Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab 113. Awal Kehidupan Baru


__ADS_3

Pagi hari.


Sebuah apartment yang begitu gelap dan sunyi, hanya pantulan sinar matahari yang masuk ke dalam melalui cela-cela jendela.


Suara kicauan burung yang begitu merdu dari luar, mengisi suara yang sunyi di dalam apartment milik seorang pria yang tengah tertidur lelap memeluk seorang wanita remaja yang begitu cantik dan mempesona.


Saat suara burung mulai mengusik tidurnya yang nyenyak, dia mulai tersadar dari sisa kantuknya yang begitu berat di sertai rasa sakit di kepalanya efek dari mabuk semalam.


"Euhh, aauh ...." Keluh Roy saat tanganya menyetuh kening yang begitu berat untuk memulihkan kesadaran.


Bugh


Jari lentik seorang wanita yang berada di dalam dekapan Roy jatuh tepat disasaran pusat pusaka sang empu. Roy yang mendapat serangan mendadak langsung membulatkan bola matanya dan melihat ke arah bagian perut bawahnya.


Benar saja saat Roy melihat sesuatu yang sedang mengelitik di area pusaka miliknya, saat itu juga pusaka milik Roy langsung berkembang.


"Astagfirullah!" teriak Roy yang bangun dari tidurnya dan mendorong gadis cantik itu sampai terjatuh ke lantai.


"Aduuhh!" suara keluhan gadis itu yang terjatuh di dorong oleh Roy.


"Siapa loe? Ngapain loe di sini?" bentak Roy saat kesadaranya kembali Full.


"Emang dasar ya ... bukanya berterima kasih, malah di giniin," protes gadis belia tersebut.


"Berterima kasih apaan? Loe perkaos gue ya? Gak nyangka, kecil-kecil udah doyan ama batang!" refleks tangan Roy menutupi pusakanya dengan bantal.


"Eh, jangan asal nuduh loe! Sembarang ... masih untung gue tolongin, kalau tau begini mendingan gue tinggalin aja sama gigolo semalam." Gadis remaja itu mulai bangun dari jatuhnya.


"Ck! Dari omongan loe aja gak sopan sama gue, dah sono ngapain masih disini! Di cariin emak loe lagi!" tanpa rasa bersalah Roy mengusir gadis remaja itu.


"Cue! Sial banget gue ketemu sama om-om gaje gak tau di untung!" Gadis itu membalikan badanya hendak meninggalkan ruang tidur walaupun dirinya masih merasakan sakit di pinggang akibat jatuh di dorong oleh Roy.


"Eh, ngomong apa loe barusan?" teriak Roy menarik tangan si gadis hingga terjatuh kepelukan si Roy.


Sejenak kedua mata mereka saling menangkap sirat satu sama lain, membuat sang pusaka Roy tambah mengembang akibat tanganya menangkap benda empuk selembut sutera agar tidak menimpa dirinya.


"Akkkhhh!" teriak sang gadis saat merasakan buahnya di ramas oleh Roy.


Plak!


Gadis itu langsung berdiri kembali dan menampar pipi Roy dengan keras, sontak Roy langsung memegang pipinya yang terasa perih akibat gamparan dari gadis belia.


"Rasain, dasar pedopiil!" makian dari gadis itu keluar untuk Roy.


Tidak terima dirinya di maki oleh gadis belia tersebut. Roy langsung mengejarnya dan mendorong gadis remaja tersebut hingga mentok ke dinding.


"Apa loe bilang barusan!" Roy mengukung gadis tersebut begitu dekat.


"Pedopiil ... om itu sudah melakukan pelesehan ceksual! Awas!" Gadis itu mendorong Roy dengan sangat kuat, hingga akhirnya Roy terjatuh.

__ADS_1


Efek sisa pengaruh dari minuman haram yang dia tenggak semalam sehingga membuat Roy kehilangan keseimbangan dan menarik tangan gadis itu agar tidak jatuh, tapi sayangnya karena Roy lebih berat sehingga gadis cantik itu terseret oleh Roy dan jatuh bersama.


Bugh


"Aduh, sakiit!" keluh sang gadis kesakitan kerena jatuh untuk kedua kalinya tepat di samping Roy.


Gadis itu berusahan untuk bangun mengunakan kedua tanganya untuk duduk, namun pijakan tanganya untuk menopang badanya berada di atas benda pusaka milik Roy.


Mendapat tekanan yang tak terduka dari tangan si gadis. Roy menyadari sang adik terlalu aktif bila berdekatan dengan gadis remaja itu.


"O-o-om, itu, itu, itu." Gadis itu seketika menjadi gagap saat tangannya tanpa sengaja menangkap ulat keket dengan versi jumbo.


"Keluar!" teriak Roy saat dirinya merasa malu.


"Gue bilang keluar, keluar!" Roy mengulangi perkataanya dengan kencang.


Mendengar dirinya di usir secara kasar dari pria mabuk yang dia selamatkan, gadis itu meneteskan air matanya ketika mendapat bentakan dari Roy lalu berjalan keluar dari apartment milik Roy.


