
Setelah lelah bermain mereka bertujuh pun tertidur pulas. Di kamar Hotel yang di pesan Qian.
Sampai pagi. Saat Mili membuka matanya. Mili hanya seorang diri di kamar itu. Si brengsek Qian sudah tak tau ada berada di mana. Mili benar-benar menangis kali ini.
Kemarin Mili sengaja, bersikap agresif menantang Qian. Sekarang Mili tak punya bukti untuk menuntut Qian. Mili menunduk menekuk kedua kakinya, tanganya memegang kedua kakinya.
Mili tak tau harus bagaimana lagi. Sisi keguguran dan Mili di lecehkan. Mili masih belum sadar dengan dosa di masa lalu yang di perbuat Mili dan Sisi.
Mili masih diam sendiri di Hotel itu. Tubuhnya masih polos. Mili teringat dengan Qian. Laki-laki temanya Alea saat kelas satu SMA. Mili mengingat kembali kejadian itu. Mili pun baru menyadari kalau. Qian yang ditemui Mili sekarang. Adalah Qian yang dulu. Jika di perhatikan wajah keduanya mirip.
"Brengsek" guman Mili murka.
Mili menyadari dosanya dulu pada Qian si gemuk itu. Mili dan Sisi pernah memberikan Qian obat perangsang seperti yang Mili dan Sisi lakukan dulu.
Qian benar-benar membalas Mili saat ini. Dulu juga Qian jadi gila, seperti Mili kemaren. Setelah itu, Qian menghilang kata Alea. Qian pindah keluar negri.
Mili masih berpikir, "Kenapa Qian sekarang begitu tampan beda dengan yang dulu, gemuk, buntet, bau dan ikh ga banget, tapi sekarang, Qian begitu ganteng tinggi"
Mili berpikir lagi, "Kalau semua orang tau, dulu Qian gemuk dan bau gimana?" Mili mulai berpikir rencana jahatnya. Tapi Mili tak punya foto saat Qian gemuk. Alea yang punya foto Qian. Mili menangis lagi. Kejadian kemarin membuat Mili sakit hati. Mili ingin membalas Qian. Tapi bagaimana?.
Mili beranjak mulai bangun. Mili pun mandi, Mili merasa tubuhnya lengket karna, cairan putih milik laki-laki bejat itu. Mili ingin membereskan dan membersihkan setiap noda dari tubuhnya.
Mili melihat cermin. Tubuhnya sudah penuh tanda merah. Tanda yang begitu menjijikan dari mereka. Mili terus mengosok tubuhnya untuk menghilangkan tanda merah itu. Kulit Mili sampai berdarah karna, terlalu keras Mili menggosok tubuhnya.
Lama Mili mengosok tubuhnya sampai berdarah-darah. Bili tersenyum saat tabga merah itu tak ada. Kini tubuh Mili penuh dengan luka terkelupas di tubuhnya.
Mili sudah tak waras kali ini. Mili keluar dari kamar Hotel. Mili jadi pusat perhatian karna, luka-luka berdarah di kulitnya. Apalagi di bagian dada. Begitu menjijikan dengan darah yang terus mengalir. Mili tak peduli dengan pandangan orang.
Mili harus segera menemui Sisi. Mili takut terjadi sesuatu pada Sisi. Mili segera menyetop taksi untuk menuju rumah sakit tempat Sisi di rawat.
__ADS_1
Supir Taksi itu, terus melihat Mili, dengan tatapan menjijikan dan hinaan. Mili tak peduli dengan pandangan dari Supir Taksi itu. Mili sudah tak punya ulat malu.
Sampai di rumah sakit. Mili membayar Taksi itu, dengan uang lebih. Mili segera menuju ketempat Sisi. Sisi masih di temani Rei.
Mili tak suka melihat Rei. Sisi begitu terkejut melihat kondisi Mili. Sisi mencoba menanyakan "Apa yang terjadi pada Mili?". Namun Mili tak menjawab sama sekali. Mili terus mengobrak-abrik seisi ruangan kamar Sisi. Tempat Sisi di rawat itu. Mili tak menemukan apapun.
Qian lebih pintar dari Mili. Pagi-pagi sekali,Qian sudah menyelinap masuk kamar Sisi. Saat kamar Sisi kosong.
Setiap pagi, Sisi selalu di bersihkan oleh perawat di kamar mandi. Makanya ruangan Sisi kosong. Saat itu, Qian mengambil Camera yang di pasangnya itu, secepat kilat.
Arrrhhhhh
Jerit Mili, tak menemukan apapun di kamar Sisi. Sisi benar takut dengan Mili saat ini. Sisi tak tau Mili kerasukan apa?.
"Kamu sudah Gila Mili" bentak Sisi mulai takut dengan sikap Mili yang sudah tak wajar.
"Sisi sebentar lagi kita hancur si, hancur".
Rei hanya diam saja tak memberi komentar atau respon. Rei sendiri malas berhubungan dengan dua kakak beradik yang gila ini. Kalau bukan Sisi yang terus menelpon Rei. Rei malas menemui Sisi.
Kita tinggalkan Sisi dan Mili.
Sarah duduk sendiri, di taman. Sarah baru keluar dari kelas. Sarah melihat Najwa melepas hijabnya lagi. Sarah tak terkejut sama sekali. Sarah membiarkan Najwa.
Kaha melepaskan tangan Najwa, saat Sarah melihat Najwa. Kaha masih menyukai Sarah. Sarah membuang muka. Sarah malas melihat Kaha.
Pak Robi berjalan melewati Sarah. Pak Romi jadi dosen pembimbing untuk mata kuliah yang sedang di pelajari Sarah.
"Eh Pak tunggu" tahan Sarah pada Pak Robi.
__ADS_1
Pak Robi menoleh. "Iya ada apa?" tanyanya.
"Ini pak, tugas yang suruh Bapak kerjakan" ucap Sarah memberikan makalah yang di buatnya.
Pak Robi mengambil makalah itu, dan memasukannya pada tas yang di bawanya. Setelah itu Pak Robi pergi.
Dari jauh, Najwa memperhatikan Pak Robi. Diam-diam mengikuti Pak Robi. Kaha masih betah melihat Sarah. Sarah tak nyaman dengan tatapan Kaha. Sarah pun memutuskan untuk pergi dari sana. Sarah malas berhubungan lagi dengan Kaha setelah apa yang di lakukan Kaha padanya tempo hari.
Pelan-pelan Najwa mengikuti, Pak Robi. Pak Robi menuju ruangannya. Diam-diam Najwa masuk dan mengunci ruangan itu dari dalam.
"Najwa" pangil Pak Robi.
Najwa memeluk Pak Robi dari belakang. "Aku rindu" guman Najwa.
"Aku sudah bilang, jangan di sini" ucap Pak Robi ketus.
Najwa membuka tiga kancing bajunya. Najwa sudah memperlihatkan buah dadanya pada Pak Robi. Najwa duduk di meja kerja Pak Robi. Najwa menyilangkan kedua kakinya. Sampai terlihat paha mulus Najwa terlihat begitu jelas.
Pak Robi sudah tak tahan. Melihat keindahan tubuh Najwa yang terus saja mengodanya. Pak Robi mulai menyerang Najwa secara bertubi-tubi. Membuat Najwa merasakan kebahagian dalam permainan Pak Robi.
Permainan Pak Robi sudah membuat Najwa ketagihan. Laki-laki tua ini, sudah membuat Najwa ketagihan. Najwa rela jadi pelakor untuk bersama Pak Robi. Namun Pak Robi tak pernah mau menceraikan istri syahnya.
Permainan itu, terus mengebu- gebu. Mereka tak peduli kalau mereka melakukan itu di kampus. Yang seharusnya tempat belajar. Mereka tak peduli itu.
Apalagi Najwa, sudah memberikan semuanya untuk Pak Robi. Semuanya untuk Pak Robi. Entah apa yang di lihat Najwa dari Pak Robi. Pak Robi genit, mesum. Kalau ada siswa yang jelek dalam mata pelajarannya. Pak Robi meminta tubuh mereka. Sungguh tindakan yang bejat.
Bersambung...
Jangan lupa like yah...
__ADS_1
Jangan lupa mampir juga ke novel Author yang lain. "Ketika Cinta Menemukan Jalanya " dan "Irani Gadis Indigo" Terima kasih.