Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab 128. Drama Suami Istri


__ADS_3

"Aaauuww!" Nabila meringis kesakitan, saat dirinya menubruk seorang wanita yang berbadan besar.


"Eh, Mba. Kalau jalan liat-liat dong! Gak punya mata apa?" bentak wanita gemuk itu dengan suara yang meninggi.


"Maaf, Mba ... gak sengaja." Nabila menundukan kepalanya meminta maaf lalu pergi berlari ke luar dari kantin.


"Maaf, maaf. Eh, malah kabur!" teriak wanita gendut itu yang emosi melihat Nabila berlari menjauhinya.


Semua orang melihat ke arah sumber suara yang menjadi pusat perhatian pengunjung kantin, termasuk Ammar dan Roy. Namun. saat Ammar melihat ke arah sumber suara tersebut. Ammar tidak melihat sosok Nabila.


'kaya Nabila.' Batin Roy yang melihat Nabila berlari keluar dari kantin.


"Ada-ada, saja! Trus gimana? Orang tua kamu, sudah tau tentang, Gabriel?" tanya Ammar kembali ketopik pembicaraan mengenai pernikahan Roy.


"Sudah, Bos," jawab Roy dengan singkat.


"Bagus, jadi lusa. Kamu bisa melangsungkan akad nikahnya." Ammar meminun jus yang ada di hadapannya.


"Apa gak kecepatan, Bos?" tanya Roy yang masih ragu.


"Gak! lebih cepat, lebih baik." Ammar mencoba untuk melindungi Gabriel agar terhindar dari perbuatan maksiat.


"Untuk sementara, gak usah terlalu meriah ... hanya akad. Karena, Gabriel masih sekolah dan saran saya ... kamu harus bisa menahannya. Usahakan agar tidak hamil dulu sampai dia lulus," ujar Ammar menasihati Roy.


"Saya, gak janji, Bos. Kalau harus menahannya," protes Roy dengan jujur.


"Terserah, kamu! Saya hanya memberi saran, karena Gabriel masih sekolah." Ammar menaikan satu alisnya dengan sorot mata yang tajam.


"Saya, mengerti, Bos!" jawab Roy yang paham arah pembicaraan Ammar.


"Oke, masalah kamu, beres. Jangan lupa, kamu siapkan segala keperluan besok malam!" Ammar menjalankan kursi rodanya yang disusul oleh Roy.


"Baik, Bos!" ucap Roy dengan tegas.


🍀


Malam acara amal.


"Sayang, sudah siap?" tanya Ammar memasuki kamar dan melihat Aini sedang bingung mencari sesuatu.


"Bentar lagi, Mas." Aini sibuk mencari tas yang senada dengan penampilannya.


"Mas, yang putih atau hitam?" tanya Aini kepada Ammar yang menjulurkan tasnya.


"Hitam," jawab Ammar.


"Putih aja deh, lebih cocok." Aini menaruh tas hitamnya ke dalam lemari.


"Huffs!" Ammar menghela napasnya kasarnya.


"Mas, sepatunya yang kiri atau kanan?" Aini menunjukan sepatu warna hitam dengan model yang berbeda.


"Yang kiri," jawab Ammar.


"Tapi yang kanan lebih cocok modelnya." Aini menaruh sepatu yang kiri ke dalam lemari sepatu.


"Terserah, kamu deh, Yank." Ammar memijat keningnya yang tidak pusing.


"Mas, bagusan pakai mata elang atau polos?" tanya Aini yang menunjukan cadar bandana kepada Ammar.


"Pake mata garuda juga cocok, Yank." Ammar justru lebih memilih memainkan ponselnya tanpa melihat ke arah Aini.

__ADS_1


"Ihss, Mas! Liat dulu." Aini menarik wajah Ammar agar melihat pilihan cadarnya.


"Terserah, kamu ... sayang." Ammar tersenyum melihat istrinya cemberut.


"Ya, sudah kalau gitu, Aini gak usah pakai cadar aja!" Aini menaruh kedua cadarnya ke dalam lemari.


"Eh, jangan!" Ammar langsung marah dan menarik tangan Aini saat Istrinya tidak mau memakai cadar.


