
"Itulah, alasan kenapa Bunda Ismi selalu memanjakan Aini dengan harta karena dia mengetahui masalah tentang kecelakaan itu!" ucap Ammar, dia melihat Robert dengan emosi yang meledak-ledak.
"Dan juga... salah satu nya ingin memaksa Aini untuk menjadi menantunya, karena gagal saat Aini dijodohkan dengan Rey, sehingga dia membantu Rahman anak pertama yang dia tidak anggap kini membantunya mendapatkan Aini sebagai menantunya." Amar meraih tangan Aini usahakan menunjukkan kepada Ainun dan juga Robert bawah dia tidak mau kehilangan sosok wanita yang dia cintai.
"Tapi, kenapa seperti itu? Toh Aini juga sudah diangkat sebagai anaknya! Kenapa bunda sampai tega seperti itu? Aini benar-benar tidak menyangka sama Bunda Ismi," ucap Aini.
"Ibu tidak setuju, Ibu akan melaporkan pada polisi atas apa yang Ismi lakukan!"
"Aku setuju!" ucap Robert.
Aini pun hanya terdiam mendengar pernyataan dari ibu mertuanya dan juga ayahnya bila mereka ingin melaporkan Bunda Ismi, dia melihat ke arah Ammar yang seakan memberikan isyarat padanya untuk tidak terlalu mencemaskan.
***
Rumah kediaman Ghazali, begitu ramai dengan suara Isak tangis dari Ismi yang memohon ampun pada sang suami bila ternyata selama ini sudah membohonginya, padahal Ghazali akan menerima Rahman sebagai anaknya dan mau memaafkan kesalahan ismi bila istrinya tersebut mau berkata jujur.
Reyzal untuk mendengar apa yang telah diperbuat oleh ibundanya merasa kecewa, jadi selama ini kecurigaannya dan selalu membela dan mengutamakan Rahman terjawab sudah bila dia adalah adik dari kakak yang dia tidak suka.
"Ayah, Please Maafkan Bunda!" rengek Ismi ketika polisi datang membawa surat penangkapan Ismi atas tuduhan penculikan.
"Ayah sudah maafin, Bunda!" ucap Ghazali yang tidak bisa berbuat apa-apa saat penangkapan itu terjadi.
"Bunda nggak mau di penjara, Ayah! Bunda nggak mau!" Tangan Ismi di borgol oleh pihak kepolisian lantas membawanya untuk masuk ke dalam mobil. "Al ... tolongin, Bunda, Al ... Bunda nggak mau di penjara!"
Reyzal hanya terdiam saat melihat ibundanya menangis saat dibawa oleh pihak polisi, hatinya perih dan terluka tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya mungkin nanti membantunya membawa pengacara untuk meringankan hukuman sang ibunda.
***
Dua bulan telah berlalu, semenjak penangkapan Ismi dan juga Rahman yang masing-masing mendapatkan hukuman berbeda. Kini Amar kembali menjalankan hidupnya seperti biasa, menjalankan perusahaan Energi Abqori yang di bantu oleh Nabila.
Sementara Aini yang menjadi pengacara suaminya sebulan yang lalu, kini memilih untuk fokus mengurus Khanza dan juga Naura. Ya, Aini dan Ammar memutuskan untuk mengangkat Naura sebagai anak mereka, sedangkan kabar tentang anak kembar pertama mereka yang bernama Khan Zubair Abqori sampai saat ini belum ditemukan.
__ADS_1
Pihak kepolisian sudah menutup kasus hilangnya anak pertama mereka, hingga membuat Aini terpuruk dan jatuh sakit selama dua Minggu dirawat di rumah sakit. Namun, Ammar akan tetapi berusaha mencarinya sampai kapanpun bersama pasukan naga putihnya yang sekarang berpindah alih ketangannya.
"Umi, Naura sudah cantik belum?" tanya Naura dengan centil.
"Sudah di dong! Anak Umi kan semuanya cantik-cantik!" ucap Aini yang mencolek hidung Naura.
"Sudah siap?" Ammar masuk ke dalam kamar dan melihat ke arah Naura yang berlari ke arahnya.
"Abi!" teriak Naura yang langsung meloncat ke pelukan Ammar.
"Aaaduh ... cantiknya anak Abi! Sun, dulu dong!" Ammar langsung menggendong Naura dan menyodorkan pipinya agar mendapatkan ciuman dari Naura.
