
PT Energi Abqori.
"Kamu sudah mencari tau siapa, gadis itu?" Ammar begitu geram dengan kelakuan yang di lakukan oleh asistennya.
"Bos, kan saya sudah bilang! Saya khilaf, tobat!" Roy menunjukan rasa bersalahnya kepada Ammar yang sudah mengetahui perbuatan buruk asistennya.
"Saya tanya, kamu sudah menemukan gadis itu belum!" Ammar mulai emosi kepada Roy.
"Belum ketemu, Bos!" Roy menjawab sambil menundukan kepalanya.
"Saya tidak mau tahu, kamu harus bertanggung jawab terhadap gadis itu! Kalau tidak ...."
"Tapi saya gak ngapa-ngapain dia, Bos! Demi Tuhan!" Roy memotong pembicaraan Ammar.
"Mau di pecat atau mengundurkan sendiri!" tawar Ammar dengan sinis.
"Ok saya akan menikahinya! Saya cari sampai ketemu! Saya akan bawa gadis itu kehadapan, Bos, untuk meminta restu. Jangan pecat saya, nanti saya nafkahi gadis kencur itu dari mana?" Roy menunjukan rasa kesalnya terhadap dirinya sendiri yang sudah masuk kedalam lubang hitam.
Ammar sangat kecewa dengan sikap dan perilaku Roy, bagi Ammar, asistenya sudah di anggap seperti sahabat sekaligus saudara sendiri. Mengetahui Roy pergi ke club malam dan meminum-minuman haram. Membuat Ammar marah dan ingin menarik Roy saat itu juga.
Terutama saat Ammar mendapatkan info dari orang kepercayaanya, bahwa Roy sudah berada di apartment bersama wanita remaja yang masih belasan tahun dalam satu apartment.
Roy mendapat hukuman dari Ammar dengan di tariknya kembali sepuluh persen saham yang di berikan oleh Ammar, dan di kurangi gajih sebesar lima puluh persen selama tiga bulan secara berturut-turut.
Menurut Ammar itu belum seberapa untuk memberikan hukuman kepda Roy, andaikan Ammar tidak memandang Roy sebagai sahabatnya, kemungkinan Roy sudah di pecat dan di keluarkan secara tidak terhormat.
Ammar masih bersikap toleransi dengan asistennya dengan memberi kesempatan kepada Roy untuk tidak mengulangi prilaku buruknya.
"Ok, saya tunggu janji kamu!" Ammar menggerakan kedua jarinya untuk menyuruh Roy keluar dari ruanganya.
"Roy, Roy! Patah hati sesakit itukah? Sampai kamu harus masuk ke dalam lubang hitam yang cukup besar!" Ammar memijat keningnya yang terasa pusing dengan tingkah asistennya saat Roy sudah keluar dari ruangan.
Beberapa jam kemudian.
"Hallo, sayang? Assalamualaikum, " ucap Ammar yang menelepon istrinya.
"Waalaikumussalam, ada apa, Mas?" tanya Aini yang sedang memberi Asi kepada Khan.
"Gak, hanya kangen aja sama kamu, mau cepat-cepat pulang ketemu kamu dan dua buah hati kita." Ammar memandang foto istri sama anak-anaknya yang berada di atas meja kerjanya.
"Please deh, Mas. Jangan gombal ... masa sudah kangen, baru tadi pagi pisahnya, belum ada sehari." Aini menaruh Khan untuk mengganti popoknya.
"Ya ... emangnya gak boleh? Kamu lagi apa sih? Grusak, grusuk!" tanya Ammar yang begitu heran mendengar suara dari seberang telepon.
__ADS_1
"Lagi gantiin Khan popok, Mas." Aini memasang popok dengan telaten.
"Khansa kemana?" tanya Ammar.
"Lagi bobo, abis mimi langsung bobo," ucap Aini dengan halus.
"Khan belum bobo? Sudah mimi belum?" tanya Ammar penasaran.
"Bobo belum, ini baru mau mimi ... gantian sama adeknya." Aini mengelus Khan dalam pangkuannya.
"Hmm ... Sayang?"
"Apa?"
"Ehmm, kalau nanti malam, Mas ... min ... ta, udah bisa belum?" tanya Ammar yang begitu tidak sabaran.
"Mas, Aini tidurin Khan dulu ya? Nanti kita bahas lagi, setelah Mas pulang kerja! Mas jangan lupa sholat dan makan siang ya ...." ucap Aini yang begitu berdebar saat Ammar mengatakan sesuatu yang membuatnya ketakutan.
Bagi sebagian seorang wanita yang sudah menikah, hal yang paling di takuti selain malam pertama adalah malam selepas masa nifas seorang wanita yang usai melahirkan telah selesai.
"Tapi, Mas masih mau ngobrol sama kamu, ya sudah ... nanti kita lanjut langsung di rumah, ya." Ammar tersenyum saat tau rasa ketakutan istrinya.
"Semangat kerjanya, Abi ... assalamualaikum," ucap Aini menirukan suara anak kecil.
Saat Ammar melihat ke arah depan, ternyata asistenya sudah berdiri di hadapannya. Ammar pun terkejut dengan keberadaan Roy yang tiba-tiba berada di depan matanya yang sedang memperhatikan dirinya memberi kissing by phone kepada Aini.