"Lagian ... tadi, bilangnya terserah." Aini menunjukan wajah masamnya.


"Ya, udah ... pakai yang mata garuda aja," ucap Ammar yang mengalah.


"Bukan garuda, Mas ... tapi, elang." Aini membuka lemarinya lagi dan mengambil cadarnya.


"Iya, elang," sahut Ammar dengan lembut.


"Gak cocok kayanya, Mas ... yang polos aja, ya," ucap Aini ragu.


"Astagfirullah! Ya sudah. Mas tunggu di depan ya!" Ammar hanya menggelengkan kepala dengan pelan, saat melihat tingkah Istrinya yang menggemaskan.


"Ya," ucap Aini.


Beberapa menit kemudian.


Sudah lebih dari sepuluh menit, Ammar menunggu istrinya untuk keluar, tapi sang istri tidak kunjung keluar dari kamar, sampai akhirnya Ammar memutuskan untuk memanggil Aini.


"Sayang, ayo! Udah belum?" panggil Ammar kepada Istrinya.


"Sudah, ayo jalan." Aini melangkah mendekati Ammar.


"Astagfirullah!" Ammar terkejut melihat penampilan Aini yang berubah lagi seperti pilihan yang Ammar pilih.


"Kenapa, Mas? Ada yang salah sama penampilannya?" tanya Aini tanpa berdosa.


"Mas, gak apa-apa nih, ninggalin Khan dan Khansa sama Bik sumi dan juga Sarah?" tanya Aini dengan perasaan tidak tenang.


"Insyallah, gak sayang. Ada ibu juga." Ammar mencoba menenangkan perasaan Istrinya.


"Oke!" jawab Aini sembari tersenyum.


"Jalan, Roy!" perintah Ammar kepada Asistennya.


"Baik, Bos." Roy menjalankan mobilnya menuju tempat acara pesta amal.


Begitu sampai di tempat acara tersebut. Roy membukakan pintu untuk Ammar, Aini dan juga Gabriel. Karpet merahpun menjadi saksi saat Aini berjalan dengan anggun di samping suaminya tanpa ada rasa malu saat Ammar masih duduk di kursi roda.


Di sisi lain, Gabriel dengan penampilannya yang cantik bak seorang gadis dewasa yang sungguh mempesona kamu adam, walaupun penampilan dia tidak terlalu terbuka, tetapi mampu membuat sebagian kaum laki-laki merasa cemburu kepada pasangannya Gabriel yaitu Roy.


"Kalau tau gini, mending kamu, di rumah saja," ucap Roy yang memasang wajah cemburunya.


"Assalamualaikum, Pak Ammar. Selamat datang, mari duduk." Selaku pemilik acara amal menyambut kedatangan Ammar beserta Istrinya.


"Waalaikumussalam, Pak Raihan. Terima kasih atas penyambutannya." Ammar membalas jabatan tangan Pak Raihan.


Ammar bersama Istrinya masuk ke dalam ruangan private sebelum acara amal di mulai, sedangkan Roy beserta Gabriel menikmati suasana ruangan yang begitu megah di aula ruangan tersebut.


"Kamu, duduk di sini ya? Aku tinggal dulu sebentar. Jangan ke mana-mana." Roy memberikan Jasnya untuk menutupi bahu Gabriel walaupun tidak terbuka.


"Hmm," jawab Gabriel tersenyum ke arah Roy.


Gabriel yang merasa tidak asing dengan sebagian orang-orang yang memasuki area aula tempat acara amal, langsung terkejut dengan kedatangan Panji beserta Istri pertamanya.

__ADS_1


"Oh my god." Gabriel langsung menutup wajahnya menggunakan tas.


Beberapa saat kemudian, seluruh ruangan aula pun menjadi penuh dengan orang-orang dari kalangan pembisnis. Termasuk pembisnis dari luar negeri. Gabriel yang merasa canggung duduk sendirian, memutuskan untuk pergi ke toilet.


"Ihss, nyebelin banget si tuh, Om, Om, malah di tinggal," protes Gabriel yang kesal di tinggal oleh Roy.


