
Seminggu kemudian.
Setelah mendapat perawatan di rumah sakit selama hampir dua minggu, kini Ammar sudah di perbolehkan pulang oleh Dokter dengan catatan, Ammar harus melakukan chek up rutin selama dua kali dalam sebulan di bulan pertama, selebihnya sebulan sekali di bulan berikutnya.
Berkat dukungan dari keluarganya, Ammar bisa melawati fase-fase di masa sulitnya, terutama Aini yang selalu setia mendampingi suaminya saat Robbet sudah mengizinkan Aini untuk bisa kembali bersama Ammar.
Sepulangnya Ammar dari rumah sakit, mereka berdua memutuskan untuk tinggal sementara di Kota tersebut karena kehamilan Aini yang sudah masuk trimester terakhir dan juga kondisi Ammar untuk melakukan chek up rutin selama beberapa bulan kedepan.
"Sayang ... Kamu di mana?Aini?" Ammar mencari Aini di kamar mereka mengunakan kursi roda otomatis.
"Sayang?" Ammar mengetuk pintu kamar mandinya berharap Aini ada di dalamnya.
"Aini!" teriak Ammar sedikit mengeras karena panik Aini tidak menjawab panggilan darinya.
Ceklek!
"Ya ampun, Mas! Ada apa?" Aini keluar dari kamar mandi dengan kesal.
Glek!
"Ehhemm!" Ammar berdeham pelan untuk menelan slevinanya yang susah.
"Tuh kan, malah bengong!" Aini menggerakan tanganya di wajah Ammar
"Mas pikir ... Tadi ... Ka-kamu gak ada di dalam. " Ammar sedikit gugup saat melihat Aini keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya yang begitu aduhai saat hamil tua.
"Ya ampun, Mas ... Kirain ada apa!" Aini melangkahkan kakinya ke arah lemari pakaian.
"Mau kemana?" Ammar langsung menangkap tangan Aini sebelum menjauh dari dirinya.
"Mau pakai baju, Mas." Aini menggoda Ammar dengan mencolek hidung mancung suaminya.
"Duduk dulu!" perintah Ammar tertawa saat dirinya di goda oleh istrinya.
"Dingin," ucap Aini dengan manja.
"Sebentar!" Ammar yang sudah kualahan memahan hawa napsunya.
Aini hanya pasrah menuruti perintah dari suaminya, untuk duduk di pinggir tempat tidur. Sedangkan Ammar duduk di kursi rodanya menghadap Aini.
"Kenapa sih! Masih megangin anduknya aja?" Ammar protes dengan sikap Aini.
"Takut lepas, Mas!" jawab Aini dengan jujur.
"Ya, kalau lepas biarin aja!" kesal Ammar saat mendengar jawaban dari Istrinya.
"Malu!" jawab Aini tertunduk menyembunyikan wajahnya yang sudah merona.
"Malu kenapa?" Ammar mengerutkan keningnya.
"Genn ... Duutt ...." jawab Aini dengan sangat pelan yang masih terdengar oleh Ammar.
Mendengar jawaban yang terlontar dari bibir ranum milik istrinya, berhasil buat Ammar tertawa terbahak-bahak, membuat Aini tambah kesal dengan sikap suaminya.
"Tuh, kan ... Malah di ketawain! Dah akh, Aini mau pakai baju!" Aini mulai merajuk ketika Ammar tidak berhenti untuk tertawa.
"Eh, iya. Gak, gak, gak! Abisnya lucu, bikin gemes tau gak?" Ammar mencubit pipi Aini yang terlihat chubby.
"Iii ... Iihh, sakit!" Aini menepis tangan kiri Ammar saat pipinya di cubit dengan gemas.
__ADS_1
Cup
Ammar mendaratkan bibirnya dengan perlahan di bibir ranum milik istrinya.
"Mas, kangen!" ucap Ammar saat keningnya berdekatan dengan kening istrinya.
"Sabar!" suara Aini dengan pelan sambil mengusap pipi Ammar.
"Gak, kuat!" Ammar menghirup aroma tengkuk leher Aini dengan sangat dalam.
"Terus?" tanya Aini, sebenarnya dia juga menginginkannya.
"Lanjutin!" Ammar menyesap kuat di bagian dada Aini.
"Aahh!" leguhan lolos dari bibir Aini saat dirinya mendapat sengatan dari bibir Ammar.
Tok, tok, tok!
"Bos, jadwal metting dengan klien jangan lupa! Lima menit lagi!" Roy yang sudah menunggu Ammar di ruang kerja begitu lama akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Bosnya.
"Mas, udah!" Aini menjauhkan wajah Ammar yang masih asik menyesap benda kenyal milik istrinya.
Tok. tok. tok!
"Bos!" teriak Roy mengulang kembali saat tidak mendapat jawaban dari Bosnya.
"Mas!" Aini sedikit kesal karena suaminya tidak mengubrisnya.
"Astagfirullah!" ada rasa sedikit kecewa di hati Ammar saat serangga pengganggu datang di waktu yang tidak tepat.
"Sudah, kerja dulu!" Aini menahan tawanya saat melihat wajah Ammar yang sudah menahan gelora asmaranya.
"Semangat ya, Mas!" Aini mencium pipi Ammar.
