Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab 28. Awal cerita aku kamu dan dia....


__ADS_3

Ammar hanya terdiam saat melihat isi flasdisk dari papi Nabila, Ammar tak ada niat sedikitpun untuk menerima lamaran papi Nabila, tidak ada niat sedikit pun untuk berpoligami dalam rumah tangganya.


Ammar hanya ingin menjalankan bahtera rumah tangga dengan orang yang dia cintai yang dia sayangi yaitu hanya dengan Aini.


" Maaf Nabila abang gak bisa menemani kamu di sini menunggu selesai operasi papi, abang harus pergi! Nanti abang minta tolong ibu buat menemani kamu di sini ok!" Ammar ingin pergi mencari Aini.


"Tapi bang, Nabila butuh abang disini! Trus Nabila jawab apa kalau papi menanyakan abang kalau abang gak ada? "


" Nabila maafin abang, mungkin saat ini belum waktu yang tepat untuk menjelaskan ke Nabila, tapi asal Nabila tau sekarang abang sudah menikah! Sudah beristri. Untuk papi, in sya allah abang dan istri abang akan jenguk papi untuk menjelaskan semuanya!"


" Jadi benar waktu Nabila hubungi abang itu istri abang yang menjawabnya? " ucap Nabila yang kaget.


" Iya dia istri abang!"


" Abang cinta sama dia? " ucap Nabila menangis


" Maaf Nabila ..."


" Nabila tanya ke abang ... apakah abang cinta sama istri abang? "ucap Nabila yang bertanya penuh air mata, emosi dan cemburu dengan suara yang sedikit keras.


" Iya Nabila, abang mencintainya. Abang sangat sayang padanya, mangkanya abang hanya bisa diam melihat permintaan papi untuk menikahi Nabila. Karena abang gak bisa melakukan itu, karena abang sayang sama istri abang! Abang gak mau menyakitinya Nabila, jadi abang mohon untuk saat ini tolong ngertiin posisi abang." Ammar yang menjelaskan dengan penuh lirih dan air mata.


Nabila hanya terdiam mendengar pengakuan dari pria yang dicintainya secara diam diam, yang selalu dia sebut nama nya dalam doanya, tapi ternyata dia salah. Karena sudah meminjam nama suami orang untuk bisa berjodoh dengannya.


"Pergilah bang! Aku minta maaf atas permintaan papi ku, sampaikan maafku pada istrimu." jawab Nabila dengan muka dingin, tanpa melihat Ammar.


" Terimakasih Nabila. Ya, in sya allah abang akan sampaikan," ucap Ammar yang bangun dari duduknya dan pergi mencari Aini.


Dalam perjalanan Ammar terus menghubungi istri nya namun sayang, tidak di angkat oleh Aini, Ammar pergi ke kelokasi tempat Aini berada melalui sistem pelacak di ponselnya.


Terlihat Aini sudah berada di kamar pengantin sedang mengemasi barang saat Ammar masuk.


" Assalamualaikum sayang? " ucap Ammar yang berdiri di belakang Aini.


"Wa'alaikumsalam."


"Yank, kamu mau ngapain? Sayang jangan begini! dengerin penjelasan aku dulu ...." ucap Ammar yang mengeluarkan barang Aini dari koper yang sudah Aini masukin kedalam.


" Bang, awas!" ucap Aini sambil mendorong Ammar.


"Aini maafin mas! Mas tau mas salah, tapi tolong jangan seperti ini." Ammar memaksa memeluk Aini dari depan.


" Trus Aini harus apa? Pasrah? Diem aja gitu? Aini harus nurutin semua kemauan Mas Ammar yang menyuruh Aini tidur duluan, setelah Mas Ammar puas mencumbu Aini di malam pertama kita! Trus Mas Ammar pergi begitu saja saat wanita itu menghubingi Mas Ammar? Iya! Dan Mas Ammar malah berpelukan dengan wanita itu, terus Mas Ammar harus menikahi wanita itu iya? Hah! Aini harus pura pura bodoh atau bagaimana Mas?" penuh rasa kekecewaan di hati Aini


" Bukan itu maksud Mas, Mas minta maaf sayang ...."


