
"Bil, maaf ya aku gak bisa mengantar kamu ke Hotel," ucap Roy saat berada di halaman parkiran.
"Tenang aja, aku bisa pulang sendiri kok. Nanti malam aku sama ibu balik lagi ke rumah sakit! Ibu pasti senang dapat kabar Bang Ammar sudah sadar," ucap Nabila yang paham dengan kecemasan Roy.
"Thanks ya! Biar nanti malam aku jemput kamu sama Ibu di Lobby," ucap Roy.
"Ya sudah, sana buruan jemput bidadarinya ... Sebelum terlambat!" Nabila mengusir Roy dengan nada tertawa.
"Tapi kamu ... Sudah gak apa-apa kan? Maksud aku ...."
"Ya ... Aku udah enakan kok! Gak usah kawatir, tenang aja! Termikasih ya ... sudah bantu aku hari ini, terimakasih juga sudah mau jadi teman aku!" ucap Nabila yang mengerti kalau Roy masih menghawatirkan perasaanya.
"Alhamdulillah kalau gitu ...." Roy memesankan taksi online untuk Nabila kembali ke Hotel.
"Salam ya,buat bidadarinya!" Nabila masuk ke dalam taksi online.
"Hati-hati ya, Bil!" Roy menutup pintu mobil belakangnya.
"Ya," ucap Nabila
Pada saat mobil yang di tumpangi Nabila sudah menjauh, Roy berlari masuk ke dalam restoran agar menghentikan Ulfa untuk menerima pernyataan cinta dari Pria asing.
"Cie, terima aja ... Ul!" ucap Kim yang berada di samping Ulfa saat Pria bule mengungkapkan perasaannya terhadap Ulfa.
Tap!
Tangan Ulfa yang ingin menerima bunga dari Pria bule itu, langsung di tarik oleh Roy sehingga Ulfa berada di samping Roy
"Masih berani!" Roy menatap tajam mata Ulfa, saat kedua mata mereka saling bertemu.
"Lepasin gak!" ucap Ulfa yang memberontak.
"Gak!"
"Hai, siapa loe? Loe gak denger? Cewek gue minta di lepasin tanganya dari Loe!" Pria bule itu mulai emosi karena Roy menganggu acaranya.
"Ck! Siapa gue? Loe mau tau, siapa gue? Hah!" Roy menarik Ulfa agar wanita pujaanya berada di belakangnya.
"Lepasin tangan Loe dari cewek gue!" Pria bule itu mulai cemburu melihat Ulfa yang berdiri di belakang Roy.
"Cewek loe? Ck! Heuh ...." Kesal Roy bertelak pinggang saat mendengar penuturan Pria bule yang ada di hadapannya.
"Dia calon ISTRI GUA!" teriak Roy yang mendorong Pria bule itu dengan kedua tanganya.
"Calon istri loe? Ul ...." Pria bule itu terkejut mendapat kenyataan pahit dan bertanya kepada Ulfa untuk meminta penjelasannya.
Bukan hanya pria bule yang terkejut dengan pernyataan dari Roy, tapi juga mampu membuat semua sahabat Ulfa terdiam tanpa berkata-kata.
"Gue kasih tau sama loe, jangan pernah bermimpi untuk merebut calon Istri gue!" Roy mengancam Pria bule itu dan langsung menarik tangan Ulfa untuk keluar dari restoran tersebut.
"Ul ...." ucap Pria bule.
"Ulfa! panggil Kim.
"Tungguin kita, Ul ...." ucap Senja
"Dah, janga di kejar! Biar Ulfa selesaikan dulu masalahnya," ucap Panda yang melihat Ulfa di tarik paksa oleh Roy.
"Loe gila ya, Roy!" Ulfa mengehempaskan tanganya dengan kecang dari genggaman Roy saat mereka sudah berada di halaman parkir mobil di luar pantai.
"Ya ... Gue gila karena, loe!" Roy membuka pintu dan memaksa Ulfa untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Sarav, Loe!" Ulfa memilih meninggalkan pemuda yang sedang terbakar api cemburu.
"Lepasin, Roy!" teriak Ulfa yang berusaha melepaskan genggamannya dari tangan Roy.
"Gak akan!" Roy masih memaksa Ulfa untuk bisa masuk ke dalam mobilnya.
Plak!
__ADS_1
Tamparan keras mendarat di pipi nya Roy.
