
Melihat sapu tangan berwarna biru donker ada di depan matanya, Nabila langsung mengambil nya tanpa melihat ke arah pemiliknya.
"Terima kasih." Nabila mengambil sapu tangan dari tangan Roy untuk mengelap air matanya dan membuang air yang begitu berlendir dari hidungnya.
Roy yang melihat sapu tangan kesayangannya menjadi korban patah hati dari istri kedua Bosnya, hanya memasang mimik wajah yang geli disertai dengan senyum yang garing.
"Mau minum?" tawar Roy yang menyerahkan sebotol minuman.
"Terima kasih," lagi lagi Nabila mengambil tanpa melihat ke arah Roy.
Setelah menghabiskan satu botol air minum mineral, Nabila memilih untuk pergi dari rumah sakit berniat menenangkan hati dan pikirannya yang sedang kalut, ingin rasanya berteriak melepaskan sesak di dadanya. Tapi mulutnya sangat susah untuk di buka.
Roy mengintip ke dalam kamar sekilas untuk memastikan situasi di dalam kamar, lalu memutuskan untuk mengikuti kemana istri kedua Bosnya pergi.
Roy terus mengikuti kemana arah mobil taksi yang di tumpangi oleh Nabila, hingga sampai di sebuah pantai yang tidak terlalu banyak pengunjung wisata.
Roy yang baru saja turun dari mobilnya dan berjalan mendekat ke arah Nabila yang sedang memandang luasnya hamparan air yang di sertai dengan ombak-ombak kecil yang berhasil membasahi kaki Nabila.
"Menangislah bila harus menangis," ucap Roy yang menatap lurus ke arah pantai.
Nabila menghapus air matanya saat menengok ke arah Roy yang berada di sampingnya, lalu pergi menjauh dari asisten pribadi suaminya.
"Ngapain kamu ngikutin saya! Bukan kah kamu membenci orang seperti ku?" kesal Nabila saat Roy mengekori dirinya.
"Karena sudah menjadi tugas saya, agar Bos tidak kawatir terhadap anda Nyonyah! Kalau masalah benci saya tidak pernah menaruh benci terhadap siapa pun," ucap Roy terus mengikuti langkah istri kedua Bosnya.
"Stop! Berhenti mengikuti saya!" Nabila terus mengomel sepanjang jalan, namun Roy tetap tidak mengubrisnya.
"Roy!" teriak Nabila yang menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Roy.
Buugh!
Roy tidak dapat mengerem saat Nabila berhenti tepat di hadapanya dan berhasil menabrak Nabila yang sedang berdiri di depannya.
Nabila kehilangan keseimbangannya saat Roy menabraknya dengan lumayan kencang, hingga akhirnya terjatuh ke dalam air yang sedang menyapu pasir dibibir pantai.
"Roy! Ih nyebelin banget sih, kamu ...." Nabila memukul dada Roy dengan kencang sambil menangis.
"Maaf, Nyonyah ... Saya tidak sengaja!" Roy berusaha menenangkan Nabila yang sedang mengamuk ke arahnya.
Perhatian para pengujung tertuju oleh kedua orang yang sedang bertengkar layaknya seperti sepasang kekasih.
"Peluk Istrinya Mas! Baikan!" ucap salah satu para pengunjung pantai yang melihat Nabila menangis memukul Roy.
"Dia, buk ...." ucap Roy yang ingin menjelaskan agar tidak salah sangka, tapi mendapat serangan dari Nabila yang mendorongnya hingga terjatuh kebelakang.
"Sayang, maafin aku ya ...." Roy terpaksa bersandiwara demi kabaikan antara dirinya dan juga Nabila.
Tanpa Roy menyentuh Nabila, Nabila sudah berhenti memukulnya tapi tangisannya masih terdengar di telinga Roy.
Lama mereka terdiam duduk bawah ombak kecil yang menyapu ke arah mereka, sampai akhirnya Nabila mengeluarkan uneg-unegnya kepada Pria yang masih setia menunggunya.
Sakit yang Nabila rasakan saat ini, Sakit yang tidak berdarah.
...Ku akui ku cinta tetapi tak begini...
