Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab 124. Do you love me?


__ADS_3

"Ini salah! Seharusnya, dikalikan dulu ... baru dibagi!" Roy mengajarkan tugas sekolah kepada Gabriel tepat di belakang sang gadis.


Detak jantung yang tidak beraturan saat wangi tubuh Roy yang beraroma mint membuat Gabriel merasakan gugup bila berada di dekat Roy.


"Ini salah lagi, seharusnya seperti ini!" Roy memegang tangan Gabriel dan membantunya menulis di atas buku tugas Gabriel.


"Kok malah bengong?" Roy mencubit pipi Gabriel dengan gemas.


"Ish, abisnya, Om itu bikin aku susah untuk mikir tahu! Coba posisinya jangan kaya gini. Pasti juga udah langsung masuk ke otak, nih pelajaran." Gabriel memasang bibir yang cemberut.


Roy tertawa mendengar ocehan dari sang gadis, hal hasil membuat Roy menyambar bibir seksi milik Gabriel dengan bibirnya.


"Tapi, Om maunya seperti ini!" Roy mengusap bibir Gabriel yang basah menggunakan ibu jarinya.


"Omes!" ucap Gabriel yang menatap ke dua mata Roy begitu dekat.


"Apa tuh?" tanya Roy yang penasaran.


"Om-om, mesum," ujar Gabriel sambil tertawa.


"Eh, senang, ya?" Roy mengelitik perut Gabriel dengan manja.


"Ah iya, ampun, Om!" Gabriel tidak kuat menahan geli, akibat ulah Roy.


Kasih sayang dan perhatian yang Roy berikan kepada Gabriel, membuat Gabriel merasa nyaman dan hangat berada di samping Roy, karena selama ini. Gabriel tidak pernah merasakan kasih sayang dan perhatian dari sang Ayah maupun Kakaknya setelah ibunya telah tiada.


Nico yang menjadi kekasihnya selama hampir setahun begitu mencintai dan menyayangi Gabriel. Namun, keluarga Nico tidak menyetujuhi hubungan mereka karena status Gabriel yang sangat jelas di mata keluarga Nico.


Hingga suatu ketika, Gabriel mulai merasakan perubahan pada diri Nico, Gabriel menyelidiki sikap kekasihnya yang penuh dengan rahasia beberapa hari kebelakang, sampai akhirnya. Gabriel melihat Nico bersama Sisil berada di sebuah club malam sedang bermadu kasih asmara yang membuat Gabriel merasa sakit dan kecewa.


Gabriel yang mengetahui hubungan kekasih dan sahabatnya hanya bisa tersenyum pasrah dan mengikuti sandiwara yang mereka mainkan. Hingga pada akhirnya, Gabriel bertemu dengan sosok Pria yang membuat hidupnya merasa berarti.


"Ampun, Om!" Gabriel terus menghindar dari serangan Roy sambil tertawa senang, sampai akhirnya tanganya tidak sengaja menyentuh layar ponsel yang sedang terhubung dengan Nico.


"Hallo. Gab?" suara Nico begitu jelas tersambung pada ponsel Gabriel.


"Gab!" teriak Nico.


"Ah, iya hallo, Nic?" Gabriel langsung memberikan kode kepada Roy agar berhenti sejenak.


"Lama banget si angkatnya? Lagi ngapain emangnya?" tanya Nico penuh curiga.


"Sorry, ponselnya aku silent." Gabriel berusaha melepaskan tangan Roy dari wajahnya yang ingin mencium dirinya.

__ADS_1


"Gak bisanya kamu silent." Nico langsung mengubah panggilanya menjadi video call.


"Gab! Kok gak di angkat panggilan video call nya?" ucap Nico tambah marah.


Sedangkan Gabriel tengah berusaha untuk melepas ciuman dari pangutan Roy.


"Gab, aku marah ya! Aku bilang angkat, ya angkat!" Teriak Nico dari seberang telepon.


"Ya hallo, Nic!" Gabriel menerima ubahan telepon menjadi sambungan video call.


"Ngapain sih? Lama banget!" Nico memperhatikan penampilan Gabriel yang terlihat berantakan.


"Sorry lagi beresin buku! Ada apa, Nic?" Gabriel merapihkan rambutnya agar telihat rapih.


"Kok nanya sih? Seharunya aku yang nanya, kenapa kamu ninggalin aku, tadi sore?" Nico memasang wajahnya sedikit kesal.


"Akkh!" desah Gabriel saat tangan Roy mulai meremas buah dada Gabriel.


"Kamu kenapa si?" Tanya Nico.


"Gak apa-apa, cuma di gigit semut!" elak Gabriel mencubit pinggang Roy dengan kencang.