"Itu buat, Loe ... Yang udah ngaku-ngaku jadi calon Suami gue!" Ulfa yang lepas kendali oleh sikap Roy.
Buugh!
Dorongan keras dari tubuh Ulfa hingga punggungnya menabrak samping mobil, tidak menyia-nyiakan kesempatan Roy mengunci Ulfa dalam kungkunganya, Kedua mata mereka saling bertemu dan saling melempar tatapan tajam.
Perlahan wajahnya mendekat ke arah bibir ranum milik wanita idamannya, namun Ulfa memalingkan wajahnya ke arah samping sambil meneteskan air mata.
"Astagfirullah!" Roy melepaskan kungkunganya dan segera menjauhkan tubuhnya dari Ulfa.
"Maaf!" Roy menyadari kekhilafannya terhadap Ulfa.
"Egois!" Ulfa menatap tajam ke arah Roy dan mendorong tubuh Roy agar menjauh darinya saat Roy ingin memeluk Ulfa.
"Tunggu, Ulfa!" Roy mengehentikan langkah wanita pujaan hatinya agar tidak pergi dari dirinya.
"Apa lagi? Mending urus aja cerita Affair kamu dengan madu Bos kamu!" Ulfa menepis tangan Roy.
"Kamu cemburu?" Roy memasang senyuman yang lebar di wajahnya ketika melihat wanita idamannya salah paham dengan dirinya dan juga Nabila.
"Ulfa, maaf kalau sudah membuat mu salah paham. Aku sama Nabila hanya teman! Just Friend, gak lebih!" perkataan Roy mampu menghentikan langkah Ulfa.
"Ternyata memang benar ya ... Semua jantan tuh sama!" Ulfa membalikan badanya dan menekan jari telujuknya di dada bidang Roy.
"Maksudnya?"
"Masih gak sadar juga? Dengar ya ... Kamu sama Bos kamu itu, sama! Bilangnya hanya teman, tapi ...." Ulfa memasang wajah yang mengejek.
Roy begitu geram dengan perkataan Ulfa untuknya, ingin rasanya saat ini juga menerkam Ulfa dengan hujaman ciuman di bibir ranum milik sang pujaan hati yang sudah menyamakan dia dengan lelaki lain.
"Astagfirullah, demi Tuhan Ul ... Aku sama Nabila hanya teman! Gak ...." ucapan Roy terpotong oleh Ulfa.
"Stop! I don't want to hear, oke!" Ulfa yang menutup kupingnya.
"Please, percaya sama aku! Apa aku harus membuktikannya, iya? Supaya kamu percaya sama aku?"
"Because you are the woman I love! Please, kasih aku waktu untuk membuktikannya Ulfa!" Roy memasang wajah memelasnya.
"Maaf Roy," ucap Ulfa
"Maaf, mungkin sekarang bukan waktu yang tepat. Tapi saat waktu itu tiba, aku akan jujur sama kamu." Ulfa berlari meninggalkan Roy yang masih belum mengerti maksud semua perkataan Ulfa.
"Ulfa!" Roy mencoba mengejarnya, namun panggilan masuk ke ponselnya mengurungkan niatnya untuk mengejar sang pujaan hati.
"Hallo, ada apa?" ucap Roy seraya mengangkat panggilan telepon.
"Ya sudah tunggu, saya! Saya segera kesana!" ucap Roy mematikan ponselnya saat selesai berbicara.
_________
Malam harinya.
Setelah Dokter menjelaskan semuanya kepada Aini tentang kondisi Ammar, Dokter menyarankan agar Aini harus berada di samping Ammar selama proses pemulihan.
"Mas, nanti kalau Ibu dan Mba Nabila sudah datang, Aini pamit pulang ya ...." Aini mengupas buah apel kesukaan Ammar.
"Boleh, Mas ikut?" Ammar enggan untuk di tinggal oleh Aini.
"Mas Ammar kan belum di izinin sama Dokter untuk pulang!" Aini memotong buat apelnya.
"Aini?"
"Hmm?" jawab Aini yang masih terfokus memotong buah apelnya.
"Apa kamu masih marah sama, Mas?"
"Marah kenapa?"
__ADS_1
"Jangan pernah tinggalkan Mas lagi, ya!" Ammar mengengam tangan Aini.
"Sudah, nih ... Makan dulu apelnya!" Aini memberikan sepotong buah apel yang sudah di kupas ke dalam mulut Ammar.