"Makasih ya, sayang," ucap Ammar tersenyum lalu meninggalkan Aini yang masih berbalut handuk.
Ceklek!
"Ngapain sih? Teriak-teriak segala!" Ammar memutar badan Roy dengan cepat, agar tidak bisa mengintip dari balik cela pintu.
"Metting, Bos!" ucap Roy yang mengambil ahli mendorong kursi roda Ammar.
"Sudah kamu siapkan bahan nya?" Ammar mulai memasang wajah penuh pesona di layar monitor meja kerjanya.
"Ini, Bos!" Roy menyerahkan sebuah dokumen di atas meja kerja Ammar.
"Ok, kita mulai mettingnya. Bismillah ...." Ammar mengaktifkan sambungannya melalui monitor yang ada di hadapanya.
__________
Sebulan berlalu.
Ammar dan Aini menikmati layaknya seorang sepasang kekasih yang penuh kasmaran, semenjak Nabila sudah merelakan Ammar sepenuhnya untuk Aini. Kini Ammar sangat bahagia tanpa beban di hatinya.
Aini yang setiap hari di bantu oleh Sarah, asisten pribadinya. Sedangkan Roy yang selalu setia, siap siaga membantu bosnya selama dua puluh empat jam.
"Sarah!" panggil Aini saat berada di taman belakang.
"Iya, Non!" ucap Sarah mendekat ke arah Aini yang sedang fokus membaca beberapa surat yang berada di tanganya.
__ADS_1
"Tolong kamu kasih surat-surat ini sama Roy!" Aini yang menyerahkan sebagian surat ke Sarah.
"Baik. Non!" Sarah menerima surat dari tangan Aini lalu bergegas ke ruang kerja Ammar.
Deg.
Jantung sarah berdebar saat ingin menyerahkan surat-surat yang ada di tangannya kepada Roy, sang pria idaman Sarah selama kurang dari dua bulan.
Selama Sarah bekerja dengan Aini yang terus berdekatan dengan Roy, membuat hati seorang Sarah yang terkesan cewek tomboi dan pintar bela diri, menjadi meleleh saat terus-menerus berekatan dengan Roy.
"Ehehm! Bos?" ucap Roy yang gugup saat memberanikan diri untuk menagih hutang janji bosnya.
"Kenapa, Roy? Minum kalau keselak ludah mah!" Ammar masih sibuk dengan berkas-berkas yang ada di hadapannya.
"Ini, Bos ... Hmm ... Anu ... Itu ...." Roy sangat gugup ketika ingin mengatakan sesuatu kepada Ammar.
"Anu, itu, anu, itu ... Anu mu kenapa? Kebelet nikah?"
"Si Bos bener aja! Eh ... Bukan, maksud saya. Bukan anu saya Bos, maksud nya saya Nya!" Roy tertawa malu di depan Ammar.
"Ya sudah, kalau kamu memang mau menikah. Kenapa harus lapor ke saya?" Ammar masih belum paham maksud perkataan Roy.
"Kan, Bos sendiri yang janji sama saya!" Roy mulai terpancing kesal dengan Bosnya.
"Oh, jadi ceritanya ... Kamu nagih utang sama saya?" Ammar menutup dokumennya dan langsung terfokus dengan ucapan Roy.
"Bukan, maksud saya ...."
"Ya saya ngerti! Emangnya Ulfa mau sama kamu?" pertanyaan Ammar langsung kena di hati Roy.
"Astagfiruah, Bos. Ngena banget ini!" ucap Roy to the poin.
"Nih!" Ammar menyerahkan satu dokumen yang berisikan tentang pemberian saham sebesar dua puluh lima persen kepada Roy.
"Apa ini, Bos?" Roy tidak mengerti dengan Bosnya yang menyerahkan sebuah dokumen kepada dirinya.
"Baca aja!" perintah Ammar ke pada Roy.
Roy membaca secara perlahan setiap bait tulisan yang tertera di kertas putih tersebut, di mana dia melihat dua puluh lima persen saham yang ada di kota X telah Ammar berikan kepada Roy sebagai pihak kedua.
Ternyata Ammar tidak main-main dengan perkataanya, justru menambahkan lima persen dari kesepakatan awalnya.
"Astagfirullah, Bos. Ini serius? Dua puluh lima persen?" Roy tanpak tidak mempercayainya
"Of course! " Ammar dengan imagenya sebagai atasan dengan lantang mengucapkan keyakinannya.
"Alhamdulillah, terima kasih. Bos!" Roy yang begitu senang mendengar ucapan dari Bosnya langsung memeluk dan menciumi wajah Ammar dengan semangat.
"Aauuuhh ... Roy sakit! Gila kamu ya?" Ammar meringis kesakitan saat Roy memeluknya dengan erat.
"Astafirullah, maaf Bos! Lupa saya!" Roy tersadar dari kesalahannya.
Bersambung...
Wah sepertinya jadi nih si Roy melamar Ulfa.. kira-kira berjodoh gak ya??? Gimana? setuju gak kalian? Kalau setuju komen di bawah ya...
Oh iya, author mau rekomen cerita yang asik dan seru loh! Mampir yuk di karya author yang baik hati ini...
__ADS_1