Melihat air mata si gadis keluar dari sudut matanya, membuat Roy merasa bersalah dan ingin mengejarnya, tapi pada saat Roy ingin bangun dari tampatnya, ponselnya mendapat pesan dari atasannya


 --------


Dua bulan kemudian.


Setelah masa nifas Aini selesai dan kondisi Ammar mulai membaik, mereka akhirnya memutuskan untuk kembali ke kota asal mereka, begitu juga dengan Roy yang mencoba untuk melupakan kekasih pujaan hatinya.


"Mas, kapan Mba Nabila akan tinggal bersama kita lagi?" tanya Aini kepada suaminya.


"Apa kamu mengerti? Maaf selama ini, Mas gak bisa adil sama kamu! Mas harap kamu bisa menghargai keputus Mas dengan Nabila, sayang!" Ammar menatap kedua bola mata Aini dengan penuh keyakinan.


"Apa semua ini karena aku, Mas?" Aini merasa bersalah atas perceraian Ammar dan juga Nabila.


"Gak, sayang! Sama sekali, bukan karena kamu, sudah ... jangan terlalu di pikirkan. Lebih baik kita sama-sama fokus untuk rumah tangga kita, ya ... ok!" pinta Ammar yang di anggukan oleh Aini.


"Pintar, ya sudah sekarang kita tidur, istirahat yang cukup!" pinta Ammar kepada istrinya untuk menurut.


 


Keesokan paginya.


Hari pertama Aini menjalankan sebagai seorang istri yang sudah lengkap karena kehadiran sang buah hati, membuat dirinya merasa senang.


Melakukan tugasnya begitu semangat, menyiapkan sarapan, mengurus kedua bayinya, menyiapkan segala keperluan Ammar untuk berangkat ke kantor.


Semua begitu sempurna untuk Aini rasakan saat ini, karena sebelumnya. Aini belum pernah di kasih kesempatan untuk melayani suaminya untuk mengurus segala keperluan Ammar, semua itu selalu Nabila yang mengurus dengan sempurna.


Sampai Aini tidak di beri kesempatan untuk mengurus suaminya, Aini merasa seperti dirinya hanya mampu melayani kebutuhan biologis suaminya saja di atas ranjang.


"Jangan terlalu cape, Ndo!" ucap sang mertua yang ikut makan bersama di meja makan.

__ADS_1


"Gak apa-apa, Bu." Aini menjawab dengan senyuman.


"Mas, mau nambah nasinya?" Aini menawarkan dengan raut wajah yang begitu senang.


"Boleh," ucap Ammar semangat.


Ammar menikmati setiap pelayanan yang Aini berikan untuk dirinya, sangat berbeda dengan pelayanan yang di berikan oleh Nabila dulu.


Seusai sarapan. Ammar pamit untuk berangkat ke kantor bersama Roy asistennya, walaupun kondisi Ammar sudah membaik di bagian tangan kanannya tapi luka dan patah pada bagian kakinya masih belum bisa untuk di gunakan berjalan dengan sempurna, sehingga masih menggunakan kursi roda untuk membantunya berjalan lebih cepat.


"Semangat untuk suami ku, mencari rezekinya!" Aini mencium tangan Ammar.


"Terima kasi doanya, sayang!" ucap Ammar.


"Ganteng dan Cantik, Abi berangkat kerja dulu ya, jangan nakal di rumah!" Ammar mencium ke dua bayi kembarnya yang berada di dalam stroller.


"Hati-hati, Abi di jalan." Aini menirukan suara anaknya untuk menjawab ucapan Ammar.


"Ehemm!" deheman Ammar untuk menyadarkan istrinya.


"Apa?" tanya Aini kebingungan mengartikan maksud dari sang suami.


"Kiss goodbye." Ammar menunjuk ke arah pipinya.


"Dah, buruan ... berangkat kerja! Malu di liatin Jones(Jomblo Ngenes)," ucap Aini melirik ke arah Roy.


"Roy!" teriak Ammar yang memerintahkan untuk membalik badan.


"Sadar diri saya mah!" Roy membalikan badannya ke arah mobil.


Ammar menarik baju Aini untuk menunduk dan langsung mencium bibir istrinya di balik cadar.


"I love you," ucap Ammar saat melepaskan pangutan ciumannya.


"I love you to." Aini mencium pipi Ammar.


Bersambung...


Akhirnya bisa Up juga. oh iya ada yang nunggu giveaway kecil-kecilan dari author gak ya?


langsung aja ya, author kasih bocoran hadiahnya.


Pemenang I : 100k berupa pulsa atau transfer.


Pemenang II : 50k pulsa


Pemenang III : 25k pulsa


Ini sebagian hadiah kecil untuk kalian yang masih setia dan sudah mendukung karya author. hayoo buruan Vote, like, komen dan gift untuk kisah Aini. pengumuman pemenangnya di akhir ceritanya...

__ADS_1


Terima kasih😘


__ADS_2