Mencintaimu Jalan Menuju Surga

Mencintaimu Jalan Menuju Surga
Bab. 164. Kesempatan.


__ADS_3

Lantunan sholawat Aini membawa Naura pergi ke alam mimpi dengan cepat, suara yang begitu merdu dengan alunan yang syahdu membuat siapapun yang mendengarnya merasa terhanyut bagaikan tersirap sihir, begitu menenangkan jiwa dan pikiran.


Jelas saja Rahman jatuh cinta terhadap wanita bercadar itu, bukan hanya memiliki hati nurani bagaikan malaikat, tetapi dari segi manapun Aini adalah tipe seorang istri yang sangat diidam-idamkan oleh para lelaki. Sungguh beruntung Ammar bisa memiliki Aini lebih dulu.


Itulah yang Rahman lihat, saat dirinya berdiri tidak jauh dari Aini ketika wanita bercadar itu sedang menimang buah hatinya dengan mendiang istri pertamanya. Rahman yang ditinggal pergi oleh istrinya akibat kecelakaan karena sang istri ketahuan berselingkuh saat Naura berusia satu tahun, membuat pria yang hampir berusia tiga puluh tahun itu trauma akan seorang wanita.


Akan tetapi saat Rahman pertama kali bertemu dengan Aini, pintu hati yang tertutup lama terketuk oleh kehadiran Aini, dari cara bicaranya wanita itu dengan tutur kata yang lemah lembut serta sikapnya yang penyayang membuat hati Rahman bergetar. Namun sayangnya wanita yang sudah membuat hatinya merindukan surga ternyata sudah memiliki seorang suami. Kendati demikian, Rahman pun tetap berharap bila suatu saat dia bisa memiliki Aini seutuhnya.


"Saya ijin, pamit pulang ya, Pak!" ucap Aini ketika dia sudah menaruh Naura di atas tempat tidur.


"Tidak perlu panggil Pak, di saat kita sedang berdua, panggil nama saja!" ujar Rahman serayah memberitahu. Dia mengambil kunci dan jaket serta menitipkan Naura kepada baby sister yang menunggunya. "Biar saya antar!"


"Tidak perlu, kasihan Naura! Saya bisa sendiri, assalamualaikum!" Aini mengambil tasnya lalu keluar dari ruang rawat inap itu.


Aini bergegas melangkahkan kakinya agar cepat sampai pada halaman parkir rumah sakit, namun saat dia masih berada di koridor rumah sakit langkahnya sudah dicegah lebih dulu oleh Rahman.


"Boleh bicara sebentar?" pinta Rahman yang melihat Aisyah sedang melirik pada jam tangannya. "Saya jadi hanya sebentar!"


Aini pun memberi kesempatan untuk Rahman berbicara mengeluarkan apa yang ingin dia katakan dengan begitu dia pun juga bisa mengeluarkan apa yang ingin dia sampaikan. Ada segurat senyuman yang Aini lihat pada wajah pria itu ketika dia mengizinkannya untuk berbicara empat mata.


"Apa yang ingin Pak Rahman katakan?" Kini Aini berdiri tepat di depan Rahman ketika mereka sudah berada di taman rumah sakit yang ternyata tidak hanya ada mereka berdua, karena memang ini sengaja memilih tempat yang ramai agar terhindar dari fitnah.

__ADS_1


"Tidak bisakah kamu memanggil saya dengan sebutan nama? Kita sudah bukan lagi atasan dan bawahan Aini!" Tegas Rahman sekali lagi.


"Langsung saja ke intinya, karena waktu saya tidak banyak!" Aini memilih duduk di bangku taman dan diikuti oleh Rahman.


"Baiklah kalau gitu, apakah kamu masih belum bisa memberi saya kesempatan? Naura membutuhkan kamu ini, sedangkan aku? Aku juga membutuhkanmu Aini!" Rahman melirik Aini dengan penuh lekat, suaranya begitu penuh penekanan berharap apa yang ini jawab sesuai dengan harapannya.