" Siapa Mas? bukankah yang di hadapan Aini ini Abang dari seorang wanita itu? Trus maksud abang, abang kesini mau minta persetujuan dari aku untuk bisa menikahinya? Iya! " ucap Aini yang menangis di pelukan Ammar tanpa membalasnya.


"Pergilah bang, Aku sedah merestui mu untuk menikah dengannya. Maaf aku tidak bisa hadir dalam pernikahan kalian!" ucap Aini sambil mendorong Ammar dan pergi meninggalkanya.


" Astagfirullah ... Aini denger mas! Mas gak akan meridhoi kamu melangkahkan kaki keluar dari kamar ini untuk meninggalkan Mas, Aini! " Ammar yang berlutut ke arah Aini, sambil menangis menjambak rambutnya sendiri.


Aini yang mendengar ucapan suaminya menghentikan langkah kakinya dan masih berdiam berdiri ditempatnya.


" Aini, mas mohon jangan tinggalkan mas! Mas minta maaf membuatmu kecewa, sakit hati atau sedih, " ucap Ammar dengan sedih.


" Bangun lah mas, aku sudah maafkan kamu" ucap Aini yang menghampiri Ammar dan memeluknya.


" Aini, Mas bersumpah demi apapun mas gak ada niat sama sekali buat menerima lamaran papi! Gak ada niat sedikit pun di hati mas buat berpoligami, atau menikahinya. Hanya kamu yang mas sayang! Hanya kamuu ... istri mas satu satunya... Nur Aini ...." ucap Ammar menjelaskan dan memebalas pelukan Aini.


" Sudah mas jangan menangis, maafkan Aini! Aini gak akan meninggalkan mas. " ucap Aini menahan kesal.


" Mas maafkan asalkan kamu jangan meninggalkan mas! Besok kamu ikut sama mas kita pergi ke rumah sakit untuk menjelaskan semuanya," ucap Ammar.


Aini tersenyum dan menganggukanya, kemudian Ammar mencium b*b*r Aini dengan lembut, menuntun Aini hingga duduk di kasur tanpa melepaskan ciumannya.


" Mas gak akan maksa kamu, mas tau kamu cape, kita pelan pelan saja, masih ada hari esok, jadi tidurlah," ucap Ammar yang mengecup kening Aini.


Aini pun tertidur di pelukan Ammar hingga adzan subuh berkumandang, Ammar dan Aini melakukan sholat berjamaah di dalam kamar.

__ADS_1


Setelah selesai Aini dan Ammar pergi sarapan bersama Robbet dan kru lainnya, karena pagi ini semua jadwal terbang ke Jakarta sudah di siapkan hanya pengantin baru masih akan melanjutkan bulan madunya.


" Ciieee pengantin baru .... " ucap Erlangga Louis.


"Loh kemana ibu kamu Mar? " ucap Grandma.


Grandma dan semua keluarganya Aini tidak ada yang mengetahui kejadian semalam yang menimpa penganti baru, hanya Frans lah yang sudah melihat jelas perkara Aini dan Ammar.


Frans datang di waktu yang tepat, karena pada saat Frans baru sampai di lobby hotel. Frans melihat Aini berlari terburu-buru mengejar Ammar dengan aneh, walaupun Aini memakai cadar dan tertutup,


Frans tetep mengenali orang yang di cintainya yang masih singgah di hatinya, Frans datang karena perjalanan bisnis di Bali. karena tau ini hari pernikahan Aini Frans sekedar mampir dan mengucap doa dan restunya.


Robbet punya alesan sendiri untuk tidak memberi tau keluarganya di Prancis saat pernikahan anaknya Aini terutama adiknya Jhon dan rose hanya mengabarkan Frans lewat ponselnya.


" Ibu tadi pergi sebentar menemui saudaranya yang kebetulan ada di sini juga." Ammar yang tidak memberitahu soal kebenaran yang tentang ibunya yang pergi kerumah sakit menemani Nabila, karena dia tahu.


