Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab 90. Terpesona Roy


__ADS_3

Ruang rawat inap.


Ammar menyandarkan punggungnya ke kursi empuk tempat di mana Nabila di rawat. Ammar tidak habis pikir oleh Nabila yang nekat menyayat urat nadinya sendiri, hanya karena demi cinta.


Nabila begitu banyak memberikan kejutan untuk Ammar yang selama ini belum Ammar ketahui di balik sosoknya yang anggun dan elegan.


"Bos, ini semua berkas berkas yang harus bos tanda tangani!" Roy menyerahkan dokumen ke Ammar.


Ammar mengambil dukomen dari tangan Roy dan langsung membukanya lalu menandatanganinya tampa membacanya terlebih dahulu, karena Ammar begitu percaya pada Roy.


Roy yang merasa kasian terhadap Bosnya di saat dia masih menunggu Nabila di ruang rawat inap tapi Ammar masih memikirkan nasib perusahaannya.


"Roy, bagaimana info tentang Aini?" tanya Ammar yang masih menandatangani beberapa dokumen.


"Pasukan Naga Putih masih belum bisa menemukan jejak Nyonyah Aini, Bos!" Roy berdiri di samping Ammar.


"Apakah Papih sudah pulang?"


"Sudah Bos, Pak Gunawan menanyakan keberadaan Nyonyah Nabila, tapi para Maid mengatakan bahwa Nyonyah Nabila sudah di jemput oleh Bos." Roy mengambil berkas yang sudah di tandatangani oleh Ammar.


"Bagus, kalau begitu. Roy tolong belikan saya, bebek panggang di depan Rumah sakit dekat supermarket! Kamu tahu kan?" Ammar yang tiba tiba merasakan perutnya lapar dan menginginkan bebek panggang yang dia lihat saat mengantar Nabila ke rumah sakit.


"Iya, Bos"


"Belikan yang porsi jumbo sama jusnya terserah jus apa saja! Buruan saya lapar!" Ammar menyuruhnya tanpa mengeluarkan uang cas ke Roy.


"Ngapain kamu masih berdiri di sini?" Ammar masih melihat Roy yang mematung belum jalan keluar ruangan.


"Maaf, Bos." Roy mengkodekan tangannya dengan jari jempol yang bergesek dengan jari telunjuk sebagai tanda meminta uang cas Ammar.


"Roy, kan saya bilang! Tolong ... B-E-L-I-K-A-N saya bebek panggang porsi jumbo!" Ammar yang memasang wajah senyum mengerikan bagi Roy.


Roy yang mengerti maksud Bos nya hanya bisa membalas senyuman dengan terpaksa, karena sebentar lagi dompetnya akan kekurangan oksigen.


"Ampun dah, kan gue bilang juga apa! Pasti kalau Bos bermasalah dengan Nyonyah Aini, dunia gue kaga pernah aman!" Roy mendumel sendiri selama berjalan ke arah luar rumah sakit.


"Emang disini jualan bebek panggang?" Roy merasa curiga yang di maksud Bosnya sebuah cafe.


Roy berjalan masuk kedalam sebuah Cafe yang terlihat bersih dan rapih walaupun tempatnya tidak terlalu besar. Cukup ramai oleh para pengunjung di saat masih belum jam makan malam.


"Selamat datang di Cafetaria Nikmat dan Lezat," ucap kedua waiters yang menyambut kedatangan Roy di tempatnya, tapi Roy tidak menanggapinya.


"Ih, ganteng sih ... Tapi sombong banget," ucap Rani teman kerja Ulfa.


"Sstt! Ingat ucapan Ibu bos. Pelanggan adalah raja!" ucap Ulfa yang bekerja part time di cafeteria.


Roy hanya memasang wajah dingin lalu duduk di salah satu meja yang kosong, dan memanggil salah satu waiters.


"Loe aja gih yang layanin," ucap Rani mendorong Ulfa. Ulfa yang kesal di dorong oleh Rani hanya bisa menghela nafas dan mengampiri Roy.


"Silahkan, mau pesan apa?" Ulfa yang sudah siap mencatat pesanan Roy.


Namun Roy sedikit bingung dengan daftar menu yang ada di hadapannya, sehingga membuat Ulfa berdiri lebih lama di samping Roy.


"Mas, mau pesan apa?" Ulfa yang mulai kesal karena Roy belum juga memutuskan memilih pesanan.


