
"Ayah?" Aini terkejut, melihat seseorang yang datang menghampirinya adalah Robbet.
"Gimana? Apa tidur mu nyenyak?" tanya Robbet ke anak semata wayangnya.
"Apa ayah yang membawa Aini ke sini?" pertanyaan Aini membuat Robbet terdiam.
"Yah, Aini tanya ke ayah, kenapa ayah bawa Aini tanpa memberi tahu Aini?" Aini terus bertanya agar Robbet mau menjawab
"Gosok dulu gigi kamu, kita sarapan! Grandma sudah menunggu kamu di meja makan." Robbet mengelus kepala Aini dan menciumnya tanpa menjawab pertanyaan Aini.
Mendengar perkataan ayahnya, Aini tidak dapat membantah ucapan Robbet kepadanya. Dia turun dari kasur dan bergegas pergi ke kamar mandi lalu menunaikan kewajibanya sebagai umat muslim.
Begitu selesai, Aini keluar dari kamarnya dan melihat para maid sudah ada di depan pintu kamarnya yang siap mengantar Aini ketempat meja makan.
"Good morning," sapa Omah
"Good morning Grandmah." Memeluk dan mencium ke dua pipi Omah.
"Kamu mau sarapan apa cantik? ada sandwich, dan juga nasi goreng kesukaan kamu."
"Dua dua nya boleh gak Grandmah," ucap Aini tersenyum.
"Boleh dong sayang, semuanya untuk kamu. Makan yang banyak ya!" Grandma menuangkan nasi goreng ke piring Aini.
"Grandmah, boleh Aini tanya sesuatu?" Aini yang masih bingung kenapa dirinya bisa ada di sini.
"Nih minumnya, jangan lupa nanti setelah makan di minum vitaminya biar cicit Grandma sehat." Omah yang tidak mau menjawab pertanyaan dari Aini sengaja mengalihkan pembicaraannya.
"Grandma, kenapa Aini bisa ada disini?"
"Oh ya, nasi goreng ini buatan Grandma loh, spesial buat kamu." Omah masih mengubris pertanyaan Aini.
"Grandmah, Aini nanya sama Grandmah!" Aini mulai kesal, Bad mood seorang ibu hamil tiba tiba mucul di dalam dirinya.
Omah terdiam dan melihat ke arah Robbet yang sudah dari tadi memperhatikan Aini di meja makan.
"Makanlah dulu! bayi kamu butuh asupan dari ibunya." Grandma mengelus perut Aini dengan lembut
Aini hanya menahan rasa kesalnya terhadap Ayah dan Grandmah, seakan akan mereka menutupi sebuah rahasia sangat besar.
Setelah makan, Aini langsung masuk kekamar tanpa memperdulikan Robbet dan Omahnya. Melihat Aini yang sedang dalam keadaan hamil, Omah merasa bersalah memutuskan untuk menghampirinya. Beda hal dengan Robbet yang langsung pergi ke ruang kerjanya.
"Kenapa Ayah dan Grandma tidak mau memberitahu sedikitpun sama Aini! Aini cuma mau tau Grandma, kenapa Aini bisa sampai di sini. Di tempat ini dalam sekejap mata." Tangisan Aini mulai jatuh.
"Maafin Grandma sayang, Grandma cuma mau memberikan yang terbaik untuk kamu. Kita semua sudah tau tentang pernikahan kamu dan Ammar, kita semua sangat sakit Aini. Sakit karena keluarga Ammar telah merusak kepercayaan kita untuk mengambil kamu." Omah duduk di samping Aini yang berada di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Tau apa Grandma? Pernikahan aku dan Mas Ammar baik baik saja Grandma, dan sekarang aku bahagia karena aku sedang hamil anaknya Grandma. Soal Ibu Ainun juga baik tehadap aku." Aini masih terus berusaha menutupi aib rumah tangganya.
"Kamu gak usah menutupi kesalahan yang sudah di lakukan oleh suami kamu Aini!" Robbet yang datang tiba tiba dengan emosi karena anaknya membela suaminya.
"Kesalahan apa yang di lakukan mas Ammar? Sampai ayah menculik Aini ke sini hanya dalam sekejap mata!" pembelaan Aini membuat Robbet semakin geram.
"Kamu masih saja membela suami mu yang tidak tau diri itu? Hah!" Robbet ingin sekali memukul Aini tapi di tahan oleh Omah.
Aini hanya bisa menangis saat tahu Ayahnya mau memukulnya di hadapan Omah.
"Ya Tuhan, Robbet! Cukup! Dia putri mu, sedang mengandung cucu mu! seharusnya lelaki itu yang pantas kamu pukuli, bukan cucu ku!" marah omah menahan tangan Robbet agar tidak melayang ke wajah cucunya.
"Maaf mom, Robbet terbawa emosi," ucap Robbet.
"Aini, Ayah minta ... setelah kamu melahirkan anak mu, kamu harus bercerai darinya! Ayah gak sudi bila anak ayah di permainkan seperti ini! " perintah Robbet ke Aini membuat anaknya syok mendengar perkataan Ayahnya.
Jeggeerr!
Seperti mendapatkan Vote bertubi tubi dari para pembaca yang setia membaca kisahnya. Aini merasakan sakit luar biasa saat Ayahnya menyuruh untuk berpisah dari suaminya.
"Astagfirullah allazim, Ayah! Kenapa ayah tega berbicara seperti itu. Aini gak akan cerai dari mas Ammar!" Aini terkejut atas apa yang di lontarkan Ayahnya.
