Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab. 153. Bertemu Naura


__ADS_3

Hari persidangan telah di mulai, semua sudah Aini siapkan dengan matang, Rahman percaya bila Aini pasti bisa melakukannya dengan baik.


"Bismilah!" ucap Aini dalam hati.


Perlahan tersangka mulai masuk dan pada saat hakim memberikan kesempatan Aini untuk bicara, Aini pun mulai menjalankan tugasnya sebagai pengacara dengan baik, setiap kalimat yang Aini sampaikan langsung memberikan skak mat, pada tersangka.


Pengacara yang berada di pihak tersangka pun tidak mau kalah untuk melindungi orang tesebut, tapi bukan Aini namanya bila tidak mengatasinya dengan mudah.


Hingga pada akhirnya, hakim memutuskan untuk memberikan hukuman pada tersangka dengan pasal berlapis, suara ketukan Hakim membuktikan bahwa persidangan kali ini Aini bisa memenangkan dengan mudah.


Suara sorak dari orang-orang yang ada di dalam sidang pun begitu ramai dengan keputusan Hakim, sebagian orang-orang dari pihak tersangka tidak terima bila orang yang mereka sayang terkena pasal berlapis dan mendapat hukuman yang paling berat.


Setelah sidang telah ditutup, Aini pun keluar bersama Rahman dengan kemenangan yang yang mereka bawa, Rahman pun mengajak Aini untuk makan siang bersama.


"Hayolah, ini sebagai bentuk antara Bos mengucapkan rasa terima kasih terhadap karyawannya!" ajak Rahman.


Aini pun mengangguk dan menyetujuhi ajakan Rahman, kali ini dia mencoba memberikan kepercayaan pada bosnya. Dia pun masuk ke dalam mobil duduk di belakang.


Begitu sampai di restoran mereka memilih menu dan selagi menunggu Rahman menyuruh baby sister Naura untuk mendekat ke arah mereka semua. Ya, ternyata Rahman sudah merencanakan ini dari jauh-jauh hari untuk memperkenalkan Naura pada ibu barunya.

__ADS_1


"Ayah!" panggil Naura yang berlari mendekat ke arah Rahman.


"Loh, Naura? Kamu bisa di sini?" tanya Rahman yang berpura-pura menanyakan pada sang anak di depan Aini.


"Tadi, Bik Fany mau mengajak Naura makan di luar, Ayah juga makan di sini? Ini siapa?" tanya Naura yang berusia enam tahun.


"Ini—"


"Bunda?" ucap Naura yang langsung memeluk Aini ketika Naura menganggap wanita yang ada di hadapannya adalah ibunya, karena Rahman pernah berjanji kepada Naura akan mengajak Bunda Naura untuk bertemu dengan Naura di restoran yang sering mereka kunjungi berdua.


Sontak saja, Aini menjadi terkejut dengan ucapan dari anak Rahman, dia tidak bisa berkata apa-apa, bahkan membalas pelukan dari anak kecil yang tidak berdosa itu ragu-ragu Aini membalas pelukannya.


"Hai, namanya siapa?" Aini melepaskan pelukan dari malaikat kecil tanpa bersayap itu.


"Bunda, aku Naura, apa bunda lupa sama aku? Aku kangen sekali sama Bunda!" Naura tersenyum lalu memeluk Aini kembali.


Aini menarik napas panjangnya yang kemudian dia mencoba berkata jujur dengan Naura. "Naura sayang ... Naura kangen ya, sama Bunda Naura?" tanya Aini dan di anggukan oleh anak kecil Itu. "Tapi Naura salah orang! Tante bukan Bunda Naura!"


Aini mencoba menjelaskan secara lembut pada Naura, tapi ternyata ucapan jujur Aini membuat Naura sedih, anak kecil itu pun menangis di depan Aini lalu beralih ke arah Rahman.

__ADS_1


"Ayah bohong! Katanya akan bawa Bunda, tapi saat Naura bertemu Bunda, Bunda bilang bukan Bunda Naura!" Tangisan Naura semakin kencang saat berada di pelukan Rahman, sedangkan baby sister Naura yang sudah memasuki usia lanjut hanya bisa menyuruh Naura untuk ikut dengannya. Namun, Naura tetap merengek berada di pelukan Naura.


Semua pengunjung yang ada di restoran tersebut melihat ke arah sumber di mana menjadi pusat perhatian mereka, Rahman tidak bisa berbuat apa-apa dia hanya mengucapakan kata maaf kepada Naura.


"Naura, ayah janji akan bawa Bunda bertemu dengan Naura, tapi tidak sekarang!" Rahman memberikan pengertian pada Naura tapi tetap saja anak itu masih menangis merindukan ibunya.


Merasa iba melihat anak kecil yang merindukan sosok ibu, Aini merasa dia terlalu kejam kepada Naura. Dia pun berdiri dan mendekat ke arah Naura yang sedang menangis di pelukan Rahman.


"Naura sayang, sini sama Tante yuk! Maaf ya, kalau Tante buat kamu nangis! Tapi ... kalau Naura mau panggil Tante Aini, Bunda ... juga tidak apa-apa!" Aini mengelus rambut Naura agar anak kecil itu terdiam.


Usaha Aini untuk membuat Naura terdiam pun akhirnya berhasil, Naura meminta untuk digendong oleh Aini. Dia pun memeluk Aini dengan erat.


"Naura kangen sama Bunda! Bunda jangan pergi-pergi lagi ya," ucap Naura yang masih menangis dalam pelukan Aini.


Aini yang mendengar ucapan dari anak itu sesaat hanya terdiam sembari melihat ke arah Rahman dan juga pengunjung restoran tersebut.


Bersambung...


Hai sobat readers mohon maap ya, bila up-nya lama, ih ya jangan lupa mampir ya ke karya ke dua Author Kesayangan Sang Pewaris.

__ADS_1



__ADS_2