Naura dengan senang mencium semua wajah Ammar dengan kasih sayang seorang anak kecil pada Ayahnya, saat itu juga Khanza berlari memeluk kaki Ammar untuk minta di gendong. Ammar pun menggendong ke dua anaknya dan menciumnya satu persatu.
"Umi belum di cium, Bi!" ucap Naura yang diikuti oleh celetukan Khanza.
"Biih, ium ... Eumi!" Khanza menunjuk ke arah Aini yang menghampiri mereka dengan memamerkan delapan giginya yang berjajar rapih di depan.
"Ooh, Abi cium Umi? Oke dengan senang hati Abi cium Umi!" ucap Ammar yang mencium kening Aini di depan kedua anaknya yang dia gendong.
"Om?" panggil Aini dengan bahasa Prancis saat mereka sudah menuruni anak tangga.
"Ernata?" John langsung berdiri dan menghampiri Aini hendak memeluknya tetapi dihalangi oleh Ammar.
"Maaf, Om! Dia ... suami Aini, Ammar!" ucap Aini di belakang tubuh Ammar.
John pun tersenyum lantas memperkenalkan dirinya pada Ammar, dia juga menjelaskan niat dia baru nemuin Aini setelah kematian istrinya—Rose untuk meminta maaf selama dan dia juga ingin menyampaikan bila dia akan kembali ke Prancis.
Aini dengan sedang hati memaafkan atas semua yang diperbuat oleh John, Monica dan juga Rose. Setelah mengucapkan kata seperti itu mereka pun langsung bergegas untuk segera berangkat ke resepsi pernikahan Nabila dan juga Abizar.
***
__ADS_1
Pernikahan yang sangat meriah bagaikan negeri dongeng yang sesuai dengan impian Nabila selama ini, begitu banyak tamu penting yang menghadiri pesat pernikahan anak semata wayang pemilik hotel ternama.
Aini yang melangkah menggandeng tangan Naura, langsung naik ke atas panggung memberikan selamat pada mantan madunya.
"Aini ... ya ampun! Akhirnya kalian datang juga!" Nabila begitu senang melihat Aini datang bersama keluarga.
"Selamat ya, Mbak!" Aini membalas pelukan Nabila danberbisik, "Ciee ... brondong!"
"Aini!" Nabila terkekeh seraya mencubit pinggang Aini yang membuat keduanya tertawa.
"Selamat ya, Brother! Barakallahu lakum wa baraka alaikum!" Ammar memberikan jabat tangan dengan penuh gaya seraya memeluk pundaknya.
"Thanks, Bro! Sudah menjaga segelnya!" bisik Abizar di telinga Ammar.
Ammar tertawa dengan ucapan Abizar seraya membalas bisikan, "Hati-hati, Bro! Sekali main nggak bisa berhenti!"
"Tenang, dah siap tempur!" Mereka berdua tertawa di samping kedua istri mereka membuat keduanya curiga.
"Hayo kalian bahas apa? Dah ah, kita ke sana dulu ya, Mbak!" pamit Aini yang menarik Ammar.
Pada saat itu juga mereka bertemu dengan Roy dan juga Gabriel yang sudah tiba lebih dulu, mereka pun satu meja dengan mereka dan membahas yang membuat mereka tertawa bersama usai selesai makan.
Penuh kebahagiaan, di mana semua kembali ke kehidupan mereka masing-masing. Rey bahagia bersama istrinya Jasmine yang tengah mengandung, Roy bersamam Gabriel tengah mempersiapkan masa kelahiran untuk sang buah hati sedangkan Nabila mendapatkan brondong kaya.
Ya, semua tampak bahagia, begitu juga raut wajah Aini. Namun, Ammar bisa merasakannya saat malam telah tiba senyum itu pudar yang digantikan suara isakan tangis di setiap sepertiga malam untuk anak tercintanya yang entah berada di mana, sudah tidak ada atau masih hidup? Yang jelas di setiap malam Ammar selalu menemani Aini berdoa dalam sujud, waktu dan aamiin yang sama berharap Kun Fayakun itu ada untuk mereka.
TAMAT
Alhamdulillah akhirnya setelah sekian lama purnama bisa tamat juga ni karya pertama, maaf ya sobat readers kalau misalkan endingnya tidak sesuai dengan apa yang kalian harapkan atau kurang puas 🙏 author berharap tidak mengecewakan kalian.
Terima kasih bagi sobat readers yang sudah memberikan dukungan pada karena pertama author di tunggu ya hadiahnya untuk tiga orang yang teratas 🙏 love you !!!
__ADS_1
Yuuk mampir di cerita ke dua Author!!
"KESAYANGAN SANG PEWARIS"