"Aini, apakah kamu mau terus menjalani kehidupan rumah tangga mu seperti ini? sedangkan Suami mu saja lebih banyak meluangkan waktu untuk istri kedua nya dari pada kamu! " ucapan Omah membuat Aini tidak bisa menutupi kesalahan Ammar.
"Apa yang kamu harapkan dari pernikahan kamu? SURGA? Iya? Aini ayah kasih tau kamu ya ... Gak ada dahlil tentang seorang istri akan di jamin masuk surga karena dia di poligami oleh suaminya! "
"Memang tidak ada Dahlil nya Ayah. Namun hadits yang menjelaskan ketika seorang wanita bersabar dalam ketaatan kepada suaminya, maka hal itu menjadi salah satu sebab yang akan mengantarkannya masuk SURGA." Aini mencoba menjelaskannya ke Robbet dan Omah.
"Tetap Ayah sebagai orang tua kamu, tidak akan rela anaknya di madu! Ayah sudah terlanjur kecewa sama dia Aini, karena keluarganya telah membohongin kita semua, yaitu keluarga kamu! kasih tau ayah, orang tua mana yang rela melihat anaknya di madu? siapa? Hah?" Robbet yang masih dengan emosinya.
"Tapi Ayah ...." ucapan Aini terpotong.
"Tapi apa? Mau bilang surga lagi? Aini dengar kata ayah ya! Masih banyak jalan agar bisa masuk Surga, bukan dengan kesabaran kamu karena di poligami saja! tapi banyak ajaran yang bisa masuk ke surga, paham!" Robbet kesal dengan anak semata wayangnya.
"Aini, kita semua melakukan ini demi kamu dan juga anak yang ada di dalam kandungan kamu! Apa kamu tidak mengerti di mana rasa sakitnya kita sebagai keluarga kamu yang di sakiti kepercayaanya oleh dia?" ucap Omah yang menjelaskan ke Aini.
Aini sudah tidak tau harus berbuat apa lagi saat ini, apakah dirinya akan benar-benar berpisah dari suaminya? Walapun Aini kesal dengan sikap Ammar yang terkadang seakan - akan tidak perduli terhadapnya, tapi untuk benar benar berpisah apalagi harus bercerai dari Ammar. Hati Aini masih belum siap.
"Tapi Aini sayang Grandma sama Mas Ammar." tangisan Aini benar benar pecah di pelukan Ammar
"Ok! kamu tinggal pilih Suami kamu atau Ayah!" Robbet langsung pergi menutup pintu kamar Aini dengan keras.
"Robbet!" teriak Omah atas ucaoan anaknya.
Aini yang mendengar kata kata Ayahnya yang membuat dia syok harus memilih antara suami atau Ayahnya, langsung pingsan di dalam pelukan Omah.
__ADS_1
"Ya Tuhan! Aini! Aini, bangun sayang! Robbet!" panik Omah melihat Aini pingsan di pelukannya.
Robbet yang mendengar teriakan dari Mommynya langsung berlari dan mendobrak pintu kamar Aini dengan kasar.
"Oh My God! Aini? Kamu kenapa nak? Aini, bangun nak! " Robbet langsung panik melihat anaknya tidak sadarkan diri.
"Cepet hubungi Dokter Belevia! " perintah Omah ke anaknya.
Robbet menghubungi Dokter spesialis kandungan, Dalam 20 menit Dokter Via sampai di rumah Robbet.
"Dok tolong cucu saya!" Omah yang masih panik karena Aini belum sadarkan diri.
"Saya priksa dulu ya, Bu." Via langsung memeriksa Aini yang tarbaring di tempat tidurnya.
Dokter Belevia memeriksa Aini dengan telaten mulai dari tensi hingga pemeriksaan kandungan Aini.
"Bagaimana, Dok?" Robbet penasaran.
"Nyonya Aini mengalami stress berat, karena Nyonya Aini sedang hamil anak kembar. Jadi harus di infus dan harus benar benar menjalani Bed Rest dulu di rumah!"
"Apakah tidak berbahaya Dok?" Robbet mulai panik dengan penuturan Dokter Via
"Akan sangat membahayakan janin dan ibunya bila Nyonya Aini terus - terusan dalam keadaan tekanan, usahankan agar membuat mood seorang wanita hamil bisa bahagia dan senang!Saya akan memberikan beberapa vitamin dan penambah darah untuk Nyonya Aini." Dokter Via menjelaskan dengan sangat mendetail.
"Terimakasih ya, Dok!" Robbet yang berjabat tabgan oleh Dokter Via dan di anggukan oleh Dokter Via.
"Oh ya, jangan lupa untuk meminum air putih yang banyak agar cairan dalam kandungan Nyonya Aini tercukupi."Dokter Via pun pamit untuk pergi.
"Maaf kan Ayah ya, sayang." Robbet menangis di samping Aini saat Dokter Via telah pergi.
Tulang tung tung...
Panggilan masuk di ponsel Robbet.
"Mom. Robbet angkat telfon dulu." Robbet segera keluar dari kamar Aini dan di anggukan oleh Omah.
"Bos, Ammar sedang mencari Nyonya Aini bos, dia dan pasukan Naga putih menerobos masuk ke dalam rumah." anak buah Robbet yang berada di Indonesia.
"Biarkan saja dia, awasi terus pergerakannya. laporkan setiap orang itu dan pasukannya lakukan! " Robbet tersenyum senang mendengar Ammar kelabakan mencari Aini.
"Siap bos! " ucap anak buah Robbet.
'Ini belum seberapa Ammar, aku pastikan kamu akan hancur jatuh sejatuhnya karena sudah berani menghancurkan kepercayaanku! ' Batin Robbet mengepalkan tangannya.
Bersambung...
__ADS_1