"Saya mau pesan, ayam bakar satu, hmm ..." ucap Roy menggantung.


"Iya, terus?"


"Eh, gak jadi deh mba. Pesan bebek bakar satu ...." ucap Roy mengubah pesanannya.


"Oke, iya ... Terus?"


"Eh, salah mba. Maksudnya bebek panggang satu."

__ADS_1


"Mas, niat pesan gak sih?" Ulfa mulai kesal dengan Roy.


"Loh, kok marah?" Roy mengerutkan keningnya.


"Iya habisnya Mas tuh ... Eerggghh!" ucap Ulfa kesal tapi dia ingat pelanggan adalah raja.


"Maaf, mas. Tadi Mas pesan bebek panggang satu, terus?" Ulfa kembali tersenyum manis di hadapan Roy sambil mencatat pesanannya.


"Bebek panggang super jumbo satu, ayam bakar satu, jus mangga satu sama lemon tea nya satu," ucap Roy dengan cepat sambil menyerahkan daftar menu tampa melihat ke arah Ulfa.


"Maaf, mas. Tadi apa saja? Bebek panggang jumbo satu, paha bakar satu, terus?"


"Ayam Mba ...." ucap Roy melirik ke arah Ulfa yang kebingungan.


"Oh, hehe ... Maaf." Ulfa cengengesan ke arah Roy.


"Jus mangga satu dan Le-mon-tea sa-tu." Roy yang mengeja perkata ke Ulfa agar di mengerti oleh Ulfa.


"Ya, terima kasih atas pengejaannya, dan mohon di tunggu!" kesal Ulfa langsung membalikan badannya dan pergi menjauh.


"Eh, mba tunggu!" panggil Roy ke Ulfa yang menyuruhnya mendekat ke arahnya lagi dengan satu jari telunjuknya.


Ulfa berbalik badan dengan malas dan menghampirinya lagi sambil tersenyum paksa, saat Ulfa sudah ada di dekatnya. Roy menyuruh Ulfa untuk membukuk, saat itu juga Roy berbisik di telinga Ulfa.


"Jangan lupa, di bungkus!" bisik Roy di telinga Ulfa.


Ulfa yang mendengar ucapan Roy, merasa sangat kesal dengan sikapnya dan melihat ke arah Roy dengan wajah jutek tanpa tersenyum lalu pergi meninggalkan Roy yang tersenyum senang mengerjai Ulfa.


Roy sengaja mengerjai Ulfa karena dia mendengar percakapan Rani dengan Ulfa mengenai dirinya yang ganteng tapi sombong.


"Manis!" gumma Roy yang senang mengerjai Ulfa .


Beberapa menit kemudian, Ulfa membawakan pesanan Roy yang sudah di bungkus dan meletakannya di hadapan Roy.


"Totalnya jadi 875 ribu, di bayar cas gak ngutang!" ucap Ulfa kasel.


Ulfa yang sedikit mengintip ke arah dompet Roy, hanya menahan tawanya. Saat Roy melihat ke arah Ulfa, Ulfa langsung memasang wajah juteknya lagi.


"Bisa pake ini?" Roy mengeluar kartu debit Plantinumnya.


Ulfa mengambil kartu debit Roy dan berjalan ke arah kasir yang di ikuti oleh Roy di belakangnya.


Hacim!


"Alhamdulillah," ucap Ulfa ketika bersin saat mengesek kartu debit Roy.


"Yarhamukallah," sahut Roy yang mendengar Ulfa bersin di dekatnya. Sontak membuat Ulfa melihat ke arah Roy membuat mata mereka saling bertemu.


"Yahdikumullahu wa yuslihu balakum," ucap Ulfa pelan saat mendunduk karena tersadar dengan tatapan Roy yang menggoda.


"Ini kartunya, terima kasih!" ucap Ulfa tersenyum malu.


Roy hanya mengambil kartunya dengan tersenyum dan segera keluar dari Cafetaria.


...Terpesona ... aku, terpesona ... memandang-memandang wajah mu, yang ... manis....


Sepanjang jalan dari luar rumah sakit sampai ke dalam ruang rawat inap tempat Nabila di rawat, lagu itu yang terus berputar-putar di kepala Roy.


"Kesambet setaan apaan loe? Cengengesan mulu." Ammar yang melahap bebek panggang jumbo yang di traktir oleh Roy.


"Ada deh," ucap Roy yang ikut makan bersama Ammar di balkon kamar inap Nabila.