" Oh trus bagaimana? Sebentar lagi kita mau ke bandara ?" ucap Nenek nya Aini.


" Nenek tenang saja ya, biar ibu bareng sama Ammar dan Aini pulangnya nanti," ucap Ammar dengan lembut.


" Owwhh" ucap Nenek Aini.


Mereka semua menghabiskan sarapan dengan gembira dan senang tanpa tau di balik semua hati Aini masih menangis. Setelah makan semuanya pun pamit kebandara, kecuali Frans.


" Ini kartu nama aku, selama aku disini. Kalau ada apa apa hubungi aku," ucap Frans ke Aini tapi melihat Ammar dengan tatapan sinisnya.


" Terimaksi kak," ucap Aini yang mengambil kartu nama Frans.


" Kalau sudah punya istri seharusnya tidak mencampuri urusan rumah tangga orang lain!" ucap Ammar yang menyindir Frans tapi Frans hanya tersenyum sinis, lalu meninggalkan mereka berdua.


" Sudah ayoo kita menyusul ibu di rumah sakit." Aini menarik tangan Ammar.


Ammar dan Aini menaiki mobil dan menuju Rs, selama perjalanan Ammar terus memegang tangan Aini tak lepas dari ciumannya.


Aini merasakan kasih sayang Ammar yang benar tulus mencintainya dari sorot mata dan prilakunya. Aini hanya meneteskan air mata karena setelah ini dia juga harus rela bila Ammar seperti ini dengan madunya.


" Sudahlah mas, jangan pegang tangan Aini terus, fokus saja menyetir. Aini gak akan kabur kok!" Aini menahan tangisannya agar tidak ketahuan Ammar.


" Iya sayaang ku, " ucap Aini yang mengelus pipi Ammar.


" Apa? aku gak dengar tadi, coba bilang lagi."


" Saayyyy .... "


" Saayy???????" ucap Ammar


" Saayyy ... yyuuurrrrrr ... hahahahaha." canda Aini


" Ihhh kamu ya, " ucap Ammar yang menepikan mobilnya.


" Ihh mas ini ya, suka banget berhentiin mobil,,, "


" Coba bilang lagi.. "


" Apa? sayur? " ucap Aini menahan tawanya.


Cup ... kecup Ammar di bibir Aini di balik cadarnya,


" Ih mas apaan si? Nanti kalau ada yang liat gimana? Kalau tiba tiba polisi datang bagaimana? "


" Mangkanya bilang sekali lagi yang benar." Ammar yang mendekatkan wajahnya ke Aini


" Ssssayy ...." ucap Aini menggantung.


" Sssaaayaannggg" ucap Aini.


Mendengar Aini memanggil sayang dengan mesra Ammar membuka cadar Aini dan langsung mencium istrinya dengan lembut


" Hhhmmmm Mas" ucap Aini yang mencoba melepaskan ciuman Ammar.

__ADS_1


Ammar melepaskan c*um*annya membiarkan Aini mengirup udara nya.


" Kita lanjutkan lagi nanti malam ok, malam ini mas gak akan melepaskan kamu!" Ammar yang mengelap b*b*r Aini dengan tangannya


Aini hanya tersipu malu, Ammar tersenyum senang dan langsung menginjakan pedal gas lagi menuju ke lokasi.


Sesampainya di Rs.


Ammar langsung menghampiri ibunya Ainun yang duduk sendiri di luar ruang rawat VVIP.


" Assalamualaikum bu? Loh ibu kenapa di luar duduk nya?" ucap Ammar yang mencium tangan Ainun


" Waalaikumussalam Ammar, Aini? Sedang ada perawat dan dokter pagi untuk mengecheknya," ucap Ainun.


" Trus Nabila ke mana?" ucap Ammar.


Ucapan Ammar membuat Aini merasa perih ketika suaminya menyebutkan nama wanita lain dan menanyakannya, walaupun ucapan Ammar benar menanyakan Nabila dimana tapi tetap saja perih itu timbul di hatinya.