"Aduuh." Gabriel meringis kesakitan saat bahunya menabrak seseorang.


"Sorry, kamu gak apa-apa?" Ulfa meraih tangan Gabriel agar tidak terjatuh.


"Gak apa-apa," ucap Gabriel


"Kamu mau ke toilet?" Ulfa melepaskan tangan Gabriel.


"Iya, Kakak mau ke toilet juga? " tanya Gabriel tersenyum ke arah Ulfa.


"Iya," jawab Ulfa.


Mereka pun masuk ke dalam ruangan toilet wanita bersama, saat Ulfa keluar dari dalam kamar mandi, Ulfa mencuci tanganya di wastafel , Gabriel pun berdiri di sampingnya.


"Aku, duluan ya." Ulfa mengelus pelan bahu Gabriel.


"Iya, kak," sahut Gabriel.


Setelah selesai cuci tangan, sebelum dia keluar. Gabriel mengoleskan lipgos di bibirnya sembari merapihkan anak rambut yang sedikit berantakan, setelah merasa dirinya lebih rapih. Gabriel pun keluar dari ruangan toilet wanita, tetapi Gabriel berpapasan dengan Roy yang sudah mencari dia.


"Astaga!" Gabriel terkejut saat dirinya hampir menabrak Roy.


"Kenapa gak bilang mau ke toilet?" tanya Roy begitu kawatir terhadap calon Istrinya.


"Siapa suruh di tinggalin." Gabriel melangkah maju meninggalkan Roy.


"Eh, jangan ngambek. Maaf." Roy mencoba membujuk Gabriel.


"Jangan di tinggal lagi," ucap Gabriel dengan manja.


"Iya, janji!" Roy menjulurkan jari kelingkingnya seperti saat Roy melihat Gabriel melakukannya bersama Nico.


"Dah, gak usah gitu." Gabriel langsung mengajak Roy untuk berjalan menuju meja mereka.


"Dari mana?" tanya Aini yang mengawatirkan Gabriel.


"Maaf, dari toilet." Gabriel duduk di samping Aini.


Acara amal yang begitu meriah sudah di mulai dari pembukaan, penyambutan sampai penghargaan kepada seluruh pembisnis dari dalam negeri maupun luar negeri, semua para pembisnis saling berlomba untuk menyumbangkan sebagian keuntungan sahamnya kepada panitia dan di berikan kepada yang lebih membutuhkan.


"Oke, terima kasih untuk para donatur yang sudah mau menyumbangkan sedikit hartanya untuk di berikan kepada yang membutuhkan dan sekarang ...." ucap pembawa acara laki-laki dan di lanjutkan oleh pembawa acara wanita.


"Dan sekarang ada sedikit pengumuman. Bahwa, pemilik dari Group Restar akan memberikan sejumlah hadiah untuk para donatur sebagai tanda rasa bahagia, karena keponakannya yang bernama Sisil Putri Wahdoyo secara resmi telah bertunangan dengan keluarga ternama yang bernama Nico Saputra, anak pemilik dari Group Shinwo ....." ucap pembawa acara wanita.


Mendengar perkataan dari pembawa acara tersebut, Gabriel tersedak sampai mengeluarkan air mata di sudut matanya, sontak membuat Aini memberikan perhatian kepada Gabriel dengan memberikan air minun.


"Kamu, gak apa-apa?" tanya Aini.


"Gak apa-apa!" Gabriel menahan rasa sesak didada.


"Yakin? Atau mau pulang lebih dulu?" tanya Aini yang tidak mau memaksakan kondisi Gabriel.


"Gak usah." Gabriel memberikan senyuman kepada Aini agar menyakinkan bahwa dirinya bisa tegar.


Kedua pasangan sejoli itu pun naik ke atas panggung, Nico masih terlihat tampan dan ceria walaupun wajahnya masih sedikit membengkak akibat pukulan dari Roy.

__ADS_1


Roy terus memperhatikan Gabriel saat mata Gabriel terus melihat ke arah Nico, sangat jelas bahwa Gabriel sedang menahan rasa sakit akibat perbuatan Nico.


Bersambung...


__ADS_2