Roy yang terperangah melihat Bosnya makan dengan lahap menghabiskan satu bebek panggang jumbo hanya bisa menelan nasinya dengan susah payah.


"Kayanya yang kesambet bukan saya deh, Bos." Roy meminum minumannya karena susah menelan nasi terakhirnya yang ada di dalam mulutnya.

__ADS_1


Eeg!


"Alhamdulillah," ucap Ammar setelah bertahak.


"Astagfirullah, Bos!" Roy di buat heran dengan tingkah Ammar.


"Kenapa? Gak ikhlas beliin gue bebek panggang?"


"Bukan, Bos! Ikhlas kok, buat calon ponakan mah! Asal jangan sering-sering!" Roy celetuk untuk meredamkan amarah Ammar.


"Calon ponakan?" Ammar masih bingung dengan ucapan Roy.


"Iya! Kayanya Nyonyah Aini juga lagi ngidam bebek panggang sepertinya." Roy merapikan sisa makan mereka berdua.


"Ah, serius loe? Masa sih?" Ammar yang senang kalau dia merasakan empatik saat Aini hamil.


"Ya buktinya, saya kan jarang liat bos makan banyak kaya gini," ucap Roy yang melihat Ammar ingin membunuh seokor cicak di dekatnya.


"Eh, jangan di matiin Bos!" teriak Roy mencegah Ammar ingin membunuh cicak yang ada di dekatnya setelah mereka sesudah makan.


"Loh kenapa Roy? Membunuh cicakkan Sunah!" Ammar bingung dengan Roy yang melarangnya.


"Inget, Nyonya Aini lagi hamil, jangan lupa amit-amit Bos!" Roy mengingatkan Ammar supaya tidak lupa dengan Aini yang sedang mengandung.


"Astagfirullah, thanks brother." Ammar menepuk pundak Roy.


"Sama-sama, Bos." Roy tersenyum ke arah Ammar.


Saat Ammar dan Roy masih asik berbicara soal Aini, ternyata Nabila sudah tersadar dari pingsannya dan mendengar setiap ucapan Roy ke Ammar.


Nabila bangun untuk bersandar sejenak lalu menurunkan kakiknya dan turun dari tempat tidur rumah sakit.


Brukkk!


Ammar dan Roy berlari masuk kedalam ruangan ketika mendengar suara dari dalam yang ternyata Nabila terjatuh dari tempat tidurnya.


"Nabila!" teriak Ammar yang berlari dan membatu Nabila untuk berdiri.


"Lepasin!" ucap Nabila yang masih marah terhadap Ammar dengan kondisinya yang masih lemas, tapi Ammar tidak menghiraukan ucapan Nabila.


Ammar mengangkat tubuh Nabila ke atas tempat tidur pasien lalu meletakanya dengan perlahan. Namun, Nabila tidak melepasakan pelukannya dari Ammar.


"Berjanjilah, Abang tidak akan meninggalkan Nabila!" Nabila menangis memeluk Ammar.


"Ya, Abang janji tidak akan meninggalkan Nabila!" Ammar membalas memeluk Nabila.


"Berjanjilah, Abang tidak akan pernah balik lagi sama Aini! "


Deg,


Ammar langsung melepasakan pelukan Nabila, Emosinya mulai naik ketika Nabila menyuruhnya untuk tidak kembali kepada Aini.


"Maaf, Nabila. Abang tidak bisa berjanji untuk itu!" Suara Ammar mulai naik satu oktaf.


"Tapi, Nabila cinta sama Abang!" tangisan Nabila pecah di dalam ruangan.


"Tapi, Abang gak cinta sama kamu! Abang cuma sayang sama kamu sebagai adik Nabila! Harus berapa kali Abang bilang sama kamu, suapa kamu mengerti! Kalau cinta tidak bisa di paksa Nabila!" emosi Ammar yang sudah tidak bisa di tahan.


Tangisan Nabila tambah pecah saat Ammar melontarkan perkataan yang menusuk di relung hatinya.


Bersambung....


Assalamualaikum...? hayooo siapa yang jawab salam Authour pasti mendapat pahala...


Halo readers maaf kalau cerita yang up sekarang kurang nyambung, author cuma mau mengajak kalian agar tidak kesal mulu dengan Nabila. semoga terhibur ya..

__ADS_1


Nah... author punya rekomendasi yang bagus untuk kalian yang suka cerita Hots tapi lucu dan menghibur kalian agar tidak gondok!



__ADS_2