Tanpa menunggu lama ataupun berpikir panjang, Aini menolaknya dengan secara halus. Dia memang tipekal orang yang tidak suka berbasa-basi karena memang dari dulu bila memang dia tidak menyukai orang tersebut dia akan berterus terang seperti halnya yang sudah-sudah saat dia duduk di bangku sekolah ketika Anjas mengatakan perasaannya dan ketika Frans terus mengejarnya bahkan Sandy pun hampir dibuat gila karenanya Aini akan menolaknya dan tidak memberikan harapan pada lelaki yang tidak dia cintai.


"Aku tulus mencintaimu ini, walaupun kamu terus berusaha menolakku tidak peduli bila kamu menganggap aku pria yang tidak punya harga diri tetapi ketika ini menyangkut hati perasaan dan juga demi kebaikan Naura maka aku akan mempertahankannya." Rahman masih menatap ke arah Aini meski wanita bercadar itu menatap pandangan lurus ke arah depan.


"Cintailah Allah lebih dulu maka penduduk langit atau bumi pasti akan mencintaimu!" ucap Aini tanpa melihat ke arah orangnya.


Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Aini bangun dari tempat duduknya dan segera pergi dari sana, dia mempercepat langkahnya guna menjauh dari Rahman. Tetapi lagi-lagi Rahman berhasil mengejarnya, hingga membuat Aini berdengus kesal.


"Seminggu, kasih saya kesempatan selama seminggu untuk menunjukkan bahwa saya benar-benar tulus sama kamu! Berusaha untuk menjadi ayah si kembar yang baik! Aku mencintaimu Aini!"


"Lalu dengan waktunya seminggu telah berlalu?"


"Saya janji, saya akan menjauh dari kamu, apabila kesempatan itu masih belum juga datang!" Ujar Rahman kepada Aini.


"Oke baiklah! Saya akan mempertimbangkan! Saya permisi dulu assalamualaikum!" Ucapan ini sepintas lalu segera pergi dari sana.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, wb. Wb?" Sahut Rahman yang menjawab salam Aini.


Rahma pun bergegas kembali menuju ruang rawat inap anaknya, hatinya terpancar oleh sinar matahari ketika dia mendengar bila Aisyah akan memberinya kesempatan menurutnya.


***


Sementara itu di sebuah pulau kecil terdapat sebuah gubuk yang dijaga ketat oleh beberapa pria berbadan tubuh besar dan kekar melebihi badan orang yang tengah disandera dalam gubuk itu, gubuk yang gelap gulita serta udara dingin yang masuk ke sela-sela bilik, membuat kedua orang yang terikat dengan rantai merasakan hawa yang mencengkeram seakan-akan mematahkan tulang rusuknya.


"Khan ... Khansa!" Lirih pria itu yang di saandera oleh seseorang.


Byyuur! Begitulah kiranya suara bunyi ketika air yang berada di dalam ember ditumpahkan begitu saja di raut wajah pria yang sedang diikat itu.


"Makan, ni!" Seorang penjaga memberikan makanan untuk tawanan yang ada di situ dengan cara yang tidak sopan.


Tidak ada jawaban dari tawanan itu membuat penjaga itu marah dan murka, hingga suara cambukan mengenai tubuh pun terdengar mengerikan. Suara teriakan yang menjerit pun menjadi saksi betapa sakitnya tubuh itu dicambuk dengan kasar oleh para bodyguard yang menjaganya.


"Rasain, ini akibatnya! Sekarang lu bisa lihat bagaimana istri lo sudah berpaling dan memiliki keluarga baru!" Ucap pria yang berbadan tubuh kekar itu seraya ber tertawa terbahak-bahak, dia melemparkan sebuah foto di mana Aini terlihat begitu bahagia tertawa bersama seorang anak kecil dan juga pria lain yang dia ketahui adalah atasan Aini.


Ya pria yang dicambuk itu dengan kejam yang disekap dan dipasung di gubuk tua itu adalah Amar Abqori bersama asistennya Roy, mereka disekap oleh seseorang yang tidak mereka kenal dan dibawa sampai ke pulau tersebut.


Akan tetapi siapa sangka, justru dengan begitu Ammar dan Roy selamat dari kecelakaan jatuhnya pesawat Boeing 12345,

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2