...Ku akui ku sayang tak perlu kau menyakiti hati...
...Tapi apa daya semua sudah terlanjur terjadi...
__ADS_1
...Jujur ku cinta tapi tak begini...
...Jujur ini memang sakit tetapi tak berdarah...
...Ku mengharapkan mu tapi kau mengharap yang lainnya...
...Takkan ku buang waktuku tuk terus memikirkanmu...
...Dan kau ku ikhlaskan silahkan berlalu...
By : Ashareno tiga puluh
"Aaaakkhhh!" teriak Roy tiba-tiba yang berdiri di samping Nabila.
"Astagfirullah!" ucap Nabila terkejut hingga dengan refles memegang dadanya yang berdebar saat Roy berteriak kencang tepat di sampingnya tanpa permisi.
Roy melebar kan senyumannya ke arah Nabila saat teriakannya telah usai, dan itu berhasil mengundang gelak tawa dari pengunjung lainnya yang sedang lewat di dekat Roy.
Tingkah konyol Roy berhasil membuat Nabila tertawa lepas tanpa ada beban di pikirannya, melupakan sejenak rasa sakit yang menyelimuti relung hatinya.
"Aaakkhh!" Nabila mengikuti tingkah konyol Roy tanpa memikiran para pengujung lainnya yang sedang memperhatikan mereka berdua.
Nabila dan Roy tertawa bersama saat mereka saling melihat tingkah konyol mereka.
"Thanks," ucap Nabila setelah tawa mereka mereda.
Ada sedikit rasa lega di dalam hati Nabila, saat dirinya melepaskan segala resa yang tersangkut di relung hatinya. Semua itu berkat Roy yang sudah bersabar menghadapi sikap istri kedua dari Bosnya. Iya, Roy melakukan semua ini demi kesetiaan dan keperduliaanya terhadap atasannya.
Namun siapa sangka, di balik kebaikan yang Roy lakukan semata-mata tidak mau membuat Bosnya kawatir dengan tingkah Istri keduanya, ternyata ada sosok yang cemburu melihat kedeketan di antara mereka berdua.
"Wooww! Ternyata di mana-mana Jantan itu sama ya bestie!" Ulfa berjalan mundur secara perlahan menghadap teman-temannya dengan suara yang cukup keras agar di dengar oleh Roy.
"Lupain aja, Ul ... Tipe cowok yang seperti itu mah, jangan mau ke makan omongannya lagi!" Kim memberi saran kepada Ulfa dengan melirik ke arah Roy yang sedang menatap ke arah mereka.
"Wah! Kok gue jadi takut ya, sama cowok yang suka omdo!" celetuk Panda.
"Dah lah, mending loe gue kenalin sama teman gue aja, gue punya kenalan cowok ganteng. Bule lagi! Kim merangkul pundak Ulfa dan berjalan menjauh dari pandangan Roy yang menatap tajam ke arah Ulfa.
Mereka sukses melempar aura panas dan cemburu kepada Roy yang kini menatap arah ketidak sukaannya terhadap semua sahabatnya Ulfa yang ingin mengenalkan Ulfa dengan lelaki lain.
"Kamu kenal?" tanya Nabila penasaran melihat tingkah Roy yang aneh.
"Ah, Gak! Bukan siapa-siapa, hanya teman. " Roy membalikan tubuhnya dan menatap lurus arah pandang ke hamparan laut yang luas.
"Sepertinya aku kenal dengan wanita yang memakai baju warna merah mudah, tapi di mana ya?" Nabila mencoba mengingat-ingat di mana dirinya pernah bertemu dengan Ulfa.
"Sudah lega? Mau pulang?" ucap Roy dengan hati yang tidak tenang.
"Bisa kah kita berteman, Roy?"
"Kalau itu membuat hati Nyonya, senang!"
"Kalau kamu mau berteman dengan ku, jangan panggil saya Nyonya, panggil nama saja!" ucap Nabila.
"Maaf, untuk itu saya tidak bisa, Nyonya!"
"Kenapa? Ya sudah. kalau gitu saya gak mau pulang!" Nabila mulai merajuk.
"Jangan seperti ini, Nyonya!"