"Nic, udah dulu ya, aku ngantuk. Oh ya, besok gak usah jemput ya? Besok aku di anter Om aku, dia sekalian mau berangkat kerja soalnya!" Gabriel tersenyum manis kepada Nico. agar kekasihnya tidak menaru curiga.


"Kamu kenapa si? Gak biasanya begini!" Tanya Nico mulai marah.


"Kok, jadi kamu yang marah sih? Seharusnya kan, aku yang marah!" bentak Nico.


"Udah ya? Aku lagi malas berdebat!" Gabriel langsung mematikan sambungan teleponnya, lalu melihat ke arah Roy yang sedang menahan tawanya.


"Kok ketawa sih?" tanya Gabriel yang masih terbawa kesal.


"Gak apa-apa, senang aja!" ucap Roy masih tertawa mendengar pertengkaran Gabriel bersama Nico.


"Ish, nyebelin!" Gabriel melempar bantal kursi ke arah wajah Roy dan berlalu ke arah kamarnya.


"Hay, mau kemana?" Roy menyusul Gabriel masuk ke dalam kamar.


"Om, mau apa?" Gabriel berusaha melepaskan tangan Roy dari perutnya.


"Mau bobo lah!" bisik Roy sambil mengigit telinga Gabriel.


"Ih, kamar Om di sebelah sana!" Gabriel menghindar dari gigitan Roy

__ADS_1


"Aku maunya di sini!" Roy melepas pelukannya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur Gabriel


"Om! Teserah deh, kalau gitu, Gabriel yang tidur di kamar, Om." Gabriel melangkahkan kakinya tapi di tarik oleh Roy sehingga Gabriel terjatuh dalam pelukan lelaki tersebut.


"Sstt ... Om hanya mau tidur bareng kamu. Om janji gak akan ngapa-ngapain!" Roy menyelimuti tubuh mereka dalam satu selimut yang sama.


"Om?" panggil Gabriel saat dirinya merasakan deru napas Roy yang begitu dekat.


"Hmm?" jawab Roy dengan singkat.


"Gak jadi!" balas Gabriel dengan ragu.


"Om?" panggil Gabriel yang kedua kalinya. Namun, tidak ada jawaban dari Roy.


Gabriel yang tidak mendapat jawaban dari Roy, kini mulai menatap wajah tampan Roy yang sudah mulai membaik akibat pukulan dari anak buah Ayahnya.


Jari lentiknya mulai menelusuri setiap area wajah pada Pria itu dengan lembut, mengusap bibir tebal yang sudah menikmati manis bibirnya.


Tanpa sadar, Gabriel mulai mencium bibir Roy dengan lembut, membuat Roy membukakan matanya dan dalam hitungan detik. Roy sudah berada di atas tubuh Gabriel.


"Kamu sudah membangunkan yang lagi tidur Gab! Jangan salahkan Om yang tidak tinggal diam malam ini." Roy langsung melumatti bibir Gabriel dengan lembut.


Ciuman bibir yang panas dan menggelora membuat suara sunyi di malam hari menjadi ramai akibat suara decapan pangutan di antara kedua bibirnya yang sedang saling memberi kenikmatan.


Roy membuka bajunya dan memperlihatkan perut berototnya di hadapan Gabriel. Gabriel yang tidak tahan melihat perut kotak-kotak Roy langsung bangun dan mendorong Roy agar berada di bawahnya.


Roy tersenyum tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh wanitanya, merangkak menaiki tubuhnya dengan jemarinya yang lentik, menelusuri perutnya yang menjadi incaran semua wanita.


Gabriel membuka kancingnya dan memperlihatkan tubuhnya yang begitu menggoda kaum pria, membuat Roy susah untuk menelan salivanya.


Gabriel tersenyum dan mencium perut otot hingga ke leher Pria yang lebih tua darinya, seperti yang dia lihat waktu Sisil mencumbu Nico dengan sangat intim.


"Om?" tanya Gabriel saat matanya menatap Roy.


"Yes baby?" jawab Roy yang sudah tidak memikirkan emosi Ammar kalau saja Bosnya tau kelakuan buruk asistennya.


"Do you love me?" tanya Gabriel dengan sorot mata yang berkaca-kaca.


Melihat mata Gabriel yang mulai memerah akibat menahan tangisan yang ingin keluar, Roy langsung menariknya dalam dekapan.


"Why? Are you afraid?" tanya Roy yang mencium kening dan mengusap lembut rambut hitam Gabriel dengan penuh kasih sayang.


Gabriel yang sudah meneteskan air mata saat berada dalam pelukan Roy, hanya bisa membalas anggukan dan memelukan Roy dengan erat.

__ADS_1


"Tidurlah, besok pagi aku akan mengantar mu kesekolah!" Roy menarik selimutnya kembali dan menutupi tubuh mereka berdua dalam selimut yang sama.


Bersambung...


__ADS_2