" Nabila pulang sebentar ke hotel buat ganti baju, ibu yang menyuruhnya! " ucap Ainun


" Apa kalian sudah makan? " ucap Ainun yang menyuruh mantunya duduk di samping nya dan mengusap lembut kepala Aini


" Alhamdulillah sudah bu tadi, ini Aini bawakan sarapan buat ibu, takut ibu belum sarapan."


" Terimakasi ya sayang!" Ainun yang mencium kening Aini.


Dari jauh sosok mata melihatnya dengan sembab kebahagian suami istri itu terpancar dari mereka berdua.


" Ya allah, apakah aku salah? Karena sudah memiliki perasaan sama suami orang?" Nabila melihat kebahagian Ammar dan istrinya, apalagi Ainun begitu sayang terhadap menantunya.


Nabila memberanikan diri menghampiri mereka yang sedang berbicara dengan hangat.


" Assalamualaikum, Bu! " ucap Nabila yang mencium tangan Ainun.


" Waalaikumussalam, loh ko cepat sekali? Kenapa kamu gak istrihat saja dulu di hotel? Lagian kan ada ibu dan Ammar jadi bisa gantian buat jaga papi kamu. kamu bisa tidur dulu kan kamu juga belum tidur seharian," ucap Ainun


" Gak apa apa bu, gak enak juga harus selalu merepotkan bang Ammar, " Nabila menatap Ammar tapi Ammar tidak melihatnya. Justru Aini melihat mata Nabila yang penuh dengan cinta kepada suaminya.


" Suami saya pasti tidak keberatan, apalagi berniat membantu!" ucap Aini yang menatap mata Nabila,


" Terimakasih!" ucap Nabila seakan akrab dengan nada suara nya.


" Oh iya Nabila kenalkan ini istri saya Aini, dan Aini ini adalah Nabila sahabat saya dari kecil"


" Aini"


" Nabila"


Mereka berjabat tangan, saling melepar tatapan sinis, dan Dokterpun keluar.


" Ah Dokter, bagaimana keadaan Papih saya?" ucap Nabila


" Keadaan pasien masih belum stabil, masih perlu di rawat intensive beberapa hari lagi. Walaupun operasinya berjalan dengan lancar, saya harap dari pihak keluarga pun bisa menjaga kondisi pasien demi keselamatannya," ucap Dokter


" Ya Dok, terimkasih," Ucap Nabila


" Kalau begitu saya permisi dulu."


Nabila pun masuk terlebih dahulu karena memang hanya di perbolehkan 2 orang yang masuk.


Setelah Nabila masuk sendiri Nabila keluar dan memanggil Ammar dan Ainun untuk bergantian masuk, sedangkan Nabila berbicara empat mata dengan Aini di luar.


" Ada apa? " ucap Aini


" Aku hanya meminta maaf, mungkin kamu sudah tau bahwa aku dan bang Ammar sudah di jodohkan oleh Papih. Jujur aku sangat senang mendengar papi meminta Ammar untuk menikahi ku, karena dari kecil kami memang tumbuh bersama. Begitu juga dengan cinta ini untuk bang Ammar!" Nabila menjelaskan ke Aini.


" Apakah kau sangat mencintai suamiku? Apakah kau masih mau menikah dengan suami ku walaupun kamu sudah tau kalau orang yang kamu cintai sudah menikah? " tanya Aini


" Aku gak mau menjadi orang yang munafik, aku sangat mencintainya karena allah, setiap doa ku selalu ku sebut nama nya untuk bisa menjadi pendampingku, kalau pun dia sudah menikah, aku hanya bisa memohon pada mu agar memaafkan papiku. Papihku tidak bersalah, dan aku memohon pada mu agar kamu jangan memberikan kejutan untuk Papihku, bahwa kalian sudah menikah! " pinta Nabila.

__ADS_1


Ammar langsung menghampiri Aini dan Nabila ketika melihat Nabila sedang memohon memegang tangan Aini dengan derai air mata.


Bersambung......


__ADS_2