Setiap perkataan yang ingin Ammar bahas tentang dirinya, dan juga Nabila. Pasti Aini memilih untuk mengganti topik pembicaraan, dan Ammar tahu itu.
Beberapa menit kemudian.
"Assalamualaikum? Ammar? Ma sya allah, Alhamdulillah ... Kamu sudah sadar, Nak!" Ainun baru saja datang bersama Nabila langsung memeluk Ammar dengan perasaan terharu.
"Alhamdulillah, Bu!" Aini menjawab pertanyaan Ainun.
"Assalamualaikum, Bang." Nabila mencium tangan Ammar dan menyapa Aini dengan senyuman.
"Waalaikumussalam," jawab salam Ammar.
"Ma sya allah, calon cucu nenek, nenek kangen sama kalian." Ainun yang mendekati Aini dengan memegang perut Aini yang sudah membesar.
"Apa kata, Dokter?" Ainun mengajak Aini untuk duduk di sofa.
"Alhamdulillah, bayinya sehat bu, cewek cowok," kali ini Ammar yang menjawab pertanyaan Ainun.
"Alhamdulillah, boleh Ibu pagang?" tanya Ainun.
Aini menarik tangan mertuanya dan meletakan tanganya ke atas perut Aini.
"Bulan apa kata, Dokter?"
"In sya allah dua bulan lagi, Bu!" jawab Ammar. Aini hanya tersenyum melihat tingkah Ammar yang selalu menjawab pertanyaan dari Ainun.
"Sudah, makan?" Ainun yang bertanya lagi kepada Aini namun lagi-lagi Ammar yang menjawabnya.
Melihat kehangatan yang terjalin di antara Ammar, Aini dan juga Ibu mertuanya membuat goresan di dalam hatinya begitu perih, tanpa terasa Aini melihat airmata yang keluar dari sudut mata Nabila.
"Bu, Aini pamit dulu ya, sudah malam! Kasian Pak Bejo sudah menunggu di bawah." Aini yang mengerti posisi Nabila hanya bisa menghindar dari situasi yang tidak di inginkannya.
"Kamu tinggal di mana sekarang?" tanya Ainun.
Aini merasa ragu untuk menjawabnya, entah alesan apa yang membuatnya enggan untuk menjawab pertanyaan dari mertuanya. Tapi, keberuntungan ada di pihak Aini, karena ponsel Aini berdering, ada sedikit rasa lega ketika ada panggilan masuk di ponselnya karena bisa mengindari pertanyaan Ibu mertuanya.
Aini meminta izin untuk menjawab panggilan yang masuk ke ponselnya. dan berhasil membuat Ammar penasaran dengan seorang yang menghubungi istrinya.
"Bu, maaf ya! Aini pamit dulu, in sya allah besok pagi Aini ke sini lagi." Aini yang berdiri dan mencium tangan Ainun lalu menghampiri Ammar yang sudah memsang wajah cemburunya.
"Mas, Aini pamit dulu ya." Aini mencium tangan Ammar, namun Ammar menggengam tangan Aini.
"Biar, Roy yang mengantarnya sampai di bawah!
"Iya," jawab Aini yang tidak ingin melukai perasaan suaminya.
"Ingat langsung telepon Mas bila sudah sampai!" perintah Ammar.
"Iya," ucap Aini.
"Jaga Umi ya ... Kalau Umi nakal kasih tau Abi ya. Maaf Abi belum bisa bobo bareng sama kalian ... Hati-hati di jalan ya" Ammar mengusap lalu mencium perut Aini dengan lembut.
"Ya, Abi!" Aini membalas celotehan Ammar pada anak-anaknya.
"Mba, Aini pamit dulu ya, Assalamualaikum." Aini memeluk Nabila dan mulai berjalan ke arah pintu.
"Silahkan, Nyonya!" Roy membukakan pintu untuk Aini lalu menutu pintunya.
"Ernata!" panggil seseorang kepada Aini saat sudah berada di luar kamar inap Ammar.
Bersambung...
Terimakasih author ucapkan untuk kalian yang sudah meluangkan waktu untuk membaca kisah Aini... author tunggu like, komen, vote dan hadiahnya ya...
Jangan lupa mampir juga ya... ke cerita Author yang terkece satu ini... cerita nya romantis banget lohh...
__ADS_1