tenang. Setelah kematian Gilang. Dunia Aqila benar-benar runtuh.


Walau ada Sarah, Renata dan Alea. Tetap hati Aqila gersang. Aqila butuh cinta. Dan cinta itu, sudah diberikan Galih untuk Aqila. Semua itu, membuat Aqila merasa berarti.


Galih menghapus air mata Aqila dengan ujung jarinya. "Jangan menangis lagi, Aku tak suka melihatmu menangis" guman Galih lagi.


Aqila tersenyum. Malam ini, jadi malam terindah untuk Aqila. Malam yang tak pernah bisa Aqila lupakan. Galih sudah berjanji untuk menjaga Aqila. Itu, sudah membuat Aqila terbang tinggi. Aqila tak butuh laki-laki lain untuk bersama. Aqila hanya butuh Galih. Sekarang Galih jadi sumber kebahagiaan Aqila. Hanya Galih!.


Di saat seperti ini, Galih malah teringat Raya. Yah Raya!. Galih sudah berjanji pada Aqila untuk menjaganya selamanya. Namun Galih, malah teringat Raya. Galih mencoba menghilangkan perasaannya pada Raya. Untuk fokus pada Aqila saja. Namun bayangan Raya. Begitu melekat di hati Galih saat ini. Galih berpikir, "Kenapa harus teringat dengan Raya lagi? Toh Raya sudah meninggal Galih. Memilih untuk kariernya. Raya masa lalu, Sekarang ada Aqila." Pikiran tentang Raya membuat Galih bingung. Galih menghembuskan nafas panjang.


Huff


Membuat Aqila, jadi penasaran. Tentang apa yang di pikirkan Galih saat ini?.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2