KISAH KITA

KISAH KITA
Episode 132 Cemburu


__ADS_3

Kini semua makanan telah terhidang di meja makan. Asty keluar dari kamar bersama Arya. Mama telah duduk manis di kursinya. Namun seketika mendelik sebal ke arah Asty.


"Ayo Sayang kita makan dulu," ajaknya pada Arya.


Pria itu menurut seraya tersenyum. Mereka menikmati makan malam bertiga untuk pertama kalinya.


Arya nampak lahap sekali. Asty tersenyum bahagia, itu artinya masakannya tidak buruk.


"Gimana Sayang, enakkan masakan Mama?" tanyanya dengan percaya diri.


Asty membulatkan matanya, bisa-bisanya mertuanya itu mengakui hasil masakannya. Bahkan tadi dia berkomentar pedas tentang masakannya.


"Iya Ma, enak banget. Tapi, kok berasa beda ya? Jauh lebih enak dari masakan Mama yang biasanya," jawab Arya sembari terus mengunyah.


Asty menahan tawanya, ingin sekali menertawakan mertuanya itu. Namun, Asty tidak seberani itu.


"Mm ... Mama pake resep baru Ar," kilahnya gugup.


Begitulah makan malam dengan segala kebohongan yang diciptakan ibu mertua.


*****


Pagi ini mentari belum menampakkan sinarnya. Cuaca masih diselimuti kabut tebal. Sudah berapa kali Zayna membangunkan suaminya itu. Namun Zain masih saja betah dengan alam mimpinya.


"Oke! Kalau kamu gak mau bangun juga, aku bakalan bikin kamu puasa selama satu minggu." Ancamnya, dan sukses membuat Zain bangun seketika. 


"Iya Sayang, aku bangun sekarang," segera ia menyambar handuk yang dipegang Zayna. Sang istri terkekeh melihat tingkah suaminya.


Hari ini, adalah hari pertama Zain menjadi direktur utama di perusahaan mertuanya.


Ya, ibu Aisyah telah pensiun. Seluruh bisnisnya sudah dilimpahkan kepada Zayna dan juga Greyna. Sebetulnya Zain merasa sungkan, sebab istrinya lah yang paling berhak.


Namun Zayna mempercayakan bisnis ibunya padanya. Zayna hanya akan menjadi asisten pribadi suaminya. Agar ke manapun suaminya pergi, ia akan ikut serta.


Sebucin itu Zayna sekarang, gadis itu benar-benar takut kehilangan Zain. Bahkan dirinya sekarang lebih banyak bicara. Terkadang Zain dibuat pusing olehnya.


"Sayang cepetan ih! Ibu udah nunggu di bawah. Kamu lama deh," gerutu Zayna. Suaminya itu masih betah di kamar mandi.


"Sebentar Yang, aku udah selesai kok. Tinggal pake baju," jawabnya santai. Sedangkan sang istri sudah mulai kesal.


Akhirnya adu mulut dari pasangan itu pun selesai juga. Mereka sudah duduk manis di kursi masing-masing.


"Apa kamu sudah siap Nak?" tanya Ibu disela-sela makannya.


"InsyaAllah Zain siap, Bu. Zain akan berusaha semaksimal mungkin, mohon do'a dan bantuannya, Bu." Pintanya tulus, ibu tersenyum menanggapi perkataan Zain.


Zain dan Zayna telah selesai sarapan. Mereka sudah berada di satu mobil. Ponsel Zayna berdering, panggilan dari seseorang.


"Hallo Assalamu'alaikum," jawabnya.


"Wa'alaikumsalam, Na maaf ganggu pagi-pagi." Ucapnya diseberang sana.


"Iya ada apa Za?" seketika Zain mengalihkan pandangannya ke arah Zayna.

__ADS_1


Pria itu sudah merasa cemburu, ketika tahu dokter Zaky menelfon istrinya.


"Nanti siang, kalau ada waktu, aku ingin bertemu. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu," ucapnya lagi.


"Ohh yasudah, nanti kita ketemu di Cafe XXX." Lalu mereka mengakhiri panggilan tersebut.


"Ada apa dia nelfon kamu? Pake janjian segala lagi, pokoknya aku harus ikut! Kalian gak boleh berduaan, dia kan naksir kamu." Kesalnya, air mukanya berubah menjadi masam.


"Pagi-pagi udah cemburu aja Honey, aku berangkat sendiri aja. Kan kamu nanti mau ketemu sama klien yang dikatakan Ibu."


"Gak bisa! Pokoknya aku ikut, awas aja kalau kamu pergi sendiri! Aku dapetin kamu tuh penuh perjuangan tahu, enak aja si Zaky mau ketemu kamu tanpa aku," si suami masih kekeh dengan pendiriannya.


"Iya suamiku, kamu cerewet banget deh." Satu kecupan mendarat di bibir Zain.


Saat pria itu baru saja mematikan mesin mobilnya. Seketika senyuman terbit di bibirnya.


"Ayo turun! Kan udah dikasih cium biar semangat," kata Zayna ringan seraya turun dari mobil.


"Kamu nakal ya Sayang, awas aja nanti malam." Jawabnya seraya tersenyum menyeringai.


