
"Jalan! " printah Ammar ke Roy.
"Mas! Kamu mau bawa aku kemana? Mas lepasin gak?! kalau gak aku bakal teriak! "
"Enggak akan! Sampai kapan pun Mas gak akan melepas kan kamu!" Ammar yang tidak bisa marah kepada Aini karena kata kata Aini yang begitu menyakitkan.
"Ck! Aku benci sama mas! " teriak Aini dalam mobil sambil memukul Ammar dengan kedua tangannya.
Ammar langsung memegang tangan Aini dan mencium paksa Aini hingga Aini berhenti memukul dirinya.
Ammar terus memegang erat tangan Aini ke atas agar tidak terlepas dari cengramanya dan melumatt bibir Aini secara paksa, membuat Aini tidak bisa berkutik sama sekali. Sedangkan Roy hanya bisa fokus menyetir saat mendengar keributan di bangku belakang. Sekilas Roy mengintip dari kaca spion di atas.
"Hmmm ... Mas, Ah ...." teriakan nikm*t Aini terlontar dari mulutnya saat Ammar mencium dan meremas benda kenyal Aini dengan sangat kasar.
Roy yang mendengar suara aneh itu merasa merinding di seluruh tubuhnya, bagaimana tidak? Roy harus mendengar kalimat yang memancing birahi kaum adam saat Roy harus fokus menyetir.
Ammar yang tahu Roy tidak fokus menyetir, memberikan sebuah headset kepada Roy tanpa melepaskan ciuman di bibir Aini.
"Mas! lepasin! Aini benar benar benci sama Mas!" kesal Aini kepada suaminya karena telah mencumbui dirinya di dekat Roy asisten Ammar.
Sedangkan Ammar yang tidak bisa marah kepada istrinya tersebut hanya bisa meluapkan amarah dan emosinya dengan terus mencumbui istrinya itu di dalam mobil.
"Mas! Akkhhh ... sakit!" Aini menangis saat tangan Ammar memaksa masuk kedalam area private nya.
Ammar yang mendengar Aini menangis, perlahan menurunkan aksinya, mengeluarkan satu jarinya dari hutan rimba milik Aini dan beralih mengusap air matanya lalu memeluknya.
"Maaf!" hanya itu yang terlontar dari mulut Ammar.
"Aini benci sama mas!" Aini masih menangis di pelukan Ammar sambil memukul bahu Ammar terus menerus.
"Mas akan mengapus semua rasa benci kamu ke mas, asalkan kamu tidak meninggalkan Mas!" ucap Ammar.
"Mas jahat! berhentiin mobilnya Aini mau turun!" Aini terus memberontak di pelukan Ammar.
"Gak akan!" Ammar mempererat pelukannya dan mengeluarkan jarum dari sakunya dan menancapkan jarum tersebut ke leher Aini.
"Akkhh ... Mas?! " Aini terkejut atas apa yang di lakukan suaminya.
"Maafkan mas, sayang! Mas terpaksa melakukanya demi kamu dan calon anak kita." bisik Ammar ketelinga Aini yang masih setengah sadar. Namun perlahan Aini memejamkan matanya dan mulai tidak sadarkan diri di pelukan Ammar.
Mobil terus berjalan hingga sampai kembali ke Paris. Roy membukakan pintu mobil dan Ammar mengendong Aini dan membawa masuk ke dalam kamar hotelnya.
Roy yang hanya seorang asisten Ammar, harus menjelaskan ke para pihak hotel bawasannya Aini dan Ammar adalah sepasang seuami istri.
Beberapa menit kemudian Aini terbangun masih setengah sadar, memegang kepalanya yang masih terasa sangat berat. Aini mencoba memulihkan kesadaranya untuk bangun duduk, tapi karena pengaruh obat yang di suntikan Ammar. Aini hanya bisa merebahkan dirinya dan mengumpulkan tenaganya.
Karena rasa kantuknya masih melanda pada dirinya, Aini pun memilih untuk tidur lagi, sedangkan Ammar yang baru keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang menutupi sebagian tubuhnya, mendekat ke arah Aini yang masih tertidur.
__ADS_1
Mengusap kepala istrinya dengan lembut dan mencium keningnya. Ammar yang tidak tega melihat Aini masih tertidur mengunakan baju yang sudah kotor, mencoba mengantikan baju Aini dan mengelap tubuh Aini dengan air hangat.
Tap!
Ketika tangan Ammar yang mau membuka kerudung Aini, Aini sudah menepisnya.
"Jangan sentuh!" Rancau Aini masih kesal dengan suaminya dengan keadaan masih tertidur.
Ammar tersenyum melihat istrinya yang masih bisa marah disaat tertidur, Ammar membuka baju Aini satu persatu dan mengelap tubuh Aini secara perlahan yang sudah polos tanpa sehelai benang. Ammar hanya menggunakan selimut untuk menutupi tubuh istrinya agar tidak terbuka, mengelapnya mulai dari wajahnya yang cantik, lalu turun ke lehernya yang putih dan halus. Kemudian memeras kainnya lagi dan mengelapnya ke bagian dada Aini dengan telaten.
Glek!
Ammar menelan slavinanya saat mengelap buah empuk milik Aini yang sangat Ammar favoritkan, Aini yang merasakan sentuhan lembut dan hangat mulai menggeliat atas sentuahan Ammar.
"Aah ..." d*s*h*n Aini keluar dari bibirnya saat tangan Ammar mengelap turun ke sela pangkal paha Aini.
Ammar langsung tersenyum ketika Aini mengeluarkan suara yang membuat jati dirinya bangkit, dengan jail Ammar mengelus area private Aini dari atas forest center hingga ke pusat lubang surga Ammar lalu di tekannya dengan lembut, mengunakan satu jarinya.
" Aaaaah ...." suara yang keluar dari bibir Aini tambah panjang, membuat Ammar tidak bisa lagi menahan hasrat rindunya
Ammar langsung membuka handuknya yang melingkar di pinggangnya lalu masuk kedalam selimut Aini, perlahan Ammar mencium hutan rimba milik Aini dengan satu kecupan, ketika melihat wajah istrinya yang tidak bereaksi.
Ammar kembali menciumi hutan rimba itu dengan mengunakan lidahnya, kali ini tubuhnya Aini bereaksi dengan mengeliat sambil mengeluarkan desa'han, Ammar yang semakin suka melihat reaksi istrinya, terus memainkan di pusat rimbanya dengan cukup lama.
Beda hal dengan apa yang Aini rasakan, di alam bawah sadarnya Aini, dia merasa ada sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya saat ini. Entah apa yang terjadi, tapi di dalam mimpinya Aini ingin melakukannya bersama Ammar. Walaupun rasa kesal terhadap suaminya masih ada.
Setelah puas menjilat, mengoyangkan lidahnya dan menyesap forest center Aini, kini Ammar menelusuri tubuh Aini secara perlahan mulai dari perut Aini yang sedikit buncit, hingga ke bagian favorite Ammar yang Ammar rindukan.
Tampa menunggu izin dari sang pemilik, Ammar langsung meremas dan menyesap benda kenyal milik istrinya mulai dari perlahan sampai akhirnya hasrat Ammar tak tebendung lagi langsung melahapnya dengan rakus dan mengigitnya hingga Aini terbangun. Dengan kesadarannya Aini langsung terkejut oleh Ammar yang sudah mencumbui nya dengan penuh nafs*.
"Astagfirullah, Mas, Ah ... kamu memang breng ... Ah! " Aini mendorong Ammar dengan tenaganya yang masih lemas.
"Maaf Aini. Mas tidak bisa menahanya." Ammar langsung mencium bibir Aini dengan mengebu gebu, membuat Aini sulit untuk bernafas.
"Hmmmpp ... Hmmmpp ... Mas!" Aini mencoba menarik nafas dengan cepat saat Ammar melepaskan ciumannya.
"Aini, Mas pinta jangan menolaknya!" Ammar kembali mencium bibir Aini dan turun keleher serta membuat tanda cap Ammar disana.
Aini yang ingin menolaknya karena masih marah terhadap Ammar hanya bisa pasrah karena tidak bisa menolaknya sebagai istrinya, Aini tahu walapun dia tidak mau tapi tubuhnya menginginkan sentuhan lebih dari Ammar.
"Akkhh ..." teriakan Aini saat tangan Ammar mulai masuk ke dalam forest center Aini dan memainkannya di bawah sana sambil terus menyesap benda kenyal milik Aini.
Tiba tiba ponsel Ammar berdering di meja dekat tempat tidur. Aini mencoba ingin meraihnya saat Ammar masih mencumbuinya secara n*fs*.
Aini melihat nama Nabila yang tertera di layar ponselnya Ammar. Aini hendak mendorong Ammar tapi Ammar mencegahnya dan terus menciumi tubuh Aini tampa tersisa.
"Mas, angkat dulu! Mba Nabila telefon." Aini menjauhkan wajah Ammar yang terus menyesap benda kenyal miliknya, karena ini salah satu alesan agar dirinya bisa menolak secara halus.
__ADS_1
Ammar yang tahu Aini memcari alesan untuk menghentikan permainannya, mengambil ponselnya dari tangan Aini tanpa menjawab panggilan dari Nabila dan meletakannya kembali ke atas meja dengan sembarang.
Tanpa sengaja tangan Ammar menyentuh tombol jawab panggilan Nabila dan lauspeker saat melempar ponselnya ke atas meja, hal hasil suara Nabila pun terdengar.
"Assalamualaikum Bang?" ucap Nabila.
Aini yang terkejut mendengar suara Nabila langsung menghentikan Ammar yang sedang mencium bibirya.
"Bang? Hallo?"
Ammar yang sudah berada di atas puncak bir*hi tidak perduli dengan suara Nabila, Ammar kembali mencium bibir Aini dengan lahap. Aini mendorong Ammar tapi Ammar tidak perduli.
"Abang sudah di mana?" Nabila masih terus bicara
Aini yang ingin mengambil ponsel Ammar dan berniat ingin mematikan panggilan yang sudah terhubung, justru di tarik tanganya oleh Ammar dan melanjutkan aksinya menciumi setiap lekuk tubuh Aini.
Aini yang tidak percaya dengan suaminya hanya menutup mulutnya dengan tangan agar suara d*s*h*nya tidak terdengar oleh Nabila.
"Bang? Maaf kalau Nabila menganggu Abang" Nabila masih saja berbicara.
Ammar yang melihat Aini menutup mulutnya agar tidak mengeluarkan suara desa'han, membuat dirinya semakin menantang, kini Ammar mengobrak abrik forest center Aini dengan jarinya dengan sangat cepat, membuat Aini tidak bisa menahannya.
"Ehmmpp ..." desa'han Aini yang di tahan oleh tangannya.
"Maaf kalau Nabila ganggu Abang, Nabila cuma kangen sama Abang. Maafin Nabila yang sudah buat Abang tambah masalah." Suara Nabila masih saja terhubung dengan lantang.
"Jangan di tutup suaranya! keluarkan suara mu di telinga Mas, Mas mau mendengar suara kamu!" Ammar menarik tangan Aini agar Aini tidak menutup mulutnya.
"Akkhhh ..." suara Aini keluar di telinga Ammar saat Ammar memasukan senjatanya kedalam berangkas milik Aini.
"Akkhh ...." begitu juga suara Ammar yang keluar di telinga Aini saat brangkas Aini begitu kencang mengigit senapan Ammar dalam sana.
"Bang? Apa abang sudah tidur?" Nabila masih terus berusaha memanggil suaminya.
"Jangan di tahan!" Bisik Ammar di telinga Aini saat Ammar ingin memaju mundur cantikan pinggulnya.
"Abang, Nabila kangen. Abang cepat pulang ya! Nabila tunggu, Assalamualaikum." Akhirnya Nabila mematikan sambungannya.
tut, tut, tut, tut.
Pada saat sambungan telefon dari Nabila terputus, Pada saat itu pula Aini dan Ammar mengeluarkan suara dengan keras dan lantang.
Bersambung....
Haloo semuanya maaf ya kalau Up nya terkadang lama, nah...... sambil menunggu kelanjutan dari cerita Ammar dan Aini. Yuk mampir di cerita dokter cantik yang satu ini. Pokoknya langsung greget dah di awal episode!
Jangan lupa Like, komen, hadiah, dan vote ya.. di cerita Aini dan dokter Rona... terimakasih 😘😘😘
__ADS_1