__ADS_1
"Pokok nya, kalau kamu tidak mau panggil saya nama, saya akan menangis lagi seperti tadi, biar kamu malu!" ancam Nabila yang mulai mengambil ancang-ancang untuk menangis.
"Eh, iya, iya, iya, ok! Saya akan memanggilan dengan nama." Roy melirik ke kanan dan ke kiri memastikan agar orang lain tidak melihat tingkah konyol Nabila lagi.
"Coba, bilang!"
"Huufh! Na-nabil-la ...." Roy membuang nafas panjangnya sebelum menyebut nama istri kedua Bosnya dengan panggilan nama.
"Ok, sekarang kita sudah menjadi teman! Bisakah kita membeli cemilan dulu sebelum pulang?" ucap Nabila dengan memelas.
"Hmm, oke ...." ucap Roy yang ragu dengan keputusannya.
"Ya sudah, kalau begitu kita ke sana!" tunjuk Nabila ke arah restoran pinggir pantai.
Roy hanya menuruti permintaan Nabila dengan mengejarnya yang sudah jalan terlebih dahulu meninggalkan Roy yang masih memikirkan keputusannya yang berteman dengan istri kedua Bosnnya
"Roy, buruan jalannya!" Nabila yang sudah tidak sabaran ingin membeli cemilan kesukaanya.
"Ya penuh, Roy! Perasaan tadi gak seramai ini." Nabila melihat ke dalam restoran yang sudah penuh pengunjung.
"Semakin sore, mungkin semakin ramai, Nyah!" Roy menjelaskan kepada Nabila.
"Kok. Nyah lagi sih ...." Nabila memasang wajah cemberutnya.
"Maksud, saya ... Bil," ucap Roy.
"Ya, sudah masuk yuk! Siapa tau ada meja yang kosong!" Nabila mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam.
Beberapa menit setelah pesanan yang mereka pesan datang ke arah meja makan mereka, Roy hanya melihat cara makan Nabila yang begitu anggun dan berkelas.
Membuat kaum adam yang belum melihat sisi ganda Nabila, pasti akan terkagum melihat penampilan dan sikap Nabila.
Namun, entah mengapa Roy berfikir kenapa Bos dan dirinya tidak tertarik dengan sosok Nabila yang begitu masuk dalam katagori wanita idaman setiap kaum adam.
"Ciee! Terima ... Terima ... Terima ...." Suara berisik meja makan Ulfa bersama teman-temannya.
Nabila dan Roy langsung melirik ke arah sumber tersebut dan melihat seorang wanita yang sedang tersipu malu mendapat ungkapan cinta dari seorang Pria Bule dengan tampan rupawan.
Ibarat seperti air yang sudah mendidih ketika di masak, itu yang Roy rasakan saat ini. Ketika dirinya melihat pujaan hatinya mendapat ungkapan perasaan dari saingan musuhnya.
Brrakkk!
Gebrakan meja begitu nyaring di dengar oleh semua pengunjung yang ada di dalam restoran tersebut, mengalahkan keramaian yang ada di meja makan Ulfa.
Seketika semua hening dan melihat ke arah Roy yang sudah terpancing api cemburu, Nabila yang berada di hadapan Roy begitu malu dan hanya menundukan kepalanya.
"Bil lebih baik kita ganti restoran saja," ucap pelan Roy ke arah Nabila.
"Ok sayang!" Nabila yang mengerti maksud dari Roy.
Mereka berdua meninggalkan area restoran di pinggir pantai tersebut dengan sandiwara yang Nabila ikuti untuk membantu Roy yang sendang cemburu.
Bersambung.
Maaf ya readers baru Up! Authornya kurang sehat sudah 2 hari ini. semoga up untuk episode kali ini tidak mengecewakan kalian ya, maafin saja bila kurang srek bacanya... karena demi kalian yang masih setia dengan cerita receh author, Author berusaha untuk Up!
Mumpung hari senin, bila ada di antara readers yang memiliki hati bak seorang malaikat, boleh lah untuk memberi kisah Aini ini untuk Vote....
Oh ya satu lagi,, ada cerita yang menarik untuk kalian baca nih, dari author yang syantik satu ini.
__ADS_1