******


Zayna tengah sibuk memebaca berkas-berkas untuk meeting. Diabaikannya ponsel yang terus bergetar. Ia sudah dapat menebak, itu pasti suaminya.


Karena terus bergetar, Zayna mulai kesal dan mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja, lalu membacanya.


"Sayang, nanti jangan pergi sendiri." Pesan pertama.


"Sayang, aku kangen, kamu ke ruangan aku dong."


"Sebentar lagi meeting Yang, ke ruangan aku sekarang!" Zayna mengusap wajahnya kasar. Betapa menyebalkannya Zain.


Tanpa membalas pesannya, Zayna segera menuju ruangan Zain.


Saat pintu terbuka, nampaklah seseorang yang tengah tersenyum lebar. Menampakkan deretan gigi putihnya.


"Hai, Sayang... kenapa cemberut aja sih? Kamu udah baca semuanya?" tunjuknya pada berkas-berkas yang dibawa Zayna.


"Sudah Yang, kamu juga sudah faham kan?" tanyanya ragu, sebab Zain mengirimi banyak pesan.


Takut kalau Zain tak membacanya dengan benar.


"Udah dong, Bismillah, semoga semuanya berjalan dengan lancar, Aamiin."


Lalu, tak lama pintu pun terbuka. Menampakkan sekertaris Zain dan juga dua orang tamu.


"Permisi Pak, klien sudah datang," ujarnya seraya membalikkan badan dan menyuruh kedua orang itu untuk masuk.


Setelah semuanya siap, mereka pun memulai meetingnya. Zayna dan Zain terlihat manggut-manggut saja.


Keduanya dilanda rasa gugup yang hebat. Sebab, ini pertama kalinya mereka menghadapi seorang klien penting.


Dua jam berkutat dengan berkas-berkas, membicarakan tentang kerjasama, akhirnya mereka menentukan kesepakatan, dan rapat pun selesai.

__ADS_1


*****


Zain tengah gusar, meskipun ia ikut dengan istrinya, namun tetap saja, ada rasa tidak rela istrinya akan bertemu dengan seorang pria. Terlebih pria itu menyukai istrinya.


"Kamu kenapa sih Mas? Dari tadi gak tenang gitu," tanya Zayna yang sudah gemas melihat tingkah suaminya.


"Ya gimana mau tenang, istri aku akan bertemu dengan pria lain," jawabnya ketus.


"Kan kamu ikut Mas, yasudah kita batalkan saja ketemuannya."


"Jangan!" menjawab cepat, lalu dia duduk dan berusaha setenang mungkin.


Zayna dan Zain mengedarkan pandangan, mencari sosok yang akan mereka temui.


Terlihat di ujung sana, Zaky tengah melambaikan tangannya. Pasangan itu segera menghampiri meja Zaky.


"Maaf, menunggu lama," ucap Zayna tak enak hati.


"Gak apa-apa, aku juga baru datang kok. Apa kabar Na? Makin cantik aja deh," pujinya seraya melirik ke arah Zain.


Laki-laki itu mengepalkan tangannya, wajahnya sudah merah padam.


"Kau mau mati ya?" kesal Zain, Zayna dan Zaky mengulum senyum.


"Kenapa kau marah? Zayna saja biasa-biasa saja, tapi beneran Na, kamu makin cantik, makin..." Zaky menggantung ucapannya.


Sengaja menggoda Zain yang mudah cemburu.


"Makin menyukainya, begitu maksudmu?"


Emosi yang entah sudah level keberapa. Tawa Zayna dan Zaky pecah seketika, Zain memandang istrinya dengan kesal.


"Sudah-sudah, jangan menggodanya terus Za. Nanti aku yang repot. O iya, ada apa kau ingin bertemu denganku?"


Si suami masih saja menunjukkan muka masam, menggenggam tangan istrinya di bawah meja. Sesekali meremasnya dengan perasaan 'dendam'.


"Mm... aku ingin melamar Na. Itu pun kalau kamu dan Ibu setuju," ucapnya gugup. Zain semakin murka, ia menggebrak meja.


Sehinga menimbulkan keributan. Mata para pengunjung tak lepas dari meja mereka.


"Kau sudah gila! Mau melamar istriku di depan suaminya? Heh! Jangan mimpi!" katanya berapi-api.


"Sayang tenang dulu, Zaky belum selesai bicara. Kamu kaya anak kecil deh," setengah berbisik Zayna menenangkan suaminya.


Merasa malu dengan tatapan semua orang. Zaky menghela nafas kasar.


"Kenapa calon kakak iparku dia  Ya Allah," batin Zaky seraya memandang Zain.


"Aku mau menikahi Greyna, bukan Zayna. Kau mengerti Zain Adi Tama?" dengan penuh penekanan Zaky menjelaskan semuanya.


Zain membulatkan matanya, menatap ke arah istrinya. Lalu berpindah menatap Zaky yang sudah frustasi karena tingkah Zain.


"Jadi... kau akan jadi adik iparku? Tidak bisa! Masa harus kau yang menjadi suaminya Greyna," katanya seraya memalingkan wajah ke sembarang arah.

__ADS_1


__ADS_2