"Astagfirullah, sejak kapan kamu di situ, Roy?" tanya Ammar yang masih sebal dengan asistennya.
"Sejak Bos bilang minta ...." ucapan Roy mengantung saat melihat Ammar ingin melempar sebuah dokumen ke arah Roy.
"Eh, iya, ya ... ampun, ampun. Bos!" ucap Roy yang sudah ketakutan.
"Cepat kasih laporannya ke saya!" perintah Ammar dengan sinis.
"Ruangan metting sudah di siapkan, Bos! Ini dokumen yang sudah di siapkan untuk acara metting hari ini." Roy menyerakan dokumen kepada Ammar.
"Ok, kalau gitu." Ammar segera berangkat ke ruangan mettingnya.
Selama perjalanan ke ruangan metting, semua karyawan menunduk dan memberi hormat kepada Ammar selaku pemilik perusahaan sekaligus direktur perusahaan.
Begitu sampai di ruangan metting, Ammar di sambut oleh clien yang sudah berada di dalam ruangan menunggu kedatangan Ammar.
Ammar begitu terkejut saat clien yang datang adalah anak dari perusahan yang ingin bekerja sama dengan dirinya.
__ADS_1
"Selamat siang menjelang sore, Pak Ammar Abqori." Seorang wanita cantik yang begitu menggoda dengan penampilan yang membuat aura kaum adam bangkit dari tidurnya.
"Siang," jawab Ammar cuek.
"Ah, iya ... perkenalkan saya Marry asisten Nona Jessica, putri dari pemilik Grop yang akan bekerja sama dengan PT Energi Abqori," ujar Marry yang begitu aduhai sebagai asisten Jessica yang tidak kalah jauh penampilannya.
"Langsung saja kita bahas masalah kerja sama kita." Ammar menyuruh Roy untuk mempersiapkan layar monitor yang ada di balik layar.
'Sial, dingin banget nih orang! Cacat aja belagu, liat gue bakalan bikin loe gak berkutik di depan gue' batin Jessica saat assitenya begitu di acuhkan oleh Ammar.
Penjelasan soal materi yang sudah di sampaikan oleh Marry tidak satupun Ammar meresponya dengan baik, berbeda dengan Roy yang berusaha mati-matian menahan gejolak membara di dalam bungkus sarung pusakanya.
Seketika Roy mengingat tanganya pernah sekilas meremas bentuk yang serupa dengan yang ada di hadapannya, walaupun remaja itu masih sangat belia, tapi Roy sangat jelas mengingat bagaimana ukuran yang berlimpah ruah berada di tangan Roy.
Sangat sulit untuk Roy menelan saliva nya saat Marry begitu menyondongkan tubuhnya untuk mencatat yang di berikan intruksi penolakan dari Ammar.
Ammar yang mengetahui asistennya kesulitan untuk berkonsentrasi langsung menolak kerja sama dengan clien pentingnya.
"Saya rasa, cukup sampai disini." Ammar menyuruh Roy untuk merapihkan berkas yang ada di meja.
"Woow!" tepuk Jessica yang begitu kesal dengan sikap angkuh Ammar selama meeting berlangsung.
"Pak Ammar begitu hebat, boleh kita meminum teh atau kopi untuk menghilangkan rasa tegang di antara kita!" Jesicca perlahan mendekat ke arah Ammar.
Ammar hanya tersenyum sinis, saat tebakannya mulai benar bahwa Tuan Jack mengirim putrinya untuk menggoda dirinya.
"Maaf saya tidak punya waktu luang untuk sekedar minum teh." Ammar membalikan kursi rodanya namun di cegah oleh Jessica.
"Ok, bukan hanya sekedar minum teh." tanpa ada rasa malu, Jessica langsung mencodongkan tubuhnya ke arah Ammar dan memasukan sebuah kunci kamar hotel kedalam saku bagian dalam jas Ammar.
"Saya rasa putri dari seorang Jack itu. sangat terhormat dan menjaga harga dirinya dengan baik, terima kasih atas tawarannya, Nona Jessica! Maaf saya sudah punya istri." Ammar mengeluarkan kunci yang ada di dalam saku jas dan melempar ke arah meja.
"Maaf, Nona Jessica ... silahkan, pintu keluar ada di sebelah sana." Tunjuk Roy dengan senyuman manis ala sindirnya ke arah Marry dan juga Jessica.
Mendapat pengusiran secara halus, Jessica hanya memasang wajah kecewanya kepada Ammar dan pergi dengan membawa sejumlah emosi yang cukup besar.
Setelah kedua keong racun tersebut sudah keluar dari kantor Ammar, Roy menyampaikan laporannya kepada Ammar, namun di tolak mentah oleh atasanya.
"Besok saja kita bahas, saya ada janji dengan orang rumah, siap kan mobil!" perintah Ammar kepada Roy.
"Tapi, Bos!" ucap Roy kecewa kali ini dengan sikap Ammar yang mendadak mengubah haluan.
"Tidak ada, tapi, tapian. Roy, buruan!" perintah Ammar yang sudah tidak sabar menahan rasa gejolak yang ingin keluar.
__ADS_1
Bersambung...