KISAH KITA

KISAH KITA
Chapter 100 | Hampir Ketahuan


__ADS_3

Update lagi dong!


Dukungannya mana, nih😉


...Happy reading:)...


.......


.......


.......


Demi Naruto yang nggak peka-peka sama Hinata, atau demi Mas Al yang mendadak hilang dari sinetron, Laily kesal bukan main sampai ke ubun-ubun!


Natashya ini memang berniat mengirim Laily ke rumah sakit karena hipertensi, ya?


Huh, sahabat macam apa, sih, dia?! Laily jadi menyesal sudah berteman dengan wanita itu. Ingin dibuang ke rawa-rawa, tapi Laily takut kena amuk pawang Natashya.


Babang Anton seram sekali kalau sedang marah.


Tahu tidak apa yang Natashya sarankan agar Laily beli di mall tadi?


LINGERIE, BRO AND SIS! BAJU KURANG BAHAN, YA ALLAH!


Untungnya, sih, tadi Laily tidak jadi mengeluarkan kata-kata indah nan elok dari bibirnya. Dia hanya mengumpati sahabatnya itu dalam hati. Laily, kan, masih ingat dosa.


Dan, sekarang Natashya tampak santai-santai saja, tidak merasa bersalah sama sekali karena sudah membuat Laily malu di muka umum. Laily, kan, refleks meneriakkan nama Natashya begitu saja tadi, jadi bukan sepenuhnya kesalahan dirinya, kan? Natashya yang sudah memancing emosinya.


Intinya, sih, semua ini gara-gara Natashya! Laily hanya korban! Iya, iya!


“Mau ke mana lagi?” tanya Natashya dengan watadosnya—wajah tanpa dosa.


Sebelum menjawab, Laily menarik napas dalam-dalam. Dia ingat, masih ada tugas negara yang diemban di bahunya.


“Kita ke salon,” jawab Laily ketus.


Mendengar nada bicara Laily yang ketus membuat Natashya terkekeh pelan. Ia tahu, sahabatnya itu masih kesal karena keisengannya tadi.


Tapi, kan, niat Natashya baik, lho.


Kan, Laily sama Hafi mau menikah. Jadi, Natashya menyarankan agar Laily membeli lingerie untuk menyenangkan suaminya. Nggak salah, kan?


Pernikahan Laily dan Hafi tinggal menghitung hari, lho.


“Ya udah, ayo.” Natashya berjalan mendahului Laily yang masih sibuk menggerutu. Gadis itu sudah kesal masih ditambah malu pula.


Huh!


“Untung temen baik gue. Kalo bukan, udah gue pecat dia jadi temen!”


Untung ngejahit ginjal orang itu ada hukum dan dosanya, kalo nggak—udah tak-hih dari tadi!


...❄️❄️❄️...

__ADS_1


Sementara Natashya dan Laily jalan-jalan di mall, Anton dan yang lainnya beraksi di rumah.


Tugas mereka adalah mendekorasi rumah Anton-Natashya untuk menyambut kepulangan Natashya. Kejutan yang cukup manis untuk merayakan ulang tahun di mata Anton.


Walaupun sebenarnya... Anton masih merasa agak kurang mengingat dahulu Natashya juga memberinya kejutan yang lebih indah. Ingat, kan, waktu Anton dibuat kelimpungan karena sikap Natashya yang mendadak menjauh, dan berakhir dengan nyanyian happy birthday dari istrinya?


Harus ingat dong! “Kisah Kita” kan, menceritakan perjalanan cinta Anton dan Natashya! Kalian tidak boleh lupa!


Oke, sebentar, kita absen dulu. Ada Anton, Rio, Hafi, Nadia, Randy, Heru, Riana, Tio, dan Nia. Oh, iya! Ada personil tambahan yang Randy bawa; Tian, Azlan, Azizah, dan Naufal. Mereka harus mendekor rumah secantik mungkin.


“Yo! Ini balonnya dipasang di mana?” tanya Randy seraya membawa tiga balon yang sudah diisi nitrogen.


Anton menoleh sekilas, lalu kembali fokus dengan masakannya. “Di dekat sofa aja, Bang.”


Randy manggut-manggut. Ia berjalan menuju ruang santai yang sudah didekorasi lebih dari setengahnya. Ada banyak orang yang berlalu lalang, sibuk dengan urusannya masing-masing. Suasana rumah Anton ini sangat ricuh walaupun hanya diisi keluarga dan sahabat dekat saja.


Drrtt.. drrttt...


Randy merogoh saku. Ponselnya berdering. Ketika melihat siapa yang menelepon, mata Randy membulat.


...Tashya Kulkas is calling......


“GUYS! BENTAR! NATASHYA TELPON, NIH!” teriak Randy. Semua orang yang mendengar langsung terdiam.


“Assalamualaikum,” sapa Randy di telepon dengan nada sesantai mungkin. Walaupun sebenarnya jantungnya berdegup kencang karena gugup.


“Wa‘alaikumsalam. Abang ada di mana?”


Maafkan hamba yang harus berbohong, Ya Allah...


“Di rumah. Kenapa emang? Kangen, ya?” gurau Randy. Ia menyalakan speaker agar anggota keluarganya yang lain bisa mendengar. Masalahnya, Anton, Rio, Hafi, dan Tian nampak penasaran dengan percakapan yang Randy dan Natashya lakukan.


“Em.. Bang, bunda ada?”


Merasa dirinya dipanggil, Riana segera mendekati Randy dengan langkah pelan. Kandungannya yang menginjak angka delapan membuat ruang geraknya semakin terbatas.


“Iya, ini ada. Bentar.” Randy menyerahkan ponselnya pada Riana.


“Halo, Shya. Kenapa cari Bunda?” tanya Riana.


“Bunda di mana?”


“Di rumah.”


“Tashya di rumah bunda sama ayah, tapi di sini sepi, Bun.”


Deg!


Riana, Randy, dan yang lainnya langsung menegang. Apa kebohongan mereka sudah mulai tercium oleh Natashya? Wah, bisa sia-sia dong pengorbanan mereka!


“Halo? Bunda?”


“Eh, iya, ke–kenapa?” Riana jadi bingung ingin jawab apa. Dia jarang berdusta, sungguh. Kalau begini, bagaimana caranya ia berkata bohong?

__ADS_1


“Tashya habis dari salon sama Laily. Terus Tashya mampir ke apotek buat beli vitamin buat Bunda. Tapi—”


Brakk!


“Guys! Parah! Natashya ke rumah Bunda Riana! Ini gawat! Huaaa...”


Hening. Tidak ada yang bersuara. Bahkan, Natashya di seberang telepon pun tidak mengatakan apa pun. Teriakan dari seorang gadis yang telinganya tangkap sangat familiar.


“Itu Laily, Bun? Kok, Laily ada di situ?”


Laily yang menjadi asal muasal suara menggelegar tadi langsung menutup mulut setelah mendengar suara Natashya. Seluruh pasang mata yang terarah kepadanya begitu tajam, seolah ingin menghakimi gadis itu yang sangat mengacaukan rencana mereka.


“Bunda, Bunda ada di mana? Ada apa sebenarnya? Bunda bohong sama Tashya, ya?”


Glek!


Riana mengembalikan ponsel Randy ke pemiliknya. Ia menggeleng pelan, tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan Natashya lebih lanjut. Bahkan, kedua matanya sudah berkaca-kaca karena takut.


Entah karena apa, intinya Riana takut saja.


Randy menerima ponselnya dengan ragu. Ia menatap semua yang hadir satu per satu. Namun, jawaban mereka sama.


Sama-sama mengedikkan bahu tak tahu.


“Shya, ini gue.” Randy menghela napas. “Kita lagi di rumah sakit.”


Sorry, Shya. Gue kehabisan akal!


“Ngapain di sana, Bang? Siapa yang sakit?” Randy mendengar dengan jelas suara Natashya yang menyiratkan kekhawatiran yang besar.


“Perut bunda kram tadi. Tapi, semua it’s okay, kok. Nggak ada yang perlu dikhawatirin.”


“Beneran?”


Randy mengangguk tanpa sadar. Ia lega, alasannya kali ini cukup masuk akal dan diterima dengan baik oleh otak jenius Natashya. “Iya, Shya. Ini kita mau pulang.”


Sama seperti Randy, anggota yang lain ikutan lega karena rencana mereka terselamatkan dari kebongkaran. Mereka pun kembali ke aktivitas masing-masing. Sementara Randy masih meladeni pertanyaan-pertanyaan Natashya yang tidak ada henti-hentinya.


“Ya udah, gue tutup, ya, Shya. Gue nyetir soalnya.”


“Oh, oke. Assalamualaikum.”


“Wa‘alaikumsalam.”


AKHIRNYA, ASTAGA! JADI BEGINI RASANYA JADI KANCIL YANG MENCURI MENTIMUN, HE?


...❄️❄️❄️...


Natashya pulang ke rumah sekitar pukul enam malam. Namun, suasana rumahnya sangat gelap, tidak ada cahaya lampu sama sekali.


“Kok, gelap, sih? Nio nggak ada, kah?”


^^^To be continue...^^^

__